Tinjauan Pasar Bulanan

Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulanan III/2026 - Juli 26

S
sg 20 Jul 2026

Ulasan Pasar Global

Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 11%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.

Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Teknologi AS (NASDAQ). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Denmark (OMX Copenhagen), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Perindustrian, dan Energi cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Barang Konsumen Primer relatif tertinggal.

Sepanjang Juni 2026, pasar saham global membukukan kinerja yang beragam. Hal ini ditandai divergensi dalam tema AI, di mana saham semikonduktor terus diuntungkan permintaan yang kuat sementara para hyperscaler yang mendanai belanja modal AI justru tertekan. Meredanya risiko geopolitik menjadi salah satu katalis yaitu telah tercapainya kesepakatan damai interim antara AS dan Iran. Di sisi, the Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Namun demikian proyeksi terbaru menunjukkan potensi arah suku bunga yang lebih tinggi.

Kerangka Kuadran Geopolitik SAM memetakan empat skenario konflik AS-Israel-Iran. Skenario baseline NACHO (stalemate berkepanjangan, 50–55%) tetap dominan. Konflik terukur tetap berlanjut meskipun kedua belah pihak telah sepakat menandatangani perjanjian damai.

Harga minyak mentah dunia mulai stabil dalam kisaran level US$70-80/barel setelah sempat menyentuh level US$120/barel akibat ketegangan geopolitik. Di sisi lain, harga-harga logam industri masih berada di kisaran level yang tinggi seiring dengan kuatnya permintaan terkait data center dan semikonduktor.

Citi Economic Surprise Index menunjukkan divergensi di mana hampir seluruh kawasan ekonomi berada di teritori positif kecuali Tiongkok. Namun demikian terlihat arah pemulihan dari indeks Eurozone dan Tiongkok. Di sisi lain, indeks Amerika Serikat dan negara Berkembang bertahan dalam momentum yang positif.


Ulasan Makro Ekonomi Indonesia

Sepanjang bulan Juni 2026 nilai tukar Rupiah melemah 0,04% terhadap Dolar AS. Pelemahan tersebut relatif tidak separah mata uang beberapa negara lain. Namun, sepanjang Semester I-2026 nilai tukar Rupiah sudah melemah 7,14%, salah satu yang terdalam dibandingkan kinerja nilai tukar negara lain.

Di bulan Juni 2026 Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 5,75%. Kenaikan tersebut melanjutkan kebijakan serupa di bulan sebelumnya, sehingga sepanjang tahun ini BI telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin. Langkah tersebut mampu membuat nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS di bulan Juni relatif stabil.

Investor asing di pasar SBN dan SRBI mencatatkan inflow di bulan Juni masing-masing sebesar Rp22,4 triliun dan Rp76,7 triliun. Sementara di pasar saham investor asing masih melanjutkan outflow sejak awal tahun dimana sepanjang bulan Juni saja keluar Rp28,3 triliun. SRBI menjadi penarik dana asing seiring suku bunganya yang atraktif didorong kenaikan suku bunga acuan BI.


Alokasi Aset

Kami melihat potensi pasar secara keseluruhan berpeluang untuk rebound pada Semester II baik pada pasar saham mau pun pasar obligasi. Potensi imbal hasil masing-masing aset hingga akhir tahun yaitu 19,5% (IHSG) dan 3,5% (indeks obligasi INDOBeX Total Return).

Alokasi aset yang lebih progresif kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 60:40 antara saham dan obligasi cukup optimal.

Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.

Download Ulasan Pasar dan Ekonomi Triwulanan III/2026 - Juli 26 selengkapnya

SAM Investment & Research


Berita Lain di Kategori "Tinjauan Pasar Bulanan"