Kilas Pasar
Indeks saham di Amerika Serikat bergerak melemah pada hari Rabu (2/8). Dow, S&P 500, dan Nasdaq terdepresiasi masing – masing sebesar -0.98%, -1.38%, dan -2.17%. Dari Eropa, indeks bergerak melemah. FTSE 100 dan STOXX600 terdepresiasi masing – masing sebesar -1.36% dan -1.35%.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp.15,189. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI bergerak menguat masing-masing sebesar 0.26% dan 0.26% diperdagangkan pada level US$ 83.39 dan US$ 79.67 per barel.
Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan terdepresiasi sebesar -0.18%, NIKKEI Jepang menurun sebesar -1.11%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat bergerak menguat pada pagi hari ini dengan Dow, S&P, dan Nasdaq terapresiasi masing – masing sebesar 0.19%, 0.16%, dan 0.12%.
Isu Ekonomi dan Pasar
Penurunan rating utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ oleh Fitch Ratings memberikan dampak pada merahnya mayoritas bursa saham di seluruh penjuru dunia. Hampir semua indeks saham di Asia dan Eropa tersungkur ke zona merah. Setidaknya ada tiga sebab utama mengapa Fitch Ratings memberikan pandangan ini, yaitu adanya potensi penurunan fiskal dalam tiga tahun ke depan, beban utang pemerintah yang tinggi dan terus naik, dan memburuknya tata kelola utang AS dibandingkan dengan negara berperingkat AAA lainnya. Hal ini membuat investor menghindari aset yang berisiko seperti pasar saham dan mengalihkan dananya ke emas dan obligasi AS. Chief Investment Officer Running Point Capital Advisors Michaels Schulman berpendapat bahwa keputusan Fitch Ratings ini mencoreng reputasi AS dan berdampak psikologis terhadap pasar. (Kontan)
Penerbitan obligasi korporasi turun 20,4% menjadi Rp74,9 triliun per Juli 2023 dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp 94 triliun. Salah satu pemicunya adakah masih tingginya suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75%. Chief economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suharto menyatakan naiknya suku bunga acuan beberapa kali sejak semester II-2022 hingga Januari 2023 serta mempertahankan di level 5,75% membuat biaya pendanaan relatif lebih mahal dibandingkan dengan semester I-2022 yang lalu. Suku bunga yang tinggi meningkatkan leverage keuangan dari emiten sehingga investor meminta premi yang lebih tinggi untuk mengkompensasi risiko yang lebih tinggi, tambahnya. (Investor)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimis pemberlakuan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru akan menambah cadangan devisa di dalam negeri sekitar US$ 8 miliar hingga US$ 9,2 miliar per bulannya. Ia juga menjelaskan dampak positif dari pemberlakuan DHE baru akan terasa pada penambahan cadangan devisa di bulan Desember 2023 mendatang setelah bulan Agustus mulai diterapkan. Adapun pemerintah telah menetapkan tujuh instrumen yang dapat menjadi penempatan DHE SDA diantaranya rekening khusus DHE SDA dalam valuta asing, deposito valas bank, term deposit valas DHE SDA, Promissory Notes Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). (Kontan)
Best Regards,

Leave a Reply