Samuel Aset Manajemen

Buletin Bulanan – April 2021: Commodity Super-cycle

Rotasi Global & Meningkatnya Partisipasi Sektor

Ulasan Lengkap Download file PDF

  • Partisipasi sektor semakin merata dan membaik pada indeks pasar saham global ditunjukkan oleh menguatnya indeks Value Line Arithmetic (equal-weighted index) pada Grafik 1. Adanya rotasi yang disertai dengan peningkatan partisipasi sektor biasanya juga menunjukkan pola pasar yang sehat. Rotasi dan partisipasi juga terjadi di antara saham-saham berkapitalisasi besar, sedang, dan kecil.
  • Sejak bulan November tahun lalu hingga saat ini, saham-saham yang tergolong dalam value stock seperti perbankan, industrial, material, dan energi, unggul dalam kinerja bila dibandingkan dengan saham-saham primadona tahun lalu yang berkaitan dengan teknologi atau biasa disebut dengan growth stock. Rotasi ini terjadi seiring ekspektasi pemulihan ekonomi global yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.
  • Pasar saham global masih dalam tren positif pada awal tahun ini. Akan tetapi, ada rotasi pasar dimana yang sebelumnya negara-negara Asia Timur dan Selatan memimpin reli, mulai tertahan kenaikannya. Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) mulai menjadi pemimpin pasar saham global belakangan ini.
  • Rotasi pasar antar kawasan ekonomi adalah sesuatu yang wajar pada tren pasar saham yang positif. Ekspektasi rotasi pasar saham global setelah sebelumnya dipimpin  oleh negara berkembang terutama Asia, dilanjutkan dengan AS saat ini dan Eropa di kemudian hari.

Tema Investasi Khusus: Commodity Super-cycle

  • Secara umum, komoditas dibagi menjadi 3 jenis, yakni komoditas energi (minyak bumi, gas, dan batubara), metal (tembaga, nikel,emas dan perak), dan agrikultur (kelapa sawit dan kedelai). Disebut sebagai komoditas karena menjadi bahan dasar utama dalam sebuah proses produksi.
  • Commodity super-cycle adalah sebuah periode ketika harga komoditas naik secara signifikan melebihi kenaikan reratanya yang disebabkan oleh melonjaknya permintaan tanpa diimbangi oleh penawaran dan dapat berlangsung selama beberapa tahun. Secara historis, siklus ini pernah terjadi beberapa kali, yakni sekitar tahun 1900, 1930, 1950, dan 2000. Commodity super-cycle terakhir yang terjadi sejak tahun 2002 hingga sekitar tahun 2011 diakibatkan adanya proses industrialisasi di Tiongkok, yang mengakibatkan permintaan bahan baku dan komoditas naik secara signifikan.
  • Dalam beberapa bulan terakhir, terdengar kembali pendapat yang menyatakan bahwa akan terjadi commodity super-cycle lagi, didorong oleh peningkatan harga komoditas, pelemahan Dolar AS, tingkat suku bunga 0% di AS dan di beberapa negara maju lainnya, serta kembalinya permintaan setelah melewati pandemi. Meski demikian, terdapat beberapa pendapat lain yang menyatakan bahwa peningkatan harga komoditas dalam beberapa waktu terakhir belum tentu berujung pada super-cycle yang baru.
  • Dalam jangka waktu yang lebih panjang, terdapat berbagai prediksi mengenai pergeseran penggunaan energi fosil menuju energi baru terbarukan yang positif terhadap permintaan komoditas tembaga sebagai penopang greenenergy. Namun demikian, hal ini juga dapat berdampak pada penurunan permintaan energi fosil seperti minyak dan batubara.
  • Di sisi lain, potensi permintaan yang ada saat ini lebih didorong oleh kembalinya permintaan yang sempat tertahan selama pandemi, bukan karena adanya permintaan baru akibat adanya proses industrialisasi. Pada akhirnya perlu diperhatikan ke depannya apakah peningkatan harga komoditas benar-benar ditopang oleh peningkatan permintaan yang masif atau tidak.

Baca ulasan lebih lengkap di sini!