Samuel Aset Manajemen

Buletin Bulanan – September 2021 : Taper Tantrum

Ulasan lengkap unduh file .pdf

Ulasan Pasar Global

  • Pasar saham global melanjutkan penguatan sejak awal tahun hingga bulan Agustus 2021, meskipun ada beberapa indeks saham yang masih mencatatkan hasil negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Indeks saham Swedia (OMX Stockholm) mencatatkan kenaikan tertinggi, sementara indeks saham Hong Kong (Hang Seng) mencatatkan pelemahan terbesar.
  • Hampir seluruh indeks saham negara-negara maju mencatatkan hasil yang positif, dipimpin oleh indeks saham Swedia (OMX Stockholm), diikuti oleh Denmark (OMX Copenhagen), Amerika Serikat (S&P 500), Eropa (STOXX 600), Jerman (DAX), Inggris (FTSE 100) dan Jepang (Nikkei 225). §Indeks saham di beberapa negara berkembang juga melanjutkan penguatan sejak awal tahun. Indeks saham Mexico (S&P/BMV), India (SENSEX), Taiwan (TWSE), Afrika Selatan (FTSE/JSE), Rusia (MOEX), dan Korea Selatan (KOSPI) memimpin penguatan.
  • Sektor Komunikasi, Energi, Finansial, dan Teknologi cenderung menjadi sektor yang berkinerja terbaik secara global sejak awal tahun di berbagai Kawasan/negara. Sektor-sektor yang cenderung defensif (Konsumsi dan Utilitas) memiliki kinerja yang relatif tertinggal dibandingkan indeks acuannya. Rotasi sektor dari value ke growth dan sebaliknya terus terjadi sejak awal tahun ini, yang menunjukkan pasar masih cenderung sehat dan positif hingga akhir tahun. Dalam jangka pendek pasar bisa saja berpotensi cukup fluktuatif seiring dengan adanya rencana tapering-off dari bank sentral Amerika Serikat, the Fed.
  • Dalam beberapa minggu terakhir, harga komoditas cenderung menguat setelah sebelumnya mengalami pelemahan. Indeks Dolar AS turut melemah sejak minggu lalu seiring dengan rilisnya data tenaga kerja AS yang lebih buruk dari ekspektasi analis dan ekonom.

Ulasan Makro Ekonomi Amerika Serikat (Potensi Tapering-Off oleh The Fed)

  • Dalam upaya stabilisasi dampak pandemi Covid-19, the Fed telah melakukan dua kebijakan moneter ekspansif yaitu quantitative easing (QE) sebesar AS$120 miliar per bulan dan penurunan tingkat bunga sebanyak 150 basis poin. Kedua kebijakan tersebut berhasil meningkatkan likuiditas dolar AS di pasar global dan juga menurunkan tingkat bunga baik jangka pendek maupun jangka panjang.
  • Berbagai stimulus fiskal dan moneter AS serta pemulihan ekonomi global turut berperan pada kenaikan inflasi AS dimana pada Juli inflasi inti AS (core PCE) naik 3,62% tahun ke tahun, jauh di atas target the Fed sebesar 2%. §Sementara di pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran dan tingkat partisipasi angkatan kerja masih belum kembali ke level sebelum pandemi.
  • The Fed memperkirakan indikator tenaga kerja akan terus membaik sehingga dalam beberapa bulan ke depan akan mulai mengurangi jumlah pembelian aset per bulannya (tapering) mengingat inflasi yang sudah di atas dari target.

Team Investasi Khusus: Taper Tantrum 2013

  • Salah satu upaya the Fed, bank sentral Amerika Serikat, untuk meredam dampak krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008 adalah dengan menggunakan kebijakan moneter non-konvensional yang disebut Quantitative Easing (QE). Kebijakan ini dilakukan dengan cara memberikan dana stimulus ke institusi finansial melalui pembelian obligasi jangka panjang baik surat utang ataupun obligasi kredit perumahan. Tujuan dari QE adalah agar jumlah uang beredar tetap terjaga dan dapat merangsang perekonomian Amerika Serikat. Kebijakan QE mulai diberlakukan sejak bulan Maret 2009 hingga Desember 2013. Melalui kebijakan tersebut, perekonomian AS kembali membaik.
  • Rupiah cenderung menguat pada saat QE dikarenakan kebijakan tersebut cenderung seperti kebijakan moneter ekspansif. Akibatnya terjadi penurunan suku bunga yang menyebabkan aset dalam Rupiah lebih menarik dibandingkan aset Amerika Serikat dalam bentuk dolar AS. Hal sebaliknya terjadi pada saat the Fed mengumumkan untuk melakukan pengurangan dana stimulus (tapering off) sehingga menyebabkan suku bunga di AS kembali meningkat dan menyebabkan arus dana keluar dari Indonesia ataupun negara berkembang lainnya.
  • Pada bulan Mei 2013, Ben Bernanke sebagai gubernur the Fed pada saat itu mengumumkan akan mengurangi intensitas dana yang digunakan dari AS$85 miliar menjadi AS$65 miliar. Kebijakan tersebut merupakan permulaan dari aksi pengurangan dana stimulus (tapering off). Dampak pengumuman tersebut menyebabkan depresiasi nilai tukar dan penurunan tajam pada harga pasar saham dan pasar obligasi di Indonesia.
  • Situasi tapering tersebut semakin parah pada tanggal 17 Agustus 2013 dimana Bank Indonesia (BI) pada saat itu mengumumkan bahwa current-account deficit Indonesia mencapai AS$9,8 miliar atau memiliki porsi berkisar 4,4% terhadap PDB. Investor merespon negatif akan pengumuman tersebut dan menyebabkan volatilitas pada pasar finansial Indonesia yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar Rupiah, turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah dan credit-default swaps.

Baca Ulasan Pasar Bulan September 2021 selengkapnya