Kilas Pasar
Indeks saham di Amerika Serikat ditutup melemah pada Kamis (30/9/2021). Indeks Dow Jones tercatat melemah 1,59% menjadi 33.843,92. Sementara itu S&P 500 juga melemah sebesar 1,19% menjadi 4.307,54 begitupun Nasdaq yang melemah 0,44% menjadi 14.448,58. Hal sama terjadi di Eropa, indeks acuan bergerak melemah dengan Euro Stoxx600 terdepresiasi sebesar 0,05% menjadi 454,81 begitupun FTSE yang melemah sebesar 0,31% menjadi 7.086,42.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tercatat pada level Rp 14.312,5. Pada pagi hari ini, perdagangan minyak tercatat menguat dengan minyak WTI meningkat sebesar 0,44% sementara Brent juga mengalami penguatan 0,17%. Keduanya diperdagangkan pada level US$ 75,36 dan US$ 78,60 per barel.
Indeks acuan Asia tercatat dibuka bergerak melemah pada perdagangan pagi hari ini. Indeks Nikkei dibuka melemah sebesar 0,74% begitupun KOSPI yang melemah 1,12%. Sementara itu, indeks futures Amerika Serikat pada pagi hari ini tercatat menguat dengan Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing meningkat sebesar 0,20%, 0,20% dan 0,22% secara berturut-turut.
Isu Ekonomi dan Pasar
Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mencapai kesepakatan dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) dan ditargetkan akan disetujui dalam rapat paripurna pekan depan untuk disahkan sebagai Undang-Undang. Ada tiga poin besar yang harus dicermati dalam RUU ini. Pertama, program pengungkapan sukarela wajib pajak atau tax amnesty jilid II yang akan berlaku mulai 1 Januari 2022 hingga 30 Juni 2022 dengan pengalihan harta paling lambat 30 September 2022. Kedua, menurunkan batas bawah penghasilan yang dikenakan pajak yaitu sampai dengan Rp 60 juta per tahun dengan tarif 5%. Terdapat juga perluasan lapisan yang dikenakan pajak dengan tarif 30% untuk penghasilan lebih dari Rp500 juta hingga Rp 5 miliar, dan tarif 35% untuk penghasilan lebih dari Rp 5 miliar. Ketiga, menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) atas barang dan jasa menjadi 11% mulai 1 April 2022 dan kembali naik jadi 12% pada 1 Januari 2025. (Kontan)
Pemadaman listrik tidak akan ditoleransi. Itulah pesan dari pejabat Tiongkok, yang telah memerintahkan perusahaan energi milik negara untuk mengamankan pasokan listrik untuk musim dingin ini dengan segala cara. Perintah itu datang langsung dari Wakil Perdana Menteri Han Zheng, yang mengawasi sektor energi negara, setelah beberapa daerah membatasi listrik ke sektor industri. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Tiongkok. Krisis energi global akan mendorong kenaikan harga bahan bakar dan pemanas rumah tangga di seluruh dunia. Di Eropa, harga gas alam dan listrik melonjak ke rekor, menandakan kekurangan pasokan hanya akan bertambah buruk saat musim dingin dimulai. Dan krisis telah menambah rintangan lain pada dorongan PBB untuk mengakhiri penggunaan batu bara. (Bloomberg)
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi SAM untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.
Best Regards,
SAM Investment
SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—1-Oktober-2021.pdf