Samuel Aset Manajemen

Author: samadmin

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Kamis 20 September 2018

    Ada indikasi indeks di bursa Asia akan naik hari ini terindikasi dari indeks futuresnya yang sebagian besar hjau ditambah dengan haga minyak mentah yang dibuka naik pagi ini, bahkan untuk harga jenis WTI kembali menembus harga US$70 pbrl. Mata uang Asia kompak dibuka melemah terhadap USDolar pagi ini yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah menuju kisaran sempit antara Rp.14.880 s.d Rp.14.890 per USD  (kurs tengah Bloomberg) dengan penjagaan BI.

     

    Hasil survei penjualan eceran (SPE) riil BI mencatat perbaikan penjualan di sektor ritel baik secara bulanan maupun secara tahunan. Walaupun secara bulaan masih turun (minus) terhadap bulan Juni, tetapi penurunan ini biasa terjadi pasca faktor musiman. Hampir semua kategori barang tercatat turun kecuali bahan bakar yang naik. Membaiknya indeks penjualan ritel ini memberikan ekspektasi konsumsi rumah tangga yang akan tumbuh baik mendukung pertumbuhan ekonomi Q3-2018.

     

    Stok minyak mentah AS turun dalam lima minggu berturut-turut, membuat harga minyak mentah naik cukup signifikan kemarin, sehingga untuk harga jenis WTI menembus level US$70 pbrl. Kenaikan harga minyak mentah ini membuat inflasi di AS naik. Pada Agustus inflasi umum tercatat 2,7% yoy, dan inflasi inti 2,2% yoy.

     



     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

     

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Kamis-20-September-2018.pdf

  • Fw SAM Ulasan Ekonomi Harian Rabu 19 September 2018

    Nasabah Ysh,

    Mohon maaf atas kesalahan dalam subject email

    Tertera sebelumnya: Ulasan Ekonomi Harian Rabu 12 September 2018

    Semestinya: Ulasan Ekonomi Harian Rabu 19 September 2018

    Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    From: SAM News
    Sent: Wednesday, September 19, 2018 7:55 AM
    Subject: SAM Ulasan Ekonomi Harian Rabu 12 September 2018

     

    Ada potensi indeks di bursa Asia akan naik hari ini, terindikasi dari indeks futuresnya yang hampir semuanya ‘hijau’ ditambah dengan harga minyak mentah yang dibuka naik pagi ini. Sedangkan mata uang kuat Asia yen dan Sin dollar dibuka menguat terhadap USDolar yang bisa membuat sentimen penguatan rupiah. Kemungkinan rupiah akan bergerak di kisaran antara Rp.14.820 s.d Rp.14.850 per USD degan tetap dalam penjagaan BI.

     

    ULN Indonesia per Juli 2018 tercatat sebesar US$357,98 miliar, naik 0,57% mom atau 4,8% yoy. Kenaikan tersebut karena naiknya ULN Pemerintah sebesar 0,52% mom (3,72% yoy) dan ULN Swasta yang naik sebesar 0,53% mom (5,33% yoy).  Naiknya ULN Pemerintah karena penarikan ULN multilateral (non komersial), sementara naiknya ULN Swasta untuk kebutuhan modal kerja dan investasi. Kendati masih bisa dianggap baik tetapi rasio tersebut sedikit diatas ambang aman 33% dari PDB.

     

    China abaikan peringatan AS untuk tidak membalas ancaman kenaikan tarif tahap kedua sebesar 10%-25% senilai US$2000 miliar barang impor China yang akan efektif pada 24 September ini dengan ancaman kenaikan tarif untuk 5.000 komoditas impor dari AS atau senilai US$60 miliar. Perang dagang antara China-AS ini membuat ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.

     

     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

    Samuel Aset Manajemen | Your Life Long Investment Partner

    Menara Imperium Ground Floor, Jl. HR. Rasuna Said Kav.1, Jakarta Indonesia 12980

    About Us | Unsubscribe

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Rabu-19-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Selasa 18 September 2018

    Indeks futures bursa Asia tercatat bervariasi, kemungkinan indeks di bursa Asia akan bergerak ‘mixed’ pada hari ini tetapi dengan kecenderungan membaik efek dari sentimen naiknya harga minyak mentah pagi ini dibandingkan pembukaan kemarin. Mata uang Asia HK dolar dan Sin dolar pagi ini dibuka melemah terhadap USDolar yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah menuju kisaran sempit antara Rp.14.880 s.d Rp.14.890 per USD  (kurs tengah Bloomberg) dengan penjagaan BI.

     

    Neraca perdagangan bulan Agustus tercatat defisit US$1,02 miliar. Nilai ekspor tercatat sebesar US$15,8 miliar (-2,9% mom), dan impor sebesar US$16,8 miliar (-7,97% mom). Secara bulanan di sisi ekspor volume permintaan turun sedangkan harga rata-rata ekspor naik. Di sisi impor, volume impor naik walaupun harga rata-rata impor turun. Selama Juli dan Agustus, neraca perdagangan tercatat defisit US$3,0 miliar, defisit ini membuat dukungan terhadap fundamental rupiah menurun.

     

    Presiden Trump umumkan tarif tahap kedua untuk China senilai US$200 miliar. Penetapan tarif ini meliputi lebih banyak barang-barang konsumen (consumer goods) termasuk barang-barang berbasis teknologi. China mengancam menarik diri dari pembicaraan perdagangan ini.  Ancaman tarif impor Trump ini menjadi ketidakpastian global yang menjadi sentimen negatif pasar.

     



     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Selasa-18-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Senin 17 September 2018

    Ada potensi koreksi di indeks bursa Asia hari ini terlihat dari indeks futuresnya yang bervariasi dan harga minyak mentah yang dibuka turun pagi ini. Sedangkan mata uang Asia kompak dibuka menguat pagi ini terhadap USDolar yang bisa menjadi sentimen penguatan rupiah untuk kembali dibawah Rp.14.800 per USD. Kemungkinan rupiah bergerak di kisaran antara Rp.14.780 s.d Rp.14.800 per USD  (kurs tengah Bloomberg) dengan penjagaan BI.

     

    Realisasi defisit APBN 2018 per Agustus 2018 tercatat sebesar Rp.150,7 triliun. Defisit terjadi karena penerimaan Negara tercatat Rp.1.152,7 triliun sedangkan belanja Negara tercatat sebesar Rp.1.303,5 triliun. Realisasi APBN 2018 ini lebih baik dibandingkan realisasi Agustus 2017. Dengan sisa waktu hingga akhir Desember 2018 kemungkinan realisasi bisa lebih baik dibandingkan tahun 2017 yang tercatat sebesar 96,2% dari pagu, yang bisa menjadi pendorong ekonomi di semester ke-2 2018 ini.

     

    The University of Michigan’s consumer sentiment untuk bulan September 2018 naik tajam, tertinggi kedua sejak Juli 2004. Sentimen konsumen ini menguat seiring dengan penguatan di pasar ketenagakerjaan AS. Angka pengangguran sebesar 3,8% pada bulan Agustus.

     



     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Senin-17-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Jumat 14 September 2018


    Hampir semua indeks futures bursa Asia tercatat hijau, indikasi penguatan indeks berlanjut hari ini didukung dengan naiknya indeks di sebagian besar bursa global semalam walaupun harga minyak mentah dibuka turun pagi ini. Sedangkan mata uang Asia kompak melemah terhadap USDolar yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah di kisaran sempit antara Rp.14.850 s.d Rp.14.860 per USD (kurs tengah Bloomberg) dengan penjagaan BI.

    Dirjen Anggaran memastikan pelemahan rupiah akan mengurangi defisit anggaran karena pelemahan rupiah akan mendongkrak penerimaan pajak dan PNPB. Dengan perkiraan akhir tahun, nilai tukar rupiah akan mencapai ratarata Rp.14.100 per USD, sehingga ada pelemahan sebesar 700 poin, maka akan ada tambahan penerimaan Negara sebesar Rp.26,6 triliun – Rp.35,7 triliun. Potensi tersebut bisa mengurangi defisit anggaran.

    ECB pertahankan kebijakan suku bunganya sebesar 0% dan tetap melakukan QE senilai 15 miliar euro dari September dan berakhir pada Desember 2018. Dari AS tingkat inflasi bulan Agustus melambat menjadi 2,7% yoy dari 2,9% yoy pada Juli. Kendati demikian kemungkinan besar the Fed akan naikkan suku bunganya pada pertemuan 25-26 September ini.

     

     

    Terima kasih

     

    Regards,

     

    Lana Soelistianingsih

    Chief Economist and Head of Research

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Jumat-14-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Kamis 13 September 2018

    Kemungkinan indeks di bursa Asia hari ini akan bergerak ‘mixed’ terlihat dari indeks futuresnya yang bervariasi namun ada kecenderungan naik terbantu dengan harga minyak mentah yang dibuka naik pagi ini. Sedangkan mata uang kuat Asia HK dolar dan Sin dollar dibuka melemah terhadap USDolar yang bisa membuat sentimen pelemahan rupiah tetapi kemungkinan BI akan menjaga dengan ketat rupiah di kisaran antara Rp.14.810 s.d Rp.14.830 per USD.

     

    Pemerintah menunda penerbitan obligasi valas menunggu kepastian kebijakan suku bunga the Fed. Pemerintah mengalihkan pembiayaan menjadi pinjaman program senilai US$2,5 miliar. Penundaan ini membuat sumber cadev BI menjadi terbatas.  Penerbitan obligasi valas di tengah volatilitas USDolar yang tinggi bisa menambah beban utang. Total utang pemerintah per Juli 2018 tercatat sebesar Rp.4.253,02 triliun atau 29,7% dari PDB.

     

    Indeks harga produsen untuk barang-barang akhir di AS turun secara tak terduga, minus 0,1% mom pada bulan Agustus, sementara konsensus perkirakan naik 0,2% mom. Penurunan ini merupakan yang pertama sejak Februari 2017. Penurunan ini menjadi anomali di tengah  kebijakan kenaikan tarif perdagangan. Lebih dari 60 asosiasi industry di AS melakukan koalisi mengakhiri kebijakan kenaikan tarif.



     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Kamis-13-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Rabu 12 September 2018

    Ada potensi indeks di bursa Asia akan naik hari ini, terindikasi dari indeks futuresnya yang hampir semuanya ‘hijau’ ditambah dengan harga minyak mentah yang dibuka naik pagi ini. Sedangkan mata uang kuat Asia yen dan Sin dollar dibuka menguat terhadap USDolar yang bisa membuat sentimen penguatan rupiah. Kemungkinan rupiah akan bergerak di kisaran antara Rp.14.820 s.d Rp.14.850 per USD degan tetap dalam penjagaan BI.

     

    ULN Indonesia per Juli 2018 tercatat sebesar US$357,98 miliar, naik 0,57% mom atau 4,8% yoy. Kenaikan tersebut karena naiknya ULN Pemerintah sebesar 0,52% mom (3,72% yoy) dan ULN Swasta yang naik sebesar 0,53% mom (5,33% yoy).  Naiknya ULN Pemerintah karena penarikan ULN multilateral (non komersial), sementara naiknya ULN Swasta untuk kebutuhan modal kerja dan investasi. Kendati masih bisa dianggap baik tetapi rasio tersebut sedikit diatas ambang aman 33% dari PDB.

     

    China abaikan peringatan AS untuk tidak membalas ancaman kenaikan tarif tahap kedua sebesar 10%-25% senilai US$2000 miliar barang impor China yang akan efektif pada 24 September ini dengan ancaman kenaikan tarif untuk 5.000 komoditas impor dari AS atau senilai US$60 miliar. Perang dagang antara China-AS ini membuat ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.

     

     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Rabu-19-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Senin 10 September 2018

    Ada potensi indeks di bursa Asia hari ini masih akan berlanjut terkoreksi terindikasi dari indeks futuresnya yang ‘merah’ walaupun harga minyak mentah dibuka naik pagi ini. Sedangkan mata uang Asia yen dan HK dolar melemah terhadap USD pagi ini yang bisa menjadi sentimen pelemahan rupiah, tetapi kemungkinan BI akan menjaga dan membawa kembali rupiah menguat menuju kisaran antara Rp.14780 s.d Rp.14.820 per USD (kurs tengah Bloomberg).

     

    Posisi cadev BI per Agustus 2018 tercatat sebesar US$117,9 miliar, hanya turun US$400 juta di tengah tekanan pelemahan rupiah sebesar 2,06% selama bulan Agustus. Penurunan valas ini sebagai bagian dari stabilisasi rupiah. Beberapa kebijakan stabilisasi rupiah yang BI lakukan adalah lelang FX Swap, menjual valas, menarik rupiah dengan menjual obligasi dan menaikkan suku bunga acuan. Posisi cadev ini aman karena bisa menutup 6,8 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

     

    Surplus neraca perdagangan China melambat, turun tajam menjadi US$27,91 miliar pada Agustus 2018 dari surplus sebesar US$40,05 miliar pada Agustus 2017. Impor tercatat naik tajam sedangkan ekspor hanya tumbuh moderat. Perlambatan surplus ini sebagai dampak dari pengenaan kenaikan tarif dari AS, yang kemungkinan masih berlanjut.



     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Senin-10-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Jumat 7 September 2018

    Sebagian besar indeks futures bursa Asia ditutup ‘merah’ indikasi ada potensi koreksi di indeks bursa Asia hari ini ditambah sentimen koreksi dari sebagian besar indeks di bursa global semalam dan harga minyak mentah yang dibuka turun pagi ini. Sedangkan mata uang kuat Asia yen dan Sin dollar dibuka menguat terhadap USDolar yang bisa membuat sentimen penguatan rupiah dengan tetap dalam penjgaan BI sehingga rupiah menguat ke kisaran antara Rp.14.850 s.d Rp.14.890 per USD.

     

    Survei BI untuk IKK pada bulan Agustus tercatat turun menjadi 121,6 dari 124,8 pada Juli. Penurunan ini terjadi dalam dua bulan berturut-turut. IKE dan IEK turun. Penurunan IKE dan IEK terutama pada penghasilan saat ini dan pembelian barang tahan lama. Penurunan ini membuat ekspektasi konsumen terhadap harga juga turun untuk 3, 6, dan 12 bulan mendatang. Hasil survey memberi indikasi ada potensi daya beli yang melambat dan turunnya konsumsi rumah tangga hingga Q1-2019.

     

    Pasar ketenagakerjaan di AS masih menguat terlihat dari produktivitas tenaga kerja di sektor non pertanian  naik, jobless claims turun ke level terendahnya sejak 49 tahun terakhir karena meningkatnya jumlah pekerjaan. Tingkat pengangguran Juli tercatat 3,9% terendah sejak 18 tahun terakhir. Kinerja ini membuat kemungkinan the Fed naikkan suku bunga semakin besar.

     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Jumat-7-September-2018.pdf

  • SAM Ulasan Ekonomi Harian Kamis 6 September 2018

    Indeks futures di bursa Asia kompak tercatat merah, indikasi ada potensi koreksi indeks di bursa Asia hari ini ditambah sentimen turunnya indeks dari hampir semua bursa global semalam dan harga minyak mentah yang juga turun pagi ini. Mata uang Asia dibuka kompak menguat terhadap USDolar  pagi ini yang bisa menjadi sentimen penguatan rupiah  secara teknikal hari ini, dan BI tetap melakukan intervensi signifikan. Kemungkinan rupiah menguat ke kisaran Rp.14.900 s.d Rp.14.930 per USD (kurs tengah Bloomberg).

     

    Pemerintah umumkan penyesuaian tarif PPh Impor untuk 1.147 produk impor konsumsi yang sebelumnya antara 2,5%-7,5% menjadi 7,5%-10%. Kebijakan ini sebagai upaya pemerintah untuk memperbaiki neraca perdagangan baik dari sisi pengendalian impor dan mendorong ekspor. Perbaikan ini diharapkan dapat membuat neraca perdagangan surplus sehingga bisa menjadi sumber devisa.

     

    Neraca  perdagangan AS untuk bulan Juli tercatat defisit sebesar US$50,1 miliar, melebar dari US$45,7 pada Juni. Tampaknya efek dari ‘trade-war’ antara AS-China mulai terasa dan kerugian ada di pihak AS. Beberapa  komoditas ekspor AS yang turun drastis adalah kedelei dan pesawat terbang sipil.



     

     

    Salam,

    Lana Soelistianingsih

    Kepala Riset/Ekonom

    Samuel Aset Manajemen

    Telp: 62 21 28548828

     

     

    Regards,

     

    Lana Soelistianingsih

    Director

    Chief Economist and Head of Research

     

    PT SAMUEL ASET MANAJEMEN

    Menara Imperium Ground Floor Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980 Indonesia

    t. +62-21-2854 8828 | f. +62-21-8317474  |www.sam.co.id

     

    Ulasan-Ekonomi-Harian-Kamis-6-September-2018.pdf