SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 20 September 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – 20 September 2022

Kilas Pasar

Indeks saham di Amerika Serikat menguat pada hari Senin (19/9). Dow, S&P 500, dan Nasdaq terapresiasi masing-masing sebesar 0.64%, 0.69%, dan 0.76%. Dari Eropa, STOXX600 melemah sebesar 0.09%.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp. 14979. Dari komoditas, perdagangan minyak Brent dan WTI bergerak bervariasi masing-masing sebesar 0.08% dan -0.06% diperdagangkan pada level US$ 92.07 dan US$ 85.31 per barel.

Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan tumbuh sebesar 0.42% diikuti oleh NIKKEI Jepang yang terapresiasi sebesar 0.49%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat menguat pada pagi hari ini dengan Dow Jones, S&P dan Nasdaq terapresiasi sebesar 0.13% dan 0.14% dan 0.18%.

Isu Ekonomi dan Pasar

Pembatasan ekspor beras pecah (broken rice) India telah melumpuhkan perdagangan di Asia. Saat ini, pembeli mencari pasokan beras alternatif dari Vietnam, Thailand dan Myanmar di mana penjual menunda kesepakatan karena kenaikan harga beras.  Melansir Reuters, India, pengekspor beras terbesar di dunia, melarang pengiriman beras pecah dan mengenakan bea 20% pada ekspor berbagai jenis lainnya. Langkah ini dilakukan ketika negara itu mencoba untuk meningkatkan pasokan dan mencoba menstabilkan harga setelah curah hujan monsun di bawah rata-rata membatasi penanaman. Beras adalah komoditas terbaru dari serangkaian komoditas yang menghadapi pembatasan ekspor tahun ini karena pemerintah India tengah berjuang untuk meningkatkan pasokan dan memerangi inflasi di tengah gangguan perdagangan yang dipicu oleh perang Ukraina.  Harga beras telah melonjak 5% di Asia sejak pengumuman India. Diperkirakan, harga beras akan naik lebih lanjut minggu ini sehingga membuat pembeli dan penjual melakukan aksi wait and see. “Perdagangan beras lumpuh di seluruh Asia. Pedagang tidak ingin melakukan apa pun dengan tergesa-gesa,” kata Himanshu Agarwal, direktur eksekutif Satyam Balajee, eksportir beras terbesar di India. Dia menambahkan, “India menyumbang lebih dari 40% dari pengiriman global. Jadi, tidak ada yang yakin berapa banyak harga akan naik dalam beberapa bulan mendatang.” Beras adalah makanan pokok bagi lebih dari 3 miliar orang, dan ketika India melarang ekspor pada 2007, harga global melonjak ke rekor tertinggi sekitar US$ 1.000 per ton. (Kontan)

Pemerintah mendorong peningkatan produksi kedelai nasional untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri sehingga tidak bergantung pada impor. “Bapak Presiden [Joko Widodo] ingin agar kedelai tidak 100 persen tergantung impor karena dari hampir seluruh kebutuhan yang 2,4 [juta ton] itu produksi nasionalnya kan turun terus,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Senin (19/9/2022). Airlangga menyampaikan salah satu penyebab petani enggan menanam kedelai dalam beberapa waktu terakhir dikarenakan harga yang kurang menarik. (Bisnis)

Best Regards,

SAM Investment

SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—20-September-2022.pdf