Kilas Pasar
Pada perdagangan Rabu (26/5), Dow naik tipis 10,59 poin atau 0,03% menjadi 34.323,05. Kemudian S&P 500 naik 0,19% menjadi 4.195,99, begitupun Nasdaq yang naik 0,59% menjadi 13.738,00. Dari Eropa, FTSE melemah 0,04% atau 2,86 poin menjadi 7.026,93 sementara Stoxx600 naik tipis kurang dari 0,01% atau 0,02 poin menjadi 445,22.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 14.327. Minyak WTI pagi ini turun 0,11% sementara minyak Brent turun tipis 0,01%. Hari ini Nikkei 225 dibuka melemah 0,46% sedangkan Kospi turun tipis di bawah 0,01%. Indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones dan S&P 500 futures melemah 0,04% dan 0,01%, sedangkan Nasdaq futures naik 0,05%.
Isu Ekonomi dan Pasar
AS sedang memasuki periode persaingan ketat dengan China karena negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu dikendalikan dengan lebih ketat oleh Presiden Xi Jinping, kata pejabat tinggi Gedung Putih untuk Asia, Rabu. Kurt Campbell, koordinator AS untuk urusan Indo-Pasifik di Dewan Keamanan Nasional, mengatakan bahwa Periode yang secara luas dipahami sebagai perjanjian dengan China telah berakhir. Pernyataannya datang seiring dengan Presiden Joe Biden memerintahkan komunitas intelijen AS untuk menentukan dari mana virus Covid-19 berasal, setelah penilaian yang bertentangan tentang apakah asal-usulnya alami atau dari kecelakaan laboratorium di China. Langkah tersebut tentu akan menyebabkan ketegangan dengan para pejabat di Beijing. (Bloomberg)
Sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) dalam APBN per akhir April 2021 tercatat Rp 254,19 triliun. Angka ini melonjak hingga 68,7% dibandingkan periode sama tahun lalu yang tercatat hanya Rp 150,7 triliun serta naik 42,2% dari posisi sebulan sebelumnya yang masih Rp 178,8 triliun. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, posisi SiLPA per April 2021 yang besar dibutuhkan sebagai jaga-jaga (buffer) untuk memenuhi kebutuhan belanja ke depan, sekaligus untuk mengantisipasi kemungkinan ketidakpastian yang terjadi di pasar keuangan. (Investor Daily)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, kondisi likuiditas perbankan dalam negeri tetap longgar karena BI telah menambah likuiditas (quantitative easing/QE) di perbankan sebanyak Rp 88,91 triliun per 21 Mei 2021. Dia juga menyebutkan bahwa suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) akan tetap ditahan pada level rendah tahun ini. (Investor Daily)
Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi SAM untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil.
Best Regards,
SAM Investment
SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—27-Mei-2021.pdf