Kilas Pasar
Indeks saham di Amerika Serikat bergerak menguat pada hari Kamis (10/8). Dow, S&P 500, dan Nasdaq terapresiasi masing – masing sebesar 0.15%, 0.02%, dan 0.12%. Dari Eropa, indeks bergerak menguat. FTSE 100 dan STOXX600 terapresiasi masing – masing sebesar 0.41% dan 0.79%.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp.15,226. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI bergerak menurun masing-masing sebesar -0.17% dan -0.16% diperdagangkan pada level US$ 87.36 dan US$ 84.22 per barel.
Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan bertumbuh sebesar 0.10%, NIKKEI Jepang terapresiasi sebesar 0.84%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat bergerak menguat pada pagi hari ini dengan Dow, S&P, dan Nasdaq terapresiasi masing – masing sebesar 0.10%, 0.13%, dan 0.29%.
Isu Ekonomi dan Pasar
Amerika Serikat terlihat lebih berhati-hati dalam melakukan restriksi ekonomi terhadap China. Menurut Biden, hal ini dilakukan untuk mencegah China meniru teknologi dari AS yang dinilai dapat mengancam keamanan nasional dengan melakukan modernisasi militer. Merespons hal ini, China menyatakan keprihatinannya dan mengancam segera mengambil aksi balasan. Perseteruan ini tercermin dari nilai investasi modal ventura Amerika Serikat di China yang turun dari USD 32.9 miliar pada 2021 menjadi USD 9.7 miliar. (Kontan)
Kebijakan repatriasi dan retensi devisa hasil ekspor (DHE) berpotensi mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Menurut Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman, kebijakan DHE sangat penting mengingat prospek suku bunga kebijakan The Fed masih terdapat ketidakpastian sehingga kemungkinan naik masih ada. Kendati inflasi AS menurun, namun ia menilai penurunan inflasi relatif melambat karena tingginya inflasi di sektor jasa. Melambatnya inflasi tanpa adanya resesi meningkatkan skenario soft landing di US yang memungkinkan capital inflow dari investor asing belum tentu sustain sehingga Bank Indonesia dapat meningkatkan kapasitas intervensi lewat peranan kebijakan DHE, tambahnya. (Investor)
Perlambatan laju ekonomi Tiongkok dapat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia. Dari data perdagangan Tiongkok yang terbaru, terdapat penurunan impor sebesar 12,4% dan penyusutan ekspor sebesar 14,5%. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan dampak dari penurunan pertumbuhan ekonomi tiongkok sudah dirasakan oleh Indonesia dari turunnya kinerja ekspor Indonesia pada kuartal II 2023. Ia juga berharap ekonomi Tiongkok tidak akan terpuruk dalam jangka waktu yang panjang sehingga masih ada harapan ekonomi menggeliat lewat proyek One Belt One Road. (Kontan)
Best Regards,

Leave a Reply