Samuel Aset Manajemen

Tag: kesalahan investasi

  • Tujuh Kesalahan Umum dalam Mengatur Rencana KeuanganTujuh Kesalahan Umum dalam Mengatur Rencana Keuangan

    Orang pintar belajar dari kesalahan mereka. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Orang bodoh tidak pernah belajar—

     Semua orang ingin mencapai kebebasan keuangan. Semua orang ingi sukses dalam mengelola uang dan berinvestasi. Akan tetapi tidak semua orang sukses meraihnya. Bahkan banyak juga diantaranya, alih-alih meraih mimpi yang diinginkan, malah mendapatkan mimpi buruk jika tidak gagal ditengah jalan.

    Berikut 7 kesalahan umum paling sering dilakukan orang, yang mengagalkan mereka meraih tujuan keuangan yang ingin dicapai.

    Tidak punya komitmen yang kuat.

    Investasi membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk menunda kesenangan saat ini dengan harapan mendapatkan kesenangan yang lebih besar dikemudian hari. Agar memiliki uang untuk diinvestasikan, kita harus mampu menyisihkan sebagian dari pendapatan saat ini. Banyak orang gagal menyisihkan pendapatan mereka. Alasan jamak adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Sebenarnya mereka gagal bukan karena pendapatan yang kurang, akan tetapi karena tidak memiliki komitmen untuk mengatur pengeluaran tadi.

    Ingat, pengeluaran tidak akan ada batasnya jika mau memenuhi semua keinginan. Akan tetapi pengeluaran akan menjadi sangat terbatas jika hanya memenuhi ‘apa yang dibutuhkan saja’. Agar bisa menyisihkan sebagian pendapatan, kita harus mampu melakukan ‘pengorbanan’ seperti menahan beli handphone baru selama yang lama masih berfungsi baik. Membeli sepatu local ketimbang sepatu merek luar negeri. Mengganti satu pak rokok sehari dengan sebutir permen. Mengganti jajan diluar dengan makan bekal dari rumah. Banyak cara untuk memastikan pendapatan bulanan masih tetap bersisa untuk diinvestasikan. Anda pasti bisa menyisihkan 10-30% pendapatan saat ini. Syaratnya hanya satu, komitmen yang kuat untuk melakukan pengorbanan.

     Tidak tujuan yang jelas

    Banyak orang bermimpi menjadi milyarder. Itu sah saja. Akan tetapi sangat sedikit yang memiliki rencana ataupun tujuan yang jelas untuk mencapainya.

    Dua tahun yang lalu, saya mencoba hobby baru, yaitu lari. Lalu saya bermimpi untuk bisa ikut lari full marathon 42 km. Untuk merealisasikannya, saya lalu memasang target. Pertama ikut lomba 5 km. Setelah berhasil, saya naik kelas ikut lomba lari 10 km, berikutnya 21 km dan akhirnya dalam 2 tahun saya berhasil menyelesaikan 42 km pada Jakarta Marathon Oktober lalu.

    Jika anda ingin jadi milyarder. Mulailah pasang target misalnya : menyisihkan 10% dari penghasilan untuk di investasikan. Target itu lewat, naikkan menjadi 20%.  Pasang target belajar tentang saham, lalu belajar tentang reksadana. Mulai investasi kecil-kecil dan terus ditingkatkan terus. Lambat laun anda mimpi tadi akan milyarder akan terealisasi

    Investasi tanpa belajar

    Tahun 2005, banyak investor reksadana pendapatan tetap menjual rugi reksadana mereka ketika inflasi naik, bunga naik dan harga obligasi yang menjadi isi portfolio reksadana pendapatan tetap tadi menukik tajam, sehingga nilai reksadana mereka pun ikut menukik tajam. Banyak sekali investor saat itu berpikir bahwa reksadana pendapatan tetap, karena kata ‘tetap’ tidak bisa turun. Dan ketika ternyata reksdana mereka turun, mereka tidak siap, dan jual saat harga dibawah.  Padahal, jika menunggu satu setengah tahun kemudian untuk menjualnya, mereka bisa jual untung. Ada pula investor yang rugi total setelah membeli saham tanpa fundamental yang jelas.  Atau investor emas dengan sistem margin yang diberi label syariah harus menanggung rugi ketika harga emas terkoreksi tajam enam bulan terakhir. Cerita seperti ini sangat jamak ditemukan. Kenapa ini terjadi? Karena semua investor tadi melakukan investasi tanpa pernah mempelajari risiko investasi yang bakal mereka hadapi. Akibatnya ketika risiko itu menjadi kenyataan, dan nilai investasi mereka bergejolak, mereka langsung panic dan membuat keputusan yang mereka sesali dikemudian hari.

    Tidak melunasi tagihan kartu kredit

    Kapal karam banyak diawali oleh lubang kecil. Begitu juga rencana finansial. Banyak yang karam karena lubang yang terus mengalir dari tagihan kartu kredit. Apa gunanya reksadana saham yang dimiliki menghasilkan imbal hasil 20%  per tahun ketika saldo kartu kredit terus membengkak, berbunga 36% per tahun terus melobangi kantong anda. Sebelum investasi, lunasi dulu semua tagihan kartu kredit.

    Tidak membeli asuransi

    Sakit yang memerlukan biaya berobat besar dan serta kematian adalah dua hal yang paling sering menghancurkan rencana finansial. Ketika sakit berapa pun biaya akan kita keluarkan untuk bisa sembuh. Apapun asset yang anda punya pasti akan direlakan buat berobat. Jika ini terjadi, semua rencana jangka panjang akan bubar. Begitu juga kematian pasangan yang memberikan pendapatan utama buat suatu keluarga dijamin memberi efek yang sama. Oleh karenanya kita perlu menghilangkan risiko ini dengan membeli asuransi.

    Asuransi pertama adalah asuransi kesehatan yang memberi proteksi atas pengeluaran besar jika kita ataupun yang orang menjadi tanggung jawab kita mengalami sakit dan memerlukan biaya perawatan yang besar . Sementara asuransi jiwa baru diperlukan jika kita telah memiliki tanggung jawab terhadap istri ataupun anak. Kita perlu memastikan bahwa mereka masih bisa hidup layak jika kita mendadak meninggal dunia.  Berapa nilai pertanggungan yang ideal? Bisa bervariasi tapi kisaran umumnya adalah sekitar 7-10x gaji tahunan. Jangan tunda beli asuransi jiwa ini, karena semakin berumur, premi yang anda harus bayarkan akan semakin besar. Akan tetapi jika anda masih lajang dan belum memiliki tanggungan, tidak perlu beli asuransi jiwa, cukup asuransi kesehatan saja, sisa dana lainnya langsung diinvestasikan saja.

    Tidak memiliki eksposure di saham

    Jumlah investor reksadana di Indonesia, kurang dari 200 ribu orang atau kurang dari 0.1% penduduk Indonesia. Sementara jumlah sub rekening efek individu di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), lembaga yang menyimpan dan menyelesaikan transaksi pasar modal, hingga Juli baru tercatat 362 ribu rekening atau hanya 0.14% penduduk Indonesia. Hal ini mencerminkan masih sangat minimnya pengenalan investor terhadap investasi di pasar modal terutama saham. Padahal, di Negara yang sedang berkembang dengan trend demografi yang sehat seperti Indonesia, saham akan selalu memberikan imbal hasil yang lebih baik dari alternative investasi lainnya. Kenapa? Karena harga saham dalam jangka panjang akan memberi kompensasi atas risiko inflasi sekaligus merefleksikan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Banyak orang yang tidak memiliki eksposure di saham baik langsung karena takut mengambil risiko. Padahal tanpa mengambil risiko, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.  Apa yang mesti kita lakukan? Kenali risiko tadi dengan mempelajarinya. Lalu mulai investasi dengan skala yang kecil. Berikutnya setelah pengetahuan dan pengalaman atas risiko dan potensi imbal hasilnya dikenal dengan baik, naikkan eksposure anda secara bertahap, hingga mencapai porsi yang ideal. Berapa porsi yang ideal? Sangat tergantung kepada umur, toleransi atas risiko dan tujuan investasi dan kondisi keuangan.  Semakin muda usia anda, semakin besar eksposure saham yang harus anda miliki dan sebaliknya. Rumus umum yang dipakai untuk menentukan ekspoure di saham adalah 100 dikurangi umur. Jadi jika umur anda 20, eksposure di saham adalah 80%, dan obligasi ataupun instrument lain dengan risiko rendah adalah 20%

     Telat memulai

    Investasi membutuhkan ‘waktu’ agar bisa bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti halnya waktu yang dibutuhkan menunggu bibit mangga yang ditanam tumbuh menjadi besar dan berbuah lebat.  Investasi paling tepat mulai dilakukan di waktu muda. Karena ketika memulai disaat muda, kita punya banyak waktu membiarkan investasi tadi bertumbuh besar seiring waktu. Ketika berinvestasi saat muda, instrument investasi yang diambil bisa yang lebih berisiko, seperti saham, dengan harapan imbal hasil yang lebih besar pula. Lalu, jika pun pada awal investasi, kita melakukan kesalahan, masih banyak waktu menunggu investasi itu kembali, dan juga banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Beda halnya dengan investasi di waktu tua. Sisa waktu yang investasi semakin terbatas, sementara ekspektasi imbal hasil akan lebih kecil dibandingkan investasi saat muda, karena tipe investasi yang cocok adalah yang memiliki risiko lebih kecil.

    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 1 Desember 2013, halaman A8)Orang pintar belajar dari kesalahan mereka. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Orang bodoh tidak pernah belajar—

     Semua orang ingin mencapai kebebasan keuangan. Semua orang ingi sukses dalam mengelola uang dan berinvestasi. Akan tetapi tidak semua orang sukses meraihnya. Bahkan banyak juga diantaranya, alih-alih meraih mimpi yang diinginkan, malah mendapatkan mimpi buruk jika tidak gagal ditengah jalan.

    Berikut 7 kesalahan umum paling sering dilakukan orang, yang mengagalkan mereka meraih tujuan keuangan yang ingin dicapai.

    Tidak punya komitmen yang kuat.

    Investasi membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk menunda kesenangan saat ini dengan harapan mendapatkan kesenangan yang lebih besar dikemudian hari. Agar memiliki uang untuk diinvestasikan, kita harus mampu menyisihkan sebagian dari pendapatan saat ini. Banyak orang gagal menyisihkan pendapatan mereka. Alasan jamak adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Sebenarnya mereka gagal bukan karena pendapatan yang kurang, akan tetapi karena tidak memiliki komitmen untuk mengatur pengeluaran tadi.

    Ingat, pengeluaran tidak akan ada batasnya jika mau memenuhi semua keinginan. Akan tetapi pengeluaran akan menjadi sangat terbatas jika hanya memenuhi ‘apa yang dibutuhkan saja’. Agar bisa menyisihkan sebagian pendapatan, kita harus mampu melakukan ‘pengorbanan’ seperti menahan beli handphone baru selama yang lama masih berfungsi baik. Membeli sepatu local ketimbang sepatu merek luar negeri. Mengganti satu pak rokok sehari dengan sebutir permen. Mengganti jajan diluar dengan makan bekal dari rumah. Banyak cara untuk memastikan pendapatan bulanan masih tetap bersisa untuk diinvestasikan. Anda pasti bisa menyisihkan 10-30% pendapatan saat ini. Syaratnya hanya satu, komitmen yang kuat untuk melakukan pengorbanan.

     Tidak tujuan yang jelas

    Banyak orang bermimpi menjadi milyarder. Itu sah saja. Akan tetapi sangat sedikit yang memiliki rencana ataupun tujuan yang jelas untuk mencapainya.

    Dua tahun yang lalu, saya mencoba hobby baru, yaitu lari. Lalu saya bermimpi untuk bisa ikut lari full marathon 42 km. Untuk merealisasikannya, saya lalu memasang target. Pertama ikut lomba 5 km. Setelah berhasil, saya naik kelas ikut lomba lari 10 km, berikutnya 21 km dan akhirnya dalam 2 tahun saya berhasil menyelesaikan 42 km pada Jakarta Marathon Oktober lalu.

    Jika anda ingin jadi milyarder. Mulailah pasang target misalnya : menyisihkan 10% dari penghasilan untuk di investasikan. Target itu lewat, naikkan menjadi 20%.  Pasang target belajar tentang saham, lalu belajar tentang reksadana. Mulai investasi kecil-kecil dan terus ditingkatkan terus. Lambat laun anda mimpi tadi akan milyarder akan terealisasi

    Investasi tanpa belajar

    Tahun 2005, banyak investor reksadana pendapatan tetap menjual rugi reksadana mereka ketika inflasi naik, bunga naik dan harga obligasi yang menjadi isi portfolio reksadana pendapatan tetap tadi menukik tajam, sehingga nilai reksadana mereka pun ikut menukik tajam. Banyak sekali investor saat itu berpikir bahwa reksadana pendapatan tetap, karena kata ‘tetap’ tidak bisa turun. Dan ketika ternyata reksdana mereka turun, mereka tidak siap, dan jual saat harga dibawah.  Padahal, jika menunggu satu setengah tahun kemudian untuk menjualnya, mereka bisa jual untung. Ada pula investor yang rugi total setelah membeli saham tanpa fundamental yang jelas.  Atau investor emas dengan sistem margin yang diberi label syariah harus menanggung rugi ketika harga emas terkoreksi tajam enam bulan terakhir. Cerita seperti ini sangat jamak ditemukan. Kenapa ini terjadi? Karena semua investor tadi melakukan investasi tanpa pernah mempelajari risiko investasi yang bakal mereka hadapi. Akibatnya ketika risiko itu menjadi kenyataan, dan nilai investasi mereka bergejolak, mereka langsung panic dan membuat keputusan yang mereka sesali dikemudian hari.

    Tidak melunasi tagihan kartu kredit

    Kapal karam banyak diawali oleh lubang kecil. Begitu juga rencana finansial. Banyak yang karam karena lubang yang terus mengalir dari tagihan kartu kredit. Apa gunanya reksadana saham yang dimiliki menghasilkan imbal hasil 20%  per tahun ketika saldo kartu kredit terus membengkak, berbunga 36% per tahun terus melobangi kantong anda. Sebelum investasi, lunasi dulu semua tagihan kartu kredit.

    Tidak membeli asuransi

    Sakit yang memerlukan biaya berobat besar dan serta kematian adalah dua hal yang paling sering menghancurkan rencana finansial. Ketika sakit berapa pun biaya akan kita keluarkan untuk bisa sembuh. Apapun asset yang anda punya pasti akan direlakan buat berobat. Jika ini terjadi, semua rencana jangka panjang akan bubar. Begitu juga kematian pasangan yang memberikan pendapatan utama buat suatu keluarga dijamin memberi efek yang sama. Oleh karenanya kita perlu menghilangkan risiko ini dengan membeli asuransi.

    Asuransi pertama adalah asuransi kesehatan yang memberi proteksi atas pengeluaran besar jika kita ataupun yang orang menjadi tanggung jawab kita mengalami sakit dan memerlukan biaya perawatan yang besar . Sementara asuransi jiwa baru diperlukan jika kita telah memiliki tanggung jawab terhadap istri ataupun anak. Kita perlu memastikan bahwa mereka masih bisa hidup layak jika kita mendadak meninggal dunia.  Berapa nilai pertanggungan yang ideal? Bisa bervariasi tapi kisaran umumnya adalah sekitar 7-10x gaji tahunan. Jangan tunda beli asuransi jiwa ini, karena semakin berumur, premi yang anda harus bayarkan akan semakin besar. Akan tetapi jika anda masih lajang dan belum memiliki tanggungan, tidak perlu beli asuransi jiwa, cukup asuransi kesehatan saja, sisa dana lainnya langsung diinvestasikan saja.

    Tidak memiliki eksposure di saham

    Jumlah investor reksadana di Indonesia, kurang dari 200 ribu orang atau kurang dari 0.1% penduduk Indonesia. Sementara jumlah sub rekening efek individu di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), lembaga yang menyimpan dan menyelesaikan transaksi pasar modal, hingga Juli baru tercatat 362 ribu rekening atau hanya 0.14% penduduk Indonesia. Hal ini mencerminkan masih sangat minimnya pengenalan investor terhadap investasi di pasar modal terutama saham. Padahal, di Negara yang sedang berkembang dengan trend demografi yang sehat seperti Indonesia, saham akan selalu memberikan imbal hasil yang lebih baik dari alternative investasi lainnya. Kenapa? Karena harga saham dalam jangka panjang akan memberi kompensasi atas risiko inflasi sekaligus merefleksikan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Banyak orang yang tidak memiliki eksposure di saham baik langsung karena takut mengambil risiko. Padahal tanpa mengambil risiko, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.  Apa yang mesti kita lakukan? Kenali risiko tadi dengan mempelajarinya. Lalu mulai investasi dengan skala yang kecil. Berikutnya setelah pengetahuan dan pengalaman atas risiko dan potensi imbal hasilnya dikenal dengan baik, naikkan eksposure anda secara bertahap, hingga mencapai porsi yang ideal. Berapa porsi yang ideal? Sangat tergantung kepada umur, toleransi atas risiko dan tujuan investasi dan kondisi keuangan.  Semakin muda usia anda, semakin besar eksposure saham yang harus anda miliki dan sebaliknya. Rumus umum yang dipakai untuk menentukan ekspoure di saham adalah 100 dikurangi umur. Jadi jika umur anda 20, eksposure di saham adalah 80%, dan obligasi ataupun instrument lain dengan risiko rendah adalah 20%

     Telat memulai

    Investasi membutuhkan ‘waktu’ agar bisa bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti halnya waktu yang dibutuhkan menunggu bibit mangga yang ditanam tumbuh menjadi besar dan berbuah lebat.  Investasi paling tepat mulai dilakukan di waktu muda. Karena ketika memulai disaat muda, kita punya banyak waktu membiarkan investasi tadi bertumbuh besar seiring waktu. Ketika berinvestasi saat muda, instrument investasi yang diambil bisa yang lebih berisiko, seperti saham, dengan harapan imbal hasil yang lebih besar pula. Lalu, jika pun pada awal investasi, kita melakukan kesalahan, masih banyak waktu menunggu investasi itu kembali, dan juga banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Beda halnya dengan investasi di waktu tua. Sisa waktu yang investasi semakin terbatas, sementara ekspektasi imbal hasil akan lebih kecil dibandingkan investasi saat muda, karena tipe investasi yang cocok adalah yang memiliki risiko lebih kecil.

    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 1 Desember 2013, halaman A8)

  • Rahasia Sukses InvestasiRahasia Sukses Investasi

    Semua bisa jadi miliarder

    Ingin jadi miliarder? Gampang sekali. Tinggal menabung Rp. 10.000,- per hari, dengan asumsi imbal hasil rata-rata 5% per tahun, kita akan menjadi miliarder dalam 55 tahun. Kelamaan? Saya ada solusinya. Naikkan tabungan per hari menjadi Rp. 50.000,- dengan imbal hasil yang sama, 5%, maka gelar miliarder akan anda peroleh dalam waktu lebih singkat, 27 tahun saja. Masih terlalu lama? Naikkan saja imbal hasil rata-rata jadi 10% p.a, dengan tabungan Rp. 50.000,- niat tadi bisa di raih dalam waktu hanya 19 tahun.

    Ternyata syarat menjadi milarder sangat gampang.
    1. Mulai Berinvestasi
    2. Memiliki uang untuk diinvestasikan
    3. Imbal hasil yang baik
    4. Memiliki waktu yang cukup

    Rahasia Investasi
    Tulisan ini tidak akan membahas cara cepat menjadi miliarder. Tapi lebih jauh tentang esensi dari cara berinvestasi yang memberikan hasil terbaik. Investasi yang tidak hanya terbatas pada hal keuangan semata tetapi juga hal lainnya.

    Ketika kita membahas cara berinvestasi untuk menghasilkan hasil terbaik, ada 4 hal yang terkandung di dalamnya seperti ilustrasi di atas.
    1. Aktifitas investasi itu sendiri.
    2. Unsur atau hal yang diinvestasikan
    3. Imbal hasil dan
    4.Jangka waktu

    Kita bahas satu persatu.
    Investasi = Pengorbanan.

    Ketika mendengar kata investasi, pada umumnya yang terpikir adalah bagaimana cara menanamkan uang untuk mendapatkan nilai yang lebih besar dimasa mendatang. Hal ini tidak salah. Tapi terlalu sempit.

    Makna investasi sebenarnya adalah melakukan pengorbanan saat sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa mendatang. Kita mengorbankan hal yang sebenarnya bisa dinikmati saat ini, akan tetapi kita putuskan untuk ditunda menikmatinya, dengan harapan kenikmatan yang diperoleh menjadi lebih besar jika dilakukan masa mendatang. Kita memilih menginvestasikan uang ketimbang dibelanjakan agar nilai yang dinikmati lebih besar dikemudian hari. Kita rutin berolah raga ketimbang bermalas-malasan berharap bisa tetap hidup sehat hingga tua. Anak-anak memilih belajar ketimbang bermain berharap menjadi orang yang lebih hebat dikemudian hari.

    Intinya adalah pengorbanan kesenangan hari ini untuk keuntungan lebih besar di masa mendatang. Tidak gampang untuk melakukan pengorbanan tersebut. Banyak yang menolak melakukannya karena menurut mereka hasil yang akan dipetik di masa datang belumlah pasti. Argumen itu ada benarnya. Akan tetapi lebih pasti lagi adalah, tidak akan pernah ada hasil dimasa mendatang tanpa pernah ada pengorbanan saat ini. Benar biji yang ditanam hari ini belum tentu menghasilkan buah seperti yang diinginkan. Akan tetapi sudah pasti tidak akan pernah ada buah di masa mendatang, tanpa ada biji yang ditanam hari ini.

    Investasikan Yang Paling Berharga
    Balik ke ilustrasi paling awal. Kita tahu semakin besar nilai yang di investasikan semakin besar hasilnya. Pertanyaannya berikutnya adalah hal apa yang paling bernilai, paling mahal yang bisa kita investasikan. Jawabannya bukan uang. Akan tetapi sesuai hukum ekonomi, bahwa semakin langka suatu hal dan semakin besar minat orang atasnya, maka akan semakin mahal barang tersebut. Jawabannya adalah waktu.

    Waktu itu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah atau dikurangi barang sedetik pun. Siapa yang tidak ingin punya waktu lebih banyak, tapi sayang satu hari jatahnya hanya 24 jam. Dan yang paling bikin rumit, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Oleh karenanya setiap waktu yang kita miliki adalah sangat besar nilainya.

    Karena nilainya yang tinggi, waktu tidaklah boleh dibuang percuma. Justru waktu sangat cocok untuk kita investasikan agar mendapatkan hasil yang lebih tinggi lagi. Bagaimana caranya? Temukan bagian dari 24 jam yang anda miliki, entah dari sebagian waktu yang biasa dipakai nonton tv, atau waktu buat main, atau waktu yang biasa dipakai untuk chatting, ngegosip, nge-browising internet atau dari bagian waktu dari mana saja. Temukan lalu korbankan waktu tersebut dan diinvestasikan. Di investasikan dimana? Pada kegiatan yang memberikan imbal hasil dan multiplier terbesar. Yaitu pembelajaran.

    Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang memberikan imbal hasil besar dan berlipat-lipat. Sebagai contoh ; ilmu navigasi dan pelayaran, membuat bangsa Spanyol mampu menjelajah dunia dengan kapal, menguasai emas di Amerika Latin dan menjadi penguasa dunia. Ilmu tentang mesin uap mampu memicu revolusi Industri dan mendorong Inggris sebagai kekuatan utama ekonomi dunia. Ilmu adalah kunci untuk memberikan imbal hasil yang terbesar.

    Untuk mendapatkan ilmu ada beberapa cara proses pembelajaran dengan biaya yang berbeda. Yang paling besar biayanya adalah belajar melalui proses trial and error. Melalui proses ini, pada akhirnya ilmu bisa diperoleh, akan tetapi setelah melewati berbagai percobaan dan kesalahan yang memakan waktu dan biaya besar. Sementara proses pembelajaran dengan dengan waktu yang lebih sedikit dan biaya paling murah adalah melalui proses pendidikan, atau lewat membaca buku atau bertanya pada guru atau pada ahlinya. Semakin banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran, maka akan semakin besar pula imbal hasil atau multiplier yang dihasilkan.

    Jangka Waktu Investasi
    Kini kita tahu agar mendapatkan hasil butuh pengorbanan. Pengorbanan terbaik adalah waktu, dan imbal hasil terbesar datang melalui pembelajaran. Komponen terakhir yang menentukan jumlah hasil investasi, adalah lama jangka waktu investasi. Semakin lama jangka waktunya maka akan semakin besar akumulasi jumlahya.

    Ilustrasinya adalah seperti ini, jika ingin pohon seperti pohon toge, waktu yang dibutuhkan dari menanam hingga memetik cukup 4 hari. Ingin pohon seperti pohon jagung? Butuh waktu 4 bulan. Akan tetapi untuk mendapatkan pohon mangga besar berbuah lebat anda butuh waktu diatas 4 tahun. Tidak bisa lain. Tidak logis berharap biji mangga menjadi buah dalam 4 bulan. Intinya, untuk mendapatkan hasil investasi yang bagus harus ada proses yang mesti dilalui, masa yang dijalani. Semakin besar keinginan yang kita capai maka semakin lama waktu yang dibutuhkan. Tidak ada hasil baik yang didapatkan secara mudah.

    Penutup
    Sekarang coba pikirkan, tujuan apa yang hendak anda raih. Ingin meraih gelar sarjana, ingin punya rumah? Ingin punya mobil, ingin jalan-jalan keliling dunia, ingin bisa lari marathon 42 km? Semuanya bisa diraih. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi juga tidak ada cara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua sangat mungkin selama kita tahu cara meraihnya.

    Cara untuk mencapai semua tujuan itu caranya sama. Tentukan tujuan. Mulai berinvestasi atau melakukan pengorbanan. Sisihkan waktu untuk proses pembelajaran agar bisa mencapai tujuan tersebut dengan waktu paling cepat dan cara paling mudah. Lakukan dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Pada akhirnya anda akan sampai ketujuan tadi.

    Begitu juga mencapai tujuan finansial. Tetapkan tujuan yang anda inginkan. Sebelum menginvestasikan uang, investasikan waktu terlebih dahulu untuk proses pembelajaran. Sehingga anda tahu tahu tujuan investasinya, tahu profil risiko yang anda bisa terima, tahu jangka waktu investasinya, dan tahu instrument apa yang paling tepat untuk membawa anda sampai ke tujuan tadi dengan cara paling cepat dengan biaya paling murah . Jangan pernah melakukan dosa utama berinvestasi yaitu menginvestasi uang sebelum menginvestasikan waktu untuk proses pembelajaran. Karena itu cara paling cepat menuju bencana keuangan jangka panjang.
    Setelah itu pembelajaran selesai, baru anda investasikan uang anda. Jangan tunda berinvestasi. Lakukan saat ini, karena kita butuh masa untuk membiarkan investasi itu bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti menanam pohon, waktu yang paling tepat sebenarnya 20 tahun yang lalu. Waktu paling tepat berikutnya adalah saat ini. Lakukan berulang kali, karena semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin banyak juga hasil yang akan dipanen nantinya.


    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 27 Oktober 2013, halaman A10)Semua bisa jadi miliarder

    Ingin jadi miliarder? Gampang sekali. Tinggal menabung Rp. 10.000,- per hari, dengan asumsi imbal hasil rata-rata 5% per tahun, kita akan menjadi miliarder dalam 55 tahun. Kelamaan? Saya ada solusinya. Naikkan tabungan per hari menjadi Rp. 50.000,- dengan imbal hasil yang sama, 5%, maka gelar miliarder akan anda peroleh dalam waktu lebih singkat, 27 tahun saja. Masih terlalu lama? Naikkan saja imbal hasil rata-rata jadi 10% p.a, dengan tabungan Rp. 50.000,- niat tadi bisa di raih dalam waktu hanya 19 tahun.

    Ternyata syarat menjadi milarder sangat gampang.
    1. Mulai Berinvestasi
    2. Memiliki uang untuk diinvestasikan
    3. Imbal hasil yang baik
    4. Memiliki waktu yang cukup

    Rahasia Investasi
    Tulisan ini tidak akan membahas cara cepat menjadi miliarder. Tapi lebih jauh tentang esensi dari cara berinvestasi yang memberikan hasil terbaik. Investasi yang tidak hanya terbatas pada hal keuangan semata tetapi juga hal lainnya.

    Ketika kita membahas cara berinvestasi untuk menghasilkan hasil terbaik, ada 4 hal yang terkandung di dalamnya seperti ilustrasi di atas.
    1. Aktifitas investasi itu sendiri.
    2. Unsur atau hal yang diinvestasikan
    3. Imbal hasil dan
    4.Jangka waktu

    Kita bahas satu persatu.
    Investasi = Pengorbanan.

    Ketika mendengar kata investasi, pada umumnya yang terpikir adalah bagaimana cara menanamkan uang untuk mendapatkan nilai yang lebih besar dimasa mendatang. Hal ini tidak salah. Tapi terlalu sempit.

    Makna investasi sebenarnya adalah melakukan pengorbanan saat sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa mendatang. Kita mengorbankan hal yang sebenarnya bisa dinikmati saat ini, akan tetapi kita putuskan untuk ditunda menikmatinya, dengan harapan kenikmatan yang diperoleh menjadi lebih besar jika dilakukan masa mendatang. Kita memilih menginvestasikan uang ketimbang dibelanjakan agar nilai yang dinikmati lebih besar dikemudian hari. Kita rutin berolah raga ketimbang bermalas-malasan berharap bisa tetap hidup sehat hingga tua. Anak-anak memilih belajar ketimbang bermain berharap menjadi orang yang lebih hebat dikemudian hari.

    Intinya adalah pengorbanan kesenangan hari ini untuk keuntungan lebih besar di masa mendatang. Tidak gampang untuk melakukan pengorbanan tersebut. Banyak yang menolak melakukannya karena menurut mereka hasil yang akan dipetik di masa datang belumlah pasti. Argumen itu ada benarnya. Akan tetapi lebih pasti lagi adalah, tidak akan pernah ada hasil dimasa mendatang tanpa pernah ada pengorbanan saat ini. Benar biji yang ditanam hari ini belum tentu menghasilkan buah seperti yang diinginkan. Akan tetapi sudah pasti tidak akan pernah ada buah di masa mendatang, tanpa ada biji yang ditanam hari ini.

    Investasikan Yang Paling Berharga
    Balik ke ilustrasi paling awal. Kita tahu semakin besar nilai yang di investasikan semakin besar hasilnya. Pertanyaannya berikutnya adalah hal apa yang paling bernilai, paling mahal yang bisa kita investasikan. Jawabannya bukan uang. Akan tetapi sesuai hukum ekonomi, bahwa semakin langka suatu hal dan semakin besar minat orang atasnya, maka akan semakin mahal barang tersebut. Jawabannya adalah waktu.

    Waktu itu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah atau dikurangi barang sedetik pun. Siapa yang tidak ingin punya waktu lebih banyak, tapi sayang satu hari jatahnya hanya 24 jam. Dan yang paling bikin rumit, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Oleh karenanya setiap waktu yang kita miliki adalah sangat besar nilainya.

    Karena nilainya yang tinggi, waktu tidaklah boleh dibuang percuma. Justru waktu sangat cocok untuk kita investasikan agar mendapatkan hasil yang lebih tinggi lagi. Bagaimana caranya? Temukan bagian dari 24 jam yang anda miliki, entah dari sebagian waktu yang biasa dipakai nonton tv, atau waktu buat main, atau waktu yang biasa dipakai untuk chatting, ngegosip, nge-browising internet atau dari bagian waktu dari mana saja. Temukan lalu korbankan waktu tersebut dan diinvestasikan. Di investasikan dimana? Pada kegiatan yang memberikan imbal hasil dan multiplier terbesar. Yaitu pembelajaran.

    Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang memberikan imbal hasil besar dan berlipat-lipat. Sebagai contoh ; ilmu navigasi dan pelayaran, membuat bangsa Spanyol mampu menjelajah dunia dengan kapal, menguasai emas di Amerika Latin dan menjadi penguasa dunia. Ilmu tentang mesin uap mampu memicu revolusi Industri dan mendorong Inggris sebagai kekuatan utama ekonomi dunia. Ilmu adalah kunci untuk memberikan imbal hasil yang terbesar.

    Untuk mendapatkan ilmu ada beberapa cara proses pembelajaran dengan biaya yang berbeda. Yang paling besar biayanya adalah belajar melalui proses trial and error. Melalui proses ini, pada akhirnya ilmu bisa diperoleh, akan tetapi setelah melewati berbagai percobaan dan kesalahan yang memakan waktu dan biaya besar. Sementara proses pembelajaran dengan dengan waktu yang lebih sedikit dan biaya paling murah adalah melalui proses pendidikan, atau lewat membaca buku atau bertanya pada guru atau pada ahlinya. Semakin banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran, maka akan semakin besar pula imbal hasil atau multiplier yang dihasilkan.

    Jangka Waktu Investasi
    Kini kita tahu agar mendapatkan hasil butuh pengorbanan. Pengorbanan terbaik adalah waktu, dan imbal hasil terbesar datang melalui pembelajaran. Komponen terakhir yang menentukan jumlah hasil investasi, adalah lama jangka waktu investasi. Semakin lama jangka waktunya maka akan semakin besar akumulasi jumlahya.

    Ilustrasinya adalah seperti ini, jika ingin pohon seperti pohon toge, waktu yang dibutuhkan dari menanam hingga memetik cukup 4 hari. Ingin pohon seperti pohon jagung? Butuh waktu 4 bulan. Akan tetapi untuk mendapatkan pohon mangga besar berbuah lebat anda butuh waktu diatas 4 tahun. Tidak bisa lain. Tidak logis berharap biji mangga menjadi buah dalam 4 bulan. Intinya, untuk mendapatkan hasil investasi yang bagus harus ada proses yang mesti dilalui, masa yang dijalani. Semakin besar keinginan yang kita capai maka semakin lama waktu yang dibutuhkan. Tidak ada hasil baik yang didapatkan secara mudah.

    Penutup
    Sekarang coba pikirkan, tujuan apa yang hendak anda raih. Ingin meraih gelar sarjana, ingin punya rumah? Ingin punya mobil, ingin jalan-jalan keliling dunia, ingin bisa lari marathon 42 km? Semuanya bisa diraih. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi juga tidak ada cara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua sangat mungkin selama kita tahu cara meraihnya.

    Cara untuk mencapai semua tujuan itu caranya sama. Tentukan tujuan. Mulai berinvestasi atau melakukan pengorbanan. Sisihkan waktu untuk proses pembelajaran agar bisa mencapai tujuan tersebut dengan waktu paling cepat dan cara paling mudah. Lakukan dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Pada akhirnya anda akan sampai ketujuan tadi.

    Begitu juga mencapai tujuan finansial. Tetapkan tujuan yang anda inginkan. Sebelum menginvestasikan uang, investasikan waktu terlebih dahulu untuk proses pembelajaran. Sehingga anda tahu tahu tujuan investasinya, tahu profil risiko yang anda bisa terima, tahu jangka waktu investasinya, dan tahu instrument apa yang paling tepat untuk membawa anda sampai ke tujuan tadi dengan cara paling cepat dengan biaya paling murah . Jangan pernah melakukan dosa utama berinvestasi yaitu menginvestasi uang sebelum menginvestasikan waktu untuk proses pembelajaran. Karena itu cara paling cepat menuju bencana keuangan jangka panjang.
    Setelah itu pembelajaran selesai, baru anda investasikan uang anda. Jangan tunda berinvestasi. Lakukan saat ini, karena kita butuh masa untuk membiarkan investasi itu bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti menanam pohon, waktu yang paling tepat sebenarnya 20 tahun yang lalu. Waktu paling tepat berikutnya adalah saat ini. Lakukan berulang kali, karena semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin banyak juga hasil yang akan dipanen nantinya.


    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 27 Oktober 2013, halaman A10)