Samuel Aset Manajemen

Tag: investasi

  • Pilihan Investasi Saat Inflasi TinggiPilihan Investasi Saat Inflasi Tinggi

    ’Inflation is as violent as a mugger, as frightening as an armed robber and as deadly as hitman’ (Ronald Reagan)

    Berdasarkan anggapan umum, salah satu ukuran keberhasilan finansial yang kita capai adalah seberapa banyak kekayaan yang telah kita kumpulkan dan seberapa besar pertumbuhannya setiap tahun.

    Kita merasa gembira bila penghasilan kita hari ini lebih tinggi dari tahun kemarin, dan berharap aset-aset kita yang berupa tabungan, deposito, obligasi, reksa dana, saham, emas, property, benda koleksi dan lain-lainnya itu bisa naik setiap saat. Sebaliknya, kita akan merasa galau dan kecewa bila ternyata yang kita peroleh hari ini tidak sebanyak yang kita dapatkan di waktu-waktu sebelumnya.

    Seringkali kita lupa menghitung berapa sebenarnya kenaikan riel penghasilan dan aset-aset tersebut bila dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa. Bertambahnya gaji sebesar 10% dibanding tahun lalu tentu tidak akan mengejar kebutuhan hidup yang naik 18%, misalnya. Dan deposito di bank dengan bunga bersih 6% setelah pajak pun belum bisa menutup tingkat inflasi tahun ini yang diperkirakan akan mencapai 9% tahun ini.

    Tanpa disadari, inflasi ternyata menggerogoti daya beli dari uang dan nilai aset yang kita miliki. Dan bila tidak cermat menyiasatinya dalam jangka panjang, alih-alih tambah makmur, kualitas kehidupan finansial kita malah mengalami kemunduran. Meminjam ucapan Ronald Reagan yang dikutip di atas, inflasi itu mirip dengan perampok yang perlu diwaspadai. Bahkan, banyak pemerintahan di berbagai belahan dunia jatuh, karena kurang hati-hati mengendalikan inflasi yang menyengsarakan rakyatnya.

    Penyebab Inflasi
    Inflasi itu pada umumnya disebabkan oleh 3 (tiga) faktor yang utama. Pertama oleh apa yang populer disebut dengan pull of demand, yaitu bila meningkatnya permintaan atas suatu barang dan jasa lebih tinggi dari peningkatan persediannya. Peningkatan tersebut biasanya karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat kemakmuran dan daya beli masyarakat yang bertambah, indeks keyakinan konsumen yang lebih baik, serta besaran belanja pembangunan pemerintah.

    Kedua, disebabkan oleh cost push, yaitu meningkatnya harga barang dan jasa karena naiknya biaya untuk pengadaannya. Ada banyak hal yang bisa mendorong biaya: Kenaikan upah dan kompensasi karyawan, kenaikan harga bahan baku dan barang modal. Pelemahan mata uang domestik yang membuat naiknya harga bahan baku impor atau harga barang lokal yang denominasinya dalam US$. Jaringan distribusi yang tersendat dan tidak efisien karena masalah struktural atau karena monopoli. Secara temporer, faktor-faktor alami seperti bencana, gagal panen dan perubahan musim juga bisa memicu kenaikan biaya.

    Ketiga, karena kebijakan pemerintah. Dicabutnya subsidi atas minyak atau komoditi lainnya, akan mendorong harga. Begitu pula kebijakan moneter yang melonggarkan likuiditas akan mendorong ekspansi usaha dan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi serta berakibat inflasi.

    Mengendalikan Inflasi
    Inflasi yang terukur itu bagus buat pertumbuhan. Yang buruk adalah inflasi yang tidak terkendali dan di luar target. Buruk bagi masyarakat karena memangkas daya beli, jelek buat pemerintah karena secara politis tidak populer. Itulah sebabnya, perlu pengelolaan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat inflasi.

    Dari sisi pemerintah dan otoritas keuangan, biasanya ada beberapa kebijakan yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Sehubungan dengan peningkatan inflasi yang dipicu oleh dikuranginya subsidi BBM, pelemahan Rupiah karena kondisi makro ekonomi Indonesia dan global, BI telah menaikan tingkat bunga BI dari 6,5 menjadi 7,25 %. Dan ada potensi menaikannya lagi sampai akhir tahun nanti. Kebijakan ini, dibaca sebagai cara BI untuk meredam pelemahan dan fluktuasi rupiah.

    Rupiah yang stabil dan tidak fluktuatif, di berapapun level wajarnya, akan memudahkan para pelaku usaha, masyarakat, investor di sektor riel dan investor portofolio dalam mengukur risiko berusaha dan berinvestasi. Oleh karena itu, kebijakan BI tersebut untuk sementara ini direspons secara positif oleh pasar, terlihat dari rupiah yang menguat dari Rp, 11.900 menjadi Rp 11,200 per US$, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang rebound ke level 4.375 dan harga-harga obligasi yang berhenti turun pada akhir perdagangan tanggal 13 September 2013 kemarin.

    Harapannya adalah bahwa kebijakan jangka pendek ini nantinya disusul dengan kebijakan jangka menengah dan panjang yang lebih efektif, baik di sektor moneter, fiskal maupun sektor riel. Program yang bisa mengurangi ketergantungan impor dengan mendorong industri barang modal, manufaktur, barang konsumsi, dan produk agrikultur domestik. Efisiensi jaringan distribusi, percepatan perizinan, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta subsidi dan insentif yang lebih tepat sasaran. Kebijakan yang tidak mudah dan perlu waktu, yang dalam bahasa Michael Corleone di film The Godfather  ” It’s difficult, but not impossible!”

    Dari sisi investor portofolio, dalam jangka pendek naiknya tingkat bunga sebetulnya berakibat buruk untuk harga obligasi dan saham-saham yang sensitif terhadap tingkat bunga seperti sektor finansial dan properti. Sehingga investor perlu menghitung lagi prediksi pertumbuhan ekonomi dan perkiraan imbal hasil setiap jenis investasi. Serta mengocok ulang alokasi asetnya untuk menanggulangi naiknya inflasi

    Alokasi Investasi
    Seperti pernah dibahas sebelumnya, tujuan berinvestasi adalah untuk mengamankan nilai aset yang telah dimiliki sekarang (wealth preservation) dan meningkatkannya (wealth accumulation). Beberapa jenis aset yang bisa digunakan sebagai aset dasar berinvestasi terdiri atas aset riel dan aset finansial. Produk perbankan, pasar modal dan produk asuransi. Properti, logam mulia, hak usaha, benda koleksi dan lain-lain.

    Setiap jenis aset memiliki karakteristik produk, risiko, potensi imbal hasil, dan jangka waktu berinvestasi idealnya masing-masing.

    Dari data empiris disimpulkan bahwa racikan alokasi aset adalah faktor utama dalam memperoleh berapa besar-kecilnya imbal hasil yang dicapai. Kuncinya adalah bagaimana meramu besaran investasi pada masing-masing jenis aset tersebut, disesuaikan dengan tujuan investasinya, krakteristik risiko, potensi imbal hasil (return) dan jangka waktu berinvestasinya. Dan yang paling penting, portofolio tersebut harus memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari inflasi!

    Pertanyaannya, berapa sebetulnya tingkat inflasi di Indonesia? dan jenis investasi apa yang bisa mengalahkan inflasi?. Data dari Biro Pusat Statistik menunjukan bahwa rata-rata majemuk inflasi kita sepanjang 10 tahun terakhir adalah sebesar 7,4% per tahun, sementara dalam 5 tahun terakhir sebesar 5,4% per tahun.

    DataKenaikanBBM

    Menggunakan data inflasi tersebut, kita bisa mempertimbangkan pilihan aset investasi berikut ini:

    Kas/Tabungan. Hanya cocok untuk keperluan likuiditas jangka pendek, karena bunganya rendah. Dalam jangka panjang lebih rendah dari inflasi

    Deposito. Untuk tujuan jangka pendek, meskipun imbal hasilnya lebih tinggi dari tabungan. Dalam kondisi arah bunga cenderung naik, ambil periode pendek, 1 – 3 bulan. Pada saat diperbaharui (roll-over) berpotensi memperoleh bunga yang lebih tinggi. Tetapi apabila arah tingkat bunga bank cenderung turun, pilih yang bertenor panjang.

    Emas. Dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 18% per tahun. Dapat dipilih untuk memberikan lindung-nilai (hedging) terhadap inflasi. Dari sisi risiko, karena bersifat fisik, kepemilikannya atas unjuk (bukan atas nama) dan dalam jumlah besar membutuhkan tempat penyimpanan.

    Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan berpotensi melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 10 % per tahun. Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dijual dengan satuan terkecil Rp 5 juta, meskipun perbankan hanya menjualnya dengan minimal Rp 50 juta.
    Obligasi korporasi dan yang non-ritel, investasi minimal Rp 1 Milyar.

    Reksa Dana Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan bisa melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 12 % per tahun. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Campuran. Untuk jangka menengah – panjang. Cocok untuk tipe investor moderat. Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 15%, di atas inflasi. Ideal untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Dana Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 28%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi.

    Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata IHSG 5 tahun terakhir sekitar 26%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Minimal investasi antara Rp 10 – Rp 50 juta, tergantung pialang sahamnya. Dikelola oleh investor sendiri.

    Properti. Untuk tujuan investasi jangka menengah panjang. Sebagai salah satu bentuk lindung nilai terhadap inflasi, karena imbal hasilnya lebih tinggi, tergantung lokasi. Investasi awalnya lebih tinggi, pertimbangkan pula besaran biaya rutin pemeliharaan, PBB tahunan dan pajak jual belinya.

    Investasi dalam bentuk lainnya bisa saja dipilih, sepanjang kita memahami jenis asetnya, cara mengelola, bentuk risiko dan potensi imbal hasilnya. Perhatikan pula, bagaimana cara menjual jenis investasinya atau exit strategy dari jenis usaha tersebut. Jangan sampai mudah dibeli tetapi susah dijual.

    Selamat Berinvestasi!

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 15 September 2013.

  • Keep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar PanikKeep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar Panik

    ’Look at market fluctuations as your friend rather than your enemy; profit from folly rather that participate in it’ (Warren Buffet).

    Sejak awal Juni tahun ini, pasar keuangan Emerging Markets kembali mengalami guncangan hebat, ditandai dengan melemahnya nilai tukar, terkoreksinya indeks saham dan turunnya harga pasar obligasi di negara-negara tersebut.

    IHSG sempat menyentuh angka tertingginya di level 5,251 sebelum terkoreksi kembali menjadi 4,072 pada akhir perdagangan minggu ini, dan mencatat penurunan 5% dari awal tahun. Begitu pula nilai mata uang rupiah sudah turun sebesar 15% dari awal tahun, sebagai akibat dari pelambatan pertumbuhan ekonomi, berkurangnya cadangan devisa dan melebarnya defisit neraca perdagangan kita

    Kondisi yang sama juga dialami oleh India, Brazil, Turki, Philipina, Thailand serta pasar emerging lainnya yang membuat para investor finansial menjadi galau.

    Sumber Kegalauan
    Apa yang terjadi sebetulnya masih merupakan efek lanjutan dari krisis pasar finansial yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 dan Eropa tahun 2011 yang lalu. Seperti kita ketahui bersama, untuk mengatasi krisis, otoritas keuangan Amerika menggelontorkan bantuan likuiditas yang sangat besar ke pasar, yang penggunaannya tidak hanya di Wall Street saja – tetapi juga terasa merembes ke emerging markets yang memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

    Ketika indikator ekonomi Amerika menunjukan pembaikan meskipun belum sepenuhnya pulih, ada pernyataan dari Ben Bernake bahwa ada kemungkinan bahwa The Fed akan mengurangi bantuan likuiditas itu mulai akhir tahun ini. Sehingga dana-dana yang selama ini diinvestasikan di emerging market ditarik kembali ke Amerika. Sejak Juni 2013, tercatat ada penarikan dana obligasi sebesar US$ 20 Milyar ( setara dengan Rp 250 Trilyun) dan US$ 30 Milyar ( Rp 330 Trilyun) dari pasar saham di seluruh emerging markets, mengakibatkan koreksi tajam di pasar yang ditinggalkannya dan mendongkrak nilai tukar US $ terhadap seluruh mata uang dunia.

    Secara umum, saat ini para investor keuangan global memang masih menghadapi beberapa risiko yang dihadapi. Dari hasi survey disimpulkan bahwa urutan risiko yang saat ini menjadi kekhawatiran investor adalah :
    – Pelambatan pertumbuhan ekonomi China yang mengakibatkan penurunan harga-harga komoditas
    – Kelanjutan krisis ekonomi Eropa
    – Memanasnya kondisi geopolitik dunia, terutama di timur tengah
    – Kebijakan Abenomics pemerintah Jepang yang melemahkan Yen
    – Pengetatan kebijakan fiskal Amerika, dan
    – Meningkatnya tingkat inflasi

    Bagaimana Menyikapi Pasar ?
    Bagi para investor yang sudah lama mengikuti pasar finansial, naik dan turunnya indeks, boom and bust, dan bull and bear sudah dialami berkali-kali. Bahkan dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat darinya. Pada umumnya pasar digerakan oleh harapan dan ketakutan, oleh fear dan greed. Transaksi di pasar finansial dilakukan oleh para pembeli yang berharap bahwa keadaan akan lebih baik pada esok hari dengan para penjual yang takut bahwa esok tidak akan sebaik hari ini. Transaksi antara investor yang berharap untung dengan investor yang takut rugi.

    Pada saat harapan lebih tinggi dari ketakutan, pasar naik. Saat ketakutan lebih mendominasi harapan, pasar turun. Pada kedua situasi tersebut, seringkali ada euforia dan kepanikan yang berlebihan, sehingga dikenal istilah overbought (harga pasarnya lebih tinggi nari nilai sebenarnya) dan oversold (harga pasar lebih rendah dari nilai wajarnya).

    Sebagian besar lembaga investasi profesional yang menggunakan metode value investing, di dalam proses pengambilan keputusan investasinya, biasanya mengandalkan ukuran nilai wajar dan nilai sebenarnya (intrinsic value) dari sebuah instrumen investasi. Bila dari analisisnya disimpulkan bahwa harga pasarnya sudah lebih rendah dari nilai wajarnya maka diputuskan untuk membeli, begitu pula bila sudah lebih tinggi, akan dijual. Sehingga investor fundamental berpengalaman seperti ini tindakannya berbeda dengan pasar.

    Sehubungan dengan koreksi yang terjadi dengan pasar modal kita, valuasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) saat ini sebetulnya sudah pada level nilai rata-ratanya selama 10 tahun terakhir, yaitu pada PER (Price Earning Ratio) sebesar 13 Kali, seperti tergambar pada grafik yang bersumber dari Bloomberg ini:

    Indeks

    Biasanya, IHSG diperdagangkan pada PER 15 – 16 X, sehingga bagi investor yang menganggap nilai 13 X adalah sudah murah, maka akan mulai melakukan pembelian. Apalagi bila jangka waktu berinvestasinya panjang, kondidi koreksi seperti ini merupakan saat terbaik untuk mengakumulasi saham-saham terbaik dari sektor-sektor usaha terbaik.

    Dari data historis sejak 1997, dapat dilihat bahwa dalam jangka menengah – panjang, investor yang melakukan pembelian pada saat terjadi krisis atau koreksi pasar adalah investor yang membukukan potensi keuntungan yang paling tinggi. Grafik IHSG di bawah ini menunjukan krisis yang terjadi pada tahun 1997/1998, tahun 2005 dan tahun 2008. Bila dilihat dari kacamata hari ini, maka krisis-krisis tersebut hanya merupakan koreksi kecil saja.

    Dari analisis yang pernah kami lakukan, jangka waktu minimal berinvestasi saham di Indonesia adalah 3 (tiga) tahun, dan semakin panjang semakin baik. Jadi bila kita membeli saham atau reksa dana yang mengandung unsur saham di dalamnya (reksa dana campuran atau reksa dana saham) pada saat koreksi pasar seperti sekarang, dalam 3 tahun ke depan berpotensi memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

    Begitupula yang terjadi dengan jenis investasi di obligasi, dari data historis disimpulkan bahwa saat terbaik membelinya adalah pada saat tingkat inflasi tinggi seperti sekarang:

    Indeks2

    Pada saat inflasi mulai menurun, biasanya harga obligasi mulai menguat kembali, sehingga mereka yang membeli hari ini berpotensi membukukan imbal hasil yang lebih optimal

    Kesimpulan dan Rekomendasi
    Menyikapi perkembangan ekonomi dan pasar modal Indonesia, kami menyimpulkan bahwa meskipun dalam jangka pendek menghadapi risiko fluktuasi, dalam jangka menengah panjang masih tetap bullish karena ekonomi kita teta digerakan oleh demografi yang kuat dan produktif; konsumsi rumah tangga, korporasi dan belanja pemerintah; sistem perbankan yang sehat; sistem poitik yang dinamis yang ramah pasar, pro pertumbuhan dan pro penciptaan lapangan pekerjaan.

    Bagi investor saham, pilihan terbaik masih pada sektor usaha yang berbasis domestik dan berhubungan erat dengan demografi seperti sektor konsumsi, transportasi, perbankan, telekomunikasi, industri kesehatan, dan infrastruktur. Pilih perusahaan yang memiliki kualitas produk dan jasa yang unggul, memiliki kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan yang baik dan teruji serta perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat.

    Bagi investor jangka pendek atau mereka yang tidak menyukai risiko tinggi, sebaiknya memilihinstrumen investasi dalam bentuk pasar uang, obligasi dengan tenor pendek, atau produk reksa dana berbasis pasar uang dan obligasi.

    Tetap tenang dan selamat berinvestasi secara bijak !

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 8 September 2013.

  • Reksa Dana SAM Sebagai Investasi Untuk Dana PendidikanReksa Dana SAM Sebagai Investasi Untuk Dana Pendidikan

    Warisan paling bernilai yang dapat kita berikan kepada buah hati kita adalah ilmu pengetahuan. Baik yang diperoleh melalui pendidikan formal, maupun aneka keterampilan hidup yang didapat dari pengalaman dan berbagai kegiatan lainnya.

    Sayangnya, biaya pendidikan yang berkualitas terbilang cukup tinggi, dengan peningkatan sekitar 10%-20% setiap tahunnya. Sehingga kita perlu persiapan lebih cermat untuk memastikan terselenggaranya pendidikan terbaik bagi putera-puteri kita.

    Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus B. Yanuar mengatakan, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah mencari produk yang imbal hasilnya bisa mengalahkan peningkatan inflasi biaya pendidikan sehingga dana untuk pendidikan anak tetap bisa disediakan dengan sebaik mungkin.

    “Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan biaya pendidikan jangka panjang, reksa dana adalah produk yang tepat, karena imbal hasil jangka panjangnya lebih optimal dan lebih tinggi dari tingkat inflasi,” ujarnya.

    Produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam bagi investor. Ada reksa dana pendapatan tetap, campuran dan saham. Baik yang konvensional maupun yang bersifat syariah. Dengan investasi awal yang terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja, dapat dilakukan lebih dini dan secara berkala.

    Masing-masing reksa dana menawarkan potensi imbal hasil sesuai dengan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Menurut Agus, investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya di bawah tiga tahun, lebih baik memilih reksa dana pendapatan tetap.

    Untuk jangka waktu berinvestasi lebih panjang, dapat memilih reksa dana campuran atau reksa dana saham, tergantung profil risiko masing-masing. Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi investasi pada efek saham dan obligasinya akan disesuaikan oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    “Saat ini SAM memiliki produk terbaik yang dapat digunakan untuk menyiapkan dana pendidikan buah hati. Kami mengelola reksa dana pendapatan tetap SAM Sukuk Syariah Sejahtera, reksa dana campuran SAM Dana Berkembang dan SAM Syariah Berimbang, serta reksa dana saham SAM Indonesian Equity Fund dan SAM Sharia Equity Fund,” tambah Agus.

    Kinerja produk SAM termasuk yang terbaik di kelasnya masih-masing dan menjadi unggulan lembaga pemeringkat reksa dana serta menjadi pilihan cerdas para investor berpengalaman.

    “Kinerja tersebut merupakan hasil dari keahlian meracik strategi investasi yang tepat, pengalaman, serta semangat untuk selalu memberikan yang terbaik kepada nasabah..

    Bagi kami, mengelola investasi itu seperti membesarkan buah hati sendiri, harus amanah dan sepenuh hati dalam memberikan yang terbaik untuk pertumbuhannya.

    Seperti Anda, kami juga percaya pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Dan seperti kata peribahasa, jika ingin makmur setahun, tanamlah padi-padian. Jika ingin makmur sepuluh tahun, tanamlah kayu-kayuan. Tetapi jika ingin sejahtera seratus tahun, tumbuh-kembangkanlah sumber daya manusia,” tegas Agus.

    Print Ad SAM - Seri Pendidikan - Kontan 1#2