Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulan III – SAM Newsletter Oktober 2022: Menuju Siklus Perlambatan Ekonomi Global | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulan III – SAM Newsletter Oktober 2022: Menuju Siklus Perlambatan Ekonomi Global

SAM Quarterly Newsletter Ulasan Pasar & Ekonomi Oktober 2022

Ulasan Pasar Global
Indeks saham negara-negara berkembang berkinerja lebih baik

  • Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -15%. Indeks saham Indonesia (IHSG) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Teknologi AS (NASDAQ) menjadi yang paling tertinggal.
  • Indeks saham negara-negara berkembang relatif memimpin penguatan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Indonesia (IHSG), Brazil (BOVESPA), dan India (SENSEX) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Filipina (PSEi), Tiongkok (SHCOMP), dan Meksiko (S&P/BMV IPC) relatif tertinggal sejak awal tahun.
  • Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil negatif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif tertinggal adalah Teknologi AS (NASDAQ), diikuti oleh Korea Selatan (KOSPI), Hong Kong (Hang Seng), dan Taiwan (TWSE). Sementara indeks saham Inggris (FTSE 100), Jepang (Nikkei 225), dan Kanada (S&P/TSX) tercatat lebih unggul.
  • Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Barang Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian relatif tertinggal.
  • Pasar berada dalam kondisi volatilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal sejak awal tahun ini. Salah satu penyebab utama kondisi ini adalah naiknya tingkat imbal hasil obligasi secara global sebagai respon dari tingginya tingkat inflasi dan agresifnya bank sentral dalam menaikkan tingkat suku bunga. Hal ini turut membuat kinerja obligasi secara global lebih buruk dibandingkan kinerja saham secara global.

Volatilitas pasar meningkat secara merata di semua kelas aset

  • Kami melihat bahwa kondisi volatilitas kelas aset saat ini (Grafik 2) sudah yang tertinggi sejak Covid-19 crash pada bulan Maret 2020. Volatilitas ini terjadi tidak hanya di aset berbasis saham dan obligasi saja, namun juga di nilai tukar mata uang dan komoditas.
  • Indeks dolar AS masih melanjutkan penguatannya yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Saat ini indeks dolar AS telah mencapai level tertingginya sejak tahun 2002. Penguatan ini didorong dari semakin agresifnya Bank Sentral AS dalam menaikkan tingkat suku Bunga, pelemahan Yen sebagai dampak kebijakan Bank Sentral Jepang, dan ekspektasi melemahnya ekonomi di Eropa dan Inggris.
  • Kondisi pasar yang volatil seperti yang saat ini sedang terjadi, membuat investor secara global melakukan rotasi sektor ke sektor defensive untuk mengurangi fluktuasi nilai investasinya (Grafik 4), sehingga sektor defensive cenderung berkinerja lebih unggul.

Pandangan Pasar Saham Triwulan IV-2022
Menuju siklus perlambatan ekonomi global

  • Pergerakan pasar saham sepanjang Triwulan III-2022 diwarnai oleh dinamika memburuknya krisis energi di Eropa yang turut menyokong tingginya harga batubara, serta keputusan Pemerintah Indonesia untuk menaikkan harga BBM bersubsidi yang dibarengi dengan keputusan Bank Indonesia untuk mulai lebih proaktif dalam menaikkan suku bunga. Investor asing membukukan net inflow sebanyak AS$568 juta ke pasar saham Indonesia sepanjang triwulan lalu.
  • Pada Triwulan IV-2022, dengan tingkat inflasi Indonesia yang di bulan September hampir menyentuh 6% dan kami perkirakan masih akan meningkat di bulan berikutnya, Bank Indonesia masih akan melanjutkan kenaikan BI 7DRRR. Hal ini dapat menguntungkan sektor perbankan, terutama bank besar yang dapat meningkatkan suku bunga kreditnya lebih cepat dari suku bunga dana pihak ketiga (DPK) mereka. Di sisi lain, sektor-sektor yang berbasis komoditas seperti coal, oil & gas, dan metals kami perkirakan masih akan mendapat sokongan dari penambahan supply yang terbatas dan inventory yang rendah. Krisis energi di Eropa juga dapat menjadi dukungan untuk harga batu bara bertahan di level yang tinggi sepanjang triwulan ini.
  • Risiko yang muncul dari tingginya tingkat inflasi di dunia adalah semakin agresifnya bank-bank sentral dunia untuk meningkatkan suku bunga mereka dan melakukan pengurangan neraca atau quantitative tightening. Hal ini kami perkirakan akan mulai membuat pertumbuhan ekonomi melambat di beberapa belahan dunia seperti AS dan Eropa. Kurva imbal hasil yang inverted di AS juga menjadi pertanda bahwa kemungkinan terjadinya resesi di AS dalam 12 bulan ke depan cukup tinggi. Kami menilai bahwa pasar saham global masih akan cenderung memiliki sentimen risk-off dalam triwulan ini dan dapat berdampak pada pasar saham Indonesia.
  • Kami memproyeksikan IHSG di akhir tahun 2022 berpotensi ke level 7.206; dengan asumsi forward P/E ratio di akhir tahun pada level 15,4x, dan pertumbuhan laba bersih emiten masing-masing sebesar 23% dan 9% di tahun 2022 dan 2023.

Alokasi Aset
Keseimbangan potensi imbal hasil dan risiko

  • Kami memilki pandangan bahwa instrumen saham dan instrumen obligasi memiliki potensi upside yang moderat sampai akhir tahun 2022 ini, dengan potensi di skenario asumsi dasar kami bahwa saham berpotensi memberikan imbal hasil sebesar 4,3% (dari 12 Okt – 31 Des) dan obligasi sebesar 0,3%.
  • Alokasi aset yang berimbang pada instrumen saham dan obligasi berpotensi memberikan kompromi antara imbal hasil dan risiko yang optimal hingga akhir tahun. Per saat ini, alokasi aset yang ideal menurut kami adalah antara 50:50 pada instrumen berbasis Saham:Obligasi.
  • Perlu selalu disampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 15, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.

Download PDF ulasan lengkap