Ulasan Pasar Global
Sektor semikonduktor menjadi penunjang kinerja pasar saham global
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 10%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Hong Kong (Hang Seng), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Teknologi, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Kesehatan relatif tertinggal.
Sepanjang Juli 2026 pasar saham global naik tipis di tengah eskalasi ketegangan geopolitik. Di sisi lain, musim pelaporan hasil kinerja keuangan emiten secara global turut mempengaruhi pergerakan pasar saham.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan PDB masih didorong sektor Konsumsi Pemerintah
Sepanjang Triwulan II-2026 PDB Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di Triwullan II-2025. Pertumbuhan PDB didorong tingginya Konsumsi Pemerintah yang tumbuh 15,97% secara tahunan dan PMTDB yang tumbuh 6,87% secara tahunan.

Defisit APBN hingga bulan Juni 2026 tercatat sebesar -0,76% terhadap PDB. Realisasi defisit APBN cenderung melambat di sepanjang Triwulan II-2026 setelah di tiga bulan pertama tahun ini realisasi defisit APBN mencapai -0,93% terhadap PDB. Adapun trajektori realisasi defisit APBN tahun ini masih relatif lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun-tahun sebelumnya pasca pandemi.

Selama 3 bulan terakhir (April-Juni 2026) ekspor Indonesia tumbuh 7,6% secara tahunan, sedangkan impor di periode yang sama tumbuh 26,2% secara tahunan. Tingginya pertumbuhan impor membuat neraca dagang Indonesia defisit setelah 6 tahun berturut-turut surplus.

Tema Investasi Khusus: AI Trade Under Test
Is AI reaching its limits?
Saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu topik utama pasar bulan ini. Indeks PHLX Semiconductor (SOX) sempat terkoreksi tajam -6,7% dalam dua sesi awal bulan Juli, namun berbalik arah dan melesat ke atas +60% secara tahun berjalan. Kondisi ini memicu keraguan baru atas keberlanjutan reli AI, dengan getarannya turut merembet hingga ke KOSPI Korea Selatan.

Pemicunya bersifat geopolitik: Tiongkok hanya menyetujui kurang dari separuh permintaan pembelian chip H200 Nvidia, mempertegas risiko pembatasan ekspor semikonduktor AS-China. Saham Nvidia sempat terkoreksi 16% dari rekor bulan Mei, meski tetap naik 12% secara tahun berjalan, didukung pendapatan kuartal kedua yang melonjak 85% secara tahunan menjadi rekor US$81,6 miliar.
Pendorong kedua bersifat struktural: rotasi investor menjauhi mega-cap AI menuju alternatif yang lebih murah. Broadcom turun hampir 20% dan Nvidia turun sebesar 12% pada bulan Juni, sementara AMD melesat 130% secara tahun berjalan dan Micron turut mengungguli Nvidia. Tema AI kini menyebar lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Kombinasi risiko geopolitik dan rotasi ini membuat reli AI 2026 terasa lebih rapuh. Valuasi Nvidia justru menyusut meski sahamnya naik: forward price-to-earnings turun ke kisaran 23x, jauh dari level di atas 30x tahun lalu, karena pertumbuhan laba mengungguli kenaikan harga saham. Bobotnya di S&P 500 kini mencapai 7,5%, melampaui gabungan sektor energi dan utilitas, sehingga pasar AI rentan terhadap sentimen jangka pendek.
Beberapa poin ini menjadi ujian baru bagi tema investasi AI setelah reli yang berlangsung tanpa jeda. Belanja hyperscaler tetap agresif, dengan Alphabet menaikkan proyeksi capex 2026 hingga US$205 miliar. Namun arah suku bunga The Fed yang masih hawkish dan risiko dagang AS-China akan menentukan arah tema ini ke depan. Laporan kuartalan Nvidia pada 26 Agustus akan menjadi ujian berikutnya bagi keberlanjutan reli ini.
Download Ulasan Pasar dan Ekonomi Bulanan Agustus 2026 selengkapnya
SAM Investment & Research
Mau baca berita ekonomi & investasi lainnya?
Lihat Semua Berita