Kilas Pasar
Indeks saham di Amerika Serikat bergerak melemah pada hari Rabu, (25/10). Dow, S&P 500, danNasdaq terdepresiasi masing – masing sebesar -0.32%, -1.43%, dan -2.43% . Dari Eropa, indeks bergerak menguat. FTSE 100 dan STOXX600 terapresiasi masing – masing sebesar 0.33% dan 0.04%.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp.15,936. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI bergerak melemah masing-masing sebesar -0.21% dan -0.14% diperdagangkan pada level US$ 89.94 dan US$ 85.25 per barel.
Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan terdepresiasi sebesar -1.93%, NIKKEI Jepang menurun sebesar -1.98%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat bergerak melemah pada pagi hari ini dengan Dow, S&P, dan Nasdaq terdepresiasi masing – masing sebesar -0.28%, -0.71%, dan -1.18%.
Isu Ekonomi dan Pasar
China diketahui telah membuat langkah-langkah baru untuk mendorong perekonomian. Mantan pejabat bank sentral China (PBOC) dan dana moneter internasional (IMF) menuturkan bahwa stimulus ekonomi tersebut bakal memiliki dampak yang besar. China membuat stimulus untuk mendorong perekonomian dengan mengambil langkah-langkah, termasuk menerbitkan utang negara tambahan dan meningkatkan rasio defisit anggaran. Rencana tersebut meliputi penerbitan utang negara tambahan senilai 1 triliun yuan atau setara dengan Rp2.171 triliun (kurs Rp2.171 per yuan Renminbi) pada kuartal IV/2023. (Bisnis)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih mencatatkan surplus sebesar Rp67,7 triliun per September 2023. Sri Mulyani mengatakan jumlah surplus tersebut setara dengan 0,33% dari produk domestik bruto (PDB). Tercatat, surplus sepanjang Januari-September 2023 lebih rendah dibandingkan dengan capaian surplus hingga Agustus 2023 yang sebesar Rp147,2 triliun. Sri Mulyani menyampaikan keseimbangan primer hingga September 2023 sebesar Rp389,7 triliun. Jika dirincikan, pendapatan negara hingga September 2023 terkumpul sebesar Rp2.035,6 triliun atau mencapai 82,6% dari target APBN tahun anggaran 2023. Realisasi pendapatan negara tersebut meningkat 3.1% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. (Bisnis)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa realisasi pembiayaan utang pemerintah hingga September 2023 mencapai Rp198,9 triliun. Sri Mulyani mengatakan realisasi tersebut turun 58,6% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Bahkan, Sri Mulyani mengatakan realisasi pembiayaan utang hingga September 2023 jauh lebih rendah dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam APBN tahun anggaran 2023 yang sebesar Rp696,3 triliun. Jika dirincikan, penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) hingga September 2023 telah mencapai Rp181,4 triliun atau baru terealisasi 25,4% dari target di UU APBN 2023. Realisasi ini pun mengalami penurunan sebesar 61,5% dari realisasi periode yang sama pada 2022 yang sebesar Rp470,9 triliun. (Bisnis)
Best Regards,

Leave a Reply