Samuel Aset Manajemen

SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian Rabu 5 Mei 2021

Kilas Pasar

 

Pasar global mayoritas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (4/4). Dow naik tipis 19,80 poin atau 0,06% menjadi 34.133,03. Kemudian S&P 500 turun 0,67% menjadi 4.164,66, beigutupun Nasdaq yang melemah 1,88% menjadi 13.633,50. Dari Eropa, FTSE turun 0,67% atau 46,64 poin menjadi 6.923,17 sama seperti Stoxx600 turun 1,43% atau 6,27 poin menjadi 433,65.

 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp 14.430 pada penutupan perdagangan kemarin. Komoditas utama dunia, yaitu minyak WTI pagi ini menguat sebesar 2,70% begitupun dengan Brent yang menguat 2,77%. Hari ini Nikkei 225 dan Kospi libur. Di sisi lain, indeks futures di Amerika Serikat, Dow Jones futures naik 0,14%, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq futures melemah masing-masing 0,57% dan 1,80%.

 

Isu Ekonomi dan Pasar

 

Semua pihak kompak memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2021 masih mengalami kontraksi, meskipun tidak lebih dari 1% secara year on year (yoy) atau membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat kontraksi 2,19% (yoy). Namun demikian, pada kuartal II-2021 pertumbuhan ekonomi diprediksi mengalami pembalikan atau rebound hingga mencapai 7,8% (yoy). (Investor Daily)

 

Pemerintah meyakini, pemulihan ekonomi di 2022 semakin baik sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi mencapai 5,8%. Untuk mencapai target tersebut dibutuhkan investasi sekitar Rp 5.891,4 triliun – Rp 5.931,8 triliun. (Investor Daily)

 

G-7 sedang mempertimbangkan proposal AS untuk menentang ekonomi China yang bersifat koersif, seperti apa yang disampaikan AS. Sementara AS memiliki pandangan negatif terhadap Tiongkok daripada UE, Jerman, Italia, dan Prancis justru sedang menguat. Inggris berada di tempat yang lebih sulit. Sebagai tuan rumah G-7, mereka berusaha untuk bersifat netral, menjadikan tantangan bagi pemerintah Boris Johnson agar tidak teerlihat sebagai anti-China. Terlebih terdapat agenda pertemuan dua hari mendatang terkait proposal untuk membentuk kelompok yang disebut “Friends of Hong Kong”. (Bloomberg)

 

Komoditas melonjak ke level tertinggi dalam hampir satu dekade karena ekonomi utama pulih dari pandemi. Permintaan logam, makanan dan energi melonjak, sedangkan pasokan berkurang akibat cuaca buruk merusak tanaman dan adanya kemacetan transportasi. Indeks Spot Komoditas Bloomberg, yang melacak harga untuk 23 bahan mentah, naik 0,8% pada Selasa ke level tertinggi sejak 2011 dan telah naik lebih dari 70% sejak Maret 2020. Goldman Sachs mengatakan bahwa komoditas dapat melonjak 13,5% lagi dalam enam bulan, dengan minyak mencapai US$ 80 per barel dan tembaga mencapai US$ 11.000 per ton. Namun, banyak pihak sedang mencari tahu apakah ini adalah awal dari supercycle atau bukan. (Bloomberg)

 

Melalui tulisan ini, kami kembali menyerukan kepada seluruh mitra investasi SAM untuk selalu menjaga kesehatan, mengikuti semua protokol kesehatan, menjaga jarak sosial dan fisik, serta seoptimal mungkin untuk melakukan aktivitas dari rumah. Semoga kita berhasil. 

 

Best Regards,

SAM Investment

SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—5-Mei-2021.pdf