Samuel Aset Manajemen

Category: artikel

  • Cara Berinvestasi Reksa DanaCara Berinvestasi Reksa Dana

    Belakangan ini, ketertarikan masyarakat luas untuk berinvestasi reksa dana mulai meningkat, seiring dengan makin maraknya program acara dan literasi di berbagai media mengenai perencanaan keuangan. Anda mungkin sudah mendapat informasi tentang investasi reksa dana, atau setidaknya sekedar pernah mendengar namanya. Namun, kerap kali calon investor pemula yang tertarik tidak segera melakukan investasi karena tidak tahu bagaimana cara memulainya, tidak memahami syarat dan prosedur pembelian dan penjualannya, bahkan tidak mengerti bagaimana menghitung hasil investasinya.

    Memulai Investasi Reksa Dana

    Tentukan tujuan investasi dan pahami profil risiko Anda. Pahami bahwa seperti investasi lainnya, investasi reksa dana juga mengandung peluang risiko, antara lain keuntungan yang tidak dijamin, sehingga mungkin timbul kerugian akibat turunnya nilai investasi.

    Ada lebih dari 800 produk reksa dana yang dijual di Indonesia. Untuk mengetahui fakta atau informasi material mengenai suatu produk reksa dana secara lengkap dan rinci, Anda wajib membaca prospektus reksa dana. Alternatif lain untuk mendapatkan informasi suatu produk reksa dana adalah melalui dokumen Fund Factsheet. Dokumen ini umumnya diterbitkan setiap bulan sekali oleh Manajer Investasi (MI). Fund Factsheet berisi laporan kinerja bulanan dan ringkasan informasi penting pada sebuah prospektus, seperti tujuan investasi, strategi investasi, komposisi portofolio, minimal dana investasi, dan sebagainya.

    Luangkan waktu Anda untuk mempelajari produk, terutama kebijakan dan risiko investasi, serta mengenali rekam jejak dan reputasi MI. Pelajari tata cara investasi pada reksa dana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada. Kemudian, pilih produk reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasi, kemampuan ekonomi dan profil risiko Anda.

    Tempat Membeli Reksa Dana

    Reksa dana dapat dibeli langsung dari lembaga yang mengelola dan menerbitkan produk reksa dana, yakni manajer investasi. Keuntungan membeli langsung melalui MI biasanya jumlah investasi yang lebih terjangkau dan biaya yang lebih murah. Beberapa MI menawarkan produk reksa dana dengan minimal pembelian sebesar Rp100-250 ribu saja. Hanya saja, melalui MI, pilihan produk reksa dana terbatas karena hanya menjual reksa dana yang dikelola oleh MI tersebut.

    Anda juga dapat membeli reksa dana melalui bank yang memiliki izin sebagai Agen Penjual Reksa dana (APERD). Kelebihan membeli reksa dana melalui bank penjual, selain pilihan produk yang lebih banyak, Anda juga dapat membeli produk reksa dana dari MI yang berbeda, ditambah adanya fasilitas auto debet yang mempermudah transaksi pembelian reksa dana. Di sisi lain, beberapa reksa dana yang menjadi produk favorit atau unggulan mungkin tidak dijual di bank karena tidak ada kerja sama penjualan antara MI dengan bank tersebut.

    Tata Cara Pembelian

    Ada beberapa ketentuan umum dalam transaksi reksa dana. Pertama, transaksi hanya dapat dilakukan pada hari bursa.
    Tak berbeda jauh seperti membuka rekening membuka rekening di bank, untuk membuka rekening reksa dana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir dengan yang ditandatangani dengan tinta basah (asli), menyiapkan persyaratan fotokopi dokumen yang telah ditentukan, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda investasikan.

    Merupakan suatu kewajiban bagi calon investor perorangan berwarga negara Indonesia untuk memiliki KTP dan NPWP jika ingin berinvestasi di reksa dana. Bagi investor institusi diwajibkan juga untuk mencantumkan anggaran dasar perusahaan dan beberapa persyaratan dokumen lainnya. Seluruh dokumen di atas merupakan bagian dari prinsip KYC (Know Your Customer) yang diwajibkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

    Semua dokumen kemudian diserahkan kepada manajer investasi, baik secara langsung atau lewat agen penjual. Selanjutnya, Anda menyetorkan dana ke rekening penampungan sesuai produk reksa dana yang dipilih.

    Kedua, transaksi diproses berdasarkan NAB per unit. Nilai Aktiva Bersih (NAB) adalah nilai yang menggambarkan total kekayaan reksa dana setiap harinya. Selain harga pasar dari aset reksa dana itu sendiri, NAB juga dipengaruhi oleh pembelian dan penjualan reksa dana oleh para investor. Unit Penyertaan adalah satuan yang menunjukkan kepemilikan Anda di dalam reksa dana tersebut. Jadi, NAB per unit adalah harga yang didapatkan dari NAB reksa dana dibagi dengan total unit penyertaan yang beredar pada hari tersebut.
    NAB per unit sering diucapkan sebagai “harga reksa dana” atau “harga NAB”. Harga ini dipublikasikan hanya satu kali setiap harinya di berbagai media surat kabar atau online. Perlu Anda ketahui, tingginya NAB per unit sebuah reksa dana tidak menunjukkan bahwa reksa dana itu sudah mahal atau sebaliknya. NAB per unit yang tinggi umumnya menunjukkan bahwa reksa dana itu sudah cukup lama sehingga aset-asetnya telah mengalami kenaikan nilai yang tinggi.

    Ketiga, ada batasan waktu (cut off time) untuk penerimaan transaksi setiap harinya, baik pembelian atau penjualan kembali. Jika pembelian reksa dana yang dilakukan sebelum cut off time, maka transaksi Anda akan memperoleh harga NAB pada tanggal transaksi dilakukan. Sedangkan pembelian reksa dana yang dilakukan sesudah cut off time, maka Anda akan mengikuti harga NAB pada hari bursa selanjutnya atau T+1 dari tanggal pembelian reksa dana. Cut off time transaksi yang ditetapkan pada prospektus umumnya antara jam 12.00-13.00 WIB.

    Harga NAB biasanya baru selesai dihitung setiap sore hari dan diumumkan keesokan harinya di media massa. Jika dikatakan transaksi pembelian Anda akan mendapatkan harga hari ini, secara teknis harga NAB tersebut baru diketahui keesokan harinya. Jika dikatakan mendapatkan harga besok, maka secara teknis harga tersebut baru diketahui lusa.

    Terakhir, Anda akan menerima Surat Konfirmasi Transaksi pembelian reksa dana yang diterbikan oleh bank kustodian selambat-lambatnya 7 hari bursa setelah formulir asli dan dana diterima oleh bank kustodian. Selain laporan konfirmasi transaksi, Anda juga akan menerima laporan perkembangan dana investasi setiap bulan. Laporan ini sebaiknya disimpan sebagai bukti kepemilikan reksa dana. Jika tidak menerima, segera langsung menghubungi bank penjual atau MI terkait.

    Cara Menghitung Imbal Hasil Investasi Reksa Dana

    Cara menghitung imbal hasil investasi reksa dana cukup mudah, yakni dengan menghitung jumlah unit penyertaan reksa dana yang kita miliki dikali dengan selisih dari harga NAB jual dengan harga NAB beli reksa dana.

    Sebagai contoh, setahun yang lalu Anda membeli Reksa Dana XYZ senilai seratus ribu rupiah di harga NAB 1.000, sehingga Anda mendapatkan (Rp100.000/1.000) = 100 unit penyertaan. Saat ini harga NAB Reksa Dana XYZ di 1.200. Apabila Anda melakukan penjualan semua unit Reksa Dana XYZ pada harga NAB saat ini, maka keuntungan yang didapatkan adalah 100 unit x (1.200-1.000) = Rp20.000.

    Bagaimana jika harga NAB jual di bawah harga NAB beli? Misalnya, harga NAB Reksa Dana XYZ saat ini 900, maka nilai investasi Anda adalah 100 unit x (900-1.000), atau berkurang Rp10.000,-. Jika Anda melakukan penjualan pada saat nilai aset sedang berkurang, berarti Anda merealisasikan kerugian.

    Hasil perhitungan imbal hasil mungkin dikenakan biaya pembelian unit penyertaan (subscription fee), biaya pengalihan unit penyertaan (switching fee) dan biaya penjualan kembali unit penyertaan (redemption fee). Jadi, Anda perlu memeriksa lagi apakah imbal hasil masih dikurangi biaya-biaya reksa dana.

    Cukup mudah bukan untuk berinvestasi Reksa Dana? Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi saat ini mempermudah Anda untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai investasi reksa dana. Anda dapat membuka situs http://aria.bapepam.go.id/reksadana untuk mengetahui produk dan daftar MI dan bank penjual. Saat ini beberapa manajer investasi dan bank penjual sudah banyak yang menyediakan situs informatif tentang produk dan layanan reksa dana. Beberapa bahkan memberikan layanan online untuk mempermudah investor membeli reksa dana.

    Selamat berinvestasi!

    ***

    Suzan Grevina
    Marketing Communication PT Samuel Aset Manajemen Indonesia

    (Artikel juga dimuat di Harian Nasional, 8 Desember 2013, halaman A8)Belakangan ini, ketertarikan masyarakat luas untuk berinvestasi reksa dana mulai meningkat, seiring dengan makin maraknya program acara dan literasi di berbagai media mengenai perencanaan keuangan. Anda mungkin sudah mendapat informasi tentang investasi reksa dana, atau setidaknya sekedar pernah mendengar namanya. Namun, kerap kali calon investor pemula yang tertarik tidak segera melakukan investasi karena tidak tahu bagaimana cara memulainya, tidak memahami syarat dan prosedur pembelian dan penjualannya, bahkan tidak mengerti bagaimana menghitung hasil investasinya.

    Memulai Investasi Reksa Dana

    Tentukan tujuan investasi dan pahami profil risiko Anda. Pahami bahwa seperti investasi lainnya, investasi reksa dana juga mengandung peluang risiko, antara lain keuntungan yang tidak dijamin, sehingga mungkin timbul kerugian akibat turunnya nilai investasi.

    Ada lebih dari 800 produk reksa dana yang dijual di Indonesia. Untuk mengetahui fakta atau informasi material mengenai suatu produk reksa dana secara lengkap dan rinci, Anda wajib membaca prospektus reksa dana. Alternatif lain untuk mendapatkan informasi suatu produk reksa dana adalah melalui dokumen Fund Factsheet. Dokumen ini umumnya diterbitkan setiap bulan sekali oleh Manajer Investasi (MI). Fund Factsheet berisi laporan kinerja bulanan dan ringkasan informasi penting pada sebuah prospektus, seperti tujuan investasi, strategi investasi, komposisi portofolio, minimal dana investasi, dan sebagainya.

    Luangkan waktu Anda untuk mempelajari produk, terutama kebijakan dan risiko investasi, serta mengenali rekam jejak dan reputasi MI. Pelajari tata cara investasi pada reksa dana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada. Kemudian, pilih produk reksa dana yang sesuai dengan tujuan investasi, kemampuan ekonomi dan profil risiko Anda.

    Tempat Membeli Reksa Dana

    Reksa dana dapat dibeli langsung dari lembaga yang mengelola dan menerbitkan produk reksa dana, yakni manajer investasi. Keuntungan membeli langsung melalui MI biasanya jumlah investasi yang lebih terjangkau dan biaya yang lebih murah. Beberapa MI menawarkan produk reksa dana dengan minimal pembelian sebesar Rp100-250 ribu saja. Hanya saja, melalui MI, pilihan produk reksa dana terbatas karena hanya menjual reksa dana yang dikelola oleh MI tersebut.

    Anda juga dapat membeli reksa dana melalui bank yang memiliki izin sebagai Agen Penjual Reksa dana (APERD). Kelebihan membeli reksa dana melalui bank penjual, selain pilihan produk yang lebih banyak, Anda juga dapat membeli produk reksa dana dari MI yang berbeda, ditambah adanya fasilitas auto debet yang mempermudah transaksi pembelian reksa dana. Di sisi lain, beberapa reksa dana yang menjadi produk favorit atau unggulan mungkin tidak dijual di bank karena tidak ada kerja sama penjualan antara MI dengan bank tersebut.

    Tata Cara Pembelian

    Ada beberapa ketentuan umum dalam transaksi reksa dana. Pertama, transaksi hanya dapat dilakukan pada hari bursa.
    Tak berbeda jauh seperti membuka rekening membuka rekening di bank, untuk membuka rekening reksa dana, Anda akan diminta untuk mengisi formulir dengan yang ditandatangani dengan tinta basah (asli), menyiapkan persyaratan fotokopi dokumen yang telah ditentukan, dan tentu saja menyiapkan dana yang hendak Anda investasikan.

    Merupakan suatu kewajiban bagi calon investor perorangan berwarga negara Indonesia untuk memiliki KTP dan NPWP jika ingin berinvestasi di reksa dana. Bagi investor institusi diwajibkan juga untuk mencantumkan anggaran dasar perusahaan dan beberapa persyaratan dokumen lainnya. Seluruh dokumen di atas merupakan bagian dari prinsip KYC (Know Your Customer) yang diwajibkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

    Semua dokumen kemudian diserahkan kepada manajer investasi, baik secara langsung atau lewat agen penjual. Selanjutnya, Anda menyetorkan dana ke rekening penampungan sesuai produk reksa dana yang dipilih.

    Kedua, transaksi diproses berdasarkan NAB per unit. Nilai Aktiva Bersih (NAB) adalah nilai yang menggambarkan total kekayaan reksa dana setiap harinya. Selain harga pasar dari aset reksa dana itu sendiri, NAB juga dipengaruhi oleh pembelian dan penjualan reksa dana oleh para investor. Unit Penyertaan adalah satuan yang menunjukkan kepemilikan Anda di dalam reksa dana tersebut. Jadi, NAB per unit adalah harga yang didapatkan dari NAB reksa dana dibagi dengan total unit penyertaan yang beredar pada hari tersebut.
    NAB per unit sering diucapkan sebagai “harga reksa dana” atau “harga NAB”. Harga ini dipublikasikan hanya satu kali setiap harinya di berbagai media surat kabar atau online. Perlu Anda ketahui, tingginya NAB per unit sebuah reksa dana tidak menunjukkan bahwa reksa dana itu sudah mahal atau sebaliknya. NAB per unit yang tinggi umumnya menunjukkan bahwa reksa dana itu sudah cukup lama sehingga aset-asetnya telah mengalami kenaikan nilai yang tinggi.

    Ketiga, ada batasan waktu (cut off time) untuk penerimaan transaksi setiap harinya, baik pembelian atau penjualan kembali. Jika pembelian reksa dana yang dilakukan sebelum cut off time, maka transaksi Anda akan memperoleh harga NAB pada tanggal transaksi dilakukan. Sedangkan pembelian reksa dana yang dilakukan sesudah cut off time, maka Anda akan mengikuti harga NAB pada hari bursa selanjutnya atau T+1 dari tanggal pembelian reksa dana. Cut off time transaksi yang ditetapkan pada prospektus umumnya antara jam 12.00-13.00 WIB.

    Harga NAB biasanya baru selesai dihitung setiap sore hari dan diumumkan keesokan harinya di media massa. Jika dikatakan transaksi pembelian Anda akan mendapatkan harga hari ini, secara teknis harga NAB tersebut baru diketahui keesokan harinya. Jika dikatakan mendapatkan harga besok, maka secara teknis harga tersebut baru diketahui lusa.

    Terakhir, Anda akan menerima Surat Konfirmasi Transaksi pembelian reksa dana yang diterbikan oleh bank kustodian selambat-lambatnya 7 hari bursa setelah formulir asli dan dana diterima oleh bank kustodian. Selain laporan konfirmasi transaksi, Anda juga akan menerima laporan perkembangan dana investasi setiap bulan. Laporan ini sebaiknya disimpan sebagai bukti kepemilikan reksa dana. Jika tidak menerima, segera langsung menghubungi bank penjual atau MI terkait.

    Cara Menghitung Imbal Hasil Investasi Reksa Dana

    Cara menghitung imbal hasil investasi reksa dana cukup mudah, yakni dengan menghitung jumlah unit penyertaan reksa dana yang kita miliki dikali dengan selisih dari harga NAB jual dengan harga NAB beli reksa dana.

    Sebagai contoh, setahun yang lalu Anda membeli Reksa Dana XYZ senilai seratus ribu rupiah di harga NAB 1.000, sehingga Anda mendapatkan (Rp100.000/1.000) = 100 unit penyertaan. Saat ini harga NAB Reksa Dana XYZ di 1.200. Apabila Anda melakukan penjualan semua unit Reksa Dana XYZ pada harga NAB saat ini, maka keuntungan yang didapatkan adalah 100 unit x (1.200-1.000) = Rp20.000.

    Bagaimana jika harga NAB jual di bawah harga NAB beli? Misalnya, harga NAB Reksa Dana XYZ saat ini 900, maka nilai investasi Anda adalah 100 unit x (900-1.000), atau berkurang Rp10.000,-. Jika Anda melakukan penjualan pada saat nilai aset sedang berkurang, berarti Anda merealisasikan kerugian.

    Hasil perhitungan imbal hasil mungkin dikenakan biaya pembelian unit penyertaan (subscription fee), biaya pengalihan unit penyertaan (switching fee) dan biaya penjualan kembali unit penyertaan (redemption fee). Jadi, Anda perlu memeriksa lagi apakah imbal hasil masih dikurangi biaya-biaya reksa dana.

    Cukup mudah bukan untuk berinvestasi Reksa Dana? Apalagi ditunjang dengan kemajuan teknologi saat ini mempermudah Anda untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai investasi reksa dana. Anda dapat membuka situs http://aria.bapepam.go.id/reksadana untuk mengetahui produk dan daftar MI dan bank penjual. Saat ini beberapa manajer investasi dan bank penjual sudah banyak yang menyediakan situs informatif tentang produk dan layanan reksa dana. Beberapa bahkan memberikan layanan online untuk mempermudah investor membeli reksa dana.

    Selamat berinvestasi!

    ***

    Suzan Grevina
    Marketing Communication PT Samuel Aset Manajemen Indonesia

    (Artikel juga dimuat di Harian Nasional, 8 Desember 2013, halaman A8)

  • Tujuh Kesalahan Umum dalam Mengatur Rencana KeuanganTujuh Kesalahan Umum dalam Mengatur Rencana Keuangan

    Orang pintar belajar dari kesalahan mereka. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Orang bodoh tidak pernah belajar—

     Semua orang ingin mencapai kebebasan keuangan. Semua orang ingi sukses dalam mengelola uang dan berinvestasi. Akan tetapi tidak semua orang sukses meraihnya. Bahkan banyak juga diantaranya, alih-alih meraih mimpi yang diinginkan, malah mendapatkan mimpi buruk jika tidak gagal ditengah jalan.

    Berikut 7 kesalahan umum paling sering dilakukan orang, yang mengagalkan mereka meraih tujuan keuangan yang ingin dicapai.

    Tidak punya komitmen yang kuat.

    Investasi membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk menunda kesenangan saat ini dengan harapan mendapatkan kesenangan yang lebih besar dikemudian hari. Agar memiliki uang untuk diinvestasikan, kita harus mampu menyisihkan sebagian dari pendapatan saat ini. Banyak orang gagal menyisihkan pendapatan mereka. Alasan jamak adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Sebenarnya mereka gagal bukan karena pendapatan yang kurang, akan tetapi karena tidak memiliki komitmen untuk mengatur pengeluaran tadi.

    Ingat, pengeluaran tidak akan ada batasnya jika mau memenuhi semua keinginan. Akan tetapi pengeluaran akan menjadi sangat terbatas jika hanya memenuhi ‘apa yang dibutuhkan saja’. Agar bisa menyisihkan sebagian pendapatan, kita harus mampu melakukan ‘pengorbanan’ seperti menahan beli handphone baru selama yang lama masih berfungsi baik. Membeli sepatu local ketimbang sepatu merek luar negeri. Mengganti satu pak rokok sehari dengan sebutir permen. Mengganti jajan diluar dengan makan bekal dari rumah. Banyak cara untuk memastikan pendapatan bulanan masih tetap bersisa untuk diinvestasikan. Anda pasti bisa menyisihkan 10-30% pendapatan saat ini. Syaratnya hanya satu, komitmen yang kuat untuk melakukan pengorbanan.

     Tidak tujuan yang jelas

    Banyak orang bermimpi menjadi milyarder. Itu sah saja. Akan tetapi sangat sedikit yang memiliki rencana ataupun tujuan yang jelas untuk mencapainya.

    Dua tahun yang lalu, saya mencoba hobby baru, yaitu lari. Lalu saya bermimpi untuk bisa ikut lari full marathon 42 km. Untuk merealisasikannya, saya lalu memasang target. Pertama ikut lomba 5 km. Setelah berhasil, saya naik kelas ikut lomba lari 10 km, berikutnya 21 km dan akhirnya dalam 2 tahun saya berhasil menyelesaikan 42 km pada Jakarta Marathon Oktober lalu.

    Jika anda ingin jadi milyarder. Mulailah pasang target misalnya : menyisihkan 10% dari penghasilan untuk di investasikan. Target itu lewat, naikkan menjadi 20%.  Pasang target belajar tentang saham, lalu belajar tentang reksadana. Mulai investasi kecil-kecil dan terus ditingkatkan terus. Lambat laun anda mimpi tadi akan milyarder akan terealisasi

    Investasi tanpa belajar

    Tahun 2005, banyak investor reksadana pendapatan tetap menjual rugi reksadana mereka ketika inflasi naik, bunga naik dan harga obligasi yang menjadi isi portfolio reksadana pendapatan tetap tadi menukik tajam, sehingga nilai reksadana mereka pun ikut menukik tajam. Banyak sekali investor saat itu berpikir bahwa reksadana pendapatan tetap, karena kata ‘tetap’ tidak bisa turun. Dan ketika ternyata reksdana mereka turun, mereka tidak siap, dan jual saat harga dibawah.  Padahal, jika menunggu satu setengah tahun kemudian untuk menjualnya, mereka bisa jual untung. Ada pula investor yang rugi total setelah membeli saham tanpa fundamental yang jelas.  Atau investor emas dengan sistem margin yang diberi label syariah harus menanggung rugi ketika harga emas terkoreksi tajam enam bulan terakhir. Cerita seperti ini sangat jamak ditemukan. Kenapa ini terjadi? Karena semua investor tadi melakukan investasi tanpa pernah mempelajari risiko investasi yang bakal mereka hadapi. Akibatnya ketika risiko itu menjadi kenyataan, dan nilai investasi mereka bergejolak, mereka langsung panic dan membuat keputusan yang mereka sesali dikemudian hari.

    Tidak melunasi tagihan kartu kredit

    Kapal karam banyak diawali oleh lubang kecil. Begitu juga rencana finansial. Banyak yang karam karena lubang yang terus mengalir dari tagihan kartu kredit. Apa gunanya reksadana saham yang dimiliki menghasilkan imbal hasil 20%  per tahun ketika saldo kartu kredit terus membengkak, berbunga 36% per tahun terus melobangi kantong anda. Sebelum investasi, lunasi dulu semua tagihan kartu kredit.

    Tidak membeli asuransi

    Sakit yang memerlukan biaya berobat besar dan serta kematian adalah dua hal yang paling sering menghancurkan rencana finansial. Ketika sakit berapa pun biaya akan kita keluarkan untuk bisa sembuh. Apapun asset yang anda punya pasti akan direlakan buat berobat. Jika ini terjadi, semua rencana jangka panjang akan bubar. Begitu juga kematian pasangan yang memberikan pendapatan utama buat suatu keluarga dijamin memberi efek yang sama. Oleh karenanya kita perlu menghilangkan risiko ini dengan membeli asuransi.

    Asuransi pertama adalah asuransi kesehatan yang memberi proteksi atas pengeluaran besar jika kita ataupun yang orang menjadi tanggung jawab kita mengalami sakit dan memerlukan biaya perawatan yang besar . Sementara asuransi jiwa baru diperlukan jika kita telah memiliki tanggung jawab terhadap istri ataupun anak. Kita perlu memastikan bahwa mereka masih bisa hidup layak jika kita mendadak meninggal dunia.  Berapa nilai pertanggungan yang ideal? Bisa bervariasi tapi kisaran umumnya adalah sekitar 7-10x gaji tahunan. Jangan tunda beli asuransi jiwa ini, karena semakin berumur, premi yang anda harus bayarkan akan semakin besar. Akan tetapi jika anda masih lajang dan belum memiliki tanggungan, tidak perlu beli asuransi jiwa, cukup asuransi kesehatan saja, sisa dana lainnya langsung diinvestasikan saja.

    Tidak memiliki eksposure di saham

    Jumlah investor reksadana di Indonesia, kurang dari 200 ribu orang atau kurang dari 0.1% penduduk Indonesia. Sementara jumlah sub rekening efek individu di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), lembaga yang menyimpan dan menyelesaikan transaksi pasar modal, hingga Juli baru tercatat 362 ribu rekening atau hanya 0.14% penduduk Indonesia. Hal ini mencerminkan masih sangat minimnya pengenalan investor terhadap investasi di pasar modal terutama saham. Padahal, di Negara yang sedang berkembang dengan trend demografi yang sehat seperti Indonesia, saham akan selalu memberikan imbal hasil yang lebih baik dari alternative investasi lainnya. Kenapa? Karena harga saham dalam jangka panjang akan memberi kompensasi atas risiko inflasi sekaligus merefleksikan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Banyak orang yang tidak memiliki eksposure di saham baik langsung karena takut mengambil risiko. Padahal tanpa mengambil risiko, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.  Apa yang mesti kita lakukan? Kenali risiko tadi dengan mempelajarinya. Lalu mulai investasi dengan skala yang kecil. Berikutnya setelah pengetahuan dan pengalaman atas risiko dan potensi imbal hasilnya dikenal dengan baik, naikkan eksposure anda secara bertahap, hingga mencapai porsi yang ideal. Berapa porsi yang ideal? Sangat tergantung kepada umur, toleransi atas risiko dan tujuan investasi dan kondisi keuangan.  Semakin muda usia anda, semakin besar eksposure saham yang harus anda miliki dan sebaliknya. Rumus umum yang dipakai untuk menentukan ekspoure di saham adalah 100 dikurangi umur. Jadi jika umur anda 20, eksposure di saham adalah 80%, dan obligasi ataupun instrument lain dengan risiko rendah adalah 20%

     Telat memulai

    Investasi membutuhkan ‘waktu’ agar bisa bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti halnya waktu yang dibutuhkan menunggu bibit mangga yang ditanam tumbuh menjadi besar dan berbuah lebat.  Investasi paling tepat mulai dilakukan di waktu muda. Karena ketika memulai disaat muda, kita punya banyak waktu membiarkan investasi tadi bertumbuh besar seiring waktu. Ketika berinvestasi saat muda, instrument investasi yang diambil bisa yang lebih berisiko, seperti saham, dengan harapan imbal hasil yang lebih besar pula. Lalu, jika pun pada awal investasi, kita melakukan kesalahan, masih banyak waktu menunggu investasi itu kembali, dan juga banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Beda halnya dengan investasi di waktu tua. Sisa waktu yang investasi semakin terbatas, sementara ekspektasi imbal hasil akan lebih kecil dibandingkan investasi saat muda, karena tipe investasi yang cocok adalah yang memiliki risiko lebih kecil.

    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 1 Desember 2013, halaman A8)Orang pintar belajar dari kesalahan mereka. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Orang bodoh tidak pernah belajar—

     Semua orang ingin mencapai kebebasan keuangan. Semua orang ingi sukses dalam mengelola uang dan berinvestasi. Akan tetapi tidak semua orang sukses meraihnya. Bahkan banyak juga diantaranya, alih-alih meraih mimpi yang diinginkan, malah mendapatkan mimpi buruk jika tidak gagal ditengah jalan.

    Berikut 7 kesalahan umum paling sering dilakukan orang, yang mengagalkan mereka meraih tujuan keuangan yang ingin dicapai.

    Tidak punya komitmen yang kuat.

    Investasi membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk menunda kesenangan saat ini dengan harapan mendapatkan kesenangan yang lebih besar dikemudian hari. Agar memiliki uang untuk diinvestasikan, kita harus mampu menyisihkan sebagian dari pendapatan saat ini. Banyak orang gagal menyisihkan pendapatan mereka. Alasan jamak adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Sebenarnya mereka gagal bukan karena pendapatan yang kurang, akan tetapi karena tidak memiliki komitmen untuk mengatur pengeluaran tadi.

    Ingat, pengeluaran tidak akan ada batasnya jika mau memenuhi semua keinginan. Akan tetapi pengeluaran akan menjadi sangat terbatas jika hanya memenuhi ‘apa yang dibutuhkan saja’. Agar bisa menyisihkan sebagian pendapatan, kita harus mampu melakukan ‘pengorbanan’ seperti menahan beli handphone baru selama yang lama masih berfungsi baik. Membeli sepatu local ketimbang sepatu merek luar negeri. Mengganti satu pak rokok sehari dengan sebutir permen. Mengganti jajan diluar dengan makan bekal dari rumah. Banyak cara untuk memastikan pendapatan bulanan masih tetap bersisa untuk diinvestasikan. Anda pasti bisa menyisihkan 10-30% pendapatan saat ini. Syaratnya hanya satu, komitmen yang kuat untuk melakukan pengorbanan.

     Tidak tujuan yang jelas

    Banyak orang bermimpi menjadi milyarder. Itu sah saja. Akan tetapi sangat sedikit yang memiliki rencana ataupun tujuan yang jelas untuk mencapainya.

    Dua tahun yang lalu, saya mencoba hobby baru, yaitu lari. Lalu saya bermimpi untuk bisa ikut lari full marathon 42 km. Untuk merealisasikannya, saya lalu memasang target. Pertama ikut lomba 5 km. Setelah berhasil, saya naik kelas ikut lomba lari 10 km, berikutnya 21 km dan akhirnya dalam 2 tahun saya berhasil menyelesaikan 42 km pada Jakarta Marathon Oktober lalu.

    Jika anda ingin jadi milyarder. Mulailah pasang target misalnya : menyisihkan 10% dari penghasilan untuk di investasikan. Target itu lewat, naikkan menjadi 20%.  Pasang target belajar tentang saham, lalu belajar tentang reksadana. Mulai investasi kecil-kecil dan terus ditingkatkan terus. Lambat laun anda mimpi tadi akan milyarder akan terealisasi

    Investasi tanpa belajar

    Tahun 2005, banyak investor reksadana pendapatan tetap menjual rugi reksadana mereka ketika inflasi naik, bunga naik dan harga obligasi yang menjadi isi portfolio reksadana pendapatan tetap tadi menukik tajam, sehingga nilai reksadana mereka pun ikut menukik tajam. Banyak sekali investor saat itu berpikir bahwa reksadana pendapatan tetap, karena kata ‘tetap’ tidak bisa turun. Dan ketika ternyata reksdana mereka turun, mereka tidak siap, dan jual saat harga dibawah.  Padahal, jika menunggu satu setengah tahun kemudian untuk menjualnya, mereka bisa jual untung. Ada pula investor yang rugi total setelah membeli saham tanpa fundamental yang jelas.  Atau investor emas dengan sistem margin yang diberi label syariah harus menanggung rugi ketika harga emas terkoreksi tajam enam bulan terakhir. Cerita seperti ini sangat jamak ditemukan. Kenapa ini terjadi? Karena semua investor tadi melakukan investasi tanpa pernah mempelajari risiko investasi yang bakal mereka hadapi. Akibatnya ketika risiko itu menjadi kenyataan, dan nilai investasi mereka bergejolak, mereka langsung panic dan membuat keputusan yang mereka sesali dikemudian hari.

    Tidak melunasi tagihan kartu kredit

    Kapal karam banyak diawali oleh lubang kecil. Begitu juga rencana finansial. Banyak yang karam karena lubang yang terus mengalir dari tagihan kartu kredit. Apa gunanya reksadana saham yang dimiliki menghasilkan imbal hasil 20%  per tahun ketika saldo kartu kredit terus membengkak, berbunga 36% per tahun terus melobangi kantong anda. Sebelum investasi, lunasi dulu semua tagihan kartu kredit.

    Tidak membeli asuransi

    Sakit yang memerlukan biaya berobat besar dan serta kematian adalah dua hal yang paling sering menghancurkan rencana finansial. Ketika sakit berapa pun biaya akan kita keluarkan untuk bisa sembuh. Apapun asset yang anda punya pasti akan direlakan buat berobat. Jika ini terjadi, semua rencana jangka panjang akan bubar. Begitu juga kematian pasangan yang memberikan pendapatan utama buat suatu keluarga dijamin memberi efek yang sama. Oleh karenanya kita perlu menghilangkan risiko ini dengan membeli asuransi.

    Asuransi pertama adalah asuransi kesehatan yang memberi proteksi atas pengeluaran besar jika kita ataupun yang orang menjadi tanggung jawab kita mengalami sakit dan memerlukan biaya perawatan yang besar . Sementara asuransi jiwa baru diperlukan jika kita telah memiliki tanggung jawab terhadap istri ataupun anak. Kita perlu memastikan bahwa mereka masih bisa hidup layak jika kita mendadak meninggal dunia.  Berapa nilai pertanggungan yang ideal? Bisa bervariasi tapi kisaran umumnya adalah sekitar 7-10x gaji tahunan. Jangan tunda beli asuransi jiwa ini, karena semakin berumur, premi yang anda harus bayarkan akan semakin besar. Akan tetapi jika anda masih lajang dan belum memiliki tanggungan, tidak perlu beli asuransi jiwa, cukup asuransi kesehatan saja, sisa dana lainnya langsung diinvestasikan saja.

    Tidak memiliki eksposure di saham

    Jumlah investor reksadana di Indonesia, kurang dari 200 ribu orang atau kurang dari 0.1% penduduk Indonesia. Sementara jumlah sub rekening efek individu di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), lembaga yang menyimpan dan menyelesaikan transaksi pasar modal, hingga Juli baru tercatat 362 ribu rekening atau hanya 0.14% penduduk Indonesia. Hal ini mencerminkan masih sangat minimnya pengenalan investor terhadap investasi di pasar modal terutama saham. Padahal, di Negara yang sedang berkembang dengan trend demografi yang sehat seperti Indonesia, saham akan selalu memberikan imbal hasil yang lebih baik dari alternative investasi lainnya. Kenapa? Karena harga saham dalam jangka panjang akan memberi kompensasi atas risiko inflasi sekaligus merefleksikan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

    Banyak orang yang tidak memiliki eksposure di saham baik langsung karena takut mengambil risiko. Padahal tanpa mengambil risiko, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.  Apa yang mesti kita lakukan? Kenali risiko tadi dengan mempelajarinya. Lalu mulai investasi dengan skala yang kecil. Berikutnya setelah pengetahuan dan pengalaman atas risiko dan potensi imbal hasilnya dikenal dengan baik, naikkan eksposure anda secara bertahap, hingga mencapai porsi yang ideal. Berapa porsi yang ideal? Sangat tergantung kepada umur, toleransi atas risiko dan tujuan investasi dan kondisi keuangan.  Semakin muda usia anda, semakin besar eksposure saham yang harus anda miliki dan sebaliknya. Rumus umum yang dipakai untuk menentukan ekspoure di saham adalah 100 dikurangi umur. Jadi jika umur anda 20, eksposure di saham adalah 80%, dan obligasi ataupun instrument lain dengan risiko rendah adalah 20%

     Telat memulai

    Investasi membutuhkan ‘waktu’ agar bisa bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti halnya waktu yang dibutuhkan menunggu bibit mangga yang ditanam tumbuh menjadi besar dan berbuah lebat.  Investasi paling tepat mulai dilakukan di waktu muda. Karena ketika memulai disaat muda, kita punya banyak waktu membiarkan investasi tadi bertumbuh besar seiring waktu. Ketika berinvestasi saat muda, instrument investasi yang diambil bisa yang lebih berisiko, seperti saham, dengan harapan imbal hasil yang lebih besar pula. Lalu, jika pun pada awal investasi, kita melakukan kesalahan, masih banyak waktu menunggu investasi itu kembali, dan juga banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Beda halnya dengan investasi di waktu tua. Sisa waktu yang investasi semakin terbatas, sementara ekspektasi imbal hasil akan lebih kecil dibandingkan investasi saat muda, karena tipe investasi yang cocok adalah yang memiliki risiko lebih kecil.

    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 1 Desember 2013, halaman A8)

  • Rahasia Sukses InvestasiRahasia Sukses Investasi

    Semua bisa jadi miliarder

    Ingin jadi miliarder? Gampang sekali. Tinggal menabung Rp. 10.000,- per hari, dengan asumsi imbal hasil rata-rata 5% per tahun, kita akan menjadi miliarder dalam 55 tahun. Kelamaan? Saya ada solusinya. Naikkan tabungan per hari menjadi Rp. 50.000,- dengan imbal hasil yang sama, 5%, maka gelar miliarder akan anda peroleh dalam waktu lebih singkat, 27 tahun saja. Masih terlalu lama? Naikkan saja imbal hasil rata-rata jadi 10% p.a, dengan tabungan Rp. 50.000,- niat tadi bisa di raih dalam waktu hanya 19 tahun.

    Ternyata syarat menjadi milarder sangat gampang.
    1. Mulai Berinvestasi
    2. Memiliki uang untuk diinvestasikan
    3. Imbal hasil yang baik
    4. Memiliki waktu yang cukup

    Rahasia Investasi
    Tulisan ini tidak akan membahas cara cepat menjadi miliarder. Tapi lebih jauh tentang esensi dari cara berinvestasi yang memberikan hasil terbaik. Investasi yang tidak hanya terbatas pada hal keuangan semata tetapi juga hal lainnya.

    Ketika kita membahas cara berinvestasi untuk menghasilkan hasil terbaik, ada 4 hal yang terkandung di dalamnya seperti ilustrasi di atas.
    1. Aktifitas investasi itu sendiri.
    2. Unsur atau hal yang diinvestasikan
    3. Imbal hasil dan
    4.Jangka waktu

    Kita bahas satu persatu.
    Investasi = Pengorbanan.

    Ketika mendengar kata investasi, pada umumnya yang terpikir adalah bagaimana cara menanamkan uang untuk mendapatkan nilai yang lebih besar dimasa mendatang. Hal ini tidak salah. Tapi terlalu sempit.

    Makna investasi sebenarnya adalah melakukan pengorbanan saat sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa mendatang. Kita mengorbankan hal yang sebenarnya bisa dinikmati saat ini, akan tetapi kita putuskan untuk ditunda menikmatinya, dengan harapan kenikmatan yang diperoleh menjadi lebih besar jika dilakukan masa mendatang. Kita memilih menginvestasikan uang ketimbang dibelanjakan agar nilai yang dinikmati lebih besar dikemudian hari. Kita rutin berolah raga ketimbang bermalas-malasan berharap bisa tetap hidup sehat hingga tua. Anak-anak memilih belajar ketimbang bermain berharap menjadi orang yang lebih hebat dikemudian hari.

    Intinya adalah pengorbanan kesenangan hari ini untuk keuntungan lebih besar di masa mendatang. Tidak gampang untuk melakukan pengorbanan tersebut. Banyak yang menolak melakukannya karena menurut mereka hasil yang akan dipetik di masa datang belumlah pasti. Argumen itu ada benarnya. Akan tetapi lebih pasti lagi adalah, tidak akan pernah ada hasil dimasa mendatang tanpa pernah ada pengorbanan saat ini. Benar biji yang ditanam hari ini belum tentu menghasilkan buah seperti yang diinginkan. Akan tetapi sudah pasti tidak akan pernah ada buah di masa mendatang, tanpa ada biji yang ditanam hari ini.

    Investasikan Yang Paling Berharga
    Balik ke ilustrasi paling awal. Kita tahu semakin besar nilai yang di investasikan semakin besar hasilnya. Pertanyaannya berikutnya adalah hal apa yang paling bernilai, paling mahal yang bisa kita investasikan. Jawabannya bukan uang. Akan tetapi sesuai hukum ekonomi, bahwa semakin langka suatu hal dan semakin besar minat orang atasnya, maka akan semakin mahal barang tersebut. Jawabannya adalah waktu.

    Waktu itu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah atau dikurangi barang sedetik pun. Siapa yang tidak ingin punya waktu lebih banyak, tapi sayang satu hari jatahnya hanya 24 jam. Dan yang paling bikin rumit, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Oleh karenanya setiap waktu yang kita miliki adalah sangat besar nilainya.

    Karena nilainya yang tinggi, waktu tidaklah boleh dibuang percuma. Justru waktu sangat cocok untuk kita investasikan agar mendapatkan hasil yang lebih tinggi lagi. Bagaimana caranya? Temukan bagian dari 24 jam yang anda miliki, entah dari sebagian waktu yang biasa dipakai nonton tv, atau waktu buat main, atau waktu yang biasa dipakai untuk chatting, ngegosip, nge-browising internet atau dari bagian waktu dari mana saja. Temukan lalu korbankan waktu tersebut dan diinvestasikan. Di investasikan dimana? Pada kegiatan yang memberikan imbal hasil dan multiplier terbesar. Yaitu pembelajaran.

    Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang memberikan imbal hasil besar dan berlipat-lipat. Sebagai contoh ; ilmu navigasi dan pelayaran, membuat bangsa Spanyol mampu menjelajah dunia dengan kapal, menguasai emas di Amerika Latin dan menjadi penguasa dunia. Ilmu tentang mesin uap mampu memicu revolusi Industri dan mendorong Inggris sebagai kekuatan utama ekonomi dunia. Ilmu adalah kunci untuk memberikan imbal hasil yang terbesar.

    Untuk mendapatkan ilmu ada beberapa cara proses pembelajaran dengan biaya yang berbeda. Yang paling besar biayanya adalah belajar melalui proses trial and error. Melalui proses ini, pada akhirnya ilmu bisa diperoleh, akan tetapi setelah melewati berbagai percobaan dan kesalahan yang memakan waktu dan biaya besar. Sementara proses pembelajaran dengan dengan waktu yang lebih sedikit dan biaya paling murah adalah melalui proses pendidikan, atau lewat membaca buku atau bertanya pada guru atau pada ahlinya. Semakin banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran, maka akan semakin besar pula imbal hasil atau multiplier yang dihasilkan.

    Jangka Waktu Investasi
    Kini kita tahu agar mendapatkan hasil butuh pengorbanan. Pengorbanan terbaik adalah waktu, dan imbal hasil terbesar datang melalui pembelajaran. Komponen terakhir yang menentukan jumlah hasil investasi, adalah lama jangka waktu investasi. Semakin lama jangka waktunya maka akan semakin besar akumulasi jumlahya.

    Ilustrasinya adalah seperti ini, jika ingin pohon seperti pohon toge, waktu yang dibutuhkan dari menanam hingga memetik cukup 4 hari. Ingin pohon seperti pohon jagung? Butuh waktu 4 bulan. Akan tetapi untuk mendapatkan pohon mangga besar berbuah lebat anda butuh waktu diatas 4 tahun. Tidak bisa lain. Tidak logis berharap biji mangga menjadi buah dalam 4 bulan. Intinya, untuk mendapatkan hasil investasi yang bagus harus ada proses yang mesti dilalui, masa yang dijalani. Semakin besar keinginan yang kita capai maka semakin lama waktu yang dibutuhkan. Tidak ada hasil baik yang didapatkan secara mudah.

    Penutup
    Sekarang coba pikirkan, tujuan apa yang hendak anda raih. Ingin meraih gelar sarjana, ingin punya rumah? Ingin punya mobil, ingin jalan-jalan keliling dunia, ingin bisa lari marathon 42 km? Semuanya bisa diraih. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi juga tidak ada cara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua sangat mungkin selama kita tahu cara meraihnya.

    Cara untuk mencapai semua tujuan itu caranya sama. Tentukan tujuan. Mulai berinvestasi atau melakukan pengorbanan. Sisihkan waktu untuk proses pembelajaran agar bisa mencapai tujuan tersebut dengan waktu paling cepat dan cara paling mudah. Lakukan dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Pada akhirnya anda akan sampai ketujuan tadi.

    Begitu juga mencapai tujuan finansial. Tetapkan tujuan yang anda inginkan. Sebelum menginvestasikan uang, investasikan waktu terlebih dahulu untuk proses pembelajaran. Sehingga anda tahu tahu tujuan investasinya, tahu profil risiko yang anda bisa terima, tahu jangka waktu investasinya, dan tahu instrument apa yang paling tepat untuk membawa anda sampai ke tujuan tadi dengan cara paling cepat dengan biaya paling murah . Jangan pernah melakukan dosa utama berinvestasi yaitu menginvestasi uang sebelum menginvestasikan waktu untuk proses pembelajaran. Karena itu cara paling cepat menuju bencana keuangan jangka panjang.
    Setelah itu pembelajaran selesai, baru anda investasikan uang anda. Jangan tunda berinvestasi. Lakukan saat ini, karena kita butuh masa untuk membiarkan investasi itu bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti menanam pohon, waktu yang paling tepat sebenarnya 20 tahun yang lalu. Waktu paling tepat berikutnya adalah saat ini. Lakukan berulang kali, karena semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin banyak juga hasil yang akan dipanen nantinya.


    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 27 Oktober 2013, halaman A10)Semua bisa jadi miliarder

    Ingin jadi miliarder? Gampang sekali. Tinggal menabung Rp. 10.000,- per hari, dengan asumsi imbal hasil rata-rata 5% per tahun, kita akan menjadi miliarder dalam 55 tahun. Kelamaan? Saya ada solusinya. Naikkan tabungan per hari menjadi Rp. 50.000,- dengan imbal hasil yang sama, 5%, maka gelar miliarder akan anda peroleh dalam waktu lebih singkat, 27 tahun saja. Masih terlalu lama? Naikkan saja imbal hasil rata-rata jadi 10% p.a, dengan tabungan Rp. 50.000,- niat tadi bisa di raih dalam waktu hanya 19 tahun.

    Ternyata syarat menjadi milarder sangat gampang.
    1. Mulai Berinvestasi
    2. Memiliki uang untuk diinvestasikan
    3. Imbal hasil yang baik
    4. Memiliki waktu yang cukup

    Rahasia Investasi
    Tulisan ini tidak akan membahas cara cepat menjadi miliarder. Tapi lebih jauh tentang esensi dari cara berinvestasi yang memberikan hasil terbaik. Investasi yang tidak hanya terbatas pada hal keuangan semata tetapi juga hal lainnya.

    Ketika kita membahas cara berinvestasi untuk menghasilkan hasil terbaik, ada 4 hal yang terkandung di dalamnya seperti ilustrasi di atas.
    1. Aktifitas investasi itu sendiri.
    2. Unsur atau hal yang diinvestasikan
    3. Imbal hasil dan
    4.Jangka waktu

    Kita bahas satu persatu.
    Investasi = Pengorbanan.

    Ketika mendengar kata investasi, pada umumnya yang terpikir adalah bagaimana cara menanamkan uang untuk mendapatkan nilai yang lebih besar dimasa mendatang. Hal ini tidak salah. Tapi terlalu sempit.

    Makna investasi sebenarnya adalah melakukan pengorbanan saat sekarang untuk mendapatkan hasil yang lebih besar dimasa mendatang. Kita mengorbankan hal yang sebenarnya bisa dinikmati saat ini, akan tetapi kita putuskan untuk ditunda menikmatinya, dengan harapan kenikmatan yang diperoleh menjadi lebih besar jika dilakukan masa mendatang. Kita memilih menginvestasikan uang ketimbang dibelanjakan agar nilai yang dinikmati lebih besar dikemudian hari. Kita rutin berolah raga ketimbang bermalas-malasan berharap bisa tetap hidup sehat hingga tua. Anak-anak memilih belajar ketimbang bermain berharap menjadi orang yang lebih hebat dikemudian hari.

    Intinya adalah pengorbanan kesenangan hari ini untuk keuntungan lebih besar di masa mendatang. Tidak gampang untuk melakukan pengorbanan tersebut. Banyak yang menolak melakukannya karena menurut mereka hasil yang akan dipetik di masa datang belumlah pasti. Argumen itu ada benarnya. Akan tetapi lebih pasti lagi adalah, tidak akan pernah ada hasil dimasa mendatang tanpa pernah ada pengorbanan saat ini. Benar biji yang ditanam hari ini belum tentu menghasilkan buah seperti yang diinginkan. Akan tetapi sudah pasti tidak akan pernah ada buah di masa mendatang, tanpa ada biji yang ditanam hari ini.

    Investasikan Yang Paling Berharga
    Balik ke ilustrasi paling awal. Kita tahu semakin besar nilai yang di investasikan semakin besar hasilnya. Pertanyaannya berikutnya adalah hal apa yang paling bernilai, paling mahal yang bisa kita investasikan. Jawabannya bukan uang. Akan tetapi sesuai hukum ekonomi, bahwa semakin langka suatu hal dan semakin besar minat orang atasnya, maka akan semakin mahal barang tersebut. Jawabannya adalah waktu.

    Waktu itu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah atau dikurangi barang sedetik pun. Siapa yang tidak ingin punya waktu lebih banyak, tapi sayang satu hari jatahnya hanya 24 jam. Dan yang paling bikin rumit, kita tidak pernah tahu berapa sisa waktu yang kita miliki. Oleh karenanya setiap waktu yang kita miliki adalah sangat besar nilainya.

    Karena nilainya yang tinggi, waktu tidaklah boleh dibuang percuma. Justru waktu sangat cocok untuk kita investasikan agar mendapatkan hasil yang lebih tinggi lagi. Bagaimana caranya? Temukan bagian dari 24 jam yang anda miliki, entah dari sebagian waktu yang biasa dipakai nonton tv, atau waktu buat main, atau waktu yang biasa dipakai untuk chatting, ngegosip, nge-browising internet atau dari bagian waktu dari mana saja. Temukan lalu korbankan waktu tersebut dan diinvestasikan. Di investasikan dimana? Pada kegiatan yang memberikan imbal hasil dan multiplier terbesar. Yaitu pembelajaran.

    Pembelajaran
    Pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Ilmu pengetahuan inilah yang memberikan imbal hasil besar dan berlipat-lipat. Sebagai contoh ; ilmu navigasi dan pelayaran, membuat bangsa Spanyol mampu menjelajah dunia dengan kapal, menguasai emas di Amerika Latin dan menjadi penguasa dunia. Ilmu tentang mesin uap mampu memicu revolusi Industri dan mendorong Inggris sebagai kekuatan utama ekonomi dunia. Ilmu adalah kunci untuk memberikan imbal hasil yang terbesar.

    Untuk mendapatkan ilmu ada beberapa cara proses pembelajaran dengan biaya yang berbeda. Yang paling besar biayanya adalah belajar melalui proses trial and error. Melalui proses ini, pada akhirnya ilmu bisa diperoleh, akan tetapi setelah melewati berbagai percobaan dan kesalahan yang memakan waktu dan biaya besar. Sementara proses pembelajaran dengan dengan waktu yang lebih sedikit dan biaya paling murah adalah melalui proses pendidikan, atau lewat membaca buku atau bertanya pada guru atau pada ahlinya. Semakin banyak ilmu yang diperoleh melalui pembelajaran, maka akan semakin besar pula imbal hasil atau multiplier yang dihasilkan.

    Jangka Waktu Investasi
    Kini kita tahu agar mendapatkan hasil butuh pengorbanan. Pengorbanan terbaik adalah waktu, dan imbal hasil terbesar datang melalui pembelajaran. Komponen terakhir yang menentukan jumlah hasil investasi, adalah lama jangka waktu investasi. Semakin lama jangka waktunya maka akan semakin besar akumulasi jumlahya.

    Ilustrasinya adalah seperti ini, jika ingin pohon seperti pohon toge, waktu yang dibutuhkan dari menanam hingga memetik cukup 4 hari. Ingin pohon seperti pohon jagung? Butuh waktu 4 bulan. Akan tetapi untuk mendapatkan pohon mangga besar berbuah lebat anda butuh waktu diatas 4 tahun. Tidak bisa lain. Tidak logis berharap biji mangga menjadi buah dalam 4 bulan. Intinya, untuk mendapatkan hasil investasi yang bagus harus ada proses yang mesti dilalui, masa yang dijalani. Semakin besar keinginan yang kita capai maka semakin lama waktu yang dibutuhkan. Tidak ada hasil baik yang didapatkan secara mudah.

    Penutup
    Sekarang coba pikirkan, tujuan apa yang hendak anda raih. Ingin meraih gelar sarjana, ingin punya rumah? Ingin punya mobil, ingin jalan-jalan keliling dunia, ingin bisa lari marathon 42 km? Semuanya bisa diraih. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi juga tidak ada cara mudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua sangat mungkin selama kita tahu cara meraihnya.

    Cara untuk mencapai semua tujuan itu caranya sama. Tentukan tujuan. Mulai berinvestasi atau melakukan pengorbanan. Sisihkan waktu untuk proses pembelajaran agar bisa mencapai tujuan tersebut dengan waktu paling cepat dan cara paling mudah. Lakukan dalam jangka waktu tertentu secara terus menerus. Pada akhirnya anda akan sampai ketujuan tadi.

    Begitu juga mencapai tujuan finansial. Tetapkan tujuan yang anda inginkan. Sebelum menginvestasikan uang, investasikan waktu terlebih dahulu untuk proses pembelajaran. Sehingga anda tahu tahu tujuan investasinya, tahu profil risiko yang anda bisa terima, tahu jangka waktu investasinya, dan tahu instrument apa yang paling tepat untuk membawa anda sampai ke tujuan tadi dengan cara paling cepat dengan biaya paling murah . Jangan pernah melakukan dosa utama berinvestasi yaitu menginvestasi uang sebelum menginvestasikan waktu untuk proses pembelajaran. Karena itu cara paling cepat menuju bencana keuangan jangka panjang.
    Setelah itu pembelajaran selesai, baru anda investasikan uang anda. Jangan tunda berinvestasi. Lakukan saat ini, karena kita butuh masa untuk membiarkan investasi itu bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti menanam pohon, waktu yang paling tepat sebenarnya 20 tahun yang lalu. Waktu paling tepat berikutnya adalah saat ini. Lakukan berulang kali, karena semakin banyak pohon yang ditanam maka semakin banyak juga hasil yang akan dipanen nantinya.


    Budi Budar
    Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

    (artikel juga dimuat di Harian Nasional, 27 Oktober 2013, halaman A10)

  • Investasi Reksa Dana untuk Dana PensiunInvestasi Reksa Dana untuk Dana Pensiun

    Sebuah ilustrasi menarik disampaikan salah satu teman: “Jangan memberi beban saat menua!”

    Banyak orang tua yang bekerja keras saat muda untuk mengejar tujuan membahagiakan keluarga dari sisi finansial, keharusan membesarkan dan menyekolahkan anak-anak, terkadang melupakan bahwa kerja keras itu adalah suatu konsekuensi dan tanggung jawab yang besar, tetapi bukanlah investasi kita di masa tua. Artinya itu bukanlah suatu pengorbanan yang berakhir dengan hukum balas budi dari anak-anak, dimana kita berharap saat tua nanti, anak-anak akan berbalik mengurus dan membiayai hidup kita.

    Membayangkan seorang bapak tua di usia senja setiap bulan menanti dengan setia pengiriman dana untuk biaya hidup dari anaknya, seharusnya membuat kita berfikir untuk mulai mempersiapkan dana pensiun untuk diri sendiri mulai sekarang.

    Mengingat tujuan hidup tidak hanya mengumpulkan kekayaan (wealth) untuk kepentingan financial saat ini dan masa mendatang, tetapi juga ada health (kesehatan) dan yang tidak kalah penting tentunya happiness (kebahagiaan) lahir batin yang kita harapkan seterusnya hingga usia senja dan akhir hayat.

    Ada beberapa fakta yang harus kita cermati dan justru kadang terlewat kita pikirkan saat masa pensiun tiba. Hilangnya 80 sampai dengan 90% penghasilan tetap sebagai pegawai, lalu habisnya dana pensiun yang telah kita persiapkan hanya dalam beberapa tahun saja (tidak cukup), dan kedua hal ini akan mengakibatkan menurunnya standar atau gaya hidup kita. Fakta ini tentunya kita harapkan tidak terjadi dengan adanya perhitungan yang tepat.

    Mari kita mencoba menghitung dana pensiun kita, meskipun biaya pensiun sering dianggap kebutuhan yang tidak populer atau tidak sepenting cita-cita membiayai anak sekolah, tetapi tentunya kita berharap tetap produktif dan bermanfaat bagi yang lain saat menua sampai akhir hayat, atau setidaknya tidak menyusahkan anak kita seperti ilustrasi di awal.

    Mempersiapkan dana pensiun artinya tidak hanya membiayai hidup kita pasca usia pensiun (masa tidak produktif) tetapi juga menghitung biaya untuk kesehatan, yang tidak kalah besar, mengingat di usia senja biasanya diiringi dengan berkurangnya fungsi anggota tubuh dan tentunya memerlukan perawatan yang lebih dibandingkan saat usia muda umumya.

    Untuk menghitung biaya hidup pasca pensiun dan biaya kesehatan di masa pensiun, beberapa data yang perlu dihitung adalah :

    1. Berapa tahun lagi waktu tersisa untuk memasuki usia pensiun (usia pensiun, misal 55 tahun dikurangi usia saat ini)
    2. Berapa tahun waktu yang kita perkirakan menikmati masa pensiun (dengan menggunakan asumsi usia maksimal hidup, misal 80 tahun dikurangi usia pensiun)
    3. Biaya yang kita perlukan untuk biaya hidup atau perkiraan biaya kesehatan kita saat ini, selama sebulan (misal biaya hidup dan biaya kesehatan saat ini selama sebulan, Rp 5 juta)

    Dengan menggunakan asumsi usia saat ini 35 tahun dan inflasi 6% per tahun, maka nilai biaya hidup dan kesehatan akan menjadi sebesar sekitar Rp 16 juta/bulan (dalam waktu 20 tahun ke depan).

    Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun selama 25 tahun (usia maksimal 80 tahun dikurangi 55 tahun usia pensiun), maka nilai yang harus kita persiapkan adalah sekitar sebesar Rp 11 milyar.

    Artinya saat masuk usia pensiun dimana secara ekstrim kita sudah tidak produktif sama sekali, maka dana yang harus tersedia saat itu (atau 20 tahun lagi dari sekarang) adalah sebesar Rp 11 milyar, dengan asumsi dana tersebut akan kita simpan dalam bentuk dana yang likuid dengan asumsi return hanya 4% dan inflasi saat itu mencapai 10% per tahun.

    Bagaimana mencapai nilai dana sebesar Rp 11 milyar dalam waktu 20 tahun mendatang itulah yang menjadi tugas atau “pekerjaan rumah” kita saat ini.

    Dengan menggunakan asumsi return suatu produk investasi yang kita gunakan untuk memenuhi “tugas” tersebut adalah 25% per tahun, maka investasi secara bulanan yang harus kita lakukan adalah sebesar sekitar Rp 1.6 juta / bulan.

    Mestinya cukup mampu untuk kita alokasikan sejak saat ini, ya!

    Siklus Keuangan dalam Kehidupan
    Langkah selanjutnya yang harus kita pelajari adalah memilih produk investasi yang tepat untuk mencapai tujuan nilai masa pensiun yang telah kita hitung di atas.

    Reksadana merupakan salah satu produk investasi yang tepat untuk mempersiapkan dana pensiun. Mengapa? Karena Reksadana memiliki beberapa ciri khas sebagai berikut :

    1. Potensi hasil investasi menarik dan optimal untuk jangka panjang.
    Karena kita akan melakukan investasi untuk masa pensiun dengan minimal jangka waktu 15 – 20 tahun, maka investasi pada Reksadana menjadi pilihan yang tepat untuk mencapai tujuan nilai yang sudah kita hitung sebelumnya.

    2. Likuiditas yang relatif tinggi
    Setiap rencana tentunya ada risiko yang memerlukan kondisi pencairan dana setiap saat kita perlukan, maka Reksadana menjadi pilihan investasi yang tepat untuk kebutuhan ini.

    3. Dikelola tenaga ahli profesional
    Dengan keterbatasan waktu dan ilmu yang kita miliki untuk melakukan investasi di pasar modal, maka adanya tenaga profesional (Manajer Investasi) akan sangat membantu kita untuk mengelola dana untuk persiapan dana pensiun kita.

    4. Kepemilikan atas nama
    Jika kita bicara mengenai risiko maka berinvestasi di Reksadana memberikan kenyamanan pada kita dengan bentuk kepemilikan atas nama, artinya investasi kita di Reksadana akan dibukukan atas nama kita dan tidak dapat dicairkan tanpa instruksi dan hanya dapat dipindahkan pada rekening kita juga.

    5. Akses di dalam instrumen yang beragam
    Karena investasi di Reksadana adalah investasi dalam satu kumpulan dana investor yang dikelola oleh Manajer Investasi, artinya kita sebagai salah satu investor di dalam wadah Reksadana tersebut telah melakukan investasi pada instrumen yang beragam dalam nilai investasi yang terjangkau.

    6. Diversifikasi investasi dengan biaya murah
    Dengan hanya dana sebesar Rp 250ribu kita sudah dapat melakukan investasi pada Reksadana untuk tujuan finansial kita.

    7. Insentif pajak untuk instrumen obligasi
    Adanya pengenaan pajak yang lebih ringan atas instrumen obligasi pada wadah Reksadana dibandingkan jika kita (misal) melakukan pembelian obligasi secara langsung.

    Keistimewaan ciri khas ini yang membuat Reksadana menarik sebagai rekomendasi produk pilihan investasi jangka panjang.

    Memilih jenis Reksadana yang tepat menjadi tugas kita selanjutnya. Dengan melihat jangka waktu investasi dana pensiun cukup panjang, Reksadana Campuran atau bahkan Reksadana Saham dapat menjadi pilihan, dengan target hasil investasi antara 15 sampai dengan 25% per tahun.

    Namun harap tetap dicermati bahwa walaupun sangat menarik, adanya risiko investasi Reksadana tetap harus diantisipasi.

    Beberapa risiko umum yang dimiliki Reksadana adalah tidak adanya jaminan atas keuntungan karena adanya risiko penurunan nilai, sehingga pemantauan secara intensif merupakan hal terpenting yang harus tetap kita lakukan untuk mengantisipasi langkah selanjutnya yang akan kita ambil dalam meminimalisir risiko yang akan terjadi.

    Yang perlu diingat !
    Dengan tidak berinvestasi ada risiko yang lebih besar yang akan kita hadapi, yaitu risiko tidak terpenuhinya kebutuhan finansial di masa mendatang.

    Investasi seperti menanam pohon, membayangkan 20 tahun kemudian tidak hanya ada anak cucu yang bersenda gurau di bawah pohon besar yang kita tanam saat ini, tetapi kita pun ikut menikmati keteduhan pohon itu bersama mereka.

    Selamat berinvestasi!

    (Ditulis oleh Ayu Widuri, VP Director & Head of Marketing PT Samuel Aset Manajemen. Artikel juga dimuat di Harian Nasional, 10 November 2013, halaman A8)Sebuah ilustrasi menarik disampaikan salah satu teman: “Jangan memberi beban saat menua!”

    Banyak orang tua yang bekerja keras saat muda untuk mengejar tujuan membahagiakan keluarga dari sisi finansial, keharusan membesarkan dan menyekolahkan anak-anak, terkadang melupakan bahwa kerja keras itu adalah suatu konsekuensi dan tanggung jawab yang besar, tetapi bukanlah investasi kita di masa tua. Artinya itu bukanlah suatu pengorbanan yang berakhir dengan hukum balas budi dari anak-anak, dimana kita berharap saat tua nanti, anak-anak akan berbalik mengurus dan membiayai hidup kita.

    Membayangkan seorang bapak tua di usia senja setiap bulan menanti dengan setia pengiriman dana untuk biaya hidup dari anaknya, seharusnya membuat kita berfikir untuk mulai mempersiapkan dana pensiun untuk diri sendiri mulai sekarang.

    Mengingat tujuan hidup tidak hanya mengumpulkan kekayaan (wealth) untuk kepentingan financial saat ini dan masa mendatang, tetapi juga ada health (kesehatan) dan yang tidak kalah penting tentunya happiness (kebahagiaan) lahir batin yang kita harapkan seterusnya hingga usia senja dan akhir hayat.

    Ada beberapa fakta yang harus kita cermati dan justru kadang terlewat kita pikirkan saat masa pensiun tiba. Hilangnya 80 sampai dengan 90% penghasilan tetap sebagai pegawai, lalu habisnya dana pensiun yang telah kita persiapkan hanya dalam beberapa tahun saja (tidak cukup), dan kedua hal ini akan mengakibatkan menurunnya standar atau gaya hidup kita. Fakta ini tentunya kita harapkan tidak terjadi dengan adanya perhitungan yang tepat.

    Mari kita mencoba menghitung dana pensiun kita, meskipun biaya pensiun sering dianggap kebutuhan yang tidak populer atau tidak sepenting cita-cita membiayai anak sekolah, tetapi tentunya kita berharap tetap produktif dan bermanfaat bagi yang lain saat menua sampai akhir hayat, atau setidaknya tidak menyusahkan anak kita seperti ilustrasi di awal.

    Mempersiapkan dana pensiun artinya tidak hanya membiayai hidup kita pasca usia pensiun (masa tidak produktif) tetapi juga menghitung biaya untuk kesehatan, yang tidak kalah besar, mengingat di usia senja biasanya diiringi dengan berkurangnya fungsi anggota tubuh dan tentunya memerlukan perawatan yang lebih dibandingkan saat usia muda umumya.

    Untuk menghitung biaya hidup pasca pensiun dan biaya kesehatan di masa pensiun, beberapa data yang perlu dihitung adalah :

    1. Berapa tahun lagi waktu tersisa untuk memasuki usia pensiun (usia pensiun, misal 55 tahun dikurangi usia saat ini)
    2. Berapa tahun waktu yang kita perkirakan menikmati masa pensiun (dengan menggunakan asumsi usia maksimal hidup, misal 80 tahun dikurangi usia pensiun)
    3. Biaya yang kita perlukan untuk biaya hidup atau perkiraan biaya kesehatan kita saat ini, selama sebulan (misal biaya hidup dan biaya kesehatan saat ini selama sebulan, Rp 5 juta)

    Dengan menggunakan asumsi usia saat ini 35 tahun dan inflasi 6% per tahun, maka nilai biaya hidup dan kesehatan akan menjadi sebesar sekitar Rp 16 juta/bulan (dalam waktu 20 tahun ke depan).

    Dan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masa pensiun selama 25 tahun (usia maksimal 80 tahun dikurangi 55 tahun usia pensiun), maka nilai yang harus kita persiapkan adalah sekitar sebesar Rp 11 milyar.

    Artinya saat masuk usia pensiun dimana secara ekstrim kita sudah tidak produktif sama sekali, maka dana yang harus tersedia saat itu (atau 20 tahun lagi dari sekarang) adalah sebesar Rp 11 milyar, dengan asumsi dana tersebut akan kita simpan dalam bentuk dana yang likuid dengan asumsi return hanya 4% dan inflasi saat itu mencapai 10% per tahun.

    Bagaimana mencapai nilai dana sebesar Rp 11 milyar dalam waktu 20 tahun mendatang itulah yang menjadi tugas atau “pekerjaan rumah” kita saat ini.

    Dengan menggunakan asumsi return suatu produk investasi yang kita gunakan untuk memenuhi “tugas” tersebut adalah 25% per tahun, maka investasi secara bulanan yang harus kita lakukan adalah sebesar sekitar Rp 1.6 juta / bulan.

    Mestinya cukup mampu untuk kita alokasikan sejak saat ini, ya!

    Siklus Keuangan dalam Kehidupan
    Langkah selanjutnya yang harus kita pelajari adalah memilih produk investasi yang tepat untuk mencapai tujuan nilai masa pensiun yang telah kita hitung di atas.

    Reksadana merupakan salah satu produk investasi yang tepat untuk mempersiapkan dana pensiun. Mengapa? Karena Reksadana memiliki beberapa ciri khas sebagai berikut :

    1. Potensi hasil investasi menarik dan optimal untuk jangka panjang.
    Karena kita akan melakukan investasi untuk masa pensiun dengan minimal jangka waktu 15 – 20 tahun, maka investasi pada Reksadana menjadi pilihan yang tepat untuk mencapai tujuan nilai yang sudah kita hitung sebelumnya.

    2. Likuiditas yang relatif tinggi
    Setiap rencana tentunya ada risiko yang memerlukan kondisi pencairan dana setiap saat kita perlukan, maka Reksadana menjadi pilihan investasi yang tepat untuk kebutuhan ini.

    3. Dikelola tenaga ahli profesional
    Dengan keterbatasan waktu dan ilmu yang kita miliki untuk melakukan investasi di pasar modal, maka adanya tenaga profesional (Manajer Investasi) akan sangat membantu kita untuk mengelola dana untuk persiapan dana pensiun kita.

    4. Kepemilikan atas nama
    Jika kita bicara mengenai risiko maka berinvestasi di Reksadana memberikan kenyamanan pada kita dengan bentuk kepemilikan atas nama, artinya investasi kita di Reksadana akan dibukukan atas nama kita dan tidak dapat dicairkan tanpa instruksi dan hanya dapat dipindahkan pada rekening kita juga.

    5. Akses di dalam instrumen yang beragam
    Karena investasi di Reksadana adalah investasi dalam satu kumpulan dana investor yang dikelola oleh Manajer Investasi, artinya kita sebagai salah satu investor di dalam wadah Reksadana tersebut telah melakukan investasi pada instrumen yang beragam dalam nilai investasi yang terjangkau.

    6. Diversifikasi investasi dengan biaya murah
    Dengan hanya dana sebesar Rp 250ribu kita sudah dapat melakukan investasi pada Reksadana untuk tujuan finansial kita.

    7. Insentif pajak untuk instrumen obligasi
    Adanya pengenaan pajak yang lebih ringan atas instrumen obligasi pada wadah Reksadana dibandingkan jika kita (misal) melakukan pembelian obligasi secara langsung.

    Keistimewaan ciri khas ini yang membuat Reksadana menarik sebagai rekomendasi produk pilihan investasi jangka panjang.

    Memilih jenis Reksadana yang tepat menjadi tugas kita selanjutnya. Dengan melihat jangka waktu investasi dana pensiun cukup panjang, Reksadana Campuran atau bahkan Reksadana Saham dapat menjadi pilihan, dengan target hasil investasi antara 15 sampai dengan 25% per tahun.

    Namun harap tetap dicermati bahwa walaupun sangat menarik, adanya risiko investasi Reksadana tetap harus diantisipasi.

    Beberapa risiko umum yang dimiliki Reksadana adalah tidak adanya jaminan atas keuntungan karena adanya risiko penurunan nilai, sehingga pemantauan secara intensif merupakan hal terpenting yang harus tetap kita lakukan untuk mengantisipasi langkah selanjutnya yang akan kita ambil dalam meminimalisir risiko yang akan terjadi.

    Yang perlu diingat !
    Dengan tidak berinvestasi ada risiko yang lebih besar yang akan kita hadapi, yaitu risiko tidak terpenuhinya kebutuhan finansial di masa mendatang.

    Investasi seperti menanam pohon, membayangkan 20 tahun kemudian tidak hanya ada anak cucu yang bersenda gurau di bawah pohon besar yang kita tanam saat ini, tetapi kita pun ikut menikmati keteduhan pohon itu bersama mereka.

    Selamat berinvestasi!

    (Ditulis oleh Ayu Widuri, VP Director & Head of Marketing PT Samuel Aset Manajemen. Artikel juga dimuat di Harian Nasional, 10 November 2013, halaman A8)

  • Pilihan Investasi Saat Inflasi TinggiPilihan Investasi Saat Inflasi Tinggi

    ’Inflation is as violent as a mugger, as frightening as an armed robber and as deadly as hitman’ (Ronald Reagan)

    Berdasarkan anggapan umum, salah satu ukuran keberhasilan finansial yang kita capai adalah seberapa banyak kekayaan yang telah kita kumpulkan dan seberapa besar pertumbuhannya setiap tahun.

    Kita merasa gembira bila penghasilan kita hari ini lebih tinggi dari tahun kemarin, dan berharap aset-aset kita yang berupa tabungan, deposito, obligasi, reksa dana, saham, emas, property, benda koleksi dan lain-lainnya itu bisa naik setiap saat. Sebaliknya, kita akan merasa galau dan kecewa bila ternyata yang kita peroleh hari ini tidak sebanyak yang kita dapatkan di waktu-waktu sebelumnya.

    Seringkali kita lupa menghitung berapa sebenarnya kenaikan riel penghasilan dan aset-aset tersebut bila dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa. Bertambahnya gaji sebesar 10% dibanding tahun lalu tentu tidak akan mengejar kebutuhan hidup yang naik 18%, misalnya. Dan deposito di bank dengan bunga bersih 6% setelah pajak pun belum bisa menutup tingkat inflasi tahun ini yang diperkirakan akan mencapai 9% tahun ini.

    Tanpa disadari, inflasi ternyata menggerogoti daya beli dari uang dan nilai aset yang kita miliki. Dan bila tidak cermat menyiasatinya dalam jangka panjang, alih-alih tambah makmur, kualitas kehidupan finansial kita malah mengalami kemunduran. Meminjam ucapan Ronald Reagan yang dikutip di atas, inflasi itu mirip dengan perampok yang perlu diwaspadai. Bahkan, banyak pemerintahan di berbagai belahan dunia jatuh, karena kurang hati-hati mengendalikan inflasi yang menyengsarakan rakyatnya.

    Penyebab Inflasi
    Inflasi itu pada umumnya disebabkan oleh 3 (tiga) faktor yang utama. Pertama oleh apa yang populer disebut dengan pull of demand, yaitu bila meningkatnya permintaan atas suatu barang dan jasa lebih tinggi dari peningkatan persediannya. Peningkatan tersebut biasanya karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tingkat kemakmuran dan daya beli masyarakat yang bertambah, indeks keyakinan konsumen yang lebih baik, serta besaran belanja pembangunan pemerintah.

    Kedua, disebabkan oleh cost push, yaitu meningkatnya harga barang dan jasa karena naiknya biaya untuk pengadaannya. Ada banyak hal yang bisa mendorong biaya: Kenaikan upah dan kompensasi karyawan, kenaikan harga bahan baku dan barang modal. Pelemahan mata uang domestik yang membuat naiknya harga bahan baku impor atau harga barang lokal yang denominasinya dalam US$. Jaringan distribusi yang tersendat dan tidak efisien karena masalah struktural atau karena monopoli. Secara temporer, faktor-faktor alami seperti bencana, gagal panen dan perubahan musim juga bisa memicu kenaikan biaya.

    Ketiga, karena kebijakan pemerintah. Dicabutnya subsidi atas minyak atau komoditi lainnya, akan mendorong harga. Begitu pula kebijakan moneter yang melonggarkan likuiditas akan mendorong ekspansi usaha dan konsumsi masyarakat yang lebih tinggi serta berakibat inflasi.

    Mengendalikan Inflasi
    Inflasi yang terukur itu bagus buat pertumbuhan. Yang buruk adalah inflasi yang tidak terkendali dan di luar target. Buruk bagi masyarakat karena memangkas daya beli, jelek buat pemerintah karena secara politis tidak populer. Itulah sebabnya, perlu pengelolaan yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat inflasi.

    Dari sisi pemerintah dan otoritas keuangan, biasanya ada beberapa kebijakan yang dilakukan untuk mengendalikan inflasi. Sehubungan dengan peningkatan inflasi yang dipicu oleh dikuranginya subsidi BBM, pelemahan Rupiah karena kondisi makro ekonomi Indonesia dan global, BI telah menaikan tingkat bunga BI dari 6,5 menjadi 7,25 %. Dan ada potensi menaikannya lagi sampai akhir tahun nanti. Kebijakan ini, dibaca sebagai cara BI untuk meredam pelemahan dan fluktuasi rupiah.

    Rupiah yang stabil dan tidak fluktuatif, di berapapun level wajarnya, akan memudahkan para pelaku usaha, masyarakat, investor di sektor riel dan investor portofolio dalam mengukur risiko berusaha dan berinvestasi. Oleh karena itu, kebijakan BI tersebut untuk sementara ini direspons secara positif oleh pasar, terlihat dari rupiah yang menguat dari Rp, 11.900 menjadi Rp 11,200 per US$, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang rebound ke level 4.375 dan harga-harga obligasi yang berhenti turun pada akhir perdagangan tanggal 13 September 2013 kemarin.

    Harapannya adalah bahwa kebijakan jangka pendek ini nantinya disusul dengan kebijakan jangka menengah dan panjang yang lebih efektif, baik di sektor moneter, fiskal maupun sektor riel. Program yang bisa mengurangi ketergantungan impor dengan mendorong industri barang modal, manufaktur, barang konsumsi, dan produk agrikultur domestik. Efisiensi jaringan distribusi, percepatan perizinan, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta subsidi dan insentif yang lebih tepat sasaran. Kebijakan yang tidak mudah dan perlu waktu, yang dalam bahasa Michael Corleone di film The Godfather  ” It’s difficult, but not impossible!”

    Dari sisi investor portofolio, dalam jangka pendek naiknya tingkat bunga sebetulnya berakibat buruk untuk harga obligasi dan saham-saham yang sensitif terhadap tingkat bunga seperti sektor finansial dan properti. Sehingga investor perlu menghitung lagi prediksi pertumbuhan ekonomi dan perkiraan imbal hasil setiap jenis investasi. Serta mengocok ulang alokasi asetnya untuk menanggulangi naiknya inflasi

    Alokasi Investasi
    Seperti pernah dibahas sebelumnya, tujuan berinvestasi adalah untuk mengamankan nilai aset yang telah dimiliki sekarang (wealth preservation) dan meningkatkannya (wealth accumulation). Beberapa jenis aset yang bisa digunakan sebagai aset dasar berinvestasi terdiri atas aset riel dan aset finansial. Produk perbankan, pasar modal dan produk asuransi. Properti, logam mulia, hak usaha, benda koleksi dan lain-lain.

    Setiap jenis aset memiliki karakteristik produk, risiko, potensi imbal hasil, dan jangka waktu berinvestasi idealnya masing-masing.

    Dari data empiris disimpulkan bahwa racikan alokasi aset adalah faktor utama dalam memperoleh berapa besar-kecilnya imbal hasil yang dicapai. Kuncinya adalah bagaimana meramu besaran investasi pada masing-masing jenis aset tersebut, disesuaikan dengan tujuan investasinya, krakteristik risiko, potensi imbal hasil (return) dan jangka waktu berinvestasinya. Dan yang paling penting, portofolio tersebut harus memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari inflasi!

    Pertanyaannya, berapa sebetulnya tingkat inflasi di Indonesia? dan jenis investasi apa yang bisa mengalahkan inflasi?. Data dari Biro Pusat Statistik menunjukan bahwa rata-rata majemuk inflasi kita sepanjang 10 tahun terakhir adalah sebesar 7,4% per tahun, sementara dalam 5 tahun terakhir sebesar 5,4% per tahun.

    DataKenaikanBBM

    Menggunakan data inflasi tersebut, kita bisa mempertimbangkan pilihan aset investasi berikut ini:

    Kas/Tabungan. Hanya cocok untuk keperluan likuiditas jangka pendek, karena bunganya rendah. Dalam jangka panjang lebih rendah dari inflasi

    Deposito. Untuk tujuan jangka pendek, meskipun imbal hasilnya lebih tinggi dari tabungan. Dalam kondisi arah bunga cenderung naik, ambil periode pendek, 1 – 3 bulan. Pada saat diperbaharui (roll-over) berpotensi memperoleh bunga yang lebih tinggi. Tetapi apabila arah tingkat bunga bank cenderung turun, pilih yang bertenor panjang.

    Emas. Dalam 5 tahun terakhir mengalami kenaikan sebesar 18% per tahun. Dapat dipilih untuk memberikan lindung-nilai (hedging) terhadap inflasi. Dari sisi risiko, karena bersifat fisik, kepemilikannya atas unjuk (bukan atas nama) dan dalam jumlah besar membutuhkan tempat penyimpanan.

    Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan berpotensi melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 10 % per tahun. Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dijual dengan satuan terkecil Rp 5 juta, meskipun perbankan hanya menjualnya dengan minimal Rp 50 juta.
    Obligasi korporasi dan yang non-ritel, investasi minimal Rp 1 Milyar.

    Reksa Dana Obligasi. Cocok untuk jangka menengah, dan bisa melampaui inflasi. Imbal hasil rata-rata selama 5 tahun terakhir sekitar 12 % per tahun. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Campuran. Untuk jangka menengah – panjang. Cocok untuk tipe investor moderat. Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 15%, di atas inflasi. Ideal untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi

    Reksa Dana Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata 5 tahun terakhir sekitar 28%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Terjangkau, dengan nilai investasi awal Rp 250 ribu saja. Likuid, bisa dijual dan dibeli kapan saja. Dikelola oleh Manager Investasi.

    Saham. Untuk jangka panjang. Cocok untuk tipe investor agresif dan yang sedang mengakumulasi aset . Imbal hasil rata-rata IHSG 5 tahun terakhir sekitar 26%, jauh di atas inflasi. Sangat disarankan untuk pembiayaan dan tujuan investasi jangka panjang. Minimal investasi antara Rp 10 – Rp 50 juta, tergantung pialang sahamnya. Dikelola oleh investor sendiri.

    Properti. Untuk tujuan investasi jangka menengah panjang. Sebagai salah satu bentuk lindung nilai terhadap inflasi, karena imbal hasilnya lebih tinggi, tergantung lokasi. Investasi awalnya lebih tinggi, pertimbangkan pula besaran biaya rutin pemeliharaan, PBB tahunan dan pajak jual belinya.

    Investasi dalam bentuk lainnya bisa saja dipilih, sepanjang kita memahami jenis asetnya, cara mengelola, bentuk risiko dan potensi imbal hasilnya. Perhatikan pula, bagaimana cara menjual jenis investasinya atau exit strategy dari jenis usaha tersebut. Jangan sampai mudah dibeli tetapi susah dijual.

    Selamat Berinvestasi!

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 15 September 2013.

  • Keep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar PanikKeep Calm and Invest Wisely – Berinvestasi Bijak Saat Pasar Panik

    ’Look at market fluctuations as your friend rather than your enemy; profit from folly rather that participate in it’ (Warren Buffet).

    Sejak awal Juni tahun ini, pasar keuangan Emerging Markets kembali mengalami guncangan hebat, ditandai dengan melemahnya nilai tukar, terkoreksinya indeks saham dan turunnya harga pasar obligasi di negara-negara tersebut.

    IHSG sempat menyentuh angka tertingginya di level 5,251 sebelum terkoreksi kembali menjadi 4,072 pada akhir perdagangan minggu ini, dan mencatat penurunan 5% dari awal tahun. Begitu pula nilai mata uang rupiah sudah turun sebesar 15% dari awal tahun, sebagai akibat dari pelambatan pertumbuhan ekonomi, berkurangnya cadangan devisa dan melebarnya defisit neraca perdagangan kita

    Kondisi yang sama juga dialami oleh India, Brazil, Turki, Philipina, Thailand serta pasar emerging lainnya yang membuat para investor finansial menjadi galau.

    Sumber Kegalauan
    Apa yang terjadi sebetulnya masih merupakan efek lanjutan dari krisis pasar finansial yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008 dan Eropa tahun 2011 yang lalu. Seperti kita ketahui bersama, untuk mengatasi krisis, otoritas keuangan Amerika menggelontorkan bantuan likuiditas yang sangat besar ke pasar, yang penggunaannya tidak hanya di Wall Street saja – tetapi juga terasa merembes ke emerging markets yang memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi.

    Ketika indikator ekonomi Amerika menunjukan pembaikan meskipun belum sepenuhnya pulih, ada pernyataan dari Ben Bernake bahwa ada kemungkinan bahwa The Fed akan mengurangi bantuan likuiditas itu mulai akhir tahun ini. Sehingga dana-dana yang selama ini diinvestasikan di emerging market ditarik kembali ke Amerika. Sejak Juni 2013, tercatat ada penarikan dana obligasi sebesar US$ 20 Milyar ( setara dengan Rp 250 Trilyun) dan US$ 30 Milyar ( Rp 330 Trilyun) dari pasar saham di seluruh emerging markets, mengakibatkan koreksi tajam di pasar yang ditinggalkannya dan mendongkrak nilai tukar US $ terhadap seluruh mata uang dunia.

    Secara umum, saat ini para investor keuangan global memang masih menghadapi beberapa risiko yang dihadapi. Dari hasi survey disimpulkan bahwa urutan risiko yang saat ini menjadi kekhawatiran investor adalah :
    – Pelambatan pertumbuhan ekonomi China yang mengakibatkan penurunan harga-harga komoditas
    – Kelanjutan krisis ekonomi Eropa
    – Memanasnya kondisi geopolitik dunia, terutama di timur tengah
    – Kebijakan Abenomics pemerintah Jepang yang melemahkan Yen
    – Pengetatan kebijakan fiskal Amerika, dan
    – Meningkatnya tingkat inflasi

    Bagaimana Menyikapi Pasar ?
    Bagi para investor yang sudah lama mengikuti pasar finansial, naik dan turunnya indeks, boom and bust, dan bull and bear sudah dialami berkali-kali. Bahkan dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat darinya. Pada umumnya pasar digerakan oleh harapan dan ketakutan, oleh fear dan greed. Transaksi di pasar finansial dilakukan oleh para pembeli yang berharap bahwa keadaan akan lebih baik pada esok hari dengan para penjual yang takut bahwa esok tidak akan sebaik hari ini. Transaksi antara investor yang berharap untung dengan investor yang takut rugi.

    Pada saat harapan lebih tinggi dari ketakutan, pasar naik. Saat ketakutan lebih mendominasi harapan, pasar turun. Pada kedua situasi tersebut, seringkali ada euforia dan kepanikan yang berlebihan, sehingga dikenal istilah overbought (harga pasarnya lebih tinggi nari nilai sebenarnya) dan oversold (harga pasar lebih rendah dari nilai wajarnya).

    Sebagian besar lembaga investasi profesional yang menggunakan metode value investing, di dalam proses pengambilan keputusan investasinya, biasanya mengandalkan ukuran nilai wajar dan nilai sebenarnya (intrinsic value) dari sebuah instrumen investasi. Bila dari analisisnya disimpulkan bahwa harga pasarnya sudah lebih rendah dari nilai wajarnya maka diputuskan untuk membeli, begitu pula bila sudah lebih tinggi, akan dijual. Sehingga investor fundamental berpengalaman seperti ini tindakannya berbeda dengan pasar.

    Sehubungan dengan koreksi yang terjadi dengan pasar modal kita, valuasi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) saat ini sebetulnya sudah pada level nilai rata-ratanya selama 10 tahun terakhir, yaitu pada PER (Price Earning Ratio) sebesar 13 Kali, seperti tergambar pada grafik yang bersumber dari Bloomberg ini:

    Indeks

    Biasanya, IHSG diperdagangkan pada PER 15 – 16 X, sehingga bagi investor yang menganggap nilai 13 X adalah sudah murah, maka akan mulai melakukan pembelian. Apalagi bila jangka waktu berinvestasinya panjang, kondidi koreksi seperti ini merupakan saat terbaik untuk mengakumulasi saham-saham terbaik dari sektor-sektor usaha terbaik.

    Dari data historis sejak 1997, dapat dilihat bahwa dalam jangka menengah – panjang, investor yang melakukan pembelian pada saat terjadi krisis atau koreksi pasar adalah investor yang membukukan potensi keuntungan yang paling tinggi. Grafik IHSG di bawah ini menunjukan krisis yang terjadi pada tahun 1997/1998, tahun 2005 dan tahun 2008. Bila dilihat dari kacamata hari ini, maka krisis-krisis tersebut hanya merupakan koreksi kecil saja.

    Dari analisis yang pernah kami lakukan, jangka waktu minimal berinvestasi saham di Indonesia adalah 3 (tiga) tahun, dan semakin panjang semakin baik. Jadi bila kita membeli saham atau reksa dana yang mengandung unsur saham di dalamnya (reksa dana campuran atau reksa dana saham) pada saat koreksi pasar seperti sekarang, dalam 3 tahun ke depan berpotensi memperoleh keuntungan yang lebih tinggi.

    Begitupula yang terjadi dengan jenis investasi di obligasi, dari data historis disimpulkan bahwa saat terbaik membelinya adalah pada saat tingkat inflasi tinggi seperti sekarang:

    Indeks2

    Pada saat inflasi mulai menurun, biasanya harga obligasi mulai menguat kembali, sehingga mereka yang membeli hari ini berpotensi membukukan imbal hasil yang lebih optimal

    Kesimpulan dan Rekomendasi
    Menyikapi perkembangan ekonomi dan pasar modal Indonesia, kami menyimpulkan bahwa meskipun dalam jangka pendek menghadapi risiko fluktuasi, dalam jangka menengah panjang masih tetap bullish karena ekonomi kita teta digerakan oleh demografi yang kuat dan produktif; konsumsi rumah tangga, korporasi dan belanja pemerintah; sistem perbankan yang sehat; sistem poitik yang dinamis yang ramah pasar, pro pertumbuhan dan pro penciptaan lapangan pekerjaan.

    Bagi investor saham, pilihan terbaik masih pada sektor usaha yang berbasis domestik dan berhubungan erat dengan demografi seperti sektor konsumsi, transportasi, perbankan, telekomunikasi, industri kesehatan, dan infrastruktur. Pilih perusahaan yang memiliki kualitas produk dan jasa yang unggul, memiliki kualitas manajemen dan tata kelola perusahaan yang baik dan teruji serta perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat.

    Bagi investor jangka pendek atau mereka yang tidak menyukai risiko tinggi, sebaiknya memilihinstrumen investasi dalam bentuk pasar uang, obligasi dengan tenor pendek, atau produk reksa dana berbasis pasar uang dan obligasi.

    Tetap tenang dan selamat berinvestasi secara bijak !

     

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional, 8 September 2013.

  • Reksa Dana Sebagai Pilihan InvestasiReksa Dana Sebagai Pilihan Investasi

    Masyarakat kita mulai terbiasa menyisihkan sebagian dari penghasilannya dan disimpan untuk digunakan di masa yang akan datang.

    Sayangnya, seringkali pertumbuhan simpanan kita tersebut tidak bisa mengimbangi kenaikan harga-harga barang dan jasa. Sehingga kita perlu mengelola keuangan secara lebih cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita di masa depan.

    Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan pembiayaan jangka panjang seperti pendidikan anak, pembelian aset, dana untuk rekreasi dan hobi, perjalanan religi, aktivitas sosial, dana pensiun serta untuk mengantisipasi kebutuhan lainnya di masa depan, diperlukan produk keuangan yang imbal hasilnya bisa mengalahkan inflasi.

    Salah satu bentuk investasi yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi pilihan adalah reksa dana (mutual fund)

    Reksa Dana
    Reksa Dana merupakan sebuah wadah investasi kolektif dari masyarakat yang dikelola oleh Perusahaan Manajer Investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK – dahulu Bapepam).

    Ciri Khas Reksa Dana
    Sebagai produk publik yang ditujukan bagi investor perorangan dan investor institusi, Reksa Dana memiliki karakteristik sbb:

    1. Kepemilikannya atas nama nasabah dan dicatat di Bank Kustodian.
    Pada saat penjualan kembali, dananya hanya akan ditransfer ke nama nasabah yang terdaftar, tidak bisa ke nama lain. Sehingga keamanannya dilindungi Undang-Undang.
    2. Nilai Investasi Awal Yang Terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja.
    3. Keragaman Pilihan Jenis Portofolio.
    4. Potensi Imbal Hasil Jangka Panjang yang Optimal.
    5. Likuid, mudah dibeli dan dijual kapan saja.
    6. Dikelola oleh para profesional yang memiliki izin resmi.

    Dilihat dari isi portofolionya, ada 4 jenis reksa dana yang utama, yaitu:
    1. Reksa Dana Pasar Uang
    Dana yang dikelolanya diinvestasikan di instrumen pasar uang seperti deposito, pasar uang antar bank dan obligasi yang hampir jatuh tempo.
    2. Reksa Dana Obligasi. Berinvestasi di efek surat utang (obligasi) pemerintah maupun korporasi.
    3. Reksa Dana Campuran. Berinvestasi pada efek saham dan obligasi.
    4. Reksa Dana Saham. Reksa dana yang mayoritas portofolionya dalam efek saham.

    Dengan ciri khas seperti itu maka produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan masing-masing investor.

    Setiap jenis reksa dana memiliki potensi imbal hasil berdasarkan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya relatif pendek, lebih baik memilih jenis reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap.

    Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi portofolio pada efek saham dan obligasinya akan diatur oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    Berapa Imbal Hasil Reksa Dana ?

    Sebagai produk investasi, reksa dana mengandung unsur risiko yang lebih tinggi dibanding produk perbankan. Karenanya juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi keuangan dunia. Tapi secara historis, pada saat terjadi koreksi pasar finansial seperti sekarang ini, biasanya malah saat yang terbaik untuk membeli atau menambah reksa dana.

    Diagram batang di bawah ini menunjukan tingkat bunga, imbal hasil berbagai jenis reksa dana, dan IHSG sepanjang tahun 2012 yang lalu. Sementara tabel di bawahnya merupakan rerata imbal hasil antara tahun 2007 – 2012, dan antara 2009 – 2012.

    ImbalHasilReksaDana

    Dari tabel terlihat bahwa pada periode 2007 – 2012, meskipun sempat terkoreksi pada tahun 2008 akibat krisis keuangan global, rerata imbal hasilnya masih menarik.
    Sementara rerata imbal hasil pasca krisis, pada periode 2009 – 2012, malah menunjukan angka yang sangat tinggi per tahunnya. Sehingga terbukti bahwa investor yang membeli dan menambah produk investasi pada saat koreksi, berpotensi membukukan keuntungan yang lebih tinggi.

    Bagaimana Memilih Reksadana?

    Setelah kita memahami potensi keuntungan dan potensi risikonya, dengan hampir 900 produk reksa dana yang ada saat ini, bagaimana memilihnya?

    Memilih menjadi suatu pekerjaan yang sulit jika Anda tidak mengetahui caranya bukan? Apalagi jika ini adalah investasi pertama kali bagi Anda.

    Sebagai Langkah Awal, Kenali tujuan investasi Anda
    Akan digunakan sebagai apa dana hasil investasi tersebut? Apakah untuk melindungi dan mempertahankan kekayaan (Wealth Protection) ataukah untuk mengumpulkan kekayaan (Wealth Accummulation). Apakah Anda ingin membeli rumah dan aset lainnya, atau ingin membiayai kuliah anak Anda? Ataukah Anda memiliki rencana lain di kemudian hari, sehingga Anda berinvestasi? Berapa lama Anda berencana berinvestasi?

    Dengan mengenali tujuan investasi, maka dapat diketahui profil resiko & investasi dari Anda sendiri, yang selanjutnya menjadi dasar mempermudah mencari reksa dana yang cocok.

    1. Kenali profil resiko dan investasi Anda
    Dengan bantuan kuesioner untuk mengumpulkan beberapa informasi mengenai Anda, dapat diperkirakan tipe calon investor seperti apakah Anda. Kuesioner ini akan sangat membantu Anda sebagai panduan nantinya memilih reksa dana yang sesuai. (lihat box questioner). Misal, dapat disimpulkan beberapa hal seperti batas investasi sesuai dengan kemampuan dan profil Anda. Apabila tujuan investasi Anda adalah jangka panjang, seperti mempersiapkan biaya anak kuliah atau kebutuhan pensiun, maka reksadana yang tepat untuk anda adalah reksadana jenis pertumbuhan dan pendapatan.

    2. Saring reksa dana yang sesuai dengan profil risiko & investasi Anda
    Dengan panduan profil resiko dan investasi tersebut, Anda dapat melakukan penyaringan jenis reksa dana apa yang sesuai dengan jangka waktu investasi yang Anda inginkan.

    3. Seperti halnya produk lain (misal komputer,kulkas), Anda bisa mendapatkan katalog yang menjelaskan tentang produk tersebut. Melalui Manajer Investasi (MI) atau agen penjual, mintalah prospektus produk reksadana yang tersaring oleh Anda dan pelajari terutama kebijakan dan resiko investasi.

    4. Pelajari Kinerja masa lalu reksa dana melalui imbal hasil historis reksa dana, prestasi masa lalu relatif terhadap reksa dana sejenis dan pasar secara keseluruhan (indeks). Beberapa hal penting yang perlu dipelajari pada isi kinerja : garis besar komposisi/alokasi portofolio, imbal hasil, dan strategi investasi manajer investasi ke depan.

    5. Kenali Manajer Investasi
    Pilihlah Manajer Investasi yang memiliki reputasi baik. Tentunya Anda menginginkan MI Anda memiliki beberapa kualitas seperti :
    Integritas, dimana jujur dan keterbukaan informasi dalam melaporkan perkembangan investasi Anda merupakan kunci.
    Pengalaman, jika investasi Anda dalam suatu reksadana dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka manajemen dan sistem yang baik dan terujilah yang akan menjadi pilihan. Hal ini dapat dipelajari dari berapa lama dan kinerja MI tersebut menjalankan bisnis reksadana.

    6. Terakhir, setelah Anda menentukan reksadana mana yang Anda pilih, sebelum Anda melakukan investasi, pelajari tata cara investasi pada reksadana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada.

    Setelah Anda berinvestasi, jangan lupa untuk terus memantau kinerja dari reksadana Anda melalui laporan yang biasanya dikirimkan oleh Manajer Investasi Anda secara rutin. Ada kalanya Anda harus beralih ke reksadana lain, sekiranya kebijakan, strategi maupun kinerja investasinya tidak sesuai lagi dengan tujuan investasi Anda.

    Untuk Anda yang memiliki keterbatasan waktu melakukan pemilihan investasi yang tepat, bantuan financial advisor yang dapat ditemui salah satunya melalui Wealth Management Bank, dapat membantu mengatur keuangan Anda, memilih investasi yang tepat, dan menganalisa kinerja produk maupun MI.

    Semoga panduan berinvestasi ini bisa membantu Anda menuju kemakmuran secara finansial.
    Selamat Berinvestasi!

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional 1 September 2013Masyarakat kita mulai terbiasa menyisihkan sebagian dari penghasilannya dan disimpan untuk digunakan di masa yang akan datang.

    Sayangnya, seringkali pertumbuhan simpanan kita tersebut tidak bisa mengimbangi kenaikan harga-harga barang dan jasa. Sehingga kita perlu mengelola keuangan secara lebih cermat untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan kita di masa depan.

    Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan pembiayaan jangka panjang seperti pendidikan anak, pembelian aset, dana untuk rekreasi dan hobi, perjalanan religi, aktivitas sosial, dana pensiun serta untuk mengantisipasi kebutuhan lainnya di masa depan, diperlukan produk keuangan yang imbal hasilnya bisa mengalahkan inflasi.

    Salah satu bentuk investasi yang perlu dipertimbangkan untuk menjadi pilihan adalah reksa dana (mutual fund)

    Reksa Dana
    Reksa Dana merupakan sebuah wadah investasi kolektif dari masyarakat yang dikelola oleh Perusahaan Manajer Investasi resmi yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK – dahulu Bapepam).

    Ciri Khas Reksa Dana
    Sebagai produk publik yang ditujukan bagi investor perorangan dan investor institusi, Reksa Dana memiliki karakteristik sbb:

    1. Kepemilikannya atas nama nasabah dan dicatat di Bank Kustodian.
    Pada saat penjualan kembali, dananya hanya akan ditransfer ke nama nasabah yang terdaftar, tidak bisa ke nama lain. Sehingga keamanannya dilindungi Undang-Undang.
    2. Nilai Investasi Awal Yang Terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja.
    3. Keragaman Pilihan Jenis Portofolio.
    4. Potensi Imbal Hasil Jangka Panjang yang Optimal.
    5. Likuid, mudah dibeli dan dijual kapan saja.
    6. Dikelola oleh para profesional yang memiliki izin resmi.

    Dilihat dari isi portofolionya, ada 4 jenis reksa dana yang utama, yaitu:
    1. Reksa Dana Pasar Uang
    Dana yang dikelolanya diinvestasikan di instrumen pasar uang seperti deposito, pasar uang antar bank dan obligasi yang hampir jatuh tempo.
    2. Reksa Dana Obligasi. Berinvestasi di efek surat utang (obligasi) pemerintah maupun korporasi.
    3. Reksa Dana Campuran. Berinvestasi pada efek saham dan obligasi.
    4. Reksa Dana Saham. Reksa dana yang mayoritas portofolionya dalam efek saham.

    Dengan ciri khas seperti itu maka produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam yang sesuai dengan tujuan masing-masing investor.

    Setiap jenis reksa dana memiliki potensi imbal hasil berdasarkan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya relatif pendek, lebih baik memilih jenis reksa dana pasar uang atau reksa dana pendapatan tetap.

    Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi portofolio pada efek saham dan obligasinya akan diatur oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    Berapa Imbal Hasil Reksa Dana ?

    Sebagai produk investasi, reksa dana mengandung unsur risiko yang lebih tinggi dibanding produk perbankan. Karenanya juga dipengaruhi oleh perkembangan situasi keuangan dunia. Tapi secara historis, pada saat terjadi koreksi pasar finansial seperti sekarang ini, biasanya malah saat yang terbaik untuk membeli atau menambah reksa dana.

    Diagram batang di bawah ini menunjukan tingkat bunga, imbal hasil berbagai jenis reksa dana, dan IHSG sepanjang tahun 2012 yang lalu. Sementara tabel di bawahnya merupakan rerata imbal hasil antara tahun 2007 – 2012, dan antara 2009 – 2012.

     

    ImbalHasilReksaDana

    Dari tabel terlihat bahwa pada periode 2007 – 2012, meskipun sempat terkoreksi pada tahun 2008 akibat krisis keuangan global, rerata imbal hasilnya masih menarik.
    Sementara rerata imbal hasil pasca krisis, pada periode 2009 – 2012, malah menunjukan angka yang sangat tinggi per tahunnya. Sehingga terbukti bahwa investor yang membeli dan menambah produk investasi pada saat koreksi, berpotensi membukukan keuntungan yang lebih tinggi.

    Bagaimana Memilih Reksadana?

    Setelah kita memahami potensi keuntungan dan potensi risikonya, dengan hampir 900 produk reksa dana yang ada saat ini, bagaimana memilihnya?

    Memilih menjadi suatu pekerjaan yang sulit jika Anda tidak mengetahui caranya bukan? Apalagi jika ini adalah investasi pertama kali bagi Anda.

    Sebagai Langkah Awal, Kenali tujuan investasi Anda
    Akan digunakan sebagai apa dana hasil investasi tersebut? Apakah untuk melindungi dan mempertahankan kekayaan (Wealth Protection) ataukah untuk mengumpulkan kekayaan (Wealth Accummulation). Apakah Anda ingin membeli rumah dan aset lainnya, atau ingin membiayai kuliah anak Anda? Ataukah Anda memiliki rencana lain di kemudian hari, sehingga Anda berinvestasi? Berapa lama Anda berencana berinvestasi?

    Dengan mengenali tujuan investasi, maka dapat diketahui profil resiko & investasi dari Anda sendiri, yang selanjutnya menjadi dasar mempermudah mencari reksa dana yang cocok.

    1. Kenali profil resiko dan investasi Anda
    Dengan bantuan kuesioner untuk mengumpulkan beberapa informasi mengenai Anda, dapat diperkirakan tipe calon investor seperti apakah Anda. Kuesioner ini akan sangat membantu Anda sebagai panduan nantinya memilih reksa dana yang sesuai. (lihat box questioner). Misal, dapat disimpulkan beberapa hal seperti batas investasi sesuai dengan kemampuan dan profil Anda. Apabila tujuan investasi Anda adalah jangka panjang, seperti mempersiapkan biaya anak kuliah atau kebutuhan pensiun, maka reksadana yang tepat untuk anda adalah reksadana jenis pertumbuhan dan pendapatan.

    2. Saring reksa dana yang sesuai dengan profil risiko & investasi Anda
    Dengan panduan profil resiko dan investasi tersebut, Anda dapat melakukan penyaringan jenis reksa dana apa yang sesuai dengan jangka waktu investasi yang Anda inginkan.

    3. Seperti halnya produk lain (misal komputer,kulkas), Anda bisa mendapatkan katalog yang menjelaskan tentang produk tersebut. Melalui Manajer Investasi (MI) atau agen penjual, mintalah prospektus produk reksadana yang tersaring oleh Anda dan pelajari terutama kebijakan dan resiko investasi.

    4. Pelajari Kinerja masa lalu reksa dana melalui imbal hasil historis reksa dana, prestasi masa lalu relatif terhadap reksa dana sejenis dan pasar secara keseluruhan (indeks). Beberapa hal penting yang perlu dipelajari pada isi kinerja : garis besar komposisi/alokasi portofolio, imbal hasil, dan strategi investasi manajer investasi ke depan.

    5. Kenali Manajer Investasi
    Pilihlah Manajer Investasi yang memiliki reputasi baik. Tentunya Anda menginginkan MI Anda memiliki beberapa kualitas seperti :
    Integritas, dimana jujur dan keterbukaan informasi dalam melaporkan perkembangan investasi Anda merupakan kunci.
    Pengalaman, jika investasi Anda dalam suatu reksadana dalam kurun waktu yang cukup panjang, maka manajemen dan sistem yang baik dan terujilah yang akan menjadi pilihan. Hal ini dapat dipelajari dari berapa lama dan kinerja MI tersebut menjalankan bisnis reksadana.

    6. Terakhir, setelah Anda menentukan reksadana mana yang Anda pilih, sebelum Anda melakukan investasi, pelajari tata cara investasi pada reksadana tersebut, termasuk biaya-biaya transaksinya bila ada.

    Setelah Anda berinvestasi, jangan lupa untuk terus memantau kinerja dari reksadana Anda melalui laporan yang biasanya dikirimkan oleh Manajer Investasi Anda secara rutin. Ada kalanya Anda harus beralih ke reksadana lain, sekiranya kebijakan, strategi maupun kinerja investasinya tidak sesuai lagi dengan tujuan investasi Anda.

    Untuk Anda yang memiliki keterbatasan waktu melakukan pemilihan investasi yang tepat, bantuan financial advisor yang dapat ditemui salah satunya melalui Wealth Management Bank, dapat membantu mengatur keuangan Anda, memilih investasi yang tepat, dan menganalisa kinerja produk maupun MI.

    Semoga panduan berinvestasi ini bisa membantu Anda menuju kemakmuran secara finansial.
    Selamat Berinvestasi!

    ***

    Ditulis oleh Agus Yanuar, Presdir PT Samuel Aset Manajemen
    Artikel dimuat di Harian Nasional 1 September 2013

  • Reksa Dana SAM Sebagai Investasi Untuk Dana PendidikanReksa Dana SAM Sebagai Investasi Untuk Dana Pendidikan

    Warisan paling bernilai yang dapat kita berikan kepada buah hati kita adalah ilmu pengetahuan. Baik yang diperoleh melalui pendidikan formal, maupun aneka keterampilan hidup yang didapat dari pengalaman dan berbagai kegiatan lainnya.

    Sayangnya, biaya pendidikan yang berkualitas terbilang cukup tinggi, dengan peningkatan sekitar 10%-20% setiap tahunnya. Sehingga kita perlu persiapan lebih cermat untuk memastikan terselenggaranya pendidikan terbaik bagi putera-puteri kita.

    Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen (SAM) Agus B. Yanuar mengatakan, salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah mencari produk yang imbal hasilnya bisa mengalahkan peningkatan inflasi biaya pendidikan sehingga dana untuk pendidikan anak tetap bisa disediakan dengan sebaik mungkin.

    “Untuk mengamankan dana yang akan dipakai beberapa bulan ke depan, produk perbankan dengan penjaminan merupakan instrumen yang sesuai. Tetapi untuk persiapan biaya pendidikan jangka panjang, reksa dana adalah produk yang tepat, karena imbal hasil jangka panjangnya lebih optimal dan lebih tinggi dari tingkat inflasi,” ujarnya.

    Produk reksa dana senantiasa menawarkan solusi dan pilihan beragam bagi investor. Ada reksa dana pendapatan tetap, campuran dan saham. Baik yang konvensional maupun yang bersifat syariah. Dengan investasi awal yang terjangkau, dimulai dengan Rp 250 ribu saja, dapat dilakukan lebih dini dan secara berkala.

    Masing-masing reksa dana menawarkan potensi imbal hasil sesuai dengan profil dan karakteristik produk tersebut. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya diikuti pula dengan potensi risikonya. Kuncinya adalah bagaimana kita memilih produk yang sesuai dengan karakter risiko, tujuan investasi dan jangka waktu berinvestasinya.

    Menurut Agus, investor yang ingin produk dengan risiko relatif rendah atau jangka waktu berinvestasinya di bawah tiga tahun, lebih baik memilih reksa dana pendapatan tetap.

    Untuk jangka waktu berinvestasi lebih panjang, dapat memilih reksa dana campuran atau reksa dana saham, tergantung profil risiko masing-masing. Bagi investor yang ingin menikmati potensi pertumbuhan saham, dan pada saat yang sama ingin meredam risiko penurunannya di tengah pasar yang fluktuatif, bisa memilih reksa dana campuran yang alokasi investasi pada efek saham dan obligasinya akan disesuaikan oleh Manajer Investasi sesuai dengan kondisi pasar.

    Sementara bagi yang ingin menikmati pertumbuhan investasinya secara optimal dalam jangka panjang, maka reksa dana saham adalah pilihan yang paling tepat.

    “Saat ini SAM memiliki produk terbaik yang dapat digunakan untuk menyiapkan dana pendidikan buah hati. Kami mengelola reksa dana pendapatan tetap SAM Sukuk Syariah Sejahtera, reksa dana campuran SAM Dana Berkembang dan SAM Syariah Berimbang, serta reksa dana saham SAM Indonesian Equity Fund dan SAM Sharia Equity Fund,” tambah Agus.

    Kinerja produk SAM termasuk yang terbaik di kelasnya masih-masing dan menjadi unggulan lembaga pemeringkat reksa dana serta menjadi pilihan cerdas para investor berpengalaman.

    “Kinerja tersebut merupakan hasil dari keahlian meracik strategi investasi yang tepat, pengalaman, serta semangat untuk selalu memberikan yang terbaik kepada nasabah..

    Bagi kami, mengelola investasi itu seperti membesarkan buah hati sendiri, harus amanah dan sepenuh hati dalam memberikan yang terbaik untuk pertumbuhannya.

    Seperti Anda, kami juga percaya pendidikan adalah hal yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang handal. Dan seperti kata peribahasa, jika ingin makmur setahun, tanamlah padi-padian. Jika ingin makmur sepuluh tahun, tanamlah kayu-kayuan. Tetapi jika ingin sejahtera seratus tahun, tumbuh-kembangkanlah sumber daya manusia,” tegas Agus.

    Print Ad SAM - Seri Pendidikan - Kontan 1#2