Samuel Aset Manajemen

Category: Tinjauan Pasar Bulanan

  • Ulasan Pasar dan Ekonomi Triwulanan III-2024

    Ulasan Pasar Global

    Pasar saham negara maju di Kawasan Asia Pasifik reli di Triwulan II-2024

    Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 7%. Indeks saham Taiwan (TWSE) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC) menjadi yang paling tertinggal.

    Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham India (SENSEX), Malaysia (FTSE KLCI), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Meksiko (S&P/BMV IPC), Thailand (SET), dan Brazil (BOVESPA) relatif tertinggal sejak awal tahun.

    Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Taiwan (TWSE), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Jepang (Nikkei 225), dan Teknologi AS (NASDAQ). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Kanada (S&P/TSX), dan Korea Selatan (KOSPI) tercatat tertinggal.

    Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Telekomunikasi, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Bahan Baku, Barang Konsumen Primer, dan Barang Konsumen Non-Primer relatif tertinggal.

    Pasar saham egara-negara maju di kawasan Asia Pasifik seperti Jepang dan Taiwan reli ke level tertingginya sepanjang masa. Secara historis pelemahan nilai mata uang Yen menjadi salah satu faktor penguatan indeks saham di Jepang yang merupakan negara eksportir. Secara global penguatan indeks negara-negara maju masih didominasi oleh tema sektor yang berelasi dengan teknologi.

    Penguatan pasar saham global semakin merata

    Kami melihat sentimen pasar global yang bullish terutama di negara-negara yang ditandai dengan reli yang semakin merata pada di berbagai Kawasan, tidak hanya terpusat di Amerika Serikat. Beberapa indeks saham negara-negara maju mencapai level tertinggi sepanjang masa pada paruh pertama tahun ini.

    Skenario pasar yang masih positif menjadi asumsi dasar kami, di mana narasi soft landing atau pun no landing teteap berpeluang untuk terjadi. Asumsi di didasarkan pada harapan ekonomi negara maju yang tetap kokoh dan ekonomi Tiongkok yang dapat menunjukkan stabilisasi.

    Tingkat volatilitas aset finansial mencapai kisaran titik terendah sejak akhir 2021 atau sebelum terjadinya konflik Rusia dan Ukraina. Hal ini mencerminkan mood pasar yang masih bullish, yang terlihat dari relinya aset-aset yang berisiko sejak awal tahun di berbagai kawasan.

    Ulasan Makro Ekonomi Indonesia

    Fiskal masuk ke zona defisit di semester 1 2024, tetapi ada buffer dari SAL yang masih tinggi

    Realisasi fiskal di Semester I-2024 defisit Rp77,3 triliun atau -0,34% terhadap PDB, berbeda arah dibandingkan dengan realisasi di Semester I-2023 yang surplus 0,71% terhadap PDB. Pada Semester I-2024 pendapatan negara turun -6,2% secara tahunan, sementara realisasi belanja negara naik 11,3% secara tahunan.

    Defisit fiskal di Semester I-2024 berbeda dengan realisasi Semester I-2022 dan Semester I-2023 yang masing-masing mencatatkan surplus 0,39% dan 0,71% terhadap PDB. Adapun realisasi Semester I-2020 dan Semester I-2021 tercatat defisit -1,57% dan -1,72% terhadap PDB.

    Di akhir tahun 2023 pemerintah memiliki Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp459,5 triliun, yang bersumber dari akumulasi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran dan penggunaan SAL itu sendiri. Pada saat dibutuhkan, SAL dapat digunakan untuk menjadi salah satu sumber penerimaan pembiayaan selain dari utang.

    Alokasi Aset
    Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 50:50

    Kami melihat potensi imbal hasil saham cukup baik, ditopang oleh kinerja sektor-sektor yang bersifat cyclical value. Potensi imbal hasil kami masih baik (sebelum dividen saham), masing-masing 6,0% (IDX80) dan 6,8% (indeks obligasi INDOBeX Total Return)

    Alokasi aset yang sedikit condong kepada instrumen saham kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 50:50 antara saham dan obligasi cukup optimal.

    Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.

    Download lebih lengkap Ulasan Pasar Triwulanan III-2024

  • Buletin Triwulan – Oktober 2021 : Greenflation ?⚡ Krisis Energi Global

    Buletin Triwulan – Oktober 2021 : Greenflation ?⚡ Krisis Energi Global

    Ulasan Pasar Global
    Ulasan lengkap unduh file .pdf

    Indeks saham negara berkembang kembali memimpin penguatan.

    • Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun hingga bulan September 2021 dan relatif hanya sedikit indeks saham yang mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Rusia (MOEX) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng) mencatatkan penurunan terbesar.
    • Indeks saham negara-negara berkembang mulai memimpin penguatan dalam beberapa minggu terakhir. Indeks saham Rusia (MOEX), India (SENSEX), Mexico (S&P/BMV), dan Taiwan (TWSE) memimpin penguatan.
    • Indeks saham negara-negara maju juga tetap mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Amerika Serikat (S&P 500), Eropa (STOXX 600), Jerman (DAX), Inggris (FTSE 100), dan Jepang (Nikkei 225). §Sektor Energi dan Finansial cenderung menjadi sektor yang berkinerja lebih unggul dari sektor lainnya di setiap kawasan secara global sejak awal tahun. Di sisi lain, sektor-sektor yang berkaitan dengan Teknologi juga masih cenderung menguat. Sementara sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi, Kesehatan, dan Utilitas) memiliki kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan indeks acuannya.
    • Pasar saham global mengalami koreksi dari level tertingginya pada Triwulan-III 2021. Koreksi ini terbilang masih sehat mengingat pasar saham global telah reli sejak awal tahun. Ada pun beberapa sentimen negatif yang turut menyebabkan pasar saham global terkoreksi dalam 1-2 bulan terakhir antara lain: 1) adanya kekhawatiran mengenai sektor properti di China berkaitan dengan potensi gagal bayar utang beberapa emiten properti; 2) pasar mencermati timing the Fed untuk memulai tapering atau pengurangan jumlah stimulus.

    Rotasi kembali ke value stocks

    • Kami meyakini skenario yang paling mungkin terjadi adalah middle-ground scenario, di mana harga komoditas masih akan cenderung naik secara lebih stabil. Sementara dari sisi imbal hasil obligasi pemerintah AS akan cenderung flat-naik terbatas, sehingga barbell strategy dapat menjadi pilihan yang ideal.
    • Data historis kinerja value & growth pada Triwulan-IV menunjukkan probabilitas value stocks cenderung berkinerja lebih baik. Value stocks mencatatkan hasil positif sebanyak 9 dari 10  tahun terakhir dengan rerata imbal hasil 5,24% di Triwulan-IV. Sementara growth stocks mencatatkan hasil positif sebanyak 8 dari 10  tahun terakhir dengan rerata imbal hasil 4,30% di Triwulan-IV.
    • Indeks saham US Small Caps biasanya dapat menjadi indikator fase siklus pasar saat ini. Hal ini dikarenakan saham small caps sangat sensitif pergerakannya dengan arah ekspektasi pertumbuhan ekonomi. Per saat ini kami melihat pola yang mirip pada setiap early cycle (misal pada tahun 2003-2004 & 2009-2010) kembali terulang pada tahun 2020-2021. Pola seperti ini biasanya adalah masa transisi menuju mid-cycle.

    Laporan Khusus: Greenflation – Krisis Energi Global

    Kelangkaan energi dunia akibat rendahnya pasokan di tengah pemulihan ekonomi

    • Dalam beberapa waktu terakhir, dunia menghadapi krisis energi akibat tidak berimbangnya permintaan dan penawaran berbagai komoditas energi utama, seperti minyak mentah, gas alam, dan batu bara. §Pemulihan ekonomi dunia secara bertahap dan berkelanjutan membuat permintaan energi cukup tinggi dengan mengikuti pola huruf V, sementara pasokan energi tidak dapat bertambah dalam waktu cepat (mengikuti pola huruf U). Hal ini membuat persediaan energi, seperti minyak, sangat terbatas (Grafik 16).
    • Krisis energi ini terutama sekali sedang dihadapi oleh negara-negara di Eropa yang sangat bergantung pada Rusia untuk memenuhi kebutuhan gas alamnya, seiring dengan terus menurunnya produksi gas alam di Eropa.

    Faktor lingkungan mewarnai enggannya pelaku industri menambah belanja modal

    • isi penawaran tidak dapat mengimbangi besarnya permintaan seiring dengan minimnya belanja modal perusahaan eksplorasi energi. Selain pendirian konservatif yang mereka ambil, faktor transisi energi juga memainkan peranan penting. Berkurangnya kontribusi energi non-terbarukan dalam bauran energi serta lebih terbatasnya pendanaan investasi energi non-terbarukan adalah dua dari beberapa faktor kunci.
    • Fenomena ini dijuluki sebagai greenflation, yaitu naiknya harga-harga komoditas energi akibat kenaikan permintaan namun pasokan tidak memadai karena isu lingkungan.
    • Hal ini perlu kita pantau bersama karena energi merupakan kebutuhan dasar peradaban manusia. Transisi energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT) perlu dilakukan secara saksama untuk meminimalkan disrupsi ekonomi.

    Baca Ulasan Pasar Triwulan IV 2021 Oktober selengkapnya.

  • Buletin Bulanan – Juli 2021 (SAM Quarterly Newsletter):  Digital Banking

    Buletin Bulanan – Juli 2021 (SAM Quarterly Newsletter): Digital Banking

    Ulasan Pasar Global

    Ulasan lengkap unduh file .pdf

    • Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun hingga bulan Juni 2021 dan relatif hanya sedikit indeks saham yang mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Swedia (OMX Stockholm) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Malaysia (FBMKLCI) mencatatkan penurunan terbesar.
    • Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Amerika Serikat (S&P 500), Eropa (STOXX 600), Jerman (DAX), Denmark (OMX Copenhagen), Inggris (FTSE 100), dan Jepang (Nikkei 225).
    • Indeks saham di beberapa negara berkembang juga melanjutkan penguatan sejak awal tahun. Indeks saham Taiwan (TWSE), Rusia (MOEX), Korea Selatan (KOSPI), Mexico (S&P/BMV), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) memimpin penguatan.
    • Sektor Energi, Finansial, Industrial dan Material cenderung menjadi sektor yang berkinerja terbaik secara global sejak awal tahun, meskipun mulai melemah sejak pertengahan bulan Mei. Di sisi lain, sektor-sektor yang berkaitan dengan Teknologi menguat sejak akhir Mei. Sementara sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi, Kesehatan, dan Utilitas) memiliki kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan indeks acuannya.
    • Penguatan harga minyak dalam beberapa minggu menjadi sentimen yang positif bagi indeks saham secara global. Di sisi lain, indeks Dolar AS juga cenderung mengalami penguatan dalam beberapa minggu terakhir.

    Tema Investasi Khusus: Digital Banking

    • Sepanjang tahun berjalan 2021 ini, tema sektor berbasis teknologi membukukan kinerja tertinggi. Hingga tulisan ini disusun, indeks sektoral IDXTECH tercatat menguat 483%, jauh meninggalkan sektor-sektor lainnya.
    • Salah satu sektor yang berhubungan erat dengan teknologi akhir-akhir ini adalah sektor teknologi finansial dan perbankan digital, yang perkembangannya juga sedang didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui pemberian izin khusus untuk bank digital.
    • Berbeda dengan perbankan konvensional yang telah kita kenal, bank digital mengedepankan minimum physical presence, yakni hampir seluruh layanan perbankan, seperti pembukaan rekening, deposito, dan pengajuan kredit, dilakukan secara virtual melalui aplikasi. Tren ini telah menjadi kelaziman global dengan beberapa pemain utama global seperti Revolut dan Monzo di Inggris.
    • Di Indonesia, kita terus melihat perkembangan perbankan digital, baik berupa pseudo-digital bank (layanan perbankan digital yang hadir berdampingan dengan perbankan konvensional dari bank yang sama), maupun bank digital sepenuhnya yang dimiliki oleh perusahaan teknologi serta bank.
    • Roland Berger, sebuah firma konsultan internasional yang berbasis di Jerman, memperkirakan jumlah kantor cabang perbankan di Indonesia akan berkurang lebih dari 7 ribu dalam 10 tahun mendatang.
    • Tren perbankan digital ini perlu kita terus pantau dan ikuti bersama, bukan saja dalam hal fitur dan kemudahannya, namun juga tentang keamanan data, mutu pelayanan kepada pelanggan, serta integritas sistem.

    Baca ulasan lebih lengkap di sini!

  • Buletin Bulanan – Juni 2021: Net Asset Value pada Sektor Properti

    Buletin Bulanan – Juni 2021: Net Asset Value pada Sektor Properti

    Ulasan Pasar Global

    Ulasan lengkap unduh file pdf

    • Pasar saham global cenderung mengalami penguatan sejak awal tahun hingga bulan Mei 2021, meskipun ada beberapa indeks saham yang masih mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Swedia (OMX Stockholm) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Filipina (PSEi) masih mencatatkan pelemahan terbesar.
    • Hampir seluruh indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Jerman (DAX), Eropa (STOXX 600), Amerika Serikat (S&P 500), Inggris (FTSE 100), dan Denmark (OMX Copenhagen).
    • Indeks saham di beberapa negara berkembang juga melanjutkan penguatan sejak awal tahun. Indeks saham Taiwan (TWSE), Mexico (S&P/BMV), Afrika Selatan (FTSE/JSE), Rusia (MOEX), dan Korea Selatan (KOSPI) memimpin penguatan. Di sisi lain, indeks saham di sebagian kawasan ASEAN lainnya cenderung masih mengalami pelemahan sejak awal tahun.
    • Sektor Energi, Finansial, Industrial dan Material cenderung menjadi sektor yang berkinerja terbaik secara global sejak awal tahun. Sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi, Kesehatan, dan Utilitas) memiliki kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan indeks acuannya. Hal ini masih menunjukkan bahwa posisi/keyakinan investor cenderung pada sektor-sektor siklikal seiring membaiknya perekonomian dunia dan menguatnya harga-harga komoditas utama.
    • Penguatan harga minyak pada dalam beberapa minggu menjadi sentimen yang positif bagi indeks saham secara global. Indeks Dolar AS kembali melemah selama dua bulan berturut-turut. Pelemahan ini turut mendukung penguatan harga-harga komoditas utama.

    Tema Investasi Khusus: Net Asset Value pada sektor properti

    • Net Asset Value (NAV) atau Nilai Aktiva Bersih (NAB) merupakan nilai bersih suatu entitas dan dihitung dari nilai total aset entitas dikurangi nilai total kewajibannya. Melihat definisi tersebut, NAV bukanlah hal yang asing bagi pihak-pihak yang telah melakukan investasi Reksa Dana yang selalu mendapatkan laporan NAV Reksa Dana.
    • Selain digunakan untuk menilai Reksa Dana, NAV juga digunakan dalam menilai perusahaan sektor properti. Dalam penggunaannya pada sektor properti, NAV mencerminkan nilai aset berupa lot tanah dan properti investasi dikurangi dengan total kewajiban perusahaan. NAV tersebut mencerminkan potensi pasar yang dimiliki perusahaan.
    • Konsep NAV mirip dengan Nilai Buku atau Book Value (BV), hanya saja BV menggunakan harga ketika perusahaan membeli aset tersebut, sedangkan NAV menggunakan harga pasar yang berlaku saat ini.
    • Pada saham sektor properti, valuasi seringkali menggunakan metode Discount to NAV. Metode ini dilakukan dengan cara membagi harga saham dengan hasil perhitungan NAV. Angka tersebut akan menunjukkan seberapa jauh atau seberapa terdiskon harga saham perusahaan properti dibandingkan dengan potensi pasar yang dimiliki. Sebagai contoh, saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) pada penutupan bulan Mei diperdagangkan pada harga Rp940 per saham. Dengan asumsi perhitungan nilai NAV sebesar Rp2.900 per saham, artinya SMRA diperdagangkan pada diskon sebesar 67,6%.
    • Angka ini tidak serta merta menunjukkan terdapat potensi kenaikan harga saham sebesar 67,6%. Kita harus melihat secara historis untuk mengetahui pada level diskon berapa persen saham tersebut biasa diperdagangkan.
    • Metode ini juga lebih sering digunakan dibandingkan metode lain seperti Price to Earnings Ratio (PER) atau EV/EBITDA karena pengakuan pendapatan dalam sektor properti seringkali tidak dilakukan pada periode yang sama dengan periode penjualan persediaan.

    Baca ulasan lebih lengkap di sini!

  • Buletin Bulanan – Mei 2021: Special Purpose Acquisition Company

    Buletin Bulanan – Mei 2021: Special Purpose Acquisition Company

    Ulasan Pasar Global

    Ulasan lengkap unduh file pdf

    • Pasar saham global cenderung mengalami penguatan sejak awal tahun hingga bulan April 2021, meskipun ada beberapa indeks saham yang masih mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Taiwan (TWSE) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Filipina (PSEi) mencatatkan pelemahan terbesar.
    • Mayoritas indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Amerika Serikat (S&P 500), Jerman (DAX), Eropa (STOXX 600), Inggris (FTSE 100), dan Denmark (OMX Copenhagen).
    • Indeks saham di beberapa Negara Berkembang kembali memimpin dan melanjutkan penguatan sejak awal tahun. Indeks saham Taiwan (TWSE), Afrika Selatan (FTSE/JSE), Korea (Kospi), Thailand (SET) dan Mexico (S&P/BMV) mencatatkan hasil yang positif. Di sisi lain, indeks saham di sebagian kawasan ASEAN lainnya cenderung mengalami pelemahan sejak awal tahun.
    • Sektor Industrial, Material, Energi, Finansial, dan Komunikasi cenderung menjadi sektor yang berkinerja terbaik secara global sejak awal tahun. Sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi, Kesehatan, dan Utilitas) memiliki kinerja yang tertinggal dibandingkan indeks acuannya. Hal ini masih menunjukkan bahwa posisi/keyakinan investor cenderung pada sektor-sektor siklikal seiring membaiknya perekonomian dunia dan harga berbagai komoditas.
    • Pelemahan indeks Dolar AS pada bulan April juga turut menjadi sentimen yang positif bagi indeks saham secara global. Indeks Dolar AS Kembali melemah setelah sempat mengalami penguatan pada bulan lalu. Pelemahan ini turut mendukung penguatan harga-harga komoditas utama.

    Tema Investasi Khusus: Special Purpose Acquisition Company (SPAC)

    • SPAC adalah perusahaan tanpa kegiatan operasi komersial yang sengaja dibentuk untuk menggalang modal melalui penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) dan kemudian menggunakan uang tersebut untuk mengakuisisi perusahaan lain yang sudah ada. Saham SPAC melantai di bursa, sehingga dapat diperjual belikan melalui pasar sekunder sesuai mekanisme pasar. Tujuan dari akuisis tersebut adalah menjadikan SPAC sebagai cara lain bagi perusahaan yang diakuisisi untuk melantai di bursa.
    • SPAC biasanya belum memiliki target pasti terkait perusahaan yang akan diakuisisi, sehingga modal yang diperoleh SPAC melalui IPO akan disimpan pada akun perwalian (trust), yang kemudian diinvestasikan pada instrumen pasar uang sebelum digunakan untuk mengakuisisi perusahaan lain. SPAC biasanya memiliki waktu 18-24 bulan sebelum mengakuisisi sebuah perusahaan.
    • SPAC menjadi alternatif bagi perusahaan untuk melantai di bursa tanpa perlu memenuhi kebutuhan regulasi IPO pada umumnya, serta mendapat kepastian lebih terkait harga IPO. Pada awal Agustus tahun 2020, terdapat lebih dari 50 SPAC yang telah dibentuk di AS dan telah mengumpulkan sekitar AS$21,5 miliar dan bahkan melonjak hingga melewati US$ 80 miliar pada akhir tahun 2020. 
    • Meski demikian, terdapat kecenderungan bahwa harga saham SPAC akan turun pada periode mendekati proses akuisisi. Hal ini karena terdapat risiko dilusi saham seiring dengan pendiri SPAC yang memiliki saham SPAC dengan harga diskon atau bahkan tanpa mengeluarkan modal. Selain itu, terdapat juga risiko dari biaya peluang yang muncul selama uang belum digunakan untuk mengakuisisi perusahaan lain. Hal-hal tersebut menyebabkan investor cenderung menarik dananya kembali dan menyebabkan harga saham SPAC turun, terlebih apabila perusahaan yang akan diakuisisi tidak sesuai dengan ekspektasi investor.
    • Grab Holdings, perusahaan ride-hailing dan layanan pesan-antar di Asia Tenggara, telah menyetujui merger dengan salah satu SPAC yang berbasis di AS bernama Altimeter Growth Corp pada bulan April 2021. Kesepakatan tersebut membuat nilai ekuitas Grab menjadi AS$39,6 miliar atau setara dengan Rp530 triliun.

    Baca ulasan lebih lengkap di sini!