SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 26 September 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 26 September 2022

Kilas Pasar

Indeks saham di Amerika Serikat melemah pada hari Jumat (23/9). Dow, S&P 500, dan Nasdaq terdepresiasi masing-masing sebesar -1.62%, -1.72%, dan -1.80%. Dari Eropa, indeks FTSE 100 melemah sebesar -1.97%, STOXX600 terdepresiasi sebesar -2.34%.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp. 15102. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI tumbuh masing-masing sebesar 0.03% dan 0.13% diperdagangkan pada level US$ 85.06 dan US$ 78.84 per barel.

Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan melemah sebesar -2.58%, diikuti oleh NIKKEI Jepang yang terdepresiasi sebesar -2.21%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat melemah pada pagi hari ini dengan Dow Jones, S&P dan Nasdaq terdepresiasi sebesar -0.36%, -0.40% dan -0.28%.

Isu Ekonomi dan Pasar

Kebijakan kenaikan suku bunga The Fed untuk menjinakkan inflasi dan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tengah menuju resesi semakin memukul bursa saham dan pasar obligasi.  Goldman Sachs telah memangkas proyeksi indeks acuan S&P 500 hingga akhir tahun sebesar 16% menjadi 3.600 poin. Sebelumnya,perusahaan perbankan investasi ini menargetkan 4.300 poin. Adapun pada perdagangan pada akhir pekan lalu, S&P 500 ditutup di level 3.758 poin. Langkah Goldman Sachs memangkas targetnya karena melihat bahwa The Fed kemungkinan besar belum akan mundur dari kebijakan kenaikan suku bunga agresif.  “Berdasarkan diskusi dengan klien, mayoritas investor ekuitas telah mengadopsi pandangan bahwa skenario hard landing tidak dapat dihindari. Fokus mereka saat ini ada pada timing, besaran, dan durasi potensi resesi, serta bagaimana strategi investasi di tengah prospek tersebut,” tulis David Kostin, Analis Goldman dilansir Reuters, Jumat (23/9). (Kontan)

Pengetatan kebijakan moneter Bank Indonesia sejalan dengan kebijakan fiskal yang juga lebih ketat pada tahun depan dikhawatirkan akan berdampak pada kinerja dunia usaha dan pertumbuhan ekonomi. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga acuan yang lebih agresif untuk mengatasi lonjakan inflasi berpotensi memperlambat laju pertumbuhan ekonomi ke depan. Oleh karena itu, menurutnya upaya pengendalian laju inflasi saat ini perlu dimaksimalkan, khususnya setelah kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Selain itu, Faisal mengatakan dorongan kepada dunia usaha juga menjadi salah satu tantangan. Pasalnya, pemerintah telah mengurangi banyak insentif, terutama untuk tahun depan sejalan dengan target defisit APBN yang harus kembali ke bawah level 3 persen. Faisal berpendapat, penarikan insentif untuk pemulihan dunia usaha perlu dilakukan secara selektif dan bertahap, mengingat belum semua sektor telah kembali pulih. ?Pengurangan pemberian insentif 2023 harus pelan-pelan dan bertahap, mengikuti skala prioritas dengan melihat sektor mana yang sudah bisa dikurangi atau belum, karena setiap sektor memiliki tingkat pemulihan dan daya tahan yang berbeda,? katanya kepada Bisnis, Minggu (25/9/2022). (Bisnis)

Best Regards,

SAM Investment

SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—26-September-2022.pdf