Ulasan Pasar & Ekonomi Bulanan – SAM Newsletter Juni 2022 : Investasi Pada Masa Inflasi 📈 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Ulasan Pasar & Ekonomi Bulanan – SAM Newsletter Juni 2022 : Investasi Pada Masa Inflasi 📈

Download Ulasan Lengkap – Newsletter Juni 2022

Ulasan Pasar Global
Indeks saham global masih terkoreksi sejak awal tahun

Pasar saham global cenderung mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -6%. Indeks saham Indonesia (IHSG) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Teknologi AS (NASDAQ) menjadi yang paling tertinggal.

Indeks saham negara-negara berkembang relatif memimpin penguatan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Indonesia (IHSG), Brazil (BOVESPA), dan Thailand (SET) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Tiongkok (SHCOMP), Filipina (PSEi), dan India (SENSEX) cenderung tertinggal sejak awal tahun.

Indeks saham negara-negara maju cenderung mencatatkan hasil negatif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif tertinggal adalah Teknologi AS (NASDAQ), diikuti oleh Swedia (OMX Stockholm), Amerika Serikat (S&P 500), dan Korea Selatan (KOSPI). Sementara indeks saham Inggris (FTSE 100), Kanada (S&P/TSX), dan Jepang (Nikkei 225) tercatat relatif lebih unggul.

Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Barang Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian cenderung tertinggal.

Pasar saham global cenderung stabil di sepanjang bulan Mei meski potensi volatilitas akan tetap ada ke depannya. Saat ini pasar cenderung menunggu katalis positif ditengah rilis data inflasi Amerika Serikat yang bisa mempengaruhi sentimen pasar terhadap ekspektasi kebijakan the Fed. The Fed akan kembali mengadakan FOMC Meeting pada tanggal 14-15 Juni 2022.

Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Meningkatnya kemampuan pemerintah dalam mengendalikan inflasi di tengah kenaikan harga komoditas energi

Neraca fiskal dan neraca transaksi berjalan Indonesia diuntungkan dari kenaikan harga komoditas ekspor. Hingga Triwulan-I 2022, APBN Indonesia surplus 0,06% terhadap PDB dan neraca transaksi berjalan surplus 0,07% terhadap PDB.

Surplus neraca fiskal didorong dari perbaikan postur pendapatan negara terutama di Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dimana realisasi per 4M22 sudah mencapai 52,9% APBN dan tumbuh 35% secara tahunan. Realisasi Pendapatan Sumber Daya Alam sudah mencapai 61% APBN dan tumbuh 122,4% secara tahunan. Meningkatnya pendapatan tersebut dimanfaatkan dalam bentuk kenaikan subsidi energi di dalam negeri.

Keputusan pemerintah meningkatkan subsidi energi membuat inflasi Indonesia lebih terkendali di saat inflasi di negara-negara lain terus mengalami kenaikan. Hal ini membuat Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga di level yang rendah dan dapat lebih menjaga momentum pemulihan ekonomi dalam negeri.

Tema Investasi Khusus: Investasi pada masa inflasi
Pemilihan sektor dan strategi investasi yang tepat pada masa inflasi

Tema ekonomi global selama beberapa bulan terakhir terfokus pada meningkatnya inflasi pada sejumlah negara. Amerika Serikat mencatatkan inflasi sebesar 8,3% YoY, setelah bulan sebelumnya membukukan inflasi tertingginya sebesar 8,5% YoY. Meski lebih rendah, angka ini masih berada pada rentang angka tertinggi dari inflasi Amerika Serikat. Turun ke selatan, Brazil mencatatkan inflasi sebesar 12,1% YoY. Dari Eropa, Jerman membukukan inflasi sebesar 7,9% YoY. Negara-negara asia seperti Tiongkok dan Indonesia memang mencatatkan inflasi yang lebih rendah sebesar 2,1% dan 3,5%, hal ini dipengaruhi dari pilihan kebijakan pemerintah.

Pada kondisi inflasi tinggi, sektor energi dan material dasar seringkali menjadi sektor dengan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan pasar. Hal ini dikarenakan kedua sektor ini menawarkan produk berbasis komoditas, sehingga mampu meningkatkan pendapatan dan menjaga profitabilitasnya ketika harga komoditas naik. Sektor transportasi & logistik dan industri juga mendapatkan manfaat dari inflasi karena berperan dalam distribusi barang serta pemenuhan kebutuhan barang dari aktivitas manufaktur.

Di sisi lain, sektor lain seperti teknologi, infrastruktur, dan barang konsumsi cenderung memiliki kinerja yang lebih rendah karena sektor-sektor ini justru yang mengkonsumsi komoditas dan terdampak dari tingginya bahan baku. Sektor-sektor ini juga mengandalkan daya beli masyarakat yang justru melemah ketika inflasi meningkat. Sektor lain seperti real estat seringkali baru akan memiliki kinerja baik inflasi telah melewati puncaknya karena dianggap sebagai waktu yang tepat untuk investasi pada aset riil.

Dari pembahasan di atas dapat dipahami bahwa mempelajari pergerakan sektor pada tiap siklus ekonomi menjadi salah satu dasar penetapan strategi investasi agar dapat memperoleh imbal hasil investasi yang optimal.

Download Ulasan Lengkap – Newsletter Juni 2022