Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 30 September 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 1 Oktober 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2026
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp275.000.000 (dua ratus tujuh puluh lima juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 28 September 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,45% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,6 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 11%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Malaysia (FTSE KLCI) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Filipina (PSEi) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Denmark (OMX Copenhagen), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Energi, dan Bahan Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Barang Konsumen Primer relatif tertinggal.
Sepanjang Agustus 2026 pasar saham global menguat, ditopang pemulihan sektor semikonduktor yang mengangkat indeks saham Taiwan dan Korea Selatan, dengan sektor Bahan Baku, Energi, dan Teknologi memimpin kinerja bulanan. Memasuki September 2026, pergerakan pasar cenderung bervariasi seiring kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% serta naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.
UlasanMakro Ekonomi Indonesia
Inflasimasihdalam tren kenaikan
Inflasi Indonesia di bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Pada periode yang sama, inflasi inti Indonesia tercatat sebesar 2,92% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 4,06%. Sementara inflasi komponen bergejolak berada di level 4,06% secara tahunan.
Dalam 5 bulan terakhir Inflasi inti mengalami kenaikan dari level 2,44% di bulan April 2026 ke level 2,92% di bulan Agustus 2026. Begitupun dengan pertumbuhan kredit yang juga dalam tren kenaikan dari bulan Februari 2026 sebesar 8,91% menjadi 13% di bulan Juli 2026. Adapun jumlah uang beredar (M2) mengalami penurunan pertumbuhan dari 8,72% di bulan Juni menjadi 8,32% di bulan Juli.
Suku bunga riil Bank Indonesia (suku bunga dikurangi Inflasi) menurun di bulan Agustus 2026 seiring naiknya Inflasi tanpa disertai kenaikan suku bunga acuan. Sejak awal tahun, Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin dan membuat suku bunga riilnya naik sejak bulan Maret hingga Juli 2026.
TemaInvestasiKhusus:KesinambunganFiskal
Disiplin defisit menjadi penentu biaya utang
Pergantian Menteri Keuangan pada pertengahan September menempatkan kesinambungan kebijakan sebagai titik awal. Suahasil Nazara datang dari dalam Kementerian Keuangan, dengan pengalaman sebagai Wakil Menteri Keuangan dan pimpinan Badan Kebijakan Fiskal. Rekam pergantian sebelumnya menunjukkan pasar menilai kredibilitas penggantinya.
Ujian pertama berada di sisi pembiayaan. RAPBN 2027 dirancang dengan defisit 2,40% PDB dan penerbitan SBN neto sekitar Rp779,9 triliun, sementara yield SBN 10 tahun tercatat 7,04% per 1 September 2026 setelah naik sepanjang Agustus. Perdebatan transfer dana negara dan kontribusi Danantara belum selesai dan ikut menentukan beban yang jatuh ke penerbitan SBN. Pelebaran spread terhadap US Treasury 10 tahun menjadi penanda paling awal kenaikan premi risiko fiskal.
Tekanan terbesar pada sisi belanja datang dari subsidi energi, yang tahun ini dialokasikan Rp210,1 triliun atau sekitar dua pertiga total subsidi. Kebijakan menahan harga BBM bersubsidi menopang daya beli dan inflasi, namun bebannya tetap harus ditutup. Efisiensi belanja dan penguatan penerimaan menjaga defisit tetap pada ambang batas aman.
Bantalannya berupa Saldo Anggaran Lebih Rp420 triliun di Bank Indonesia dan perbankan, sebagai pertahanan terakhir setelah efisiensi belanja dimaksimalkan. Cara pemakaiannya lebih menentukan daripada besarannya, karena penarikan terukur menjaga ruang APBN apabila ada tantangan di masa mendatang.
Konfirmasinya akan terlihat dari koordinasi fiskal dan moneter. Outlook defisit APBN 2026 di kisaran 2,9% PDB, di bawah batas 3%, sementara Bank Indonesia menjaga inflasi dan stabilitas rupiah. Minat asing pada SBN masih positif, dengan pembelian bersih sebesar Rp19,7 triliun dalam sebulan terakhir dan Rp37,0 triliun sepanjang tahun berjalan.
Hampir seluruh pasar saham negara besar berada dalam teritori
positif
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 9%. Indeks saham Taiwan (TWSE) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Malaysia (FTSE KLCI), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Tiongkok (SHCOMP), dan Thailand (SET) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Taiwan (TWSE), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Amerika Serikat (S&P 500), dan Teknologi AS (NASDAQ). Sementara indeks saham Korea Selatan (KOSPI), Hong Kong (Hang Seng), dan Inggris (FTSE 100) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Keuangan, dan Telekomunikasi cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Bahan Baku, Barang Konsumen Non-Primer, dan Energi relatif tertinggal.
Pasar saham global melanjutkan penguatan setelah sempat terkoreksi dalam pada awal bulan Agustus yang disebabkan oleh unwinding position dari Japanese Yen Carry Trade. Penguatan pasar dalam beberapa pekan terakhir didukung dari ekspektasi pasar bawah akhirnya the Fed akan mulai memotong tingkat suku Bunga acuan pada bulan September sebesar 25 basis poin.
Tema Investasi Khusus: Market Rebound
Fenomena periode pemulihan pasar
Market rebound atau pemulihan pasar adalah fenomena di mana nilai aset-aset finansial, seperti saham atau obligasi, yang sebelumnya mengalami penurunan, kembali mengalami peningkatan. Rebound ini sering terjadi setelah periode volatilitas tinggi atau penurunan tajam di pasar, dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari sentimen positif investor hingga intervensi pemerintah atau perubahan kondisi ekonomi.
Fenomena market rebound biasanya dimulai ketika investor merasa bahwa harga aset telah mencapai titik terendah dan mulai membeli kembali aset-aset yang nilainya telah turun signifikan. Proses ini sering kali didorong oleh keyakinan bahwa reaksi pasar terlalu berlebihan terhadap berita atau kondisi tertentu, sehingga harga aset dipandang terlalu murah dan berpotensi menghasilkan keuntungan di masa depan.
Selain itu, pemulihan pasar sering kali dipicu oleh stimulus ekonomi dari pemerintah atau bank sentral, seperti penurunan suku bunga atau program pembelian aset, yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas dan kepercayaan di pasar. Ketika investor melihat tanda-tanda stabilisasi ekonomi atau kebijakan yang mendukung pertumbuhan, mereka cenderung menjadi lebih optimis dan mulai mengalokasikan kembali dana mereka ke pasar saham atau instrumen investasi lainnya.
Namun, penting untuk dicatat bahwa market rebound tidak selalu berkelanjutan dan bisa saja merupakan fenomena jangka pendek. Kadang-kadang, apa yang tampak seperti rebound hanyalah “dead cat bounce“ yaitu pemulihan sementara sebelum pasar kembali turun. Oleh karena itu, investor perlu berhati-hati dan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk analisis fundamental dan teknikal, sebelum mengambil keputusan investasi selama periode rebound.
Secara keseluruhan, market rebound mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, di mana sentimen investor, kondisi ekonomi, dan kebijakan pemerintah semuanya berperan dalam menentukan arah pergerakan harga. Bagi investor, memahami kapan dan mengapa rebound terjadi adalah kunci untuk memaksimalkan keuntungan dan mengurangi risiko dalam portofolio mereka.
Pasar saham global melanjutkan penguatan sejak awal tahun hingga bulan Agustus 2021, meskipun ada beberapa indeks saham yang masih mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Swedia (OMX Stockholm) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng) mencatatkan pelemahan terbesar.
Hampir seluruh indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Amerika Serikat (S&P 500), Eropa (STOXX 600), Jerman (DAX), Inggris (FTSE 100) dan Jepang (Nikkei 225). §Indeks saham di beberapa negara berkembang juga melanjutkan penguatan sejak awal tahun. Indeks saham Mexico (S&P/BMV), India (SENSEX), Taiwan (TWSE), Afrika Selatan (FTSE/JSE), Rusia (MOEX), dan Korea Selatan (KOSPI) memimpin penguatan.
Sektor Komunikasi, Energi, Finansial, dan Teknologi cenderung menjadi sektor yang berkinerja terbaik secara global sejak awal tahun di berbagai Kawasan/negara. Sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi dan Utilitas) memiliki kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan indeks acuannya. Rotasi sektor dari value ke growth dan sebaliknya terus terjadi sejak awal tahun ini, yang menunjukkan pasar masih cenderung sehat dan positif hingga akhir tahun. Dalam jangka pendek pasar bisa saja berpotensi cukup fluktuatif seiring dengan adanya rencana tapering-off dari bank sentral Amerika Serikat, the Fed.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga komoditas cenderung menguat setelah sebelumnya mengalami pelemahan. Indeks Dolar AS turut melemah sejak minggu lalu seiring dengan rilisnya data tenaga kerja AS yang lebih buruk dari ekspektasi analis dan ekonom.
Ulasan Makro Ekonomi Amerika Serikat (Potensi Tapering-Off oleh The Fed)
Dalam upaya stabilisasi dampak pandemi Covid-19, the Fed telah melakukan dua kebijakan moneter ekspansif yaitu quantitative easing (QE) sebesar AS$120 miliar per bulan dan penurunan tingkat bunga sebanyak 150 basis poin. Kedua kebijakan tersebut berhasil meningkatkan likuiditas dolar AS di pasar global dan juga menurunkan tingkat bunga baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Berbagai stimulus fiskal dan moneter AS serta pemulihan ekonomi global turut berperan pada kenaikan inflasi AS dimana pada Juli inflasi inti AS (core PCE) naik 3,62% tahun ke tahun, jauh di atas target the Fed sebesar 2%. §Sementara di pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran dan tingkat partisipasi angkatan kerja masih belum kembali ke level sebelum pandemi.
The Fed memperkirakan indikator tenaga kerja akan terus membaik sehingga dalam beberapa bulan ke depan akan mulai mengurangi jumlah pembelian aset per bulannya (tapering) mengingat inflasi yang sudah di atas dari target.
Team Investasi Khusus: Taper Tantrum 2013
Salah satu upaya the Fed, bank sentral Amerika Serikat, untuk meredam dampak krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008 adalah dengan menggunakan kebijakan moneter non-konvensional yang disebut Quantitative Easing (QE). Kebijakan ini dilakukan dengan cara memberikan dana stimulus ke institusi finansial melalui pembelian obligasi jangka panjang baik surat utang ataupun obligasi kredit perumahan. Tujuan dari QE adalah agar jumlah uang beredar tetap terjaga dan dapat merangsang perekonomian Amerika Serikat. Kebijakan QE mulai diberlakukan sejak bulan Maret 2009 hingga Desember 2013. Melalui kebijakan tersebut, perekonomian AS kembali membaik.
Rupiah cenderung menguat pada saat QE dikarenakan kebijakan tersebut cenderung seperti kebijakan moneter ekspansif. Akibatnya terjadi penurunan suku bunga yang menyebabkan aset dalam Rupiah lebih menarik dibandingkan aset Amerika Serikat dalam bentuk dolar AS. Hal sebaliknya terjadi pada saat the Fed mengumumkan untuk melakukan pengurangan dana stimulus (tapering off) sehingga menyebabkan suku bunga di AS kembali meningkat dan menyebabkan arus dana keluar dari Indonesia ataupun negara berkembang lainnya.
Pada bulan Mei 2013, Ben Bernanke sebagai gubernur the Fed pada saat itu mengumumkan akan mengurangi intensitas dana yang digunakan dari AS$85 miliar menjadi AS$65 miliar. Kebijakan tersebut merupakan permulaan dari aksi pengurangan dana stimulus (tapering off). Dampak pengumuman tersebut menyebabkan depresiasi nilai tukar dan penurunan tajam pada harga pasar saham dan pasar obligasi di Indonesia.
Situasi tapering tersebut semakin parah pada tanggal 17 Agustus 2013 dimana Bank Indonesia (BI) pada saat itu mengumumkan bahwa current-account deficit Indonesia mencapai AS$9,8 miliar atau memiliki porsi berkisar 4,4% terhadap PDB. Investor merespon negatif akan pengumuman tersebut dan menyebabkan volatilitas pada pasar finansial Indonesia yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar Rupiah, turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah dan credit-default swaps.
Baca Ulasan Pasar Bulan September 2021 selengkapnya