Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulan II – Juli 2022 – Navigasi Pasar di Era Inflasi dan Kenaikan Tingkat Suku Bunga | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Ulasan Pasar & Ekonomi Triwulan II – Juli 2022 – Navigasi Pasar di Era Inflasi dan Kenaikan Tingkat Suku Bunga

Download Ulasan Lengkap – Newsletter Juli 2022

Ulasan Pasar Global
Pelemahan indeks saham merata di seluruh kawasan

Pasar saham global mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -12%. Indeks saham Indonesia (IHSG) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Teknologi AS (NASDAQ) menjadi yang paling tertinggal

Indeks saham negara-negara berkembang relatif memimpin penguatan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Indonesia (IHSG), Thailand (SET), dan Brazil (BOVESPA) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Filipina (PSEi), Meksiko (S&P/BMV IPC), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) relatif tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil negatif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif tertinggal adalah Teknologi AS (NASDAQ), diikuti oleh Swedia (OMX Stockholm), Korea Selatan (KOSPI), dan Amerika Serikat (S&P 500). Sementara indeks saham Inggris (FTSE 100), Hong Kong (Hang Seng), dan Jepang (Nikkei 225) tercatat relatif lebih unggul.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Barang Baku memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian relatif tertinggal.

Pasar finansial, termasuk di dalamnya kelas aset saham, obligasi, komoditas dan nilai tukar, mengalami volatilitas yang cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran tingkat inflasi global yang tinggi dan semakin agresifnya Bank Sentral AS menaikkan tingkat suku bunganya sebagai upaya untuk meredam tingkat inflasi.

Penguatan dolar AS menjadi risiko bagi pasar

Kami meyakini skenario persistent inflation akan tetap mewarnai pasar dalam jangka menengah, meskipun dalam jangka pendek berpotensi terjadinya rotasi taktikal dari value ke sektor growth dan defensive. Dalam jangka yang lebih panjang, tren komoditas energi masih positif mengingat masih terjadinya demand-supply imbalance.

Indeks dolar AS terus melanjutkan penguatannya yang telah berlangsung sejak tahun lalu. Saat ini indeks dolar AS telah mencapai level tertingginya sejak tahun 2002. Penguatan ini didorong dari semakin agresifnya Bank Sentral AS dalam menaikkan tingkat suku Bunga, pelemahan Yen sebagai dampak kebijakan Bank Sentral Jepang, dan ekspektasi melemahnya ekonomi di Eropa.

Kondisi pasar yang fluktuatif seperti yang saat ini sedang terjadi, membuat investor memilih untuk menempatkan dananya di sektor yang defensive untuk mengurangi volatilitas nilai investasinya. 

Pandangan Makro Ekonomi Indonesia
Inflasi tidak hanya tinggi di level produsen tetapi juga mulai merambat ke konsumen

Inflasi Indonesia di bulan Juni 2022 mencapai 4,35% YoY, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 10,07% yang dipicu oleh tingginya kenaikan harga sejumlah bahan pangan seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur. Tingkat inflasi tersebut sudah melewati target Bank Indonesia sebesar 2-4%.

Di level produsen kenaikan harga sudah mencapai level 9,06% pada triwulan pertama tahun ini yang tidak lepas dari terganggunya rantai pasok global, tingginya harga komoditas input, dan tingginya biaya logistik internasional. Tingginya inflasi di level produsen cepat atau lambat akan turut berdampak pada kenaikan inflasi di level konsumen.

Suku bunga moneter Bank Indonesia kini lebih rendah dibandingkan inflasi seiring keputusan BI mempertahankan tingkat suku bunga 3,50% di rapat bulan Juni lalu. Tren kenaikan inflasi Indonesia yang kini sudah menembus target BI membuat BI diperkirakan akan mulai menaikkan tingkat suku bunga di Semester II-2022.

Tren pemulihan ekonomi juga terlihat pada pertumbuhan kredit perbankan yang terus meningkat, menunjukkan optimisme pelaku ekonomi. Pertumbuhan kredit dalam tren menanjak sejak mencatatkan pertumbuhan terendah pada bulan Maret 2021 sebesar -3,77% YoY dan di bulan April 2022 pertumbuhannya sudah mencapai 9,10% YoY, tertinggi dalam tiga tahun terakhir disamping juga adanya efek low-base tahun sebelumnya.

Pandangan Pasar Saham Triwulan III-2022
Navigasi pasar di era inflasi dan kenaikan tingkat suku bunga

Pergerakan pasar saham sepanjang Triwulan II-2022 diwarnai oleh mulai agresifnya Bank Sentral Amerika Serikat atau the Fed dalam menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi. Hal ini memicu ekspektasi berkurangnya likuiditas di pasar global sehingga investor asing mencatatkan arus dana keluar dari pasar saham Indonesia sebesar AS$500 juta pada bulan Juni, meski sepanjang Triwulan II masih membukukan arus dana masuk AS$3 milyar.  

Pada Triwulan III-2022, dengan tingkat inflasi yang mulai meningkat di Indonesia kami perkirakan Bank Indonesia akan mulai menaikkan tingkat suku bunga acuan, setelah sebelumnya hanya menaikkan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM). Kami menilai hal ini akan memiliki dampak negatif ke emiten-emiten yang memiliki tingkat hutang yang tinggi dan proporsi bunga mengambang yang cukup besar.

Dari sisi sektoral, sektor properti umumnya bisa mendapat sentimen negatif saat periode pengetatan moneter. Di sisi lain, kenaikan harga-harga pangan dan biaya transportasi dapat mengurangi daya beli konsumen di Indonesia, sehingga outlook untuk sektor-sektor yang terkait dengan penjualan barang-barang yang bukan kebutuhan pokok menjadi lebih buruk, antara lain sektor otomotif dan retailers.


Kami masih berpandangan positif terhadap sektor-sektor yang tidak terlalu terdampak dari pengetatan bunga seperti sektor perbankan yang masih memiliki likuiditas relatif baik, dan juga sektor jalan tol yang memiliki potensi pertumbuhan volume kendaraan yang melintas. Sektor telekomunikasi dan konsumer yang cenderung defensif juga kami perkirakan akan mendapat sentimen positif saat pasar bergerak fluktuautf seperti saat ini. Valuasi relatif di sektor-sektor tersebut juga sebagian besar masih menarik apabila dilihat dari data historis selama 5-7 tahun terakhir. Kami juga meyakini bahwa sektor terkait komoditas dalam portofolio dapat menjadi lindung nilai risiko inflasi, terutama komoditas energi seperti batubara dan migas.



Kami memproyeksikan IHSG di akhir tahun 2022 berpotensi ke level 7.285; dengan asumsi forward P/E ratio di akhir tahun pada level 15,5x, dan pertumbuhan laba bersih emiten masing-masing sebesar 23% dan 9% di tahun 2022 dan 2023. 

Alokasi Aset
Obligasi dapat menjadi pilihan di tengah situasi pasar yang fluktuatif

Kami meyakini dengan berbagai asumsi dan data yang tersedia saat ini, instrumen saham masih memiliki potensi untuk mencetak kinerja yang lebih baik dari instrumen obligasi pada tahun ini.

Kami melihat alokasi aset yang berimbang pada instrumen saham dan obligasi berpotensi memberikan imbal hasil yang optimal hingga akhir tahun. Per saat ini, alokasi aset yang ideal menurut kami adalah antara 50:50 pada instrumen berbasis Saham: Obligasi.

Perlu selalu disampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 18, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.


Download Ulasan Lengkap – Newsletter Juli 2022