Ulasan Pasar & Ekonomi November 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Ulasan Pasar & Ekonomi November 2022

Ulasan Pasar Global
Brazil, Indonesia, dan India memimpin dalam teritori positif
  • Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -12%. Indeks saham Brazil (BOVESPA) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng) menjadi yang paling tertinggal.
  • Indeks saham negara-negara berkembang relatif memimpin penguatan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Indonesia (IHSG), dan India (SENSEX) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Tiongkok (SHCOMP), Filipina (PSEi), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.
  • Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil negatif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif tertinggal adalah Hong Kong (Hang Seng), diikuti oleh Teknologi AS (NASDAQ), Taiwan (TWSE), dan Korea Selatan (KOSPI). Sementara indeks saham Inggris (FTSE 100), Jepang (Nikkei 225), dan Kanada (S&P/TSX) tercatat lebih unggul.
  • Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Barang Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian relatif tertinggal.
  • Indeks saham negara berkembang cenderung bertahan lebih kuat di tengah harga komoditas yang masih relatif tinggi. Di sisi lain indeks saham negara maju masih terkoreksi sejak awal tahun dibayangi kekhawatiran terjadinya resesi di AS dan Eropa. Dari sisi bank sentral, the Fed kembali menaikkan tingkat suku bunga sebesar 75 basis poin menjadi 4,00% pada awal November ini. Para pelaku pasar memiliki ekspektasi tingkat suku bunga the Fed dapat mencapai 5,00% pada tahun depan.

Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pertumbuhan PDB membaik didorong perbaikan PMTDB dan ekspor, konsumsi RT tumbuh melambat

  • Ekonomi Indonesia di Triwulan III-2022 tumbuh 5,72% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Triwulan sebelumnya. Kenaikan pertumbuhan PMTDB dan ekspor yang lebih tinggi mampu mengompensasi penurunan pertumbuhan konsumsi RT. Adapun belanja pemerintah masih terkontraksi seiring dengan berkurangnya kebutuhan belanja terkait pandemi COVID-19.
  • Secara Triwulanan ekonomi Indonesia tumbuh 1,81%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Triwulan sebelumnya sebesar 3,72%. Ada faktor musiman juga di mana pertumbuhan ekonomi Triwulanan Indonesia di Triwulan III lebih rendah dibandingkan pertumbuhan di Triwulan II.
  • Ekspor masih menjadi kontributor terbesar atas pertumbuhan ekonomi tahunan Indonesia dalam 1,5 tahun terakhir, disusul oleh konsumsi RT. Porsi ekspor dalam PDB Indonesia saat ini mencapai 26%, hanya kalah oleh PMTDB sebesar 28% dan konsumsi RT 50%, padahal di beberapa tahun sebelum pandemi porsi ekspor hanya sekitar 20%.

Pelemahan rupiah di tengah inflasi yang relatif tinggi membuat BI masih akan menaikkan suku bunganya

  • Sepanjang bulan Oktober 2022 nilai tukar Rupiah melemah 2,43% terhadap dolar AS, dari 15.228 ke 15.598. Pelemahan tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan mata uang negara-negara lainnya. Salah satu faktor pelemahan Rupiah adalah turunnya harga batu bara sebanyak 18% di bulan Oktober 2022.
  • Inflasi Indonesia di bulan Oktober 2022 sebesar 5,71%, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 5,95%. Penurunan tersebut disebabkan oleh menurunnya inflasi harga bergejolak dari level 9,02% di bulan September menjadi 7,19% di bulan Oktober. Sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah masih tetap tinggi di level 13,28%. Adapun Inflasi inti masih terus melanjutkan tren kenaikan sejak setahun terakhir.
  • Masih tingginya inflasi membuat BI diperkirakan masih akan menaikkan suku bunga acuannya mengingat inflasi saat ini masih lebih tinggi dibandingkan suku bunga acuan BI. Ditambah adanya ancaman dari Bank Sentral AS (The Fed) yang masih agresif menaikkan suku bunganya.

Tema Investasi Khusus: Sektor Properti
Will the boom be back?

  • Tren harga saham sektor properti terus mengalami penurunan sejak 2016, juga semakin terpuruk ketika pandemi di tahun 2020. Harga saham sektor properti saat ini bahkan belum kembali ke level sebelum pandemi. Sempat digadang-gadang menjadi leading sector akibat perbaikan ekonomi di tahun 2021, harga saham sektor ini kembali turun saat The Fed berencana menaikkan suku bunga.
  • Kembali aktifnya pusat perbelanjaan, angka penjualan rumah yang kuat, valuasi murah, serta potensi aliran dana dari sektor komoditas menjadi katalis yang diperkirakan mampu mengangkat harga saham sektor ini. Di sisi lain sektor ini juga menghadapi risiko utama berupa kenaikan suku bunga dari bank sentral. Selain itu, perlu diperhatikan juga bahwa katalis-katalis tersebut telah menjadi narasi pasar sejak beberapa bulan terakhir dan terbukti belum mampu mengangkat harga saham sektor ini.
  • Kami melihat bahwa potensi aliran dana dari sektor komoditas semakin kecil kemungkinannya untuk terjadi. Hal ini terlihat dari penjualan rumah yang lebih didominasi menggunakan skema kredit. Affordability Index juga belum menunjukkan peningkatan sejak tahun 2015. Selesainya insentif dari pemerintah juga menjadi hal yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah perusahaan pada sektor ini masih dapat membukukan penjualan yang baik tanpa adanya insentif.
  • Namun, tidak bisa dipungkiri emiten-emiten pada sektor ini membukukan kinerja yang baik pada laporan keuangan Triwulan III-2022. Dengan model bisnis sektor properti saat ini, tidak menutup kemungkinan kinerja positif dapat kembali dicapai pada tahun 2023. Kuatnya katalis, terutama potensi penjualan rumah yang baik serta meningkatnya recurring income, namun diiringi dengan risiko yang ada, membuat kita harus melihat kembali kondisi sektor ini dalam beberapa waktu ke depan.

Download Ulasan Lengkap – Newsletter November 2022