Buletin Bulanan April 2022 – Pandangan Pasar Saham Kuartal II – 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Buletin Bulanan April 2022 – Pandangan Pasar Saham Kuartal II – 2022

Download Newsletter Kuartal I – April 2022

Ulasan Pasar Global
Indeks saham negara penghasil komoditas memimpin penguatan

  • Pasar saham global mengalami pelemahan pada awal tahun ini dan relatif hanya sebagian indeks saham yang mampu mencatatkan hasil positif. Indeks saham Brazil (BOVESPA) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Swedia (OMX Stockholm) mencatatkan penurunan terbesar.
  • Indeks saham negara-negara berkembang memimpin penguatan indeks saham global. Brazil (BOVESPA), Indonesia (IHSG), Meksiko (S&P/BMV IPC), Thailand (SET), dan Afrika Selatan (FTSE/JSE) menguat. Sementara indeks saham Tiongkok (SHCOMP) dan Korea Selatan (KOSPI) tertekan.
  • Indeks saham negara-negara maju terkoreksi, ditandai dengan pelemahan pasar saham Swedia (OMX Stockholm), Jerman (DAX), Teknologi AS (NASDAQ), dan Eropa (STOXX). Sementara indeks saham Kanada (S&P/TSX) dan Inggris (FTSE 100) tercatat menguat.
  • Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Finansial, Energi, Industri Dasar, Kesehatan, dan Utilitas berkinerja positif. Sementara sektor Teknologi, Industrial, dan Barang Konsumen Non-Primer masih tertinggal.
  • The Fed akhirnya menaikkan tingkat suku bunga sebagai upaya untuk meredam inflasi yang tinggi. Ke depannya the Fed pun berencana untuk mengurangi balance sheet dengan melakukan quantitative tightening (QT) atau dengan kata lain akan menarik likuiditas di pasar.

Momentum positif di value stocks dan tema komoditas

  • Kami meyakini skenario middle-ground scenario dan persistent inflation akan mewarnai narasi dan opini pasar ke depannya. Harga komoditas berpotensi untuk tetap berada di level yang relatif tinggi. Barbell strategy antara value stocks dan high quality growth stocks dengan lebih menitikberatkan bobot pada value stocks dapat menjadi pilihan pada siklus pasar saat ini.
  • Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir dan ditutup di level tertinggi sejak tahun 2019. Kenaikan imbal hasil ini biasanya dipengaruhi oleh ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi serta ditambah dengan normalisasi kebijakan bank sentral.
  • Dampak dari kenaikan imbal hasil tersebut adalah kinerja saham-saham yang tergolong value stocks masih terus mengungguli kinerja saham-saham growth stocks sejak November 2021 seperti yang ditunjukkan pada Grafik 4.

Pandangan Makro Ekonomi Indonesia
Inflasi sudah muncul di level produsen dan perlahan akan masuk ke level konsumen.

  • Inflasi Indonesia di bulan Maret 2022 tercatat sebesar 2,64%, tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kelompok harga bergejolak mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 3,25% yang salah satunya dipicu oleh tingginya kenaikan harga minyak goreng paska dicabutnya kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET).
  • Inflasi harga konsumen masih terus lebih rendah dibandingkan inflasi harga perdagangan besar (wholesale) yang berada di level 3,54%. Inflasi harga konsumen yang lebih rendah daripada inflasi harga perdagangan besar menunjukkan lemahnya permintaan konsumen sehingga pedagang besar mengorbankan marjin keuntungan agar tetap bisa melakukan penjualan.
  • Di level produsen bahkan kenaikan harganya sudah menyentuh level 8,77% pada Triwulan-IV tahun lalu yang tidak lepas dari terganggunya rantai pasok global, tingginya harga komoditas input, dan tingginya biaya logistik internasional.

Sentimen konsumen dan produsen melemah di Februari dan Maret, meskipun mobilitas terus membaik

  • Berdasarkan data mobilitas di Indonesia yang dikumpulkan oleh Google, hampir semua mobilitas ke berbagai kelompok destinasi sudah lebih tinggi dibandingkan level sebelum pandemi, hanya mobilitas ke transit yang belum sepenuhnya pulih karena memang masih dibatasi oleh pemerintah.
  • Di sisi lain, berbagai sentimen negatif di bulan Februari dan Maret seperti melonjaknya kasus varian Omicron, konflik geopolitik di Eropa, dan inflasi yang terus meningkat membuat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun di kedua bulan tersebut, meskipun masih mampu bertahan di zona optimis (>100). Keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini kembali masuk zona pesimis.
  • Berbagai sentimen negatif tersebut juga berdampak ke sentimen bisnis yang ditunjukkan dari menurunnya PMI manufaktur Indonesia, meskipun masih mampu bertahan di zona ekspansif (>50).

Pandangan Pasar Saham Kuartal II – 2022
Menyeimbangkan risiko inflasi dengan katalis akselerasi ekonomi

  • Pergerakan pasar saham sepanjang Triwulan-I 2022 diwarnai oleh kenaikan harga komoditas yang membuat persepsi investor global terhadap pasar Indonesia menjadi relatif lebih baik. Hal ini mendorong arus dana asing masuk sebesar Rp30 triliun dan membawa kenaikan di sektor-sektor yang terkait komoditas disertai juga big caps seperti perbankan dan sebagian emiten telekomunikasi dan otomotif.
  • Pada Triwulan-II 2022, kondisi pandemi yang lebih terkontrol, serta adanya periode Ramadhan dan Idul Fitri pertama dalam 3 tahun terakhir dimana kondisi mobilitas akan relatif lebih tinggi, kami perkirakan dapat mendorong potensi laba emiten-emiten yang terkait sektor konsumsi, ritel, dan jalan tol.
  • Isu lain yang akan mewarnai pasar modal Indonesia adalah potensi kenaikan harga BBM jenis Pertalite dan LPG 3 kg. Hal ini dapat menjadi risiko untuk proyeksi inflasi sebagian besar ekonom di pasar yang berada di kisaran 3-3,5%. Di sisi lain, inflasi yang cenderung tinggi juga dapat mengurangi daya beli masyarakat.
  • Dengan pandangan yang cenderung positif, pertumbuhan ekonomi Indonesia kami perkirakan berada di kisaran 5,2% meski dibayangi risiko inflasi. Kami menilai prospek saham di sektor-sektor yang terkait ekonomi domestik seperti otomotif, jalan tol, ritel, perbankan, dan properti masih baik. Valuasi relatif di sektor-sektor tersebut juga sebagian besar masih menarik apabila dilihat dari data historis selama 5-7 tahun terakhir. Kami juga meyakini bahwa sektor terkait komoditas dalam portofolio dapat menjadi lindung nilai risiko inflasi.
  • Kami memproyeksikan IHSG di akhir tahun 2022 berpotensi ke level 7.384; dengan asumsi forward P/E ratio di akhir tahun pada level 16,5x, dan pertumbuhan laba bersih masing-masing sebesar 16,1% dan 10,2% di tahun 2022 dan 2023. Kami menilai akselerasi ekonomi yang didorong harga komoditas masih mampu menyeimbangkan risiko dari inflasi.

Alokasi Aset
Saham berpotensi berkinerja lebih baik dari obligasi pada tahun 2022

  • Kami meyakini, dengan berbagai asumsi dan data yang tersedia saat ini, instrumen saham masih memiliki potensi untuk mencetak kinerja yang lebih baik dari instrumen obligasi pada tahun ini.
  • Kami melihat alokasi aset yang sedikit lebih besar pada instrumen saham berpotensi memberikan imbal hasil yang lebih baik pada tahun ini. Per saat ini, alokasi aset yang ideal menurut kami adalah antara 70:30 dan 60:40 pada instrumen berbasis Saham:Obligasi.
  • Perlu selalu disampaikan bahwa alokasi aset yang ideal bagi setiap investor sangat bergantung pada: 1) tujuan; 2) jangka waktu investasi; dan 3) profil risiko. Pada Grafik 18, kami tampilkan alokasi aset yang secara teori bisa dikatakan ideal sesuai dengan profil risiko setiap investor.

Ulasan dan pandangan pasar lengkap Q1 2022 dapat diunduh di SAM Quarterly Newsletter – April 2022 PDF