Menindaklanjuti rencana perubahan KIK dan Prospektus REKSA DANA SAM MUTIARA NUSA CAMPURAN yang telah diumumkan melalui surat kabar “Harian Ekonomi Neraca” tertanggal 17 April 2025, kami, PT Samuel Aset Manajemen selaku Manajer Investasi dari REKSA DANA SAM MUTIARA NUSA CAMPURAN, dengan ini bermaksud menyampaikan pelaksanaan perubahan KIK dan Prospektus REKSA DANA SAM MUTIARA NUSA CAMPURAN sebagaimana termaktub dalam akta addendum KIK REKSA DANA SAM MUTIARA NUSA CAMPURAN.
Meningkatnya volatilitas pasar saham global di tengah gejolak perang dagang
Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -1%. Indeks saham Hong Kong (Hang Seng) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Thailand (SET) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Afrika Selatan (FTSE/JSE), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Thailand (SET), Indonesia (IHSG), dan Malaysia (FTSE KLCI) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Hong Kong (Hang Seng), diikuti oleh Jerman (DAX), Eropa (STOXX 600), dan Inggris (FTSE 100). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Teknologi AS (NASDAQ), dan Taiwan (TWSE) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Keuangan, dan Utilitas cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian relatif tertinggal.
Pasar saham global mengalami gejolak hebat akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Pada 2 April, Trump mengumumkan “Liberation Day” dengan tarif impor yang signifikan, memicu aksi jual besar-besaran di pasar global. Namun, pada 9 April, Trump mengejutkan pasar dengan menangguhkan tarif untuk sebagian besar negara selama 90 hari, yang menyebabkan reli di pasar saham. Meskipun demikian, ketidakpastian tetap ada karena tarif terhadap China tetap berlaku. Secara keseluruhan, pasar saham global masih dibayangi ketidakpastian akibat kebijakan perdagangan yang berubah-ubah.
Pelemahan Indeks Dolar AS dapat menjadi katalis positif
Pasar saham Eropa sejak awal tahun memimpin kenaikan pasar saham global setelah rencana ekspansi kebijakan fiscal di Jerman dan beberapa negara lainnya. Pelemahan indeks dolar AS membuat risk appetite investor untuk berinvestasi di luar AS, terutama pada negara maju lainnya, menjadi meningkat.
Kami melihat kondisi pasar global dalam jangka pendek masih berpotensi terjadi volatilitas. Saat ini pasar dalam sentimen kelegaan atas penundaan tarif perdagangan. Namun, latar belakang kondisi tensi perang dagang tidak sepenuhnya berubah.
Indeks dolar AS yang melemah sejak awal tahun disebabkan oleh dua faktor utama. Dari sisi AS, data ekonomi yang melemah meningkatkan ekspektasi the Fed untuk memotong tingkat suku bunga. Sementara di sisi lain, pertumbuhan ekonomi di Eropa diperkirakan membaik seiring perubahan rezim kebijakan fiskal.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pelemahan IDR sepanjang tahun 2025 akibat arus modal asing keluar dari pasar saham
Sejak awal tahun hingga akhir bulan Maret 2025, nilai tukar Rupiah melemah 2,84% terhadap Dolar AS, relatif tertinggal dibandingkan kinerja mata uang negara lain. Adapun dalam satu tahun terakhir nilai tukar Rupiah melemah 4,45%, relatif lebih baik dibandingkan Won Korea Selatan, Peso Meksiko, dan Real Brazil.
Neraca dagang Indonesia masih melanjutkan tren surplus dalam 58 bulan terakhir. Surplus tersebut turut meningkatkan cadangan devisa yang per Februari 2025 tercatat sebesar AS$154,5 miliar, naik sekitar AS$24 miliar dalam 58 bulan terakhir.
Di sisi pasar modal, terjadi arus modal keluar oleh investor asing di pasar saham sebanyak sekitar Rp31 triliun. Sedangkan di pasar SBN dan SRBI investor asing tercatat mengalami arus modal masuk masing-masing sebesar Rp15,2 triliun dan Rp10 triliun.
Alokasi Aset
Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 60:40 pada 2Q25
Kami melihat potensi pasar saham mulai rebound terutama pada beberapa nama big caps yang memiliki dividend yield atraktif. Potensi imbal hasil masing-masing aset (sebelum dividen saham), yaitu 15,4% (IHSG) dan 9,5% (indeks obligasi INDOBeX Total Return) – data per 11 April 2025.
Alokasi aset yang sedikit condong kepada instrumen pendapatan tetap kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 60:40 antara saham dan obligasi cukup optimal.
Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 1%. Indeks saham Hong Kong (Hang Seng) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Thailand (SET) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Afrika Selatan (FTSE/JSE), dan Brazil (BOVESPA) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Thailand (SET), Indonesia (IHSG), dan Filipina (PSEi) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Hong Kong (Hang Seng), diikuti oleh Jerman (DAX), Eropa (STOXX 600), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Jepang (Nikkei 225), Teknologi AS (NASDAQ), dan Taiwan (TWSE) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Keuangan, Telekomunikasi, dan Kesehatan cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Utilitas, dan Perindustrian relatif tertinggal.
Pasar saham Eropa mengalami reli kuat sejak awal tahun, dengan kinerja indeks secara keseluruhan menunjukkan tren positif. Beberapa indeks utama bahkan mencapai level tertinggi baru sepanjang masa. Salah satu pendorong utama reli ini adalah kebijakan moneter yang lebih akomodatif dan rencana pelonggaran kebijakan fiskal Jerman. Sentimen pasar juga terbantu oleh valuasi saham Eropa yang relatif murah dibandingkan dengan valuasi saham di Amerika Serikat
Inflasi Indonesia di bulan Februari 2025 tercatat sebesar -0,09% secara tahunan atau -0,48% secara bulanan. Deflasi terjadi di Kelompok harga diatur pemerintah sebesar -9,02% secara tahunan, sedangkan inflasi inti tercatat sebesar 2,48% secara tahunan dan kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi sebesar 0,56%.
Di bulan Februari 2025 Kelompok sektor Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mencatatkan deflasi -12,08% secara tahunan yang disebabkan oleh diskon tarif listrik sebesar 50% kepada pelangggan 2.200 VA ke bawah. Sementara Kelompok sektor Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 8,43% yang dipicu oleh kenaikan harga emas.
Di bulan Januari 2025 kredit perbankan yang dilakukan oleh rumah tangga tumbuh 10,53% secara tahunan, sementara dana pihak ketiga yang dimiliki oleh rumah tangga di perbankan tumbuh -2,68% secara tahunan. Memburuknya kondisi likuiditas rumah tangga ditunjukkan oleh tren peningkatan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga rumah tangga.
Pada 24 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), sebuah lembaga pengelola investasi strategis yang bertujuan mengonsolidasikan dan mengoptimalkan investasi pemerintah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Nama “Daya Anagata Nusantara” dipilih oleh Presiden Prabowo, di mana “Daya” berarti energi, “Anagata” berarti masa depan, dan “Nusantara” merujuk pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makna ini menggambarkan potensi dan kekuatan masa depan Indonesia yang berfokus pada pengelolaan investasi yang efisien.
Danantara dirancang untuk mengelola aset negara secara profesional dan transparan, dengan tujuan meningkatkan efisiensi aset, menarik investasi global, dan memperkuat daya saing Indonesia di sektor-sektor strategis. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam tahap awal, Danantara akan mengelola investasi senilai US$20 miliar atau sekitar Rp326 triliun, yang akan dialokasikan ke berbagai proyek strategis. Sektor-sektor prioritas mencakup hilirisasi sumber daya alam, kecerdasan buatan (AI), energi terbarukan, dan ketahanan pangan. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong transformasi ekonomi dan menciptakan lapangan kerja bernilai tinggi.
Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) besar turut serta dalam Danantara, di antaranya PT Pertamina di sektor energi, PT PLN di bidang kelistrikan, PT Telkom Indonesia di sektor telekomunikasi, serta tiga bank BUMN—Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan Bank Mandiri—yang akan berperan dalam mendukung pembiayaan investasi. Selain itu, Mining Industry Indonesia (MIND ID) juga akan terlibat dalam proyek hilirisasi sumber daya mineral untuk meningkatkan nilai tambah industri pertambangan nasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Danantara menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan investasi. Lembaga ini akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sesuai dengan prinsip tata kelola yang baik. Dengan hadirnya Danantara, Indonesia berharap dapat mempercepat transformasi ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui pengelolaan aset negara yang efektif dan efisien, Danantara berpotensi menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di masa depan.
Pasar saham AS menguat didorong kenaikan saham-saham teknologi
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 8%. Indeks saham Teknologi AS (NASDAQ) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Tiongkok (SHCOMP), Malaysia (FTSE KLCI), dan India (SENSEX) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Brazil (BOVESPA), dan Indonesia (IHSG) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Teknologi AS (NASDAQ), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Amerika Serikat (S&P 500), dan Jepang (Nikkei 225). Sementara indeks saham Korea Selatan (KOSPI), Denmark (OMX Copenhagen), dan Swedia (OMX Stockholm) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Telekomunikasi, dan Keuangan cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Bahan Baku, Energi, dan Kesehatan relatif tertinggal.
Indeks Teknologi NASDAQ dan Taiwan Stock Exchange Weighted menjadi indeks saham yang membukukan kinerja terbaik sepanjang tahun 2024 di antara indeks saham global lainnya. Hal ini mencerminkan tema sektor teknologi seperti semikonduktor dan artificial intelligence (AI) masih mendominasi di pasar global.
Penguatan Dolar AS masih berlanjut di awal tahun ini
Pasar saham AS berkinerja jauh lebih baik dibanding rerata indeks pasar saham global seiring kenaikan imbal hasil US Treasury dan penguatan Dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia. Di sisi lain, harga komoditas energi mulai merangkak naik.
Kami melihat kondisi pasar yang positif masih menjadi asumsi dasar kami, di mana narasi soft landing tetap berpeluang untuk terjadi. Asumsi di didasarkan pada harapan ekonomi AS yang tetap kokoh dan ekonomi China yang dapat menunjukkan pemulihan.
Indeks dolar AS dalam tren menguat sejak Trump terpilih sebagai Presiden AS di bulan November lalu. Di sisi lain, data tenaga kerja AS yang masih kuat mencerminkan ekspektasi ekonomi yang kuat dan potensi kenaikan inflasi ke depannya. Hal ini membuat pasar melihat potensi the Fed tidak akan terburu-buru dalam memangkas tingkat suku bunga
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Surplus neraca dagang dan suku bunga yang tinggi belum cukup untuk menjaga nilai tukar Rupiah
Indonesia terus mencatatkan surplus neraca dagang setiap bulannya sejak pertengahan tahun 2020 hingga sekarang. Di bulan November 2024 neraca dagang Indonesia surplus AS$4,42 miliar. Rentetan surplus tersebut turut meningkatkan cadangan devisa Indonesia dari kisaran AS$130 miliar di awal tahun 2020 menjadi AS$155 miliar di akhir tahun 2024.
Di bulan Desember 2024 Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya, meskipun the Fed menurunkan suku bunganya 25 basis poin. Saat ini selisih suku bunga BI dan the Fed sebesar 150 basis poin, melebar seiring the Fed yang telah menurunkan suku bunganya 100 basis poin di sepanjang tahun 2024, sedangkan suku bunga BI tetap bertahan di 6%.
Tren surplus neraca dagang dan masih tingginya suku bunga BI belum cukup untuk menjaga nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Di sepanjang Triwulan-IV 20204, Rupiah melemah 6,4% terhadap Dolar AS dari 15.140 menjadi 16.100. Adapun di periode yang sama Indeks Dolar AS menguat 7,6% dari 100,8 menjadi 108,5.
Alokasi Aset
Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 50:50 pada 1Q25
Kami melihat potensi imbal hasil saham cukup baik, ditopang oleh kinerja sektor-sektor yang bersifat cyclical value. Potensi imbal hasil kami masih baik (sebelum dividen saham), masing-masing 12,5% (IDX80) dan 9,8% (indeks obligasi INDOBeX Total Return) – data per 30 December 2024.
Alokasi aset yang sedikit condong kepada instrumen saham kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 50:50 antara saham dan obligasi cukup optimal.
Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi sejalan dengan menurunnya inflasi
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 9%. Indeks saham Taiwan (TWSE) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Filipina (PSEi), Tiongkok (SHCOMP), dan Malaysia (FTSE KLCI) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Brazil (BOVESPA), dan Thailand (SET) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Taiwan (TWSE), diikuti oleh Teknologi AS (NASDAQ), Amerika Serikat (S&P 500), dan Hong Kong (Hang Seng). Sementara indeks saham Korea Selatan (KOSPI), Inggris (FTSE 100), dan Denmark (OMX Copenhagen) tercatat tertinggal.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Reli pasar global di dominasi oleh kenaikan saham-saham AS
PDB Indonesia di Triwulan III-2024 tumbuh 4,95% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 5,05%. Pertumbuhan sektor Konsumsi Rumah Tangga menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya.
Di bulan Oktober 2024 inflasi umum tercatat sebesar 1,71% secara tahunan, masih melanjutkan tren penurunan dalam 8 bulan terakhir. Inflasi di level perdagangan besar tercatat sebesar 1,95% secara tahunan, juga dalam tren menurun seperti inflasi di harga konsumen. Adapun inflasi inti masih dalam tren meningkat sepanjang tahun ini.
Rata-rata upah buruh pada bulan Agustus 2024 sebesar 3,27 juta rupiah, tumbuh 2,81% dibandingkan bulan Agustus 2023. Pertumbuhan tahunan tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan di bulan Februari 2024 yang sebesar 3,27% dan di bulan Agustus 2023 yang sebesar 3,50%.
Tema Investasi Khusus: Dampak Kebijakan Trump
Peluang baru bagi ekonomi Indonesia
Kemenangan Donald Trump membawa dampak bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Meskipun kebijakan proteksionisme yang diterapkannya dapat menciptakan tantangan, ada beberapa peluang yang dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memperkuat ekonomi domestik.
Di tingkat global, kebijakan ekonomi Trump, yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi domestik AS melalui pemotongan pajak dan deregulasi, berpotensi mendorong perekonomian AS untuk tumbuh lebih cepat. Hal ini menciptakan peningkatan permintaan bagi produk-produk global, termasuk barang-barang yang diproduksi di Indonesia. Dengan terjadinya ekspansi ekonomi di AS, Indonesia berpeluang untuk meningkatkan ekspor ke pasar yang lebih luas, terutama di sektor komoditas dan manufaktur.
Secara domestik, Indonesia dapat memanfaatkan pergeseran arus investasi global yang didorong oleh kebijakan Trump. Kebijakan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung (FDI), terutama dalam sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, manufaktur, dan teknologi. Investasi ini tidak hanya dapat memperkuat perekonomian domestik, tetapi juga meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Kebijakan moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam mengelola stabilitas nilai tukar Rupiah juga memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjaga daya beli domestik dan mengurangi dampak negatif dari fluktuasi nilai tukar. Selain itu, sektor komoditas Indonesia berpotensi mendapatkan manfaat dari kebijakan deregulasi energi di AS, yang meningkatkan permintaan terhadap komoditas seperti batubara dan kelapa sawit. Kenaikan harga dan permintaan global untuk produk-produk ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat nilai ekspor dan meningkatkan pendapatan negara.
Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang datang Bersama dengan rencana kebijakan Trump, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan ekonominya, memanfaatkan pertumbuhan global, dan memperluas akses pasar. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat mengoptimalkan momentum ekonomi global ini untuk mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana“), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal: 30 September 2024 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 Oktober 2024
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2024.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp85.000.000,- (delapan puluh lima juta rupiah).*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 23 September 2024 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,50% atau Rp6,15 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 3 bulan terakhir.
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
PHI dengan nilai minimal Rp1.000.000 (satu juta rupiah) dibagikan ke nasabah secara tunai dan PHI yang lebih rendah dari nilai tersebut dibagikan dalam bentuk tambahan Unit Penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 30 September 2024 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 Oktober 2024.
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2024
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga NAV per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.*
Perkiraan PHI yang dibagikan adalah sekitar Rp590.000.000,- (lima ratus sembilan puluh juta rupiah) untuk seluruh Pemegang Unit Penyertaan SAM Sukuk Syariah Sejahtera.*
*) sebagai ilustrasi bila nilai total PHI sebagaimana disebutkan di atas dibagikan dengan menggunakan informasi NAB SAM Sukuk Syariah Sejahtera tanggal 23 September 2024 maka setiap Pemegang Unit Penyertaan akan menerima PHI sekitar Rp29,64 per unit. Harga NAB per unit akan terkoreksi sebesar PHI per unit yang dibagikan tersebut atau sekitar -1,24%. Nilai PHI per unit penyertaan dapat berubah sesuai dengan jumlah Unit Penyertaan saat Cum Date.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama 3 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas S
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan kelas S sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 30 September 2024 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 Oktober 2024.
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2024.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas S adalah sekitar Rp300.000.000,- (tiga ratus juta Rupiah).*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan informasi NAB SAM Obligasi Optima Kelas S per 23 September 2024 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 1,46% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas S atau Rp15,00 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
PT Samuel Aset Manajemen selaku Manajer Investasi SAM DANA CERDAS dengan ini mengumumkan rencana penggantian Bank Kustodian dari semula “PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk” menjadi “PT Bank CIMB Niaga Tbk” serta perubahan-perubahan ketentuan lain dalam Kontrak Investasi Kolektif dan Prospektus SAM DANA CERDAS, sehingga secara keseluruhan mengubah ketentuan-ketentuan antara lain sebagai berikut:
Pihak penandatanganan Kontrak Investasi Kolektif SAM DANA CERDAS;
Pasal tentang Definisi terkait Bank Kustodian;
Pasal tentang Pemberitahuan terkait korespondensi Para Pihak; dan
Rencana perubahan terhadap Prospektus SAM DANA CERDAS adalah meliputi seluruh aspek keterbukaan informasi mengenai Bank Kustodian serta penyesuaian dengan perubahan pada Kontrak Investasi Kolektif SAM DANA CERDAS yang terkait dengan perubahan-perubahan tersebut di atas.
Rincian perubahan ketentuan dalam KIK dan Prospektus tersebut di atas dapat diperoleh di Manajer Investasi.
Rencana perubahan KIK dan Prospektus di atas telah diberitahukan oleh Manajer Investasi kepada OJK pada tanggal yang sama dengan pengumuman ini.
Demikian pengumuman ini disampaikan kepada para Pemegang Unit Penyertaan SAM DANA CERDAS serta pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Jakarta, 26 September 2024
Manajer Investasi SAM DANA CERDAS
PT Samuel Aset Manajemen
berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan
Menara Imperium Lantai Dasar Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 1 Jakarta Selatan 12980
Pasar saham negara maju di Kawasan Asia Pasifik reli di Triwulan II-2024
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 7%. Indeks saham Taiwan (TWSE) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham India (SENSEX), Malaysia (FTSE KLCI), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Thailand (SET), dan Brazil (BOVESPA) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Taiwan (TWSE), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Jepang (Nikkei 225), dan Teknologi AS (NASDAQ). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Kanada (S&P/TSX), dan Korea Selatan (KOSPI) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Telekomunikasi, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Bahan Baku, Barang Konsumen Primer, dan Barang Konsumen Non-Primer relatif tertinggal.
Pasar saham egara-negara maju di kawasan Asia Pasifik seperti Jepang dan Taiwan reli ke level tertingginya sepanjang masa. Secara historis pelemahan nilai mata uang Yen menjadi salah satu faktor penguatan indeks saham di Jepang yang merupakan negara eksportir. Secara global penguatan indeks negara-negara maju masih didominasi oleh tema sektor yang berelasi dengan teknologi.
Penguatan pasar saham global semakin merata
Kami melihat sentimen pasar global yang bullish terutama di negara-negara yang ditandai dengan reli yang semakin merata pada di berbagai Kawasan, tidak hanya terpusat di Amerika Serikat. Beberapa indeks saham negara-negara maju mencapai level tertinggi sepanjang masa pada paruh pertama tahun ini.
Skenario pasar yang masih positif menjadi asumsi dasar kami, di mana narasi soft landing atau pun no landing teteap berpeluang untuk terjadi. Asumsi di didasarkan pada harapan ekonomi negara maju yang tetap kokoh dan ekonomi Tiongkok yang dapat menunjukkan stabilisasi.
Tingkat volatilitas aset finansial mencapai kisaran titik terendah sejak akhir 2021 atau sebelum terjadinya konflik Rusia dan Ukraina. Hal ini mencerminkan mood pasar yang masih bullish, yang terlihat dari relinya aset-aset yang berisiko sejak awal tahun di berbagai kawasan.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Fiskal masuk ke zona defisit di semester 1 2024, tetapi ada buffer dari SAL yang masih tinggi
Realisasi fiskal di Semester I-2024 defisit Rp77,3 triliun atau -0,34% terhadap PDB, berbeda arah dibandingkan dengan realisasi di Semester I-2023 yang surplus 0,71% terhadap PDB. Pada Semester I-2024 pendapatan negara turun -6,2% secara tahunan, sementara realisasi belanja negara naik 11,3% secara tahunan.
Defisit fiskal di Semester I-2024 berbeda dengan realisasi Semester I-2022 dan Semester I-2023 yang masing-masing mencatatkan surplus 0,39% dan 0,71% terhadap PDB. Adapun realisasi Semester I-2020 dan Semester I-2021 tercatat defisit -1,57% dan -1,72% terhadap PDB.
Di akhir tahun 2023 pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp459,5 triliun, yang bersumber dari akumulasi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran dan penggunaan SAL itu sendiri. Pada saat dibutuhkan, SAL dapat digunakan untuk menjadi salah satu sumber penerimaan pembiayaan selain dari utang.
Alokasi Aset Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 50:50
Kami melihat potensi imbal hasil saham cukup baik, ditopang oleh kinerja sektor-sektor yang bersifat cyclical value. Potensi imbal hasil kami masih baik (sebelum dividen saham), masing-masing 6,0% (IDX80) dan 6,8% (indeks obligasi INDOBeX Total Return)
Alokasi aset yang sedikit condong kepada instrumen saham kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 50:50 antara saham dan obligasi cukup optimal.
Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.