Market Update

Dapatkan kondisi market terkini dan rekomendasi investasi

Home Artikel


Ulasan Pasar & Ekonomi Bulanan - Februari 2026: Reformasi Free Float Pasar Saham

  • sg
  • 2026-02-11 14:00:00

Ulasan Pasar Global

Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 5%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.

Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Thailand (SET), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Denmark (OMX Copenhagen), dan Hong Kong (Hang Seng). Sementara indeks saham Kanada (S&P/TSX), Teknologi AS (NASDAQ), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Bahan Baku, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Keuangan, dan Kesehatan relatif tertinggal.

Sepanjang bulan Januari, pasar saham global ditutup positif, dengan kinerja pasar negara berkembang menjadi pemimpin reli di awal tahun ini. Indek Saham Korea Selatan (KOSPI) melanjutkan momentum dengan kinerja +24% di bulan pertama tahun ini. Di penghujung bulan Januari, Presiden Amerika Serikat menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Fed.

Ulasan Makro Ekonomi Indonesia

Para Triwulan IV-2025 PDB riil Indonesia tumbuh 5,39% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya maupun Triwulan IV tahun sebelumnya. Naiknya pertumbuhan PDB didorong oleh naiknya pertumbuhan sektor konsumsi Rumah Tangga dan Investasi. Adapun sepanjang tahun 2025 PDB Indonesia tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB tahun 2024.

Di bulan Desember 2025 Jumlah Uang Beredar (M2) tumbuh 9,6% secara tahunan, tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Di periode yang sama kredit perbankan tumbuh 9,3% secara tahunan, melanjutkan tren kenaikan selama 6 bulan terakhir.

Di bulan Januari 2026 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 126,97, melanjutkan tren kenaikan selama 5 bulan terakhir. Tren kenaikan tersebut juga terjadi baik di Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) maupun di Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).

Tema Investasi Khusus: Reformasi Free Float Pasar Saham

Regulator Pasar Indonesia kini menaruh perhatian besar pada aturan free float karena aspek ini menjadi salah satu indikator utama dalam menilai investability pasar modal Indonesia. Free float mencerminkan porsi saham yang benar-benar tersedia bagi publik; semakin kecil proporsinya, semakin tinggi risiko distorsi harga akibat dominasi pemegang saham pengendali. Karena itu, isu free float tidak terlepas dari evaluasi indeks global seperti MSCI yang menilai kualitas struktur dan kedalaman pasar.

Sebagai respons, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyepakati kenaikan batas minimal free float dari sekitar 7,5% menjadi 15%, yang akan dipublikasikan dan mulai berlaku dalam regulasi baru pada awal 2026. Ketentuan ini langsung diterapkan bagi emiten yang akan listing di bursa, sementara emiten yang sudah tercatat diberikan masa transisi untuk menyesuaikan struktur kepemilikannya secara bertahap.

Aturan ini mendorong perusahaan untuk memperbesar porsi saham publik, sehingga suplai saham di pasar meningkat dan likuiditas menjadi lebih dalam. Emiten dengan free float di bawah ambang batas harus menempuh aksi korporasi, seperti divestasi saham ke publik, guna memenuhi ketentuan tersebut. OJK memberikan ruang penyesuaian agar proses ini berlangsung tertib tanpa menciptakan tekanan struktural yang berlebihan.

Kenaikan free float bertujuan memperbaiki kualitas price discovery dan menekan risiko volatilitas ekstrem yang kerap muncul pada saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. Dengan basis pemegang saham yang lebih luas, pergerakan harga diharapkan lebih mencerminkan fundamental, sekaligus mengurangi kerentanan terhadap praktik spekulatif. Kebijakan ini juga merupakan bagian dari upaya sistematis untuk merespons penilaian MSCI dan memperkuat kredibilitas pasar di mata investor global.

Penetapan free float minimum 15% merupakan langkah struktural untuk memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Kebijakan ini tidak sekadar menjawab sorotan eksternal, tetapi juga mendukung agenda pendalaman pasar domestik. Bagi investor, sinyalnya jelas: arah kebijakan bergerak menuju pasar yang lebih likuid, transparan, dan mampu menopang aliran modal yang lebih stabil serta pembentukan harga yang lebih kredibel.

Download Ulasan Pasar dan Ekonomi Februari 2026 selengkapnya