Kilas Pasar
Indeks saham di Amerika Serikat ditutup bervariasi pada hari perdagangan Rabu (20/10) kemarin. Indeks Dow Jones dan S&P 500 terapresiasi sebesar 0.43% dan 0.37% secara berturut-turut sedangkan Nasdaq terkoreksi 0.05%.
Dari Eropa, indeks acuan Euro Stoxx tercatat terapresiasi sebesar 0.32% dan FTSE menguat sebesar 0.08%. Dari dalam negeri, IHSG ditutup tumbuh 0.04% pada hari perdagangan Selasa (19/10) kemarin.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tercatat pada level Rp 14.075. Dari komoditas, minyak Brent dan WTI tercatat menguat masing-masing sebesar 0.03% dan 0.36% diperdagangkan pada level US$ 85.91 dan US$ 83.73 per barel.
Indeks acuan Asia dibuka bervariasi pada perdagangan pagi hari ini dengan indeks NIKKEI melemah 0.6% sementara KOSPI menguat sebesar 0.23%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat tercatat melemah pada pagi hari ini dengan Dow Jones, S&P dan Nasdaq terkoreksi sebesar 0.17%, 0.18% dan 0.29% secara berturut-turut.
Isu Ekonomi dan Pasar
China siap intervensi untuk memangkas harga batubara yang melonjak dengan mendongkrak produksi guna mengurangi tekanan yang meningkat pada ekonomi negara itu, meskipun bersumpah untuk mengurangi emisi bahan bakar fosil. Ekonomi nomor dua dunia itu berkembang lebih lambat dari yang diharapkan pada kuartal ketiga karena krisis energi makin menggigit, data resmi menunjukkan pekan ini, dengan kekurangan listrik dan pengurangan produksi menyeret output industri. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC) mengatakan pada Selasa (19/10), sedang mempelajari langkah-langkah untuk campur tangan dalam harga batubara, yang melonjak dan mencapai rekor tertinggi. “Kenaikan harga saat ini benar-benar menyimpang dari dasar-dasar penawaran dan permintaan,” kata NDRC dalam sebuah pernyataan, berjanji untuk mengembalikan harga ke “kisaran yang wajar”, seperti dikutip Channel News Asia. (Kontan)
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menyebut fenomena inflasi global diperkirakan bersifat transitory atau sementara. Menurutnya, kondisi mismatch antara supply-demand dan supply shortage (kekurangan suplai) ini bisa berlangsung melampaui 2021. Namun, tekanan dari kondisi ini dinilai tidak akan menyebabkan kenaikan inflasi secara permanen atau berkelanjutan. Dody lalu mengatakan terdapat berbagai cara untuk meredam tekanan tersebut. Misalnya, distribusi vaksin Covid-19 secara merata pada taraf global. “Dalam pembahasan dengan IMF-World Bank Annual Meeting bersama G20, isu yang diangkat salah satunya adalah risiko global terkait inflasi. Kelihatannya semua sepakat melihat ini adalah kondisi yang transitory atau temporer,” kata Dody pada konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (19/10/2021).
Best Regards,
SAM Investment
SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—21-Oktober-2021.pdf