Market Update

Dapatkan kondisi market terkini dan rekomendasi investasi

Home Artikel


Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulanan II - April 2026

  • sg
  • 2026-04-17 07:00:00

Ulasan Pasar Global

Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar 0%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.

Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Thailand (SET), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Kanada (S&P/TSX), dan Inggris (FTSE 100). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Teknologi AS (NASDAQ), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Bahan Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Keuangan, dan Kesehatan relatif tertinggal.

Sepanjang bulan Maret 2026, sektor energi menjadi satu-satunya yang tumbuh positif, sementara investor mulai beralih ke aset defensif. Secara keseluruhan, sentimen pasar tertekan oleh kebijakan suku bunga the Fed yang bertahan di level 3,5%–3,75%. Perdagangan ditutup dengan volatilitas tinggi karena pasar mengantisipasi dampak jangka panjang dari ketidakpastian geopolitik global.

Kerangka Kuadran Geopolitik SAM memetakan empat skenario konflik AS-Israel-Iran. Skenario baseline NACHO (stalemate berkepanjangan, 50–55%) tetap dominan setelah negosiasi Islamabad gagal mencapai kesepakatan dan AS memberlakukan blokade angkatan laut.

Harga WTI crude melonjak dari level US$67/barel sebelum konflik ke US$111/barel pada awal April seiring disrupsi Hormuz menghilangkan 7 juta barel/hari dari pasokan global. Secara bersamaan, harga emas terkoreksi di tengah penguatan dolar AS.

Citi Economic Surprise Index menunjukkan divergensi di mana hampir seluruh kawasan ekonomi berada di teritori positif kecuali Zona Eropa. Namun demikian terlihat arah dari indeks tersebut kompak mengalami penurunan sejak sebulan terakhir. Hal ini terkait dengan ekspektasi dampak ekonomi akibat ketegangan geopolitik.


Ulasan Makro Ekonomi Indonesia

Sepanjang Triwulan I-2026 nilai tukar Rupiah melemah 1,83% terhadap Dollar AS, dari level 16.690 di awal tahun menjadi 16.995. Pelemahan tersebut relatif kecil dibandingkan pelemahan nilai tukar beberapa negara berkembang lain.

Per bulan Maret 2026 cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$148 miliar. Masih dalam tren penurunan sepanjang tahun ini dari level tertingginya di bulan Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar. Adapun surplus neraca dagang masih terus berlanjut selama hampir 6 tahun terakhir.

Meningkatnya risiko global terutama di bulan Maret 2026 membuat arus modal asing keluar dari Indonesia. Pada bulan tersebut terjadi arus modal asing keluar dari pasar saham sekitar Rp27 triliun, dari pasar SBN sekitar Rp22 triliun, dan dari SRBI sekitar Rp7 triliun.


Alokasi Aset

Kami melihat potensi pasar secara keseluruhan masih dalam tren positif baik pada pasar saham mau pun pasar obligasi. Potensi imbal hasil masing-masing aset hingga akhir tahun yaitu 15,4% (IHSG) dan 4,5% (indeks obligasi INDOBeX Total Return).

Alokasi aset yang lebih progresif kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 60:40 antara saham dan obligasi cukup optimal.

Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.


Download Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulanan II -2026 selengkapnya