Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 3 bulan terakhir.
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
PHI dengan nilai minimal Rp1.000.000 (satu juta rupiah) dibagikan ke nasabah secara tunai dan PHI yang lebih rendah dari nilai tersebut dibagikan dalam bentuk tambahan Unit Penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 30 September 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 Oktober 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga NAV per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.*
Perkiraan PHI yang dibagikan adalah sekitar Rp695.000.000,- (enam ratus sembilan puluh lima juta rupiah) untuk seluruh Pemegang Unit Penyertaan SAM Sukuk Syariah Sejahtera.*
*) sebagai ilustrasi bila nilai total PHI sebagaimana disebutkan di atas dibagikan dengan menggunakan informasi NAB SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA tanggal 28 September 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan mendekati 1,45% NAB SAM SUKUK SYARIAH SEJAHTERA atau sekitar Rp35,2 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 30 September 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 1 Oktober 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2026
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp275.000.000 (dua ratus tujuh puluh lima juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 28 September 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,45% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,6 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama 3 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas S
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan kepada Pemegang Unit Penyertaan kelas S sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp5.000.000.000 (lima miliar rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas S dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan Cum Date PHI pada tanggal: 30 September 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal: 1 Oktober 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Oktober 2026.
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas S adalah sekitar Rp400.000.000,- (empat ratus juta Rupiah).*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas S per 28 September 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 1,4 % NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas S atau Rp14,6 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 11%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Malaysia (FTSE KLCI) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Filipina (PSEi) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Denmark (OMX Copenhagen), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Energi, dan Bahan Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Barang Konsumen Primer relatif tertinggal.
Sepanjang Agustus 2026 pasar saham global menguat, ditopang pemulihan sektor semikonduktor yang mengangkat indeks saham Taiwan dan Korea Selatan, dengan sektor Bahan Baku, Energi, dan Teknologi memimpin kinerja bulanan. Memasuki September 2026, pergerakan pasar cenderung bervariasi seiring kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% serta naiknya imbal hasil obligasi Pemerintah AS.
UlasanMakro Ekonomi Indonesia
Inflasimasihdalam tren kenaikan
Inflasi Indonesia di bulan Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Pada periode yang sama, inflasi inti Indonesia tercatat sebesar 2,92% secara tahunan atau 0,21% secara bulanan. Kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 4,06%. Sementara inflasi komponen bergejolak berada di level 4,06% secara tahunan.
Dalam 5 bulan terakhir Inflasi inti mengalami kenaikan dari level 2,44% di bulan April 2026 ke level 2,92% di bulan Agustus 2026. Begitupun dengan pertumbuhan kredit yang juga dalam tren kenaikan dari bulan Februari 2026 sebesar 8,91% menjadi 13% di bulan Juli 2026. Adapun jumlah uang beredar (M2) mengalami penurunan pertumbuhan dari 8,72% di bulan Juni menjadi 8,32% di bulan Juli.
Suku bunga riil Bank Indonesia (suku bunga dikurangi Inflasi) menurun di bulan Agustus 2026 seiring naiknya Inflasi tanpa disertai kenaikan suku bunga acuan. Sejak awal tahun, Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin dan membuat suku bunga riilnya naik sejak bulan Maret hingga Juli 2026.
TemaInvestasiKhusus:KesinambunganFiskal
Disiplin defisit menjadi penentu biaya utang
Pergantian Menteri Keuangan pada pertengahan September menempatkan kesinambungan kebijakan sebagai titik awal. Suahasil Nazara datang dari dalam Kementerian Keuangan, dengan pengalaman sebagai Wakil Menteri Keuangan dan pimpinan Badan Kebijakan Fiskal. Rekam pergantian sebelumnya menunjukkan pasar menilai kredibilitas penggantinya.
Ujian pertama berada di sisi pembiayaan. RAPBN 2027 dirancang dengan defisit 2,40% PDB dan penerbitan SBN neto sekitar Rp779,9 triliun, sementara yield SBN 10 tahun tercatat 7,04% per 1 September 2026 setelah naik sepanjang Agustus. Perdebatan transfer dana negara dan kontribusi Danantara belum selesai dan ikut menentukan beban yang jatuh ke penerbitan SBN. Pelebaran spread terhadap US Treasury 10 tahun menjadi penanda paling awal kenaikan premi risiko fiskal.
Tekanan terbesar pada sisi belanja datang dari subsidi energi, yang tahun ini dialokasikan Rp210,1 triliun atau sekitar dua pertiga total subsidi. Kebijakan menahan harga BBM bersubsidi menopang daya beli dan inflasi, namun bebannya tetap harus ditutup. Efisiensi belanja dan penguatan penerimaan menjaga defisit tetap pada ambang batas aman.
Bantalannya berupa Saldo Anggaran Lebih Rp420 triliun di Bank Indonesia dan perbankan, sebagai pertahanan terakhir setelah efisiensi belanja dimaksimalkan. Cara pemakaiannya lebih menentukan daripada besarannya, karena penarikan terukur menjaga ruang APBN apabila ada tantangan di masa mendatang.
Konfirmasinya akan terlihat dari koordinasi fiskal dan moneter. Outlook defisit APBN 2026 di kisaran 2,9% PDB, di bawah batas 3%, sementara Bank Indonesia menjaga inflasi dan stabilitas rupiah. Minat asing pada SBN masih positif, dengan pembelian bersih sebesar Rp19,7 triliun dalam sebulan terakhir dan Rp37,0 triliun sepanjang tahun berjalan.
PT Samuel Aset Manajemen selaku Manajer Investasi REKSA DANA TERPROTEKSI SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 (“Manajer Investasi”) dengan ini mengumumkan rencana pembubaran REKSA DANA TERPROTEKSI SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 (”SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5”). Berkaitan dengan rencana tersebut di atas, dengan ini Manajer Investasi menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Manajer Investasi dan PT Bank CIMB Niaga Tbk selaku Bank Kustodian SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5, telah sepakat untuk melakukan pembubaran SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 sebagaimana termaktub dalam Kesepakatan Pembubaran REKSA DANA TERPROTEKSI SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 tertanggal 15 September 2026, yang antara lain menyatakan bahwa seluruh Efek bersifat utang yang menjadi basis nilai proteksi dalam portofolio investasi SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 telah jatuh tempo pada 15 Juli 2026 dan Manajer Investasi telah melakukan pelunasan dan telah menginstruksikan Bank Kustodian untuk melakukan pembayaran pelunasan atas seluruh Unit Penyertaan SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 yang telah diterbitkan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan dan Bank Kustodian telah melakukan pembayaran sesuai instruksi tersebut di atas, sehingga saat Kesepakatan Pembubaran SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 ditandatangani, sudah tidak ada Pemegang Unit Penyertaan yang tersisa dalam SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5.
2. Manajer Investasi telah memberitahukan rencana pembubaran SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5, kepada Otoritas Jasa Keuangan pada tanggal 17 September 2026.
3. Manajer Investasi telah menginstruksikan Bank Kustodian untuk menghentikan perhitungan Nilai Aktiva Bersih SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 sejak tanggal 16 Juli 2026.
4. Pembubaran dan dimulainya proses likuidasi akan dilakukan dengan ditandatanganinya akta pembubaran SAM SEJAHTERA TERPROTEKSI 5 di hadapan notaris.
Demikian pengumuman ini dibuat untuk dapat diketahui oleh publik.
Jakarta, 17 September 2026
PT Samuel Aset Manajemen Menara Imperium, Lantai Dasar, Jl. HR. Rasuna Said Kav 1 Jakarta 12980 Manajer Investasi berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 31 Agustus 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 1 September 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 September 2026
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp300.000.000 (tiga ratus juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 26 Agustus 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,50% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp5,1 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Download surat pemberitahuan PHI SOO-D Agustus 2026
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 10%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Swedia (OMX Stockholm). Sementara indeks saham Denmark (OMX Copenhagen), Hong Kong (Hang Seng), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Teknologi, dan Perindustrian cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Kesehatan relatif tertinggal.
Sepanjang Juli 2026 pasar saham global naik tipis di tengah eskalasi ketegangan geopolitik. Di sisi lain, musim pelaporan hasil kinerja keuangan emiten secara global turut mempengaruhi pergerakan pasar saham.
Sepanjang Triwulan II-2026 PDB Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya tetapi lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan di Triwullan II-2025. Pertumbuhan PDB didorong tingginya Konsumsi Pemerintah yang tumbuh 15,97% secara tahunan dan PMTDB yang tumbuh 6,87% secara tahunan.
Defisit APBN hingga bulan Juni 2026 tercatat sebesar -0,76% terhadap PDB. Realisasi defisit APBN cenderung melambat di sepanjang Triwulan II-2026 setelah di tiga bulan pertama tahun ini realisasi defisit APBN mencapai -0,93% terhadap PDB. Adapun trajektori realisasi defisit APBN tahun ini masih relatif lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun-tahun sebelumnya pasca pandemi.
Selama 3 bulan terakhir (April-Juni 2026) ekspor Indonesia tumbuh 7,6% secara tahunan, sedangkan impor di periode yang sama tumbuh 26,2% secara tahunan. Tingginya pertumbuhan impor membuat neraca dagang Indonesia defisit setelah 6 tahun berturut-turut surplus.
TemaInvestasiKhusus: AI Trade Under Test
Is AI reaching its limits?
Saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu topik utama pasar bulan ini. Indeks PHLX Semiconductor (SOX) sempat terkoreksi tajam -6,7% dalam dua sesi awal bulan Juli, namun berbalik arah dan melesat ke atas +60% secara tahun berjalan. Kondisi ini memicu keraguan baru atas keberlanjutan reli AI, dengan getarannya turut merembet hingga ke KOSPI Korea Selatan.
Pemicunya bersifat geopolitik: Tiongkok hanya menyetujui kurang dari separuh permintaan pembelian chip H200 Nvidia, mempertegas risiko pembatasan ekspor semikonduktor AS-China. Saham Nvidia sempat terkoreksi 16% dari rekor bulan Mei, meski tetap naik 12% secara tahun berjalan, didukung pendapatan kuartal kedua yang melonjak 85% secara tahunan menjadi rekor US$81,6 miliar.
Pendorong kedua bersifat struktural: rotasi investor menjauhi mega-cap AI menuju alternatif yang lebih murah. Broadcom turun hampir 20% dan Nvidia turun sebesar 12% pada bulan Juni, sementara AMD melesat 130% secara tahun berjalan dan Micron turut mengungguli Nvidia. Tema AI kini menyebar lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Kombinasi risiko geopolitik dan rotasi ini membuat reli AI 2026 terasa lebih rapuh. Valuasi Nvidia justru menyusut meski sahamnya naik: forward price-to-earnings turun ke kisaran 23x, jauh dari level di atas 30x tahun lalu, karena pertumbuhan laba mengungguli kenaikan harga saham. Bobotnya di S&P 500 kini mencapai 7,5%, melampaui gabungan sektor energi dan utilitas, sehingga pasar AI rentan terhadap sentimen jangka pendek.
Beberapa poin ini menjadi ujian baru bagi tema investasi AI setelah reli yang berlangsung tanpa jeda. Belanja hyperscaler tetap agresif, dengan Alphabet menaikkan proyeksi capex 2026 hingga US$205 miliar. Namun arah suku bunga The Fed yang masih hawkish dan risiko dagang AS-China akan menentukan arah tema ini ke depan. Laporan kuartalan Nvidia pada 26 Agustus akan menjadi ujian berikutnya bagi keberlanjutan reli ini.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 31 Juli 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 3 Agustus 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 4 Agustus 2026
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp275.000.000 (dua ratus tujuh puluh lima juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 28 Juli 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,47% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,7 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].
Pasar saham global mengalami penguatan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan kenaikan sebesar 11%. Indeks saham Korea Selatan (KOSPI) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Indonesia (IHSG) menjadi yang paling tertinggal.
Indeks saham negara-negara berkembang relatif tertinggal dibandingkan dengan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Thailand (SET), Brazil (BOVESPA), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Indonesia (IHSG), India (SENSEX), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.
Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil positif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif unggul adalah Korea Selatan (KOSPI), diikuti oleh Taiwan (TWSE), Jepang (Nikkei 225), dan Teknologi AS (NASDAQ). Sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng), Denmark (OMX Copenhagen), dan Jerman (DAX) tercatat tertinggal.
Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Teknologi, Perindustrian, dan Energi cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Barang Konsumen Non-Primer, Telekomunikasi, dan Barang Konsumen Primer relatif tertinggal.
Sepanjang Juni 2026, pasar saham global membukukan kinerja yang beragam. Hal ini ditandai divergensi dalam tema AI, di mana saham semikonduktor terus diuntungkan permintaan yang kuat sementara para hyperscaler yang mendanai belanja modal AI justru tertekan. Meredanya risiko geopolitik menjadi salah satu katalis yaitu telah tercapainya kesepakatan damai interim antara AS dan Iran. Di sisi, the Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Namun demikian proyeksi terbaru menunjukkan potensi arah suku bunga yang lebih tinggi.
Reli sektor teknologi dibayangi oleh dinamika kondisi geopolitik
Kerangka Kuadran Geopolitik SAM memetakan empat skenario konflik AS-Israel-Iran. Skenario baseline NACHO (stalemate berkepanjangan, 50–55%) tetap dominan. Konflik terukur tetap berlanjut meskipun kedua belah pihak telah sepakat menandatangani perjanjian damai.
Harga minyak mentah dunia mulai stabil dalam kisaran level US$70-80/barel setelah sempat menyentuh level US$120/barel akibat ketegangan geopolitik. Di sisi lain, harga-harga logam industri masih berada di kisaran level yang tinggi seiring dengan kuatnya permintaan terkait data center dan semikonduktor.
Citi Economic Surprise Index menunjukkan divergensi di mana hampir seluruh kawasan ekonomi berada di teritori positif kecuali Tiongkok. Namun demikian terlihat arah pemulihan dari indeks Eurozone dan Tiongkok. Di sisi lain, indeks Amerika Serikat dan negara Berkembang bertahan dalam momentum yang positif.
Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Tekanan pada Rupiah mereda seiring kenaikan bunga agresif oleh BI
Sepanjang bulan Juni 2026 nilai tukar Rupiah melemah 0,04% terhadap Dolar AS. Pelemahan tersebut relatif tidak separah mata uang beberapa negara lain. Namun, sepanjang Semester I-2026 nilai tukar Rupiah sudah melemah 7,14%, salah satu yang terdalam dibandingkan kinerja nilai tukar negara lain.
Di bulan Juni 2026 Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin menjadi 5,75%. Kenaikan tersebut melanjutkan kebijakan serupa di bulan sebelumnya, sehingga sepanjang tahun ini BI telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 100 basis poin. Langkah tersebut mampu membuat nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS di bulan Juni relatif stabil.
Investor asing di pasar SBN dan SRBI mencatatkan inflow di bulan Juni masing-masing sebesar Rp22,4 triliun dan Rp76,7 triliun. Sementara di pasar saham investor asing masih melanjutkan outflow sejak awal tahun dimana sepanjang bulan Juni saja keluar Rp28,3 triliun. SRBI menjadi penarik dana asing seiring suku bunganya yang atraktif didorong kenaikan suku bunga acuan BI.
Alokasi Aset
Rekomendasi skenario alokasi aset dasar 60:40 pada 3Q26
Kami melihat potensi pasar secara keseluruhan berpeluang untuk rebound pada Semester II baik pada pasar saham mau pun pasar obligasi. Potensi imbal hasil masing-masing aset hingga akhir tahun yaitu 19,5% (IHSG) dan 3,5% (indeks obligasi INDOBeX Total Return).
Alokasi aset yang lebih progresif kami pandang cukup bijak dan efisien dalam menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Kami melihat bahwa rasio 60:40 antara saham dan obligasi cukup optimal.
Perlu selalu kami sampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 14, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.
Sehubungan dengan pengelolaan Reksa Dana SAM OBLIGASI OPTIMA (“Reksadana”), kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:
Manajer Investasi akan melakukan Pembagian Hasil Investasi (PHI) yang berasal dari sebagian hasil investasi yang dibukukan oleh Reksadana selama periode 1 bulan terakhir kepada Pemegang Unit Penyertaan Kelas D
PHI tersebut dilakukan dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan sebagaimana yang dimuat dalam prospektus Reksadana.
Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date minimal Rp25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) akan menerima PHI secara tunai, sementara untuk Pemegang Unit Penyertaan Kelas D dengan nilai investasi saat cum date lebih rendah dari jumlah tersebut akan memperoleh PHI secara non-tunai berupa tambahan unit penyertaan.
Manajer Investasi akan menetapkan cum date PHI pada tanggal 30 Juni 2026 dan Ex-date PHI pada tanggal 1 Juli 2026
Pembayaran PHI dalam bentuk tunai atau non-tunai berupa Unit Penyertaan akan dilakukan pada tanggal: 2 Juli 2026
Biaya transaksi yang timbul atas pembayaran PHI menjadi beban Pemegang Unit Penyertaan.
Harga Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit akan terkoreksi sebesar nilai PHI per unit yang dibagikan kepada Pemegang Unit Penyertaan.
Perkiraan PHI yang dibagikan kepada seluruh Pemegang Unit Penyertaan Kelas D adalah sekitar Rp267.000.000 (dua ratus enam puluh tujuh juta Rupiah)*)
*) sebagai ilustrasi bila menggunakan Informasi NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D per 26 Juni 2026 maka Nilai PHI yang dibagikan tersebut mendekati 0,46% NAB SAM OBLIGASI OPTIMA Kelas D atau Rp4,6 per unit.
Demikian informasi ini kami sampaikan. Jika Bapak/Ibu memerlukan penjelasan lebih lanjut, dapat menghubungi narahubung PT Samuel Aset Manajemen atau melalui nomor telepon (021) 28548800 dan email [email protected].