SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 23 September 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 23 September 2022

Kilas Pasar

Indeks saham di Amerika Serikat melemah pada hari Kamis (22/9). Dow, S&P 500, dan Nasdaq terdepresiasi masing-masing sebesar -0.35%, -0.84%, dan -1.37%. Dari Eropa, indeks FTSE 100 melemah sebesar -1.08%, STOXX600 terdepresiasi sebesar -1.79%.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp. 15017. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI tumbuh masing-masing sebesar 0.30% dan 0.25% diperdagangkan pada level US$ 90.62 dan US$ 83.70 per barel.

Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan melemah sebesar -1.09% diikuti oleh NIKKEI Jepang yang terdepresiasi sebesar -0.58%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat menguat pada pagi hari ini dengan Dow Jones, S&P dan Nasdaq terapresiasi sebesar 0.18%, 0.17% dan 0.11%.

Isu Ekonomi dan Pasar

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan puncak kenaikan inflasi di dalam negeri akan terjadi pada September 2022, sebagai imbas dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).  Berdasarkan Survei Pemantauan Harga, Perry mengatakan inflasi pada September 2022 akan mencapai tingkat 5,89 persen dan diperkirakan kembali melandai hingga akhir tahun. ?Inflasi tertinggi terjadi di bulan ini karena dampak langsung penyesuaian harga subsidi dan karena kenaikan tarif angkutan, meski belum semua naik,? katanya dalam konferensi pers RDG BI, Kamis (22/9/2022). Dia menjelaskan kenaikan harga BBM juga akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang lainnya. Dampak putaran kedua atau second round dari kenaikan harga BBM diperkirakan berlangsung selama 3 bulan ke depan. Kenaikan harga BBM pun, imbuh Perry, diperkirakan akan menambah tingkat inflasi sebesar 1,8 persen hingga 1,9 persen, baik secra langsung maupun tidak langsung. ?Survei Pemantauan harga bulan ini 5,8 persen, mungkin ada kenaikan tambahan beberapa bulan ke depan, tapi setelah itu tekanan inflasi tidak akan besar dan akan melandai,? jelasnya. (Bisnis)

Nilai tukar rupiah masih belum menunjukkan taringnya. Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai tukar rupiah sepanjang tahun ini atau sampai dengan 21 September 2022 melemah 4,97% (YtD) dibandingkan dengan level akhir 2021. Meski memang melemah, Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, ini masih relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya. “Ini lebih baik dari negara lain, seperti India yang melemah bahkan hingga 7,05% YtD, Malaysia melemah 8,51% YtD, dan Thailand melemah 10,07% YtD,” terang Perry dalam pembacaan hasil Rapat Dewan Gubernur BI September 2022, Kamis (22/9). Meski begitu, BI tidak jemawa. Perry mengatakan akan terus memperkuat kebijakan untuk stabilitas nilai tukar rupiah agar sesuai dengan fundamentalnya. Apalagi, kondisi global masih benar-benar diliputi ketidakpastian. (Kontan)

Best Regards,

SAM Investment

SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—23-September-2022.pdf