Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu yang selama ini telah memberikan kepercayaan kepada PT Samuel Aset Manajemen untuk mengelola dana Bapak/Ibu melalui Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 30 April 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 4 Mei 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 5 Mei 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp242.000.000 (dua ratus empat puluh dua juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 24 April 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,44% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,5 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Volatilitas meningkat di tengah ketegangan geopolitik
Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar 0%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Thailand (SET), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Kanada (S&P/TSX), dan Inggris (FTSE 100). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Teknologi AS (NASDAQ), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Bahan Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Keuangan, dan Kesehatan relatif tertinggal.
Sepanjang bulan Maret 2026, sektor energi menjadi satu-satunya yang tumbuh positif, sementara investor mulai beralih ke aset defensif. Secara keseluruhan, sentimen pasar tertekan oleh kebijakan suku bunga the Fed yang bertahan di level 3,5%–3,75%. Perdagangan ditutup dengan volatilitas tinggi karena pasar mengantisipasi dampak jangka panjang dari ketidakpastian geopolitik global.
Eskalasi geopolitik memicu kenaikan harga komoditas
Kerangka Kuadran Geopolitik SAM memetakan empat skenario konflik AS-Israel-Iran. Skenario baseline NACHO (stalemate berkepanjangan, 50–55%) tetap dominan setelah negosiasi Islamabad gagal mencapai kesepakatan dan AS memberlakukan blokade angkatan laut.
Harga WTI crude melonjak dari level US$67/barel sebelum konflik ke US$111/barel pada awal April seiring disrupsi Hormuz menghilangkan 7 juta barel/hari dari pasokan global. Secara bersamaan, harga emas terkoreksi di tengah penguatan dolar AS.
Citi Economic Surprise Index menunjukkan divergensi di mana hampir seluruh kawasan ekonomi berada di teritori positif kecuali Zona Eropa. Namun demikian terlihat arah dari indeks tersebut kompak mengalami penurunan sejak sebulan terakhir. Hal ini terkait dengan ekspektasi dampak ekonomi akibat ketegangan geopolitik.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pelemahan IDR sejalan dengan penurunan cadev dan capital outflow
Sepanjang Triwulan I-2026 nilai tukar Rupiah melemah 1,83% terhadap Dollar AS, dari level 16.690 di awal tahun menjadi 16.995. Pelemahan tersebut relatif kecil dibandingkan pelemahan nilai tukar beberapa negara berkembang lain.
Per bulan Maret 2026 cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$148 miliar. Masih dalam tren penurunan sepanjang tahun ini dari level tertingginya di bulan Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar. Adapun surplus neraca dagang masih terus berlanjut selama hampir 6 tahun terakhir.
Meningkatnya risiko global terutama di bulan Maret 2026 membuat arus modal asing keluar dari Indonesia. Pada bulan tersebut terjadi arus modal asing keluar dari pasar saham sekitar Rp27 triliun, dari pasar SBN sekitar Rp22 triliun, dan dari SRBI sekitar Rp7 triliun.
Alokasi Aset
Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 60:40 pada 2Q26
Kami melihat potensi pasar secara keseluruhan masih dalam tren positif baik pada pasar saham mau pun pasar obligasi. Potensi imbal hasil masing-masing aset hingga akhir tahun yaitu 15,4% (IHSG) dan 4,5% (indeks obligasi INDOBeX Total Return).
Alokasi aset yang lebih progresif kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 60:40 antara saham dan obligasi cukup optimal.
Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.
Menindaklanjuti rencana perubahan KIK dan Prospektus REKSA DANA SAM DANA BERKEMBANG yang telah diumumkan melalui surat kabar “Harian Ekonomi Neraca” tertanggal 6 Agustus 2025, kami, PT Samuel Aset Manajemen selaku Manajer Investasi dari REKSA DANA SAM DANA BERKEMBANG, dengan ini bermaksud menyampaikan pelaksanaan perubahan KIK dan Prospektus REKSA DANA SAM DANA BERKEMBANG sebagaimana termaktub dalam akta addendum KIK REKSA DANA SAM DANA BERKEMBANG.
Rincian rencana perubahan KIK dan Prospektus dapat diperoleh di Manajer Investasi atau dapat dilihat pada website Manajer Investasi yaitu https://www.sam.co.id/.
Demikian pengumuman ini disampaikan kepada para Pemegang Unit Penyertaan REKSA DANA SAM DANA BERKEMBANG serta pihak-pihak yang berkepentingan.
Jakarta, 2 April 2026
Manajer Investasi
PT Samuel Aset Manajemen Menara Imperium, Lantai Dasar, Jl. HR. Rasuna Said Kav 1 Jakarta 12980
Manajer Investasi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 3 bulan terakhir.
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
PHI dengan nilai minimal Rp1.000.000 (satu juta rupiah) dibagikan ke nasabah secara tunai dan PHI yang lebih rendah dari nilai tersebut dibagikan dalam bentuk tambahan Unit Penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 31 Maret 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 April 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 April 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga NAV per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.*
Perkiraan PHI yang dibagikan adalah sekitar Rp599.000.000,- (lima ratus sembilan puluh sembilan juta rupiah) untuk seluruh Pemegang Unit Penyertaan SAM Sukuk Syariah Sejahtera.*
*) sebagai ilustrasi bila nilai total PHI sebagaimana disebutkan di atas dibagikan dengan menggunakan informasi NAB SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA tanggal 25 Maret 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan mendekati 1,2% NAB SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA atau sekitar Rp29,9 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 31 Maret 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 1 April 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 April 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp250.000.000 (dua ratus lima puluh juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 25 Maret 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,45% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,6 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama 3 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas S
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan kelas S sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 31 Maret 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 April 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 April 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas S adalah sekitar Rp325.000.000,- (tiga ratus dua puluh lima juta Rupiah).*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas S per 25 Maret 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 1,28 % NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas S atau Rp13,1 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 9%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Malaysia (FTSE KLCI) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Teknologi AS (NASDAQ), dan Amerika Serikat (S&P 500) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Bahan Baku, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Keuangan, dan Telekomunikasi relatif tertinggal.
Pasar saham AS tertinggal setelah rilis data ekonomi AS. Di sisi lain, pasar saham Asia Pasifik unggul ditopang dari sektor semikonduktor terutama pada pasar saham di Korea Selatan dan Taiwan. Divergensi kebijakan bank sentral dan kekhawatiran terhadap disrupsi AI turut mewarnai volatilitas sepanjang bulan Februari.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Akselerasi belanja pemerintah turut meningkatkan aktivitas perekonomian
Hingga bulan Februari 2026 realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp358 triliun atau 11,4% dari APBN. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pendapatan negara tumbuh 12,8%. Adapun realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp493,8 triliun atau 12,8% dari APBN. Belanja negara tumbuh 41,9% secara tahunan. Defisit APBN hingga bulan Februari 2026 sebesar Rp135,7 triliun, lebih besar dibandingkan defisit di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp30,7 triliun.
Hingga bulan Februari 2026 defisit APBN tercatat sebesar -0,53% terhadap PDB. Realisasi tersebut merupakan salah satu defisit terbesar untuk dua bulan pertama tahun fiskal. Menurut UU Keuangan Negara batas maksimal defisit APBN sepanjang tahun adalah sebesar 3% terhadap PDB.
Di bulan Januari 2026 jumlah uang beredar tumbuh 10% secara tahunan, melanjutkan tren kenaikan selama 9 bulan terakhir. Kredit perbankan tumbuh 10,2% secara tahunan, juga melanjutkan tren kenaikan selama 7 bulan terakhir. Di bulan Februari 2026 Inflasi tercatat sebesar 4,76% yang salah satu penyebab utamanya adalah efek low-base penerapan diskon tarif listrik tahun lalu.
Tema Investasi Khusus: Crude Oil
Reading the signs
Harga minyak mengawali 2026 dalam tekanan. Brent dan WTI masuk ke tahun baru di kisaran $57–61/bbl, melanjutkan tren pelemahan hampir 20% sepanjang 2025. Saat itu, pasar masih fokus pada satu narasi besar: oversupply. Produksi dari AS, Brasil, dan Kanada terus meningkat, sementara permintaan global belum cukup kuat untuk menyerap tambahan supply tersebut. Konsensus analis pun cenderung bearish, baik EIA maupun J.P. Morgan sama-sama memproyeksikan rata-rata Brent di kisaran $58–60/bbl untuk sepanjang tahun.
Kenyataannya, Q1 bercerita lain. Brent melonjak 16% di Januari saja, didorong oleh risk premium geopolitik yang meningkat tajam. Setelah sempat koreksi di awal Februari, harga kembali rally dan per awal Maret sudah bergerak di kisaran $77–85/bb, jauh di atas proyeksi awal tahun. Volatilitas ini menjadi pengingat bahwa fundamental saja tidak cukup untuk menangkap pergerakan harga minyak.
Dari sisi supply, OPEC+ menunjukkan dinamika menarik. Setelah menahan produksi selama Q1, kelompok produsen utama memutuskan untuk mulai menambah output sekitar 206.000 barel per hari mulai April, langkah yang dibaca sebagai sinyal pergeseran dari menopang harga ke merebut pangsa pasar. Di saat bersamaan, arus perdagangan global juga mengalami reshuffling: tekanan sanksi dan tarif AS mendorong India mengurangi impor minyak Rusia ke level terendah sejak akhir 2022, sementara barrel Rusia dialihkan ke China. Setiap perubahan kebijakan tarif atau sanksi kini bisa mengubah peta aliran crude dalam hitungan minggu.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak relatif bukan kabar baik. Sebagai net importir minyak, harga yang lebih tinggi memperlebar defisit neraca perdagangan migas, menambah tekanan pada rupiah, dan mempersulit ruang fiskal pemerintah, terutama untuk subsidi BBM. Di sisi inflasi, kenaikan harga energi ikut mendorong inflasi Februari melonjak ke 4,76%, level tertinggi sejak Maret 2023, yang semakin mempersempit ruang Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga. Kombinasi ini menciptakan headwind bagi pasar obligasi dan saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.
Namun tidak semua sektor terdampak negatif. Saham-saham energi dan komoditas justru menjadi beneficiary dan beberapa emiten di bursa mencatat kenaikan signifikan di tengah pelemahan IHSG. Situasi ini menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio, karena konsentrasi berlebih di satu sektor bisa sangat rentan terhadap pergeseran sentimen komoditas. Ke depan, yang perlu dicermati adalah apakah risk premium akan bertahan atau mulai menipis karena jika sentimen mereda sementara OPEC+ konsisten menambah produksi, rotasi sektor bisa terjadi dengan cepat.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 27 Februari 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 2 Maret 2026.
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 3 Maret 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp242.000.000 (dua ratus empat puluh dua juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 24 Februari 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,43% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,5 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Pasar saham negara berkembang memimpin reli awal tahun
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 5%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Thailand (SET), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Denmark (OMX Copenhagen), dan Hong Kong (Hang Seng). Sementara indeks saham Kanada (S&P/TSX), Teknologi AS (NASDAQ), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Bahan Baku, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Keuangan, dan Kesehatan relatif tertinggal.
Sepanjang bulan Januari, pasar saham global ditutup positif, dengan kinerja pasar negara berkembang menjadi pemimpin reli di awal tahun ini. Indek Saham Korea Selatan (KOSPI) melanjutkan momentum dengan kinerja +24% di bulan pertama tahun ini. Di penghujung bulan Januari, Presiden Amerika Serikat menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Fed.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan PDB membaik, sejalan dengan M2, kredit perbankan, dan IKK
Para Triwulan IV-2025 PDB riil Indonesia tumbuh 5,39% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya maupun Triwulan IV tahun sebelumnya. Naiknya pertumbuhan PDB didorong oleh naiknya pertumbuhan sektor konsumsi Rumah Tangga dan Investasi. Adapun sepanjang tahun 2025 PDB Indonesia tumbuh 5,11%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB tahun 2024.
Di bulan Desember 2025 Jumlah Uang Beredar (M2) tumbuh 9,6% secara tahunan, tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Di periode yang sama kredit perbankan tumbuh 9,3% secara tahunan, melanjutkan tren kenaikan selama 6 bulan terakhir.
Di bulan Januari 2026 Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 126,97, melanjutkan tren kenaikan selama 5 bulan terakhir. Tren kenaikan tersebut juga terjadi baik di Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) maupun di Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
Tema Investasi Khusus: Reformasi Free Float Pasar Saham
Arah investability
Regulator Pasar Indonesia kini menaruh perhatian besar pada aturan free float karena aspek ini menjadi salah satu indikator utama dalam menilai investability pasar modal Indonesia. Free float mencerminkan porsi saham yang benar-benar tersedia bagi publik; semakin kecil proporsinya, semakin tinggi risiko distorsi harga akibat dominasi pemegang saham pengendali. Karena itu, isu free float tidak terlepas dari evaluasi indeks global seperti MSCI yang menilai kualitas struktur dan kedalaman pasar.
Sebagai respons, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyepakati kenaikan batas minimal free float dari sekitar 7,5% menjadi 15%, yang akan dipublikasikan dan mulai berlaku dalam regulasi baru pada awal 2026. Ketentuan ini langsung diterapkan bagi emiten yang akan listing di bursa, sementara emiten yang sudah tercatat diberikan masa transisi untuk menyesuaikan struktur kepemilikannya secara bertahap.
Aturan ini mendorong perusahaan untuk memperbesar porsi saham publik, sehingga suplai saham di pasar meningkat dan likuiditas menjadi lebih dalam. Emiten dengan free float di bawah ambang batas harus menempuh aksi korporasi, seperti divestasi saham ke publik, guna memenuhi ketentuan tersebut. OJK memberikan ruang penyesuaian agar proses ini berlangsung tertib tanpa menciptakan tekanan struktural yang berlebihan.
Kenaikan free float bertujuan memperbaiki kualitas price discovery dan menekan risiko volatilitas ekstrem yang kerap muncul pada saham dengan kepemilikan yang sangat terkonsentrasi. Dengan basis pemegang saham yang lebih luas, pergerakan harga diharapkan lebih mencerminkan fundamental, sekaligus mengurangi kerentanan terhadap praktik spekulatif. Kebijakan ini juga merupakan bagian dari upaya sistematis untuk merespons penilaian MSCI dan memperkuat kredibilitas pasar di mata investor global.
Penetapan free float minimum 15% merupakan langkah struktural untuk memperkuat fondasi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang. Kebijakan ini tidak sekadar menjawab sorotan eksternal, tetapi juga mendukung agenda pendalaman pasar domestik. Bagi investor, sinyalnya jelas: arah kebijakan bergerak menuju pasar yang lebih likuid, transparan, dan mampu menopang aliran modal yang lebih stabil serta pembentukan harga yang lebih kredibel.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 30 Januari 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 2 Februari 2026.
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 3 Februari 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp258.000.000 (dua ratus lima puluh delapan juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 27 Januari 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,46% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,7 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].