Kilas Pasar
Pasar global mayoritas bergerak melemah pada Senin (17/5). Dow turun 54,34 poin atau 0,16% menjadi 34.327,79. Kemudian S&P 500 juga turun 0,25% menjadi 4.163,29, begitupun Nasdaq yang melemah 0,38% menjadi 13.379,05. Dari Eropa, FTSE turun 0,15% atau 10,76 poin menjadi 7.032,85 sementara Stoxx600 turun 0,05% atau 0,24 poin menjadi 442,29.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 14.282.5. Minyak WTI pagi ini menguat 0,17% sedangkan minyak Brent pagi ini melemah tipis 0,01%. Hari ini Nikkei 225 dibuka naik 1,24% begitupun Kospi yang dibuka menguat 0,79%. Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq futures naik masing-masing 0,22%, 0,19%, dan dan 0,24%.
Isu Ekonomi dan Pasar
Morgan Stanley memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 menjadi 4,5% dari sebelumnya mencapai 6,2%. Sedangkan secara rata-rata konsensus, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 4,4%. Menurut Morgan Stanley, pertumbuhan ekonomi Indonesia sejalan dengan kondisi ekonomi ASEAN. Lembaga ini, memperkirakan pertumbuhan ekonomi ASEAN hanya 5,4% dari sebelumnya sebesar 7,4%. Sementara negara Asia selain Jepang, diprediksi tumbuh 8,4% dari sebelumnya 8,9%. Secara terpisah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada pada kisaran 4,5%-5,3%. (Kontan)
Pemerintah berencana untuk mengkaji usulan agar pemberian insentif pajak bagi dunia usaha yang berakhir pada Juni 2021 mendatang diperpanjang. Ini sejalan dengan realisasi insentif usaha yang per 11 Mei 2021 tercatat baru Rp 26,83 triliun atau setara 47,3% dari pagu yang sebesar Rp 56,72 triliun. Adapun cakupan insentif usaha yakni pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 ditanggung pemerintah (DTP), PPh final UMKM DTP, pembebasan PPh Pasal 22 impor, pembebasan bea masuk, pengurangan angsuran PPh Pasal 25, serta restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) dipercepat. Selain itu, ada insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) pada kendaraan bermotor DTP dan PPN atas rumah DTP. (Investor Daily)
World Economic Forum (WEF) mengumumkan bahwa pertemuan tahunan, yang tahun ini digeser menjadi pada musim panas dan sedianya digelar di Singapura, dibatalkan. “Sayang sekali, berbagai keadaan tragis yang timbul di banyak tempat, prospek perjalanan yang tidak pasti, langkah vaksinasi yang tidak merata, dan ketidakpastian akan varian-varian baru menjadikan realiasi pertemuan global antara para pemimpin bisnis, pemerintah, dan masyarakat sipil dari seluruh dunia dengan skala yang direncanakan menjadi mustahil,” kata WEF dalam pernyataannya, seperti dikutip CNBC. WEF menyatakan pertemuan ini akan digelar lagi pada paruh pertama 2022. Tapi lokasi pasti dan tanggalnya akan ditentukan tahun ini. (Investor Daily)
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi SAM untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.
Best Regards,
SAM Investment
SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—18-Mei-2021.pdf