Ulasan Pasar Global
Sektor semikonduktor menopang pasar saham global
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 11%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Malaysia (FTSE KLCI) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Filipina (PSEi) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Denmark (OMX Copenhagen), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Energi, dan Bahan Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Barang Konsumen Primer relatif tertinggal.

Sepanjang Agustus 2026 pasar saham global menguat, ditopang pemulihan sektor semikonduktor yang mengangkat indeks saham Taiwan dan Korea Selatan, dengan sektor Bahan Baku, Energi, dan Teknologi memimpin kinerja bulanan. Memasuki September 2026, pergerakan pasar cenderung bervariasi seiring kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% serta naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Inflasi masih dalam tren kenaikan
Inflasi Indonesia di bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Pada periode yang sama, inflasi inti Indonesia tercatat sebesar 2,92% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 4,06%. Sementara inflasi komponen bergejolak berada di level 4,06% secara tahunan.

Dalam 5 bulan terakhir Inflasi inti mengalami kenaikan dari level 2,44% di bulan April 2026 ke level 2,92% di bulan Agustus 2026. Begitupun dengan pertumbuhan kredit yang juga dalam tren kenaikan dari bulan Februari 2026 sebesar 8,91% menjadi 13% di bulan Juli 2026. Adapun jumlah uang beredar (M2) mengalami penurunan pertumbuhan dari 8,72% di bulan Juni menjadi 8,32% di bulan Juli.

Suku bunga riil Bank Indonesia (suku bunga dikurangi Inflasi) menurun di bulan Agustus 2026 seiring naiknya Inflasi tanpa disertai kenaikan suku bunga acuan. Sejak awal tahun, Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin dan membuat suku bunga riilnya naik sejak bulan Maret hingga Juli 2026.

Tema Investasi Khusus: Kesinambungan Fiskal
Disiplin defisit menjadi penentu biaya utang
Pergantian Menteri Keuangan pada pertengahan September menempatkan kesinambungan kebijakan sebagai titik awal. Suahasil Nazara datang dari dalam Kementerian Keuangan, dengan pengalaman sebagai Wakil Menteri Keuangan dan pimpinan Badan Kebijakan Fiskal. Rekam pergantian sebelumnya menunjukkan pasar menilai kredibilitas penggantinya.

Ujian pertama berada di sisi pembiayaan. RAPBN 2027 dirancang dengan defisit 2,40% PDB dan penerbitan SBN neto sekitar Rp779,9 triliun, sementara yield SBN 10 tahun tercatat 7,04% per 1 September 2026 setelah naik sepanjang Agustus. Perdebatan transfer dana negara dan kontribusi Danantara belum selesai dan ikut menentukan beban yang jatuh ke penerbitan SBN. Pelebaran spread terhadap US Treasury 10 tahun menjadi penanda paling awal kenaikan premi risiko fiskal.
Tekanan terbesar pada sisi belanja datang dari subsidi energi, yang tahun ini dialokasikan Rp210,1 triliun atau sekitar dua pertiga total subsidi. Kebijakan menahan harga BBM bersubsidi menopang daya beli dan inflasi, namun bebannya tetap harus ditutup. Efisiensi belanja dan penguatan penerimaan menjaga defisit tetap pada ambang batas aman.

Bantalannya berupa Saldo Anggaran Lebih Rp420 triliun di Bank Indonesia dan perbankan, sebagai pertahanan terakhir setelah efisiensi belanja dimaksimalkan. Cara pemakaiannya lebih menentukan daripada besarannya, karena penarikan terukur menjaga ruang APBN apabila ada tantangan di masa mendatang.
Konfirmasinya akan terlihat dari koordinasi fiskal dan moneter. Outlook defisit APBN 2026 di kisaran 2,9% PDB, di bawah batas 3%, sementara Bank Indonesia menjaga inflasi dan stabilitas rupiah. Minat asing pada SBN masih positif, dengan pembelian bersih sebesar Rp19,7 triliun dalam sebulan terakhir dan Rp37,0 triliun sepanjang tahun berjalan.
Ulasan lebih lengkap, download Ulasan Pasar dan Ekonomi September 2026
SAM Investment & Research
Mau baca berita ekonomi & investasi lainnya?
Lihat Semua Berita