Samuel Aset Manajemen

Tag: Market outlook

  • PRESS RELEASE: Market Outlook 2014 – Keep Calm, Invest Wisely           PRESS RELEASE: Market Outlook 2014 – Keep Calm, Invest Wisely

    PRESS RELEASE: Market Outlook 2014 – Keep Calm, Invest Wisely PRESS RELEASE: Market Outlook 2014 – Keep Calm, Invest Wisely

    PRESS RELEASE : Market Outlook 2014: Keep Calm, Invest Wisely

    Pada hari Kamis, 19 Desember 2013, bertempat di SAMUEL Exchange Club, Menara Imperium Lt. 7 Jakarta, PT Samuel Aset Manajemen mempresentasikan Market Outlook 2014, bertema “Keep Calm, Invest Wisely”. Acara ini bertujuan memberikan informasi kinerja dan perkembangan produk reksa dana SAM, serta memberikan gambaran pasar, tinjauan dan strategi investasi tahun 2014 pada masyarakat pasar modal pada umumnya.

    Hadir dalam acara ini jajaran direksi PT Samuel Aset Manajemen. Acara dibuka oleh, Agus B. Yanuar selaku President Director dan Intan Syah Ichsan, Chief Operating Officer yang menyampaikan Perkembangan Produk, Dana Kelolaan dan Kinerja SAM di tahun 2013.  Market Outlook makro ekonomi disampaikan oleh Chief Economist & Head of Research, Lana Soelistianingsih. Sementara itu, Strategi Investasi 2014 disampaikan oleh Tim Investasi SAM, yang dipandu oleh Agus Yanuar dan disampaikan oleh Budi Budar, Investment Strategist, Herbie Mohede, Senior Fund Manager dan Dimas Noverio, Investment Analyst.


    Tentang Samuel Aset Manajemen

    PT Samuel Aset Manajemen (SAM) merupakan anggota dari Bursa Efek Indonesia dan memiliki lisensi sebagai manajer investasi. Sebagai perusahaan manajer investasi terpercaya yang telah berdiri secara independen sejak 1997, SAM selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada nasabah dengan menetapkan strategi investasi yang tepat. Tim Manajer Investasi SAM yang merupakan praktisi yang berpengalaman di pasar modal dalam dan luar negeri itu, dalam meramu kebijakan investasinya senantiasa menggunakan pendekatan yang rasional dengan metode analisis yang sahih. Dengan memanfaatkan pengalamannya, SAM dapat secara taktis menyesuaikan racikan investasi terbaiknya yang sesuai dengan kondisi pasar.

    Saat ini Samuel Aset Manajemen mengelola reksa dana yang mempunyai rekam jejak dan kinerja yang memuaskan, yaitu SAM Indonesian Equity Fund (reksa dana saham) dan SAM Sharia Equity Fund (berbasis efekefek ekuitas syariah, diluncurkan Januari 2013), SAM Syariah Berimbang (reksa dana yang isi portofolionya terdiri atas efek sukuk dan saham syariah), SAM Dana Berkembang (reksa dana yang berinvestasi pada efek obligasi dan saham konvensional), dan SAM Sukuk Syariah Sejahtera (reksa dana syariah yang menginvestasikan dananya pada efek sukuk/obligasi syariah).  Sementara itu, Produk Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) yang dikelola SAM pun senantiasa berkinerja baik sesuai dengan tujuan dan kebijakan investasinya.

    ***

    Perkembangan Produk dan Kinerja SAM 2013

    Walaupun didera oleh berbagai tantangan sulit sepanjang tahun 2013, dengan ke hati-hatian dan kerja keras SAM berhasil meningkatkan total aset kelolaannya (AUM) sepanjang Januari  hingga akhir November 2013 menjadi Rp 3,6 triliun. Reksa dana memberikan kontribusi terbesar dengan kenaikan sebesar 227,14% menjadi Rp 2,7 triliun. Peningkatan yang lebih dari 2 kali lipat pada aset kelolaan berbentuk reksa dana ini berhasil menempatkan SAM dalam urutan 15 besar perusahaan Manajer Investasi  berdasarkan jumlah total aset kelolaan reksa dana.

    Sumbangan terbesar dari kenaikan AUM pada produk reksa dana ini datang dari SAM Indonesian Equity Fund yang menyumbangkan 47%% dari total AUM reksa dana SAM. Pada Januari sampai November 2013, SAM Indonesian Equity Fund telah tumbuh sebesar 483,94% menjadi Rp 1,27 triliun.

    Untuk produk reksadana saham, SAM berhasil  menempati urutan 10 besar sedangkan untuk produk reksa dana Syariah, SAM berada pada posisi ke-5 bila dibandingkan dengan produk sejenis pada industrinya. Pada segment reksa dana berimbang dan saham SAM kembali berhasil masuk pada urutan 10 besar dengan total nilai kelolaaan mencapai Rp 2,05 triliun.

    Selain dana kelolaan yang tumbuh dengan pesat, pertumbuhan rekening yang dikelola oleh SAM pun meningkat menjadi 4.634 rekening atau setara dengan 233% bila dibandingkan dengan jumlah rekening yang hanya sebesar 1.393 di tahun 2012. Nasabah individual masih mendominasi komposisi jumlah rekening nasabah SAM, yaitu sebesar 96,07% meskipun sumbangannya kepada total dana kelolaan adalah sebesar 20,95%, lebih kecil bila dibandingkan sumbangan rekening nasabah institusi ke total AUM yang sebesar 79,05%

    Pada nasabah institusi, asuransi dan dana pensiun masih mendominasi total AUM dengan kontribusi masing-masing sebesar 63,72% dan 27,34%.

    Jakarta, 19 Desember 2013

    Intan Syah Ichsan, Chief Operating Officer

    ***

    Economy Outlook 2014

    Berharap pada Global dan Hajatan Pemilu

    Ekonomi 2014 masih akan me”warisi” masalah-masalah ekonomi yang muncul secara signifikan di tahun 2013 terutama yang bersumber dari dalam negeri yaitu defisit transaksi berjalan yang menjadi fokus kebijakan moneter dan fiskal. Kebijakan moneter dilakukan dengan menaikkan suku bunga BI rate sebesar 175 bps menjadi 7,5% dari posisi terendahnya di 5,75% pada Mei lalu membuat laju pertumbuhan kredit melambat. BI menargetkan laju pertumbuhan kredit tahun 2013 sebesar 20%. Perlambatan pertumbuhan kredit mulai terlihat pada data Oktober sebesar 22,2% yoy, turun dari 23% yoy pada September. Perlambatan kredit ini diharapkan bisa mengurangi pertumbuhan ekonomi. Relatif tingginya pertumbuhan ekonomi dalam 3 tahun terkahir membuat impor mencatat kenaikan signifikan. Sayangnya di saat yang sama ekspor turun karena turunnya permintaan dan harga terutama terkait harga komoditas yang menjadi andalan ekspor non migas Indonesia. Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan Agustus dan Desember. Kombinasi kedua kebijakan ini akan membuat ekonomi di tahun 2014 dalam tren turun.

    Namun penurunan ekonomi tersebut kemungkinan bisa tertahan dengan adanya hajatan pemilihan umum (pemilu) di tahun 2014. Belanja pemilu diperkirakan bisa membantu menahan turunnya konsumsi masyarakat seiring dengan turunnya pendapatan. BI memperkirakan hajatan pemilu bisa mendorong sekitar 0,18%-0,2% pertumbuhan ekonomi. Setidaknya hajatan pemilu ini bisa menahan penurunan pertumbuhan ekonomi sampai triwulan ke-2 2014. Sedangkan di triwulan ke-3, ekonomi masih akan terbantu karena faktor musim puasa dan lebaran.

    Di sisi global, ekonomi negara-negara utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Cina juga Jepang diperkirakan lebih baik dari tahun 2013. Perbaikan ekonomi ini diharapkan bisa membawa perbaikan harga komoditas dan ekspor Indonesia. Keputusan the Fed untuk mengurangi stimulusnya mulai bulan Januari sebesar US$10 miliar menjadi US$75 miliar pada FOMC 18 Dsember kemarin memberikan perbaikan sentimen terhadap risiko investasi. Bahkan Gubernur the Fed Bernanke memberikan sinyal yang lebih jelas untuk terus mengurangi di masa mendatang seiring dengan perbaikan ekonomi di AS. Keputusan ini bisa mengurangi ketidakpastian investasi karena investor mulai bisa mengukur risiko investasinya terutama di emerging market (EMs). Namun kemungkinan dana asing belum akan masuk secara masif ke pasar Indonesia karena masih menunggu keputusan calon-calon yang akan maju menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2014.

    Ketidakpastian dari dalam negeri terkait Pemilu ini menjadi kendala yang cukup signifikan ditengah perbaikan ekonomi global di tahun 2014. Ketidakpastian ini kemungkinan baru akan terurai memasuki semester ke-2 tahun 2014 seiring dengan harapan perbaikan defisit di transaksi berjalan yang kemungkinan bisa menjadi 2,8%-2,9% dari PDB di akhir tahun 2014. Sedangkan pertumbuhan ekonomi kami perkirakan masih bisa bekisar antara 5,6%-5,8%. Sedangkan tekanan inflasi melambat menuju 5,5%-6%, diikuti dengan suku bunga (BI rate) yang berpotensi turun menuju 7% di triwulan ke-3 jika perbaikan di transaksi berjalan signifikan diikuti dengan turunnya inflasi. Namun BI rate kemungkinan masih berpotensi naik sebesar 25 bps di triwulan ke-1 sebagai proses percepatan penurunan defisit dan antisipasi inflasi akibat pemilu. Kisaran BI rate kami perkirakan antara 7% -7,75% di sepanjang tahun 2014. Sementara untuk nilai tukar rupiah (IDR) kami melihat nilai teoritisnya di Rp.10.500 per USD. Namun dengan mempertimbangkan masih belum optimisnya investor asing masuk ke pasar Indonesia di semester I 2014, kemungkinan IDR masih bergerak di kisaran antara Rp.11.500 sampai Rp.12.000 per USD. Seiring dengan perbaikan di transaksi berjalan dan sentimen pasca Pemilu Presiden Juni 2014, kami perkirakan IDR bisa menguat dan ditutup di Rp.10.800 sampai Rp.11.000 di akhir tahun 2014.

    Jakarta, 19 Desember 2013

    Lana Soelistianingsih, Chief Economist, Head of Research

     ***

    Strategi Investasi  2014

    Secara jangka panjang (>5 tahun), IHSG optimis untuk bullish didukung oleh kondisi demografi yang relatif muda, balance sheet rumah tangga, korporasi dan negara yang kuat, kondisi  perbankan yang transparan dan sehat,  kondisi politik  yang ‘berimbang’ dan pemerintahan yang pro pertumbuhan. Namun, secara jangka pendek (

    Domestik ekonomi dalam negeri sedang dalam masa ‘penyesuaian’ setelah berkurangnya efek likuiditas global. Penyesuaian sedang berlangsung melalui mekanisme suku bunga dan pelemahan nilai tukar perlambatan ekonomi dari proses ini diharapkan mencapai titik terendah pada semester I. Sementara, proses pemulihan diharapkan dapat terjadi pada awal semester II. Jangka waktu periode penyesuaian bisa lebih cepat atau lebih lambat, tergantung pada Hasil Pemilu 2014 dan Faktor Eksternal.

    Beberapa poin penting perkembangan dari luar yang perlu dicermati dan akan memberi efek pada ekonomi dalam negeri antara lain timing dan besaran pengurangan quantitative easing oleh The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, pertumbuhan/perlambatan ekonomi China dan  kebijakan bank sentral utama dunia (The Fed, ECB, BOJ, PBoC).

    Strategi investasi dan beberapa sektor pilihan kami antara lain:

    PADA MASA PENYESUAIAN

    Overweight: Consumer Staple, Mining, Plantation

    Neutral: Infrastructure, Utility.

    Underweight : Interest rate sensitive stock (Bank, Property, Construction), Consumer Discretionary (Automotive)

    PADA MASA PEMULIHAN

    Overweight: Interest Rate Sensitive, Consumer Discretionary

    Neutral: Infrastructure, Utility, Consumer Staple

    Underweight: Plantation, Mining

    Jakarta, 19 Desember 2013

     Budi Budar

    Investment Strategist, Senior Portfolio Manager

    ***

    Disclaimer: This report is represented by PT Samuel Aset Manajemen for information purpose only. Under no circumstances is it to be used or considered as an offer to sell or a solicitation of any offer to buy. This report has been produced independently and the forecast, opinions and expectations contained herein are entirely those of PT Samuel Aset Manajemen. While all reasonable care has been taken to ensure that information contained herein is not untrue or misleading at the time of publication, PT Samuel Aset Manajemen makes no representations as to its accuracy or completeness and it should be relied upon as such. Neither PT Samuel Aset Manajemen nor any officer or employee of PT Samuel Aset Mananajemen accepts only liability whatsoever for any direct or consequential loss arising from any use of this report.

     PRESS RELEASE : Market Outlook 2014: Keep Calm, Invest Wisely

    Pada hari Kamis, 19 Desember 2013, bertempat di SAMUEL Exchange Club, Menara Imperium Lt. 7 Jakarta, PT Samuel Aset Manajemen mempresentasikan Market Outlook 2014, bertema “Keep Calm, Invest Wisely”. Acara ini bertujuan memberikan informasi kinerja dan perkembangan produk reksa dana SAM, serta memberikan gambaran pasar, tinjauan dan strategi investasi tahun 2014 pada masyarakat pasar modal pada umumnya.

    Hadir dalam acara ini jajaran direksi PT Samuel Aset Manajemen. Acara dibuka oleh, Agus B. Yanuar selaku President Director dan Intan Syah Ichsan, Chief Operating Officer yang menyampaikan Perkembangan Produk, Dana Kelolaan dan Kinerja SAM di tahun 2013.  Market Outlook makro ekonomi disampaikan oleh Chief Economist & Head of Research, Lana Soelistianingsih. Sementara itu, Strategi Investasi 2014 disampaikan oleh Tim Investasi SAM, yang dipandu oleh Agus Yanuar dan disampaikan oleh Budi Budar, Investment Strategist, Herbie Mohede, Senior Fund Manager dan Dimas Noverio, Investment Analyst.


    Tentang Samuel Aset Manajemen

    PT Samuel Aset Manajemen (SAM) merupakan anggota dari Bursa Efek Indonesia dan memiliki lisensi sebagai manajer investasi. Sebagai perusahaan manajer investasi terpercaya yang telah berdiri secara independen sejak 1997, SAM selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada nasabah dengan menetapkan strategi investasi yang tepat. Tim Manajer Investasi SAM yang merupakan praktisi yang berpengalaman di pasar modal dalam dan luar negeri itu, dalam meramu kebijakan investasinya senantiasa menggunakan pendekatan yang rasional dengan metode analisis yang sahih. Dengan memanfaatkan pengalamannya, SAM dapat secara taktis menyesuaikan racikan investasi terbaiknya yang sesuai dengan kondisi pasar.

    Saat ini Samuel Aset Manajemen mengelola reksa dana yang mempunyai rekam jejak dan kinerja yang memuaskan, yaitu SAM Indonesian Equity Fund (reksa dana saham) dan SAM Sharia Equity Fund (berbasis efekefek ekuitas syariah, diluncurkan Januari 2013), SAM Syariah Berimbang (reksa dana yang isi portofolionya terdiri atas efek sukuk dan saham syariah), SAM Dana Berkembang (reksa dana yang berinvestasi pada efek obligasi dan saham konvensional), dan SAM Sukuk Syariah Sejahtera (reksa dana syariah yang menginvestasikan dananya pada efek sukuk/obligasi syariah).  Sementara itu, Produk Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) yang dikelola SAM pun senantiasa berkinerja baik sesuai dengan tujuan dan kebijakan investasinya.

    ***

    Perkembangan Produk dan Kinerja SAM 2013

    Walaupun didera oleh berbagai tantangan sulit sepanjang tahun 2013, dengan ke hati-hatian dan kerja keras SAM berhasil meningkatkan total aset kelolaannya (AUM) sepanjang Januari  hingga akhir November 2013 menjadi Rp 3,6 triliun. Reksa dana memberikan kontribusi terbesar dengan kenaikan sebesar 227,14% menjadi Rp 2,7 triliun. Peningkatan yang lebih dari 2 kali lipat pada aset kelolaan berbentuk reksa dana ini berhasil menempatkan SAM dalam urutan 15 besar perusahaan Manajer Investasi  berdasarkan jumlah total aset kelolaan reksa dana.

    Sumbangan terbesar dari kenaikan AUM pada produk reksa dana ini datang dari SAM Indonesian Equity Fund yang menyumbangkan 47%% dari total AUM reksa dana SAM. Pada Januari sampai November 2013, SAM Indonesian Equity Fund telah tumbuh sebesar 483,94% menjadi Rp 1,27 triliun.

    Untuk produk reksadana saham, SAM berhasil  menempati urutan 10 besar sedangkan untuk produk reksa dana Syariah, SAM berada pada posisi ke-5 bila dibandingkan dengan produk sejenis pada industrinya. Pada segment reksa dana berimbang dan saham SAM kembali berhasil masuk pada urutan 10 besar dengan total nilai kelolaaan mencapai Rp 2,05 triliun.

    Selain dana kelolaan yang tumbuh dengan pesat, pertumbuhan rekening yang dikelola oleh SAM pun meningkat menjadi 4.634 rekening atau setara dengan 233% bila dibandingkan dengan jumlah rekening yang hanya sebesar 1.393 di tahun 2012. Nasabah individual masih mendominasi komposisi jumlah rekening nasabah SAM, yaitu sebesar 96,07% meskipun sumbangannya kepada total dana kelolaan adalah sebesar 20,95%, lebih kecil bila dibandingkan sumbangan rekening nasabah institusi ke total AUM yang sebesar 79,05%

    Pada nasabah institusi, asuransi dan dana pensiun masih mendominasi total AUM dengan kontribusi masing-masing sebesar 63,72% dan 27,34%.

    Jakarta, 19 Desember 2013

    Intan Syah Ichsan, Chief Operating Officer

    ***

    Economy Outlook 2014

    Berharap pada Global dan Hajatan Pemilu

    Ekonomi 2014 masih akan me”warisi” masalah-masalah ekonomi yang muncul secara signifikan di tahun 2013 terutama yang bersumber dari dalam negeri yaitu defisit transaksi berjalan yang menjadi fokus kebijakan moneter dan fiskal. Kebijakan moneter dilakukan dengan menaikkan suku bunga BI rate sebesar 175 bps menjadi 7,5% dari posisi terendahnya di 5,75% pada Mei lalu membuat laju pertumbuhan kredit melambat. BI menargetkan laju pertumbuhan kredit tahun 2013 sebesar 20%. Perlambatan pertumbuhan kredit mulai terlihat pada data Oktober sebesar 22,2% yoy, turun dari 23% yoy pada September. Perlambatan kredit ini diharapkan bisa mengurangi pertumbuhan ekonomi. Relatif tingginya pertumbuhan ekonomi dalam 3 tahun terkahir membuat impor mencatat kenaikan signifikan. Sayangnya di saat yang sama ekspor turun karena turunnya permintaan dan harga terutama terkait harga komoditas yang menjadi andalan ekspor non migas Indonesia. Di sisi kebijakan fiskal, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan Agustus dan Desember. Kombinasi kedua kebijakan ini akan membuat ekonomi di tahun 2014 dalam tren turun.

    Namun penurunan ekonomi tersebut kemungkinan bisa tertahan dengan adanya hajatan pemilihan umum (pemilu) di tahun 2014. Belanja pemilu diperkirakan bisa membantu menahan turunnya konsumsi masyarakat seiring dengan turunnya pendapatan. BI memperkirakan hajatan pemilu bisa mendorong sekitar 0,18%-0,2% pertumbuhan ekonomi. Setidaknya hajatan pemilu ini bisa menahan penurunan pertumbuhan ekonomi sampai triwulan ke-2 2014. Sedangkan di triwulan ke-3, ekonomi masih akan terbantu karena faktor musim puasa dan lebaran.

    Di sisi global, ekonomi negara-negara utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa dan Cina juga Jepang diperkirakan lebih baik dari tahun 2013. Perbaikan ekonomi ini diharapkan bisa membawa perbaikan harga komoditas dan ekspor Indonesia. Keputusan the Fed untuk mengurangi stimulusnya mulai bulan Januari sebesar US$10 miliar menjadi US$75 miliar pada FOMC 18 Dsember kemarin memberikan perbaikan sentimen terhadap risiko investasi. Bahkan Gubernur the Fed Bernanke memberikan sinyal yang lebih jelas untuk terus mengurangi di masa mendatang seiring dengan perbaikan ekonomi di AS. Keputusan ini bisa mengurangi ketidakpastian investasi karena investor mulai bisa mengukur risiko investasinya terutama di emerging market (EMs). Namun kemungkinan dana asing belum akan masuk secara masif ke pasar Indonesia karena masih menunggu keputusan calon-calon yang akan maju menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2014.

    Ketidakpastian dari dalam negeri terkait Pemilu ini menjadi kendala yang cukup signifikan ditengah perbaikan ekonomi global di tahun 2014. Ketidakpastian ini kemungkinan baru akan terurai memasuki semester ke-2 tahun 2014 seiring dengan harapan perbaikan defisit di transaksi berjalan yang kemungkinan bisa menjadi 2,8%-2,9% dari PDB di akhir tahun 2014. Sedangkan pertumbuhan ekonomi kami perkirakan masih bisa bekisar antara 5,6%-5,8%. Sedangkan tekanan inflasi melambat menuju 5,5%-6%, diikuti dengan suku bunga (BI rate) yang berpotensi turun menuju 7% di triwulan ke-3 jika perbaikan di transaksi berjalan signifikan diikuti dengan turunnya inflasi. Namun BI rate kemungkinan masih berpotensi naik sebesar 25 bps di triwulan ke-1 sebagai proses percepatan penurunan defisit dan antisipasi inflasi akibat pemilu. Kisaran BI rate kami perkirakan antara 7% -7,75% di sepanjang tahun 2014. Sementara untuk nilai tukar rupiah (IDR) kami melihat nilai teoritisnya di Rp.10.500 per USD. Namun dengan mempertimbangkan masih belum optimisnya investor asing masuk ke pasar Indonesia di semester I 2014, kemungkinan IDR masih bergerak di kisaran antara Rp.11.500 sampai Rp.12.000 per USD. Seiring dengan perbaikan di transaksi berjalan dan sentimen pasca Pemilu Presiden Juni 2014, kami perkirakan IDR bisa menguat dan ditutup di Rp.10.800 sampai Rp.11.000 di akhir tahun 2014.

    Jakarta, 19 Desember 2013

    Lana Soelistianingsih, Chief Economist, Head of Research

     ***

    Strategi Investasi  2014

    Secara jangka panjang (>5 tahun), IHSG optimis untuk bullish didukung oleh kondisi demografi yang relatif muda, balance sheet rumah tangga, korporasi dan negara yang kuat, kondisi  perbankan yang transparan dan sehat,  kondisi politik  yang ‘berimbang’ dan pemerintahan yang pro pertumbuhan. Namun, secara jangka pendek (<12 bulan) akan penuh tantangan sekaligus peluang. Domestik ekonomi dalam negeri sedang dalam masa ‘penyesuaian’ setelah berkurangnya efek likuiditas global. Penyesuaian sedang berlangsung melalui mekanisme suku bunga dan pelemahan nilai tukar perlambatan ekonomi dari proses ini diharapkan mencapai titik terendah pada semester I. Sementara, proses pemulihan diharapkan dapat terjadi pada awal semester II. Jangka waktu periode penyesuaian bisa lebih cepat atau lebih lambat, tergantung pada Hasil Pemilu 2014 dan Faktor Eksternal. Beberapa poin penting perkembangan dari luar yang perlu dicermati dan akan memberi efek pada ekonomi dalam negeri antara lain timing dan besaran pengurangan quantitative easing oleh The Fed, pergerakan imbal hasil US Treasury, pertumbuhan/perlambatan ekonomi China dan  kebijakan bank sentral utama dunia (The Fed, ECB, BOJ, PBoC).

    Strategi investasi dan beberapa sektor pilihan kami antara lain:

    PADA MASA PENYESUAIAN

    Overweight: Consumer Staple, Mining, Plantation

    Neutral: Infrastructure, Utility.

    Underweight : Interest rate sensitive stock (Bank, Property, Construction), Consumer Discretionary (Automotive)

     

    PADA MASA PEMULIHAN

    Overweight: Interest Rate Sensitive, Consumer Discretionary

    Neutral: Infrastructure, Utility, Consumer Staple

    Underweight: Plantation, Mining

     

    Jakarta, 19 Desember 2013

     Budi Budar

    Investment Strategist, Senior Portfolio Manager

     

    ***

    Disclaimer: This report is represented by PT Samuel Aset Manajemen for information purpose only. Under no circumstances is it to be used or considered as an offer to sell or a solicitation of any offer to buy. This report has been produced independently and the forecast, opinions and expectations contained herein are entirely those of PT Samuel Aset Manajemen. While all reasonable care has been taken to ensure that information contained herein is not untrue or misleading at the time of publication, PT Samuel Aset Manajemen makes no representations as to its accuracy or completeness and it should be relied upon as such. Neither PT Samuel Aset Manajemen nor any officer or employee of PT Samuel Aset Mananajemen accepts only liability whatsoever for any direct or consequential loss arising from any use of this report.

     

  • Indonesia Tetap Positif di 2014Indonesia Tetap Positif di 2014

    Indonesia Tetap Positif di 2014Indonesia Tetap Positif di 2014

    “Saya positif tahun depan perekonomian Indonesia akan tetap baik dan kondisi dunia investasi masih tetap meningkat dengan indeks yang juga meningkat,” ujar Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus Yanuar. Menurutnya, berbagai faktor masih menunjukkan Indonesia masih menjadi tempat yang menarik dan menguntungkan untuk berinvestasi. Walaupun risiko masih akan tetap ada dan tetap harus diwaspadai.

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang tinggi dan stabil dibandingkan negara lain. Tahun ini misalnya, walaupun banyak yang mengatakan tahun ini Indonesia dilanda resesi, namun bagi Agus hal ini bukanlah resesi karena pertumbuhan ekonomi masih berada antara 5.5%-5.9%. Persentase ini masih berada dalam angka rentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2014, perekonomian Indonesia diproyeksikan bertumbuh hingga 6.2% oleh Bank Dunia.

    Bank Dunia juga mencatat pertumbuhan kelas menengah yang cukup tinggi dan kuat. Menurut Bank Dunia, seseorang dikatakan masuk ke kelas menengah ketika pengeluarannya berkisar antara AS$ 2-AS$ 20 per harinya dan setidaknya 60% orang Indonesia masuk ke dalam kelas tersebut. “Hal ini disebabkan dengan pendapatan per kapita Indonesia yang terus mengalami peningkatan. Ketika reformasi baru dimulai pada 1998, pendapatan per kapita sebesar AS$ 650 sedangkan sekarang telah mencapai AS$ 3.800,” jelas Agus.

    Dengan demikian, sektor-sektor bisnis dan usaha yang akan berhasil tahun depan masih pada sektor yang berhubungan dengan demografi dan konsumsi domestik karena diuntungkan oleh peningkatan masyarakat kelas menengah tersebut. Sektor seperti perbankan, konsumsi, lifestyle, konstruksi, dan kesehatan masih menarik minat karena dapat memberikan imbal hasil maksimal.

    Bangkitnya kelas menengah juga memperbanyak investor lokal sehingga bursa semakin kuat menghadapi goncangan dari luar. Hal ini terlihat di tengah-tengah penarikan dana asing yang terjadi pada beberapa bulan lalu. Ketika asing sedang melakukan penjualan, banyak investor lokal yang menanamkan dananya untuk berinvestasi. Hal ini membuat pasar kita semakin kuat dan tak sepenuhnya bergantung pada investor asing.

    Investor asing pun diperkirakan masih tetap tertarik untuk kembali menanamkan uangnya di Indonesia. “Ternyata pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat belum sekuat yang diperkirakan dan banyak lembaga yang menginginkan imbal hasil besar. Untuk mendapatkan imbal hasil besar harus menanamkan uangnya di negara emerging market, seperti di Indonesia. Dana Pensiun dan bank sentral pun masih banyak yang berinvestasi di Indonesia,” tutur Agus.
    Walaupun demikian, ada faktor-faktor yang harus diwaspadai seperti defisit neraca berjalan dan defisit anggaran Indonesia karena berpengaruh langsung pada kurs mata uang Indonesia. Apalagi melihat dua hal tersebut yang menjadi penyebab penarikan dana asing besar-besaran yang terjadi beberapa bulan silam. Selain itu, tren kenaikan bahan pangan yang mulai terjadi pun harus masuk dalam daftar hal yang harus diperhatikan.

    Iklim politik Indonesia yang akan melaksanakan pemilu turut memengaruhi. Jika calonnya disukai oleh pasar maka indeks akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Tapi, menurut pengalaman Agus, di tahun pemilu indeks biasanya mengalami peningkatan karena konsumsi domestik menjadi tambah besar untuk keperluan kampanye.

    Kebijakan bank sentral Amerika Serikat harus diperhatikan dengan seksama. Menurut Agus sendiri tahun depan bank sentral Amerika Serikat tak akan melakukan sesuatu yang drastic karena baru terjadi pergantian gubernur bank sentral. Walaupun diperkirakan tapering akan tetap dilakukan pada bulan Maret 2014.

    Melihat hal-hal tersebut, Agus pun yakin tahun depan pasar akan tetap tumbuh. Agus sendiri menargetkan reksadana obligasi milik SAM akan mendapatkan imbal hasil sebesar 10%-12%, reksadana campuran 15%, dan reksadana saham 20%. Agus berkeyakinan targetnya ini dapat mencapai sasaran, bahkan tak menutup kemungkinan melebihi yang ditargetkan.

    Semua yg terbaik dari SAM

    “Saya positif tahun depan perekonomian Indonesia akan tetap baik dan kondisi dunia investasi masih tetap meningkat dengan indeks yang juga meningkat,” ujar Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus Yanuar. Menurutnya, berbagai faktor masih menunjukkan Indonesia masih menjadi tempat yang menarik dan menguntungkan untuk berinvestasi. Walaupun risiko masih akan tetap ada dan tetap harus diwaspadai.
    Pertumbuhan ekonomi Indonesia terbilang tinggi dan stabil dibandingkan negara lain. Tahun ini misalnya, walaupun banyak yang mengatakan tahun ini Indonesia dilanda resesi, namun bagi Agus hal ini bukanlah resesi karena pertumbuhan ekonomi masih berada antara 5.5%-5.9%. Persentase ini masih berada dalam angka rentang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam 10 tahun terakhir. Pada tahun 2014, perekonomian Indonesia diproyeksikan bertumbuh hingga 6.2% oleh Bank Dunia.

    Bank Dunia juga mencatat pertumbuhan kelas menengah yang cukup tinggi dan kuat. Menurut Bank Dunia, seseorang dikatakan masuk ke kelas menengah ketika pengeluarannya berkisar antara AS$ 2-AS$ 20 per harinya dan setidaknya 60% orang Indonesia masuk ke dalam kelas tersebut. “Hal ini disebabkan dengan pendapatan per kapita Indonesia yang terus mengalami peningkatan. Ketika reformasi baru dimulai pada 1998, pendapatan per kapita sebesar AS$ 650 sedangkan sekarang telah mencapai AS$ 3.800,” jelas Agus.

    Dengan demikian, sektor-sektor bisnis dan usaha yang akan berhasil tahun depan masih pada sektor yang berhubungan dengan demografi dan konsumsi domestik karena diuntungkan oleh peningkatan masyarakat kelas menengah tersebut. Sektor seperti perbankan, konsumsi, lifestyle, konstruksi, dan kesehatan masih menarik minat karena dapat memberikan imbal hasil maksimal.

    Bangkitnya kelas menengah juga memperbanyak investor lokal sehingga bursa semakin kuat menghadapi goncangan dari luar. Hal ini terlihat di tengah-tengah penarikan dana asing yang terjadi pada beberapa bulan lalu. Ketika asing sedang melakukan penjualan, banyak investor lokal yang menanamkan dananya untuk berinvestasi. Hal ini membuat pasar kita semakin kuat dan tak sepenuhnya bergantung pada investor asing.

    Investor asing pun diperkirakan masih tetap tertarik untuk kembali menanamkan uangnya di Indonesia. “Ternyata pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat belum sekuat yang diperkirakan dan banyak lembaga yang menginginkan imbal hasil besar. Untuk mendapatkan imbal hasil besar harus menanamkan uangnya di negara emerging market, seperti di Indonesia. Dana Pensiun dan bank sentral pun masih banyak yang berinvestasi di Indonesia,” tutur Agus.
    Walaupun demikian, ada faktor-faktor yang harus diwaspadai seperti defisit neraca berjalan dan defisit anggaran Indonesia karena berpengaruh langsung pada kurs mata uang Indonesia. Apalagi melihat dua hal tersebut yang menjadi penyebab penarikan dana asing besar-besaran yang terjadi beberapa bulan silam. Selain itu, tren kenaikan bahan pangan yang mulai terjadi pun harus masuk dalam daftar hal yang harus diperhatikan.

    Iklim politik Indonesia yang akan melaksanakan pemilu turut memengaruhi. Jika calonnya disukai oleh pasar maka indeks akan meningkat, begitu pula sebaliknya. Tapi, menurut pengalaman Agus, di tahun pemilu indeks biasanya mengalami peningkatan karena konsumsi domestik menjadi tambah besar untuk keperluan kampanye.

    Kebijakan bank sentral Amerika Serikat harus diperhatikan dengan seksama. Menurut Agus sendiri tahun depan bank sentral Amerika Serikat tak akan melakukan sesuatu yang drastic karena baru terjadi pergantian gubernur bank sentral. Walaupun diperkirakan tapering akan tetap dilakukan pada bulan Maret 2014.

    Melihat hal-hal tersebut, Agus pun yakin tahun depan pasar akan tetap tumbuh. Agus sendiri menargetkan reksadana obligasi milik SAM akan mendapatkan imbal hasil sebesar 10%-12%, reksadana campuran 15%, dan reksadana saham 20%. Agus berkeyakinan targetnya ini dapat mencapai sasaran, bahkan tak menutup kemungkinan melebihi yang ditargetkan.

    Semua yg terbaik dari SAM

  • Keep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar PanikKeep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar Panik

    ’Look at market fluctuations as your friend rather than your enemy; profit from folly rather that participate in it’ (Warren Buffet).

    Sejak awal Juni tahun ini, pasar keuangan Emerging Markets kembali mengalami guncangan hebat, ditandai dengan melemahnya nilai tukar, terkoreksinya indeks saham dan turunnya harga pasar obligasi di negara-negara tersebut.

    IHSG sempat menyentuh angka tertingginya di level 5,251 sebelum terkoreksi kembali menjadi 4,072 pada akhir perdagangan minggu ini, dan mencatat penurunan 5% dari awal tahun. Begitu pula nilai mata uang rupiah sudah turun sebesar 15% dari awal tahun, sebagai akibat dari pelambatan pertumbuhan ekonomi, berkurangnya cadangan devisa dan melebarnya defisit neraca perdagangan kita

    Kondisi yang sama juga dialami oleh India, Brazil, Turki, Philipina, Thailand serta pasar emerging lainnya yang membuat para investor finansial menjadi galau.

    Sumber Kegalauan
    Apa yang terjadi sebetulnya masih merupakan efek lanjutan dari krisis pasar finansial yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 dan Eropa tahun 2011 yang lalu. Seperti kita ketahui bersama, untuk mengatasi krisis, otoritas keuangan Amerika menggelontorkan bantuan likuiditas yang sangat besar ke pasar, yang penggunaannya tidak hanya di Wall Street saja – tetapi juga terasa merembes ke emerging markets yang memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

    Ketika indikator ekonomi Amerika menunjukan pembaikan meskipun belum sepenuhnya pulih, ada pernyataan dari Ben Bernake bahwa ada kemungkinan bahwa The Fed akan mengurangi bantuan likuiditas itu mulai akhir tahun ini. Sehingga dana-dana yang selama ini diinvestasikan di emerging market ditarik kembali ke Amerika. Sejak Juni 2013, tercatat ada penarikan dana obligasi sebesar US$ 20 Milyar ( setara dengan Rp 250 Trilyun) dan US$ 30 Milyar ( Rp 330 Trilyun) dari pasar saham di seluruh emerging markets, mengakibatkan koreksi tajam di pasar yang ditinggalkannya dan mendongkrak nilai tukar US $ terhadap seluruh mata uang dunia.

    Secara umum, saat ini para investor keuangan global memang masih menghadapi beberapa risiko yang dihadapi. Dari hasi survey disimpulkan bahwa urutan risiko yang saat ini menjadi kekhawatiran investor adalah :
    – Pelambatan pertumbuhan ekonomi China yang mengakibatkan penurunan harga-harga komoditas
    – Kelanjutan krisis ekonomi Eropa
    – Memanasnya kondisi geopolitik dunia, terutama di timur tengah
    – Kebijakan Abenomics pemerintah Jepang yang melemahkan Yen
    – Pengetatan kebijakan fiskal Amerika, dan
    – Meningkatnya tingkat inflasi

    Bagaimana Menyikapi Pasar ?
    Bagi para investor yang sudah lama mengikuti pasar finansial, naik dan turunnya indeks, boom and bust, dan bull and bear sudah dialami berkali-kali. Bahkan dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat darinya. Pada umumnya pasar digerakan oleh harapan dan ketakutan, oleh fear dan greed. Transaksi di pasar finansial dilakukan oleh para pembeli yang berharap bahwa keadaan akan lebih baik pada esok hari dengan para penjual yang takut bahwa esok tidak akan sebaik hari ini. Transaksi antara investor yang berharap untung dengan investor yang takut rugi.

    Pada saat harapan lebih tinggi dari ketakutan, pasar naik. Saat ketakutan lebih mendominasi harapan, pasar turun. Pada kedua situasi tersebut, seringkali ada euforia dan kepanikan yang berlebihan, sehingga dikenal istilah overbought (harga pasarnya lebih tinggi nari nilai sebenarnya) dan oversold (harga pasar lebih rendah dari nilai wajarnya).

    Sebagian besar lembaga investasi profesional yang menggunakan metode value investing, di dalam proses pengambilan keputusan investasinya, biasanya mengandalkan ukuran nilai wajar dan nilai sebenarnya (intrinsic value) dari sebuah instrumen investasi. Bila dari analisisnya disimpulkan bahwa harga pasarnya sudah lebih rendah dari nilai wajarnya maka diputuskan untuk membeli, begitu pula bila sudah lebih tinggi, akan dijual. Sehingga investor fundamental berpengalaman seperti ini tindakannya berbeda dengan pasar.

    Sehubungan dengan koreksi yang terjadi dengan pasar modal kita, valuasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) saat ini sebetulnya sudah pada level nilai rata-ratanya selama 10 tahun terakhir, yaitu pada PER (Price Earning Ratio) sebesar 13 Kali, seperti tergambar pada grafik yang bersumber dari Bloomberg ini:

    Indeks

    Biasanya, IHSG diperdagangkan pada PER 15 – 16 X, sehingga bagi investor yang menganggap nilai 13 X adalah sudah murah, maka akan mulai melakukan pembelian. Apalagi bila jangka waktu berinvestasinya panjang, kondidi koreksi seperti ini merupakan saat terbaik untuk mengakumulasi saham-saham terbaik dari sektor-sektor usaha terbaik.

    Dari data historis sejak 1997, dapat dilihat bahwa dalam jangka menengah – panjang, investor yang melakukan pembelian pada saat terjadi krisis atau koreksi pasar adalah investor yang membukukan potensi keuntungan yang paling tinggi. Grafik IHSG di bawah ini menunjukan krisis yang terjadi pada tahun 1997/1998, tahun 2005 dan tahun 2008. Bila dilihat dari kacamata hari ini, maka krisis-krisis tersebut hanya merupakan koreksi kecil saja.

    Dari analisis yang pernah kami lakukan, jangka waktu minimal berinvestasi saham di Indonesia adalah 3 (tiga) tahun, dan semakin panjang semakin baik. Jadi bila kita membeli saham atau reksa dana yang mengandung unsur saham di dalamnya (reksa dana campuran atau reksa dana saham) pada saat koreksi pasar seperti sekarang, dalam 3 tahun ke depan berpotensi memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

    Begitupula yang terjadi dengan jenis investasi di obligasi, dari data historis disimpulkan bahwa saat terbaik membelinya adalah pada saat tingkat inflasi tinggi seperti sekarang:

    Indeks2

    Pada saat inflasi mulai menurun, biasanya harga obligasi mulai menguat kembali, sehingga mereka yang membeli hari ini berpotensi membukukan imbal hasil yang lebih optimal

    Kesimpulan dan Rekomendasi
    Menyikapi perkembangan ekonomi dan pasar modal Indonesia, kami menyimpulkan bahwa meskipun dalam jangka pendek menghadapi risiko fluktuasi, dalam jangka menengah panjang masih tetap bullish karena ekonomi kita teta digerakan oleh demografi yang kuat dan produktif; konsumsi rumah tangga, korporasi dan belanja pemerintah; sistem perbankan yang sehat; sistem poitik yang dinamis yang ramah pasar, pro pertumbuhan dan pro penciptaan lapangan pekerjaan.

    Bagi investor saham, pilihan terbaik masih pada sektor usaha yang berbasis domestik dan berhubungan erat dengan demografi seperti sektor konsumsi, transportasi, perbankan, telekomunikasi, industri kesehatan, dan infrastruktur. Pilih perusahaan yang memiliki kualitas produk dan jasa yang unggul, memiliki kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan yang baik dan teruji serta perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat.

    Bagi investor jangka pendek atau mereka yang tidak menyukai risiko tinggi, sebaiknya memilihinstrumen investasi dalam bentuk pasar uang, obligasi dengan tenor pendek, atau produk reksa dana berbasis pasar uang dan obligasi.

    Tetap tenang dan selamat berinvestasi secara bijak !

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 8 September 2013.