Samuel Aset Manajemen

Tag: Reksadana Terbaik

  • SAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 Versi APRDI-BloombergSAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-BloombergSAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-Bloomberg

    SAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 Versi APRDI-BloombergSAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-BloombergSAM Syariah Berimbang – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-Bloomberg

    SAM Indonesian Equity Fund – Reksa Dana Campuran Terbaik 2014 versi APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Islamic Mixed Allocation Fund 2014 by APRDI-Bloomberg

  • SAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 versi APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 by APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 by APRDI-Bloomberg

    SAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 versi APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 by APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 by APRDI-Bloomberg

    SAM Indonesian Equity Fund – Reksa Dana Saham Terbaik  (Dana Kelolaan >500 Milyar) Versi APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 (AUM >500B) by APRDI-BloombergSAM Indonesian Equity Fund – Best Equity Fund 2014 (AUM >500B) by APRDI-Bloomberg

  • Reksa Dana SAM Untuk SemuaReksa Dana SAM Untuk SemuaReksa Dana SAM Untuk Semua

    Ada masa di Indonesia, di mana hanya institusi dan orang-orang kaya yang memiliki rekening di bank. Sebagian besar masyarakat masih menyimpan uangnya dalam bentuk kas. Bahkan pembayaran gaji para profesional pun masih dilakukan secara tunai. Yang membedakan adalah, ada yang menerima amplop gaji yang tipis, ada yang menerima yang lebih tebal.

    Kemudian ada deregulasi perbankan pada tahun 1988, yang memungkinkan masyarakat sudah bisa memiliki rekening tabungan dengan saldo awal hanya Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) saja. Setelah itu banyak perusahaan pemberi kerja yang mewajibkan karyawannya untuk membuka rekening tabungan, sehingga pembayaran gaji mulai dilakukan secara giral. Sejak saat itu kita semua mengawali era menjadi Masyarakat Perbankan, di mana hampir semua aset finansial dan kebanyakan transaksi dilakukan secara giral. Saat ini, lebih dari 30 juta penduduk Indonesia sudah memiliki rekening di bank, dan telah terbiasa menyelesaikan transaksi melalui perbankan.

    Industri reksa dana terbuka (open-ended fund) baru diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1996, dan sejak itu mengalami pertumbuhan sejalan dengan pemahaman masyarakat investor tentang perlunya berinvestasi pada produk reksa dana. Potensi pertumbuhannya sangat besar, dengan total dana kelolaan sebesar Rp 200 Triliun saat ini, baru 5,7% saja dari Dana Pihak Ketiga di perbankan yang mencapai nilai Rp 3.500 Triliun. Sementara jumlah investor yang hanya 162.000 orang, baru 0,07% dari jumlah penduduk. Berbeda dengan Thailand yang investor domestiknya sudah mencapai 4,7% dan Malaysia yang hampir 60 % dari populasinya memiliki produk reksa dana. Sehingga tidak mengherankan bila tingkat kesejahteraan di kedua negara tetangga tersebut, jauh lebih tinggi dari Indonesia.

    Menurut Agus B. Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM), “Masyarakat Indonesia memiliki potensi untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara di kawasan, sehingga tidak dilecehkan dan bisa tegak sejajar dengan mereka. Antara lain dengan lebih cermat dan cerdas dalam menerapkan rencana keuangannya.”

    Reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan investasi masing-masing investor. Ciri khas reksa dana adalah terjangkau dengan investasi awal hanya dengan Rp 100 ribu – Rp 250 ribu saja, dikelola oleh lembaga investasi resmi yang berizin dan diawasi oleh regulator, investasi atas nama investor, diversifikasi portofolio produk yang bisa dipilih sesuai dengan karakter investor dan bentang waktu investasinya, sangat likuid sehingga mudah dibeli dan dijual kapan saja, transparansi produk, serta kinerja historis yang optimal sesuai profil produknya masing-masing.

    Ciri khas seperti itu, memungkinkan reksa dana menjadi salah satu pilihan utama sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan keuangan masyarakat kita. Tersedia reksa dana, baik yang konvensional maupun yang syariah, yang bisa digunakan untuk pembiayaan rutin, pembelian aset di masa depan, dana pendidikan, perjalanan religi, persiapan dana pensiun, pengembangan usaha dan sebagai cadangan untuk pembiayaan lainnya yang tidak terduga pada masa yang akan datang.

    Saat ini SAM mengelola reksa dana untuk publik yang mempunyai rekam jejak dan kinerja yang memuaskan, beberapa di antaranya adalah yang terbaik di kelasnya, yaitu: SAM Sukuk Syariah Sejahtera (RD syariah yang berinvestasi pada efek sukuk), SAM Syariah Berimbang (isi portofolionya terdiri atas efek sukuk dan saham syariah), SAM Sharia Equity Fund (berisi saham syariah), SAM Dana Berkembang (berinvestasi pada obligasi dan saham konvensional) dan SAM Indonesian Equity Fund (reksa dana saham konvensional)

    Sebagai ‘Your Lifelong Investor Partner’, imbuh Agus, melalui reksa dana,  SAM mengajak masyarakat untuk bertransformasi menjadi Masyarakat Investasi dengan menikmati semua potensi terbaik dari pasar modal Indonesia. Sekaligus menjadi mitra terbaik bagi investor institusi dan perorangan dalam meraih masa depan yang lebih makmur dan sejahtera, dengan menjadikan Reksa Dana SAM untuk Semua. ***

     

    Artikel juga dimuat di Tabloid Kontan, edisi Maret 2014.

    RD SAM utk Semua

    Ada masa di Indonesia, di mana hanya institusi dan orang-orang kaya yang memiliki rekening di bank. Sebagian besar masyarakat masih menyimpan uangnya dalam bentuk kas. Bahkan pembayaran gaji para profesional pun masih dilakukan secara tunai. Yang membedakan adalah, ada yang menerima amplop gaji yang tipis, ada yang menerima yang lebih tebal.

    Kemudian ada deregulasi perbankan pada tahun 1988, yang memungkinkan masyarakat sudah bisa memiliki rekening tabungan dengan saldo awal hanya Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) saja. Setelah itu banyak perusahaan pemberi kerja yang mewajibkan karyawannya untuk membuka rekening tabungan, sehingga pembayaran gaji mulai dilakukan secara giral. Sejak saat itu kita semua mengawali era menjadi Masyarakat Perbankan, di mana hampir semua aset finansial dan kebanyakan transaksi dilakukan secara giral. Saat ini, lebih dari 30 juta penduduk Indonesia sudah memiliki rekening di bank, dan telah terbiasa menyelesaikan transaksi melalui perbankan.

    Industri reksa dana terbuka (open-ended fund) baru diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1996, dan sejak itu mengalami pertumbuhan sejalan dengan pemahaman masyarakat investor tentang perlunya berinvestasi pada produk reksa dana. Potensi pertumbuhannya sangat besar, dengan total dana kelolaan sebesar Rp 200 Triliun saat ini, baru 5,7% saja dari Dana Pihak Ketiga di perbankan yang mencapai nilai Rp 3.500 Triliun. Sementara jumlah investor yang hanya 162.000 orang, baru 0,07% dari jumlah penduduk. Berbeda dengan Thailand yang investor domestiknya sudah mencapai 4,7% dan Malaysia yang hampir 60 % dari populasinya memiliki produk reksa dana. Sehingga tidak mengherankan bila tingkat kesejahteraan di kedua negara tetangga tersebut, jauh lebih tinggi dari Indonesia.

    Menurut Agus B. Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM), “Masyarakat Indonesia memiliki potensi untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara di kawasan, sehingga tidak dilecehkan dan bisa tegak sejajar dengan mereka. Antara lain dengan lebih cermat dan cerdas dalam menerapkan rencana keuangannya.”

    Reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan investasi masing-masing investor. Ciri khas reksa dana adalah terjangkau dengan investasi awal hanya dengan Rp 100 ribu – Rp 250 ribu saja, dikelola oleh lembaga investasi resmi yang berizin dan diawasi oleh regulator, investasi atas nama investor, diversifikasi portofolio produk yang bisa dipilih sesuai dengan karakter investor dan bentang waktu investasinya, sangat likuid sehingga mudah dibeli dan dijual kapan saja, transparansi produk, serta kinerja historis yang optimal sesuai profil produknya masing-masing.

    Ciri khas seperti itu, memungkinkan reksa dana menjadi salah satu pilihan utama sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan keuangan masyarakat kita. Tersedia reksa dana, baik yang konvensional maupun yang syariah, yang bisa digunakan untuk pembiayaan rutin, pembelian aset di masa depan, dana pendidikan, perjalanan religi, persiapan dana pensiun, pengembangan usaha dan sebagai cadangan untuk pembiayaan lainnya yang tidak terduga pada masa yang akan datang.

    Saat ini SAM mengelola reksa dana untuk publik yang mempunyai rekam jejak dan kinerja yang memuaskan, beberapa di antaranya adalah yang terbaik di kelasnya, yaitu: SAM Sukuk Syariah Sejahtera (RD syariah yang berinvestasi pada efek sukuk), SAM Syariah Berimbang (isi portofolionya terdiri atas efek sukuk dan saham syariah), SAM Sharia Equity Fund (berisi saham syariah), SAM Dana Berkembang (berinvestasi pada obligasi dan saham konvensional) dan SAM Indonesian Equity Fund (reksa dana saham konvensional)

    Sebagai ‘Your Lifelong Investor Partner’, imbuh Agus, melalui reksa dana,  SAM mengajak masyarakat untuk bertransformasi menjadi Masyarakat Investasi dengan menikmati semua potensi terbaik dari pasar modal Indonesia. Sekaligus menjadi mitra terbaik bagi investor institusi dan perorangan dalam meraih masa depan yang lebih makmur dan sejahtera, dengan menjadikan Reksa Dana SAM untuk Semua. ***

     

    Artikel juga dimuat di Tabloid Kontan, edisi Maret 2014.

    RD SAM utk Semua

    Ada masa di Indonesia, di mana hanya institusi dan orang-orang kaya yang memiliki rekening di bank. Sebagian besar masyarakat masih menyimpan uangnya dalam bentuk kas. Bahkan pembayaran gaji para profesional pun masih dilakukan secara tunai. Yang membedakan adalah, ada yang menerima amplop gaji yang tipis, ada yang menerima yang lebih tebal.

    Kemudian ada deregulasi perbankan pada tahun 1988, yang memungkinkan masyarakat sudah bisa memiliki rekening tabungan dengan saldo awal hanya Rp 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) saja. Setelah itu banyak perusahaan pemberi kerja yang mewajibkan karyawannya untuk membuka rekening tabungan, sehingga pembayaran gaji mulai dilakukan secara giral. Sejak saat itu kita semua mengawali era menjadi Masyarakat Perbankan, di mana hampir semua aset finansial dan kebanyakan transaksi dilakukan secara giral. Saat ini, lebih dari 30 juta penduduk Indonesia sudah memiliki rekening di bank, dan telah terbiasa menyelesaikan transaksi melalui perbankan.

    Industri reksa dana terbuka (open-ended fund) baru diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1996, dan sejak itu mengalami pertumbuhan sejalan dengan pemahaman masyarakat investor tentang perlunya berinvestasi pada produk reksa dana. Potensi pertumbuhannya sangat besar, dengan total dana kelolaan sebesar Rp 200 Triliun saat ini, baru 5,7% saja dari Dana Pihak Ketiga di perbankan yang mencapai nilai Rp 3.500 Triliun. Sementara jumlah investor yang hanya 162.000 orang, baru 0,07% dari jumlah penduduk. Berbeda dengan Thailand yang investor domestiknya sudah mencapai 4,7% dan Malaysia yang hampir 60 % dari populasinya memiliki produk reksa dana. Sehingga tidak mengherankan bila tingkat kesejahteraan di kedua negara tetangga tersebut, jauh lebih tinggi dari Indonesia.

    Menurut Agus B. Yanuar, Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM), “Masyarakat Indonesia memiliki potensi untuk mengejar ketertinggalannya dari negara-negara di kawasan, sehingga tidak dilecehkan dan bisa tegak sejajar dengan mereka. Antara lain dengan lebih cermat dan cerdas dalam menerapkan rencana keuangannya.”

    Reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan investasi masing-masing investor. Ciri khas reksa dana adalah terjangkau dengan investasi awal hanya dengan Rp 100 ribu – Rp 250 ribu saja, dikelola oleh lembaga investasi resmi yang berizin dan diawasi oleh regulator, investasi atas nama investor, diversifikasi portofolio produk yang bisa dipilih sesuai dengan karakter investor dan bentang waktu investasinya, sangat likuid sehingga mudah dibeli dan dijual kapan saja, transparansi produk, serta kinerja historis yang optimal sesuai profil produknya masing-masing.

    Ciri khas seperti itu, memungkinkan reksa dana menjadi salah satu pilihan utama sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan keuangan masyarakat kita. Tersedia reksa dana, baik yang konvensional maupun yang syariah, yang bisa digunakan untuk pembiayaan rutin, pembelian aset di masa depan, dana pendidikan, perjalanan religi, persiapan dana pensiun, pengembangan usaha dan sebagai cadangan untuk pembiayaan lainnya yang tidak terduga pada masa yang akan datang.

    Saat ini SAM mengelola reksa dana untuk publik yang mempunyai rekam jejak dan kinerja yang memuaskan, beberapa di antaranya adalah yang terbaik di kelasnya, yaitu: SAM Sukuk Syariah Sejahtera (RD syariah yang berinvestasi pada efek sukuk), SAM Syariah Berimbang (isi portofolionya terdiri atas efek sukuk dan saham syariah), SAM Sharia Equity Fund (berisi saham syariah), SAM Dana Berkembang (berinvestasi pada obligasi dan saham konvensional) dan SAM Indonesian Equity Fund (reksa dana saham konvensional)

    Sebagai ‘Your Lifelong Investor Partner’, imbuh Agus, melalui reksa dana,  SAM mengajak masyarakat untuk bertransformasi menjadi Masyarakat Investasi dengan menikmati semua potensi terbaik dari pasar modal Indonesia. Sekaligus menjadi mitra terbaik bagi investor institusi dan perorangan dalam meraih masa depan yang lebih makmur dan sejahtera, dengan menjadikan Reksa Dana SAM untuk Semua. ***

     

    Artikel juga dimuat di Tabloid Kontan, edisi Maret 2014.

    RD SAM utk Semua

  • Pilihan Investasi Saat Inflasi TinggiPilihan Investasi Saat Inflasi Tinggi

    ’Inflation is as violent as a mugger, as frightening as an armed robber and as deadly as hitman’ (Ronald Reagan)

    Berdasarkan anggapan umum, salah satu ukuran keberhasilan finansial yang kita capai adalah seberapa banyak kekayaan yang telah kita kumpulkan dan seberapa besar pertumbuhannya setiap tahun.

    Kita merasa gembira bila penghasilan kita hari ini lebih tinggi dari tahun kemarin, dan berharap aset-aset kita yang berupa tabungan, deposito, obligasi, reksa dana, saham, emas, property, benda koleksi dan lain-lainnya itu bisa naik setiap saat. Sebaliknya, kita akan merasa galau dan kecewa bila ternyata yang kita peroleh hari ini tidak sebanyak yang kita dapatkan di waktu-waktu sebelumnya.

    Seringkali kita lupa menghitung berapa sebenarnya kenaikan riel penghasilan dan aset-aset tersebut bila dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa. Bertambahnya gaji sebesar 10% dibanding tahun lalu tentu tidak akan mengejar kebutuhan hidup yang naik 18%, misalnya. Dan deposito di bank dengan bunga bersih 6% setelah pajak pun belum bisa menutup tingkat inflasi tahun ini yang diperkirakan akan mencapai 9% tahun ini.

    Tanpa disadari, inflasi ternyata menggerogoti daya beli dari uang dan nilai aset yang kita miliki. Dan bila tidak cermat menyiasatinya dalam jangka panjang, alih-alih tambah makmur, kualitas kehidupan finansial kita malah mengalami kemunduran. Meminjam ucapan Ronald Reagan yang dikutip di atas, inflasi itu mirip dengan perampok yang perlu diwaspadai. Bahkan, banyak pemerintahan di berbagai belahan dunia jatuh, karena kurang hati-hati mengendalikan inflasi yang menyengsarakan rakyatnya.

    Penyebab Inflasi
    Inflasi itu pada umumnya disebabkan oleh 3 (tiga) faktor yang utama. Pertama oleh apa yang populer disebut dengan pull of demand, yaitu bila meningkatnya permintaan atas suatu barang dan jasa lebih tinggi dari peningkatan persediannya. Peningkatan tersebut biasanya karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat kemakmuran dan daya beli masyarakat yang bertambah, indeks keyakinan konsumen yang lebih baik, serta besaran belanja pembangunan pemerintah.

    Kedua, disebabkan oleh cost push, yaitu meningkatnya harga barang dan jasa karena naiknya biaya untuk pengadaannya. Ada banyak hal yang bisa mendorong biaya: Kenaikan upah dan kompensasi karyawan, kenaikan harga bahan baku dan barang modal. Pelemahan mata uang domestik yang membuat naiknya harga bahan baku impor atau harga barang lokal yang denominasinya dalam US$. Jaringan distribusi yang tersendat dan tidak efisien karena masalah struktural atau karena monopoli. Secara temporer, faktor-faktor alami seperti bencana, gagal panen dan perubahan musim juga bisa memicu kenaikan biaya.

    Ketiga, karena kebijakan pemerintah. Dicabutnya subsidi atas minyak atau komoditi lainnya, akan mendorong harga. Begitu pula kebijakan moneter yang melonggarkan likuiditas akan mendorong ekspansi usaha dan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi serta berakibat inflasi.

    Mengendalikan Inflasi
    Inflasi yang terukur itu bagus buat pertumbuhan. Yang buruk adalah inflasi yang tidak terkendali dan di luar target. Buruk bagi masyarakat karena memangkas daya beli, jelek buat pemerintah karena secara politis tidak populer. Itulah sebabnya, perlu pengelolaan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat inflasi.

    Dari sisi pemerintah dan otoritas keuangan, biasanya ada beberapa kebijakan yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Sehubungan dengan peningkatan inflasi yang dipicu oleh dikuranginya subsidi BBM, pelemahan Rupiah karena kondisi makro ekonomi Indonesia dan global, BI telah menaikan tingkat bunga BI dari 6,5 menjadi 7,25 %. Dan ada potensi menaikannya lagi sampai akhir tahun nanti. Kebijakan ini, dibaca sebagai cara BI untuk meredam pelemahan dan fluktuasi rupiah.

    Rupiah yang stabil dan tidak fluktuatif, di berapapun level wajarnya, akan memudahkan para pelaku usaha, masyarakat, investor di sektor riel dan investor portofolio dalam mengukur risiko berusaha dan berinvestasi. Oleh karena itu, kebijakan BI tersebut untuk sementara ini direspons secara positif oleh pasar, terlihat dari rupiah yang menguat dari Rp, 11.900 menjadi Rp 11,200 per US$, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang rebound ke level 4.375 dan harga-harga obligasi yang berhenti turun pada akhir perdagangan tanggal 13 September 2013 kemarin.

    Harapannya adalah bahwa kebijakan jangka pendek ini nantinya disusul dengan kebijakan jangka menengah dan panjang yang lebih efektif, baik di sektor moneter, fiskal maupun sektor riel. Program yang bisa mengurangi ketergantungan impor dengan mendorong industri barang modal, manufaktur, barang konsumsi, dan produk agrikultur domestik. Efisiensi jaringan distribusi, percepatan perizinan, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta subsidi dan insentif yang lebih tepat sasaran. Kebijakan yang tidak mudah dan perlu waktu, yang dalam bahasa Michael Corleone di film The Godfather  ” It’s difficult, but not impossible!”

    Dari sisi investor portofolio, dalam jangka pendek naiknya tingkat bunga sebetulnya berakibat buruk untuk harga obligasi dan saham-saham yang sensitif terhadap tingkat bunga seperti sektor finansial dan properti. Sehingga investor perlu menghitung lagi prediksi pertumbuhan ekonomi dan perkiraan imbal hasil setiap jenis investasi. Serta mengocok ulang alokasi asetnya untuk menanggulangi naiknya inflasi

    Alokasi Investasi
    Seperti pernah dibahas sebelumnya, tujuan berinvestasi adalah untuk mengamankan nilai aset yang telah dimiliki sekarang (wealth preservation) dan meningkatkannya (wealth accumulation). Beberapa jenis aset yang bisa digunakan sebagai aset dasar berinvestasi terdiri atas aset riel dan aset finansial. Produk perbankan, pasar modal dan produk asuransi. Properti, logam mulia, hak usaha, benda koleksi dan lain-lain.

    Setiap jenis aset memiliki karakteristik produk, risiko, potensi imbal hasil, dan jangka waktu berinvestasi idealnya masing-masing.

    Dari data empiris disimpulkan bahwa racikan alokasi aset adalah faktor utama dalam memperoleh berapa besar-kecilnya imbal hasil yang dicapai. Kuncinya adalah bagaimana meramu besaran investasi pada masing-masing jenis aset tersebut, disesuaikan dengan tujuan investasinya, krakteristik risiko, potensi imbal hasil (return) dan jangka waktu berinvestasinya. Dan yang paling penting, portofolio tersebut harus memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari inflasi!

    Pertanyaannya, berapa sebetulnya tingkat inflasi di Indonesia? dan jenis investasi apa yang bisa mengalahkan inflasi?. Data dari Biro Pusat Statistik menunjukan bahwa rata-rata majemuk inflasi kita sepanjang 10 tahun terakhir adalah sebesar 7,4% per tahun, sementara dalam 5 tahun terakhir sebesar 5,4% per tahun.

    DataKenaikanBBM

    Menggunakan data inflasi tersebut, kita bisa mempertimbangkan pilihan aset investasi berikut ini:

    Kas/Tabungan. Hanya cocok untuk keperluan likuiditas jangka pendek, karena bunganya rendah. Dalam jangka panjang lebih rendah dari inflasi

    Deposito. Untuk tujuan jangka pendek, meskipun imbal hasilnya lebih tinggi dari tabungan. Dalam kondisi arah bunga cenderung naik, ambil periode pendek, 1 – 3 bulan. Pada saat diperbaharui (roll-over) berpotensi memperoleh bunga yang lebih tinggi. Tetapi apabila arah tingkat bunga bank cenderung turun, pilih yang bertenor panjang.

    Emas. Dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 18% per tahun. Dapat dipilih untuk memberikan lindung-nilai (hedging) terhadap inflasi. Dari sisi risiko, karena bersifat fisik, kepemilikannya atas unjuk (bukan atas nama) dan dalam jumlah besar membutuhkan tempat penyimpanan.

    Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan berpotensi melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 10 % per tahun. Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dijual dengan satuan terkecil Rp 5 juta, meskipun perbankan hanya menjualnya dengan minimal Rp 50 juta.
    Obligasi korporasi dan yang non-ritel, investasi minimal Rp 1 Milyar.

    Reksa Dana Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan bisa melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 12 % per tahun. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Campuran. Untuk jangka menengah – panjang. Cocok untuk tipe investor moderat. Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 15%, di atas inflasi. Ideal untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Dana Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 28%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi.

    Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata IHSG 5 tahun terakhir sekitar 26%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Minimal investasi antara Rp 10 – Rp 50 juta, tergantung pialang sahamnya. Dikelola oleh investor sendiri.

    Properti. Untuk tujuan investasi jangka menengah panjang. Sebagai salah satu bentuk lindung nilai terhadap inflasi, karena imbal hasilnya lebih tinggi, tergantung lokasi. Investasi awalnya lebih tinggi, pertimbangkan pula besaran biaya rutin pemeliharaan, PBB tahunan dan pajak jual belinya.

    Investasi dalam bentuk lainnya bisa saja dipilih, sepanjang kita memahami jenis asetnya, cara mengelola, bentuk risiko dan potensi imbal hasilnya. Perhatikan pula, bagaimana cara menjual jenis investasinya atau exit strategy dari jenis usaha tersebut. Jangan sampai mudah dibeli tetapi susah dijual.

    Selamat Berinvestasi!

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 15 September 2013.

  • Reksa Dana Sebagai Pilihan InvestasiReksa Dana Sebagai Pilihan Investasi

    Masyarakat kita mulai terbiasa menyisihkan sebagian dari penghasilannya dan disimpan untuk digunakan di masa yang akan datang.

    Sayangnya, seringkali pertumbuhan simpanan kita tersebut tidak bisa mengimbangi kenaikan harga-harga barang dan jasa. Sehingga kita perlu mengelola keuangan secara lebih cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita di masa depan.

    Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan pembiayaan jangka panjang seperti pendidikan anak, pembelian aset, dana untuk rekreasi dan hobi, perjalanan religi, aktivitas sosial, dana pensiun serta untuk mengantisipasi kebutuhan lainnya di masa depan, diperlukan produk keuangan yang imbal hasilnya bisa mengalahkan inflasi.

    Salah satu bentuk investasi yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi pilihan adalah reksa dana (mutual fund)

    Reksa Dana
    Reksa Dana merupakan sebuah wadah investasi kolektif dari masyarakat yang dikelola oleh Perusahaan Manajer Investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK – dahulu Bapepam).

    Ciri Khas Reksa Dana
    Sebagai produk publik yang ditujukan bagi investor perorangan dan investor institusi, Reksa Dana memiliki karakteristik sbb:

    1. Kepemilikannya atas nama nasabah dan dicatat di Bank Kustodian.
    Pada saat penjualan kembali, dananya hanya akan ditransfer ke nama nasabah yang terdaftar, tidak bisa ke nama lain. Sehingga keamanannya dilindungi Undang-Undang.
    2. Nilai Investasi Awal Yang Terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja.
    3. Keragaman Pilihan Jenis Portofolio.
    4. Potensi Imbal Hasil Jangka Panjang yang Optimal.
    5. Likuid, mudah dibeli dan dijual kapan saja.
    6. Dikelola oleh para profesional yang memiliki izin resmi.

    Dilihat dari isi portofolionya, ada 4 jenis reksa dana yang utama, yaitu:
    1. Reksa Dana Pasar Uang
    Dana yang dikelolanya diinvestasikan di instrumen pasar uang seperti deposito, pasar uang antar bank dan obligasi yang hampir jatuh tempo.
    2. Reksa Dana Obligasi. Berinvestasi di efek surat utang (obligasi) pemerintah maupun korporasi.
    3. Reksa Dana Campuran. Berinvestasi pada efek saham dan obligasi.
    4. Reksa Dana Saham. Reksa dana yang mayoritas portofolionya dalam efek saham.

    Dengan ciri khas seperti itu maka produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan masing-masing investor.

    Setiap jenis reksa dana memiliki potensi imbal hasil berdasarkan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya relatif pendek, lebih baik memilih jenis reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap.

    Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi portofolio pada efek saham dan obligasinya akan diatur oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    Berapa Imbal Hasil Reksa Dana ?

    Sebagai produk investasi, reksa dana mengandung unsur risiko yang lebih tinggi dibanding produk perbankan. Karenanya juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi keuangan dunia. Tapi secara historis, pada saat terjadi koreksi pasar finansial seperti sekarang ini, biasanya malah saat yang terbaik untuk membeli atau menambah reksa dana.

    Diagram batang di bawah ini menunjukan tingkat bunga, imbal hasil berbagai jenis reksa dana, dan IHSG sepanjang tahun 2012 yang lalu. Sementara tabel di bawahnya merupakan rerata imbal hasil antara tahun 2007 – 2012, dan antara 2009 – 2012.

    ImbalHasilReksaDana

    Dari tabel terlihat bahwa pada periode 2007 – 2012, meskipun sempat terkoreksi pada tahun 2008 akibat krisis keuangan global, rerata imbal hasilnya masih menarik.
    Sementara rerata imbal hasil pasca krisis, pada periode 2009 – 2012, malah menunjukan angka yang sangat tinggi per tahunnya. Sehingga terbukti bahwa investor yang membeli dan menambah produk investasi pada saat koreksi, berpotensi membukukan keuntungan yang lebih tinggi.

    Bagaimana Memilih Reksadana?

    Setelah kita memahami potensi keuntungan dan potensi risikonya, dengan hampir 900 produk reksa dana yang ada saat ini, bagaimana memilihnya?

    Memilih menjadi suatu pekerjaan yang sulit jika Anda tidak mengetahui caranya bukan? Apalagi jika ini adalah investasi pertama kali bagi Anda.

    Sebagai Langkah Awal, Kenali tujuan investasi Anda
    Akan digunakan sebagai apa dana hasil investasi tersebut? Apakah untuk melindungi dan mempertahankan kekayaan (Wealth Protection) ataukah untuk mengumpulkan kekayaan (Wealth Accummulation). Apakah Anda ingin membeli rumah dan aset lainnya, atau ingin membiayai kuliah anak Anda? Ataukah Anda memiliki rencana lain di kemudian hari, sehingga Anda berinvestasi? Berapa lama Anda berencana berinvestasi?

    Dengan mengenali tujuan investasi, maka dapat diketahui profil resiko & investasi dari Anda sendiri, yang selanjutnya menjadi dasar mempermudah mencari reksa dana yang cocok.

    1. Kenali profil resiko dan investasi Anda
    Dengan bantuan kuesioner untuk mengumpulkan beberapa informasi mengenai Anda, dapat diperkirakan tipe calon investor seperti apakah Anda. Kuesioner ini akan sangat membantu Anda sebagai panduan nantinya memilih reksa dana yang sesuai. (lihat box questioner). Misal, dapat disimpulkan beberapa hal seperti batas investasi sesuai dengan kemampuan dan profil Anda. Apabila tujuan investasi Anda adalah jangka panjang, seperti mempersiapkan biaya anak kuliah atau kebutuhan pensiun, maka reksadana yang tepat untuk anda adalah reksadana jenis pertumbuhan dan pendapatan.

    2. Saring reksa dana yang sesuai dengan profil risiko & investasi Anda
    Dengan panduan profil resiko dan investasi tersebut, Anda dapat melakukan penyaringan jenis reksa dana apa yang sesuai dengan jangka waktu investasi yang Anda inginkan.

    3. Seperti halnya produk lain (misal komputer,kulkas), Anda bisa mendapatkan katalog yang menjelaskan tentang produk tersebut. Melalui Manajer Investasi (MI) atau agen penjual, mintalah prospektus produk reksadana yang tersaring oleh Anda dan pelajari terutama kebijakan dan resiko investasi.

    4. Pelajari Kinerja masa lalu reksa dana melalui imbal hasil historis reksa dana, prestasi masa lalu relatif terhadap reksa dana sejenis dan pasar secara keseluruhan (indeks). Beberapa hal penting yang perlu dipelajari pada isi kinerja : garis besar komposisi/alokasi portofolio, imbal hasil, dan strategi investasi manajer investasi ke depan.

    5. Kenali Manajer Investasi
    Pilihlah Manajer Investasi yang memiliki reputasi baik. Tentunya Anda menginginkan MI Anda memiliki beberapa kualitas seperti :
    Integritas, dimana jujur dan keterbukaan informasi dalam melaporkan perkembangan investasi Anda merupakan kunci.
    Pengalaman, jika investasi Anda dalam suatu reksadana dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka manajemen dan sistem yang baik dan terujilah yang akan menjadi pilihan. Hal ini dapat dipelajari dari berapa lama dan kinerja MI tersebut menjalankan bisnis reksadana.

    6. Terakhir, setelah Anda menentukan reksadana mana yang Anda pilih, sebelum Anda melakukan investasi, pelajari tata cara investasi pada reksadana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada.

    Setelah Anda berinvestasi, jangan lupa untuk terus memantau kinerja dari reksadana Anda melalui laporan yang biasanya dikirimkan oleh Manajer Investasi Anda secara rutin. Ada kalanya Anda harus beralih ke reksadana lain, sekiranya kebijakan, strategi maupun kinerja investasinya tidak sesuai lagi dengan tujuan investasi Anda.

    Untuk Anda yang memiliki keterbatasan waktu melakukan pemilihan investasi yang tepat, bantuan financial advisor yang dapat ditemui salah satunya melalui Wealth Management Bank, dapat membantu mengatur keuangan Anda, memilih investasi yang tepat, dan menganalisa kinerja produk maupun MI.

    Semoga panduan berinvestasi ini bisa membantu Anda menuju kemakmuran secara finansial.
    Selamat Berinvestasi!

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional 1 September 2013Masyarakat kita mulai terbiasa menyisihkan sebagian dari penghasilannya dan disimpan untuk digunakan di masa yang akan datang.

    Sayangnya, seringkali pertumbuhan simpanan kita tersebut tidak bisa mengimbangi kenaikan harga-harga barang dan jasa. Sehingga kita perlu mengelola keuangan secara lebih cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita di masa depan.

    Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan pembiayaan jangka panjang seperti pendidikan anak, pembelian aset, dana untuk rekreasi dan hobi, perjalanan religi, aktivitas sosial, dana pensiun serta untuk mengantisipasi kebutuhan lainnya di masa depan, diperlukan produk keuangan yang imbal hasilnya bisa mengalahkan inflasi.

    Salah satu bentuk investasi yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi pilihan adalah reksa dana (mutual fund)

    Reksa Dana
    Reksa Dana merupakan sebuah wadah investasi kolektif dari masyarakat yang dikelola oleh Perusahaan Manajer Investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK – dahulu Bapepam).

    Ciri Khas Reksa Dana
    Sebagai produk publik yang ditujukan bagi investor perorangan dan investor institusi, Reksa Dana memiliki karakteristik sbb:

    1. Kepemilikannya atas nama nasabah dan dicatat di Bank Kustodian.
    Pada saat penjualan kembali, dananya hanya akan ditransfer ke nama nasabah yang terdaftar, tidak bisa ke nama lain. Sehingga keamanannya dilindungi Undang-Undang.
    2. Nilai Investasi Awal Yang Terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja.
    3. Keragaman Pilihan Jenis Portofolio.
    4. Potensi Imbal Hasil Jangka Panjang yang Optimal.
    5. Likuid, mudah dibeli dan dijual kapan saja.
    6. Dikelola oleh para profesional yang memiliki izin resmi.

    Dilihat dari isi portofolionya, ada 4 jenis reksa dana yang utama, yaitu:
    1. Reksa Dana Pasar Uang
    Dana yang dikelolanya diinvestasikan di instrumen pasar uang seperti deposito, pasar uang antar bank dan obligasi yang hampir jatuh tempo.
    2. Reksa Dana Obligasi. Berinvestasi di efek surat utang (obligasi) pemerintah maupun korporasi.
    3. Reksa Dana Campuran. Berinvestasi pada efek saham dan obligasi.
    4. Reksa Dana Saham. Reksa dana yang mayoritas portofolionya dalam efek saham.

    Dengan ciri khas seperti itu maka produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan masing-masing investor.

    Setiap jenis reksa dana memiliki potensi imbal hasil berdasarkan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya relatif pendek, lebih baik memilih jenis reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap.

    Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi portofolio pada efek saham dan obligasinya akan diatur oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    Berapa Imbal Hasil Reksa Dana ?

    Sebagai produk investasi, reksa dana mengandung unsur risiko yang lebih tinggi dibanding produk perbankan. Karenanya juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi keuangan dunia. Tapi secara historis, pada saat terjadi koreksi pasar finansial seperti sekarang ini, biasanya malah saat yang terbaik untuk membeli atau menambah reksa dana.

    Diagram batang di bawah ini menunjukan tingkat bunga, imbal hasil berbagai jenis reksa dana, dan IHSG sepanjang tahun 2012 yang lalu. Sementara tabel di bawahnya merupakan rerata imbal hasil antara tahun 2007 – 2012, dan antara 2009 – 2012.

     

    ImbalHasilReksaDana

    Dari tabel terlihat bahwa pada periode 2007 – 2012, meskipun sempat terkoreksi pada tahun 2008 akibat krisis keuangan global, rerata imbal hasilnya masih menarik.
    Sementara rerata imbal hasil pasca krisis, pada periode 2009 – 2012, malah menunjukan angka yang sangat tinggi per tahunnya. Sehingga terbukti bahwa investor yang membeli dan menambah produk investasi pada saat koreksi, berpotensi membukukan keuntungan yang lebih tinggi.

    Bagaimana Memilih Reksadana?

    Setelah kita memahami potensi keuntungan dan potensi risikonya, dengan hampir 900 produk reksa dana yang ada saat ini, bagaimana memilihnya?

    Memilih menjadi suatu pekerjaan yang sulit jika Anda tidak mengetahui caranya bukan? Apalagi jika ini adalah investasi pertama kali bagi Anda.

    Sebagai Langkah Awal, Kenali tujuan investasi Anda
    Akan digunakan sebagai apa dana hasil investasi tersebut? Apakah untuk melindungi dan mempertahankan kekayaan (Wealth Protection) ataukah untuk mengumpulkan kekayaan (Wealth Accummulation). Apakah Anda ingin membeli rumah dan aset lainnya, atau ingin membiayai kuliah anak Anda? Ataukah Anda memiliki rencana lain di kemudian hari, sehingga Anda berinvestasi? Berapa lama Anda berencana berinvestasi?

    Dengan mengenali tujuan investasi, maka dapat diketahui profil resiko & investasi dari Anda sendiri, yang selanjutnya menjadi dasar mempermudah mencari reksa dana yang cocok.

    1. Kenali profil resiko dan investasi Anda
    Dengan bantuan kuesioner untuk mengumpulkan beberapa informasi mengenai Anda, dapat diperkirakan tipe calon investor seperti apakah Anda. Kuesioner ini akan sangat membantu Anda sebagai panduan nantinya memilih reksa dana yang sesuai. (lihat box questioner). Misal, dapat disimpulkan beberapa hal seperti batas investasi sesuai dengan kemampuan dan profil Anda. Apabila tujuan investasi Anda adalah jangka panjang, seperti mempersiapkan biaya anak kuliah atau kebutuhan pensiun, maka reksadana yang tepat untuk anda adalah reksadana jenis pertumbuhan dan pendapatan.

    2. Saring reksa dana yang sesuai dengan profil risiko & investasi Anda
    Dengan panduan profil resiko dan investasi tersebut, Anda dapat melakukan penyaringan jenis reksa dana apa yang sesuai dengan jangka waktu investasi yang Anda inginkan.

    3. Seperti halnya produk lain (misal komputer,kulkas), Anda bisa mendapatkan katalog yang menjelaskan tentang produk tersebut. Melalui Manajer Investasi (MI) atau agen penjual, mintalah prospektus produk reksadana yang tersaring oleh Anda dan pelajari terutama kebijakan dan resiko investasi.

    4. Pelajari Kinerja masa lalu reksa dana melalui imbal hasil historis reksa dana, prestasi masa lalu relatif terhadap reksa dana sejenis dan pasar secara keseluruhan (indeks). Beberapa hal penting yang perlu dipelajari pada isi kinerja : garis besar komposisi/alokasi portofolio, imbal hasil, dan strategi investasi manajer investasi ke depan.

    5. Kenali Manajer Investasi
    Pilihlah Manajer Investasi yang memiliki reputasi baik. Tentunya Anda menginginkan MI Anda memiliki beberapa kualitas seperti :
    Integritas, dimana jujur dan keterbukaan informasi dalam melaporkan perkembangan investasi Anda merupakan kunci.
    Pengalaman, jika investasi Anda dalam suatu reksadana dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka manajemen dan sistem yang baik dan terujilah yang akan menjadi pilihan. Hal ini dapat dipelajari dari berapa lama dan kinerja MI tersebut menjalankan bisnis reksadana.

    6. Terakhir, setelah Anda menentukan reksadana mana yang Anda pilih, sebelum Anda melakukan investasi, pelajari tata cara investasi pada reksadana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada.

    Setelah Anda berinvestasi, jangan lupa untuk terus memantau kinerja dari reksadana Anda melalui laporan yang biasanya dikirimkan oleh Manajer Investasi Anda secara rutin. Ada kalanya Anda harus beralih ke reksadana lain, sekiranya kebijakan, strategi maupun kinerja investasinya tidak sesuai lagi dengan tujuan investasi Anda.

    Untuk Anda yang memiliki keterbatasan waktu melakukan pemilihan investasi yang tepat, bantuan financial advisor yang dapat ditemui salah satunya melalui Wealth Management Bank, dapat membantu mengatur keuangan Anda, memilih investasi yang tepat, dan menganalisa kinerja produk maupun MI.

    Semoga panduan berinvestasi ini bisa membantu Anda menuju kemakmuran secara finansial.
    Selamat Berinvestasi!

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional 1 September 2013

  • Reksa Dana PT Samuel Aset Manajemen Meraih Best Syariah 2013Reksa Dana PT Samuel Aset Manajemen Meraih Best Syariah 2013

    Reksa Dana PT Samuel Aset Manajemen Meraih Best Syariah 2013Reksa Dana PT Samuel Aset Manajemen Meraih Best Syariah 2013

    Terima kasih atas kepercayan dan dukungan Bapak/Ibu mitra investasi.

    Tahun 2013 ini, Reksa Dana SAM Syariah Berimbang (SSB) kembali memperoleh penghargaan sebagai Reksa Dana Syariah Campuran Terbaik versi majalah Investor.

    Penghargaan tersebut melengkapi penghargaan sebelumnya yang diperoleh oleh PT Samuel Aset Manajemen pada tahun 2011 dan 2012. Ulasan mengenai reksa dana syariah terbaik tahun 2013 ini dapat dibaca di Majalah Investor edisi Agustus 2013 nomor XV/242. Per 31 Juli 2013, SSB mencetak kinerja terbaik dengan imbal hasil sebesar 22.13% periode 1 tahun terakhir atau naik 89.36% sejak diluncurkan 10 Februari 2010. Pertumbuhan AUM SAM Dana Berkembang juga terus meningkat 176.74% dari 31 Desember 2012 menjadi Rp392 miliar.

    Kami berharap produk reksa dana SAM Syariah Berimbang dapat senantiasa menjadi pilihan investor dalam mengisi dan mengelola keranjang investasi Anda. Keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di 021-28548800 atau 28548169, email ke [email protected].Terima kasih atas kepercayan dan dukungan Bapak/Ibu mitra investasi.

    Tahun 2013 ini, Reksa Dana SAM Syariah Berimbang (SSB) kembali memperoleh penghargaan sebagai Reksa Dana Syariah Campuran Terbaik versi majalah Investor.

    Penghargaan tersebut melengkapi penghargaan sebelumnya yang diperoleh oleh PT Samuel Aset Manajemen pada tahun 2011 dan 2012. Ulasan mengenai reksa dana syariah terbaik tahun 2013 ini dapat dibaca di Majalah Investor edisi Agustus 2013 nomor XV/242. Per 31 Juli 2013, SSB mencetak kinerja terbaik dengan imbal hasil sebesar 22.13% periode 1 tahun terakhir atau naik 89.36% sejak diluncurkan 10 Februari 2010. Pertumbuhan AUM SAM Dana Berkembang juga terus meningkat 176.74% dari 31 Desember 2012 menjadi Rp392 miliar.

    Kami berharap produk reksa dana SAM Syariah Berimbang dapat senantiasa menjadi pilihan investor dalam mengisi dan mengelola keranjang investasi Anda. Keterangan lebih lanjut, silahkan menghubungi kami di 021-28548800 atau 28548169, email ke [email protected].

  • SAM Syariah Berimbang Best Syariah 2013 Kategori Reksa Dana Campuran Terbaik Periode 3 Tahun Versi InvestorSAM Syariah Berimbang Best Syariah 2013 Kategori Reksa Dana Campuran Terbaik Periode 3 Tahun Versi Investor

    SAM Syariah Berimbang Best Syariah 2013 Kategori Reksa Dana Campuran Terbaik Periode 3 Tahun Versi InvestorSAM Syariah Berimbang Best Syariah 2013 Kategori Reksa Dana Campuran Terbaik Periode 3 Tahun Versi Investor

    Terima kasih atas kepercayan dan dukungan Bapak/Ibu mitra investasi.

    Tahun 2013 ini, Reksa Dana SAM Syariah Berimbang (SSB) kembali memperoleh penghargaan sebagai Reksa Dana Syariah Campuran Terbaik versi majalah Investor.

    Penghargaan tersebut melengkapi penghargaan sebelumnya yang diperoleh oleh PT Samuel Aset Manajemen pada tahun 2011 dan 2012. Ulasan mengenai reksa dana syariah terbaik tahun 2013 ini dapat dibaca di Majalah Investor edisi Agustus 2013 nomor XV/242.
    Per 31 Juli 2013, SSB mencetak kinerja terbaik dengan imbal hasil sebesar 22.13% periode 1 tahun terakhir atau naik 89.36% sejak diluncurkan 10 Februari 2010. Pertumbuhan AUM SAM Dana Berkembang juga terus meningkat 176.74% dari 31 Desember 2012 menjadi IDR 392 miliar.

    Kami berharap produk reksa dana SAM Syariah Berimbang dapat senantiasa menjadi pilihan
    investor dalam mengisi dan mengelola keranjang investasi Anda. replica watches Keterangan lebih lanjut, silahkan
    menghubungi kami di 021-28548800/28548169, email ke [email protected].Terima kasih atas kepercayan dan dukungan Bapak/Ibu mitra investasi.

    Tahun 2013 ini, Reksa Dana SAM Syariah Berimbang (SSB) kembali memperoleh penghargaan sebagai Reksa Dana Syariah Campuran Terbaik versi majalah Investor.

    Penghargaan tersebut melengkapi penghargaan sebelumnya yang diperoleh oleh PT Samuel Aset Manajemen pada tahun 2011 dan 2012. Ulasan mengenai reksa dana syariah terbaik tahun 2013 ini dapat dibaca di Majalah Investor edisi Agustus 2013 nomor XV/242.
    Per 31 Juli 2013, SSB mencetak kinerja terbaik dengan imbal hasil sebesar 22.13% periode 1 tahun terakhir atau naik 89.36% sejak diluncurkan 10 Februari 2010. Pertumbuhan AUM SAM Dana Berkembang juga terus meningkat 176.74% dari 31 Desember 2012 menjadi IDR 392 miliar.

    Kami berharap produk reksa dana SAM Syariah Berimbang dapat senantiasa menjadi pilihan
    investor dalam mengisi dan mengelola keranjang investasi Anda. Keterangan lebih lanjut, silahkan
    menghubungi kami di 021-28548800/28548169, email ke [email protected].