Buletin Bulanan Mei 2022 – Pengetatan Kuantitatif The Fed | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

Buletin Bulanan Mei 2022 – Pengetatan Kuantitatif The Fed

Download Buletin Bulanan Mei 2022 PDF

Ulasan Pasar Global
Indeks saham global terkoreksi sejak awal tahun

  • Pasar saham global cenderung mengalami pelemahan sejak awal tahun. Rerata indeks saham global, yang terdiri dari indeks saham negara maju dan negara berkembang, mencatatkan penurunan sebesar -10%. Indeks saham Brazil (BOVESPA) tercatat sebagai pemimpin indeks saham global, sementara indeks saham Teknologi AS (NASDAQ) menjadi yang paling tertinggal.
  • Indeks saham negara-negara berkembang relatif memimpin penguatan indeks saham global pada tahun ini. Indeks saham Brazil (BOVESPA), Indonesia (IHSG), dan Malaysia (FTSE KLCI) tercatat berkinerja lebih baik. Di sisi lain, indeks saham Tiongkok (SHCOMP), Filipina (PSEi), dan India (SENSEX) cenderung tertinggal sejak awal tahun.
  • Indeks saham negara-negara maju cenderung mencatatkan hasil negatif pada tahun ini. Indeks saham yang relatif tertinggal adalah Teknologi AS (NASDAQ), diikuti oleh Swedia (OMX Stockholm), Amerika Serikat (S&P 500), dan Hong Kong (Hang Seng). Sementara indeks saham Inggris (FTSE 100), Kanada (S&P/TSX), dan Jepang (Nikkei 225) tercatat relatif lebih unggul.
  • Dari sisi kinerja sektoral saham pada kawasan-kawasan ekonomi besar di dunia, sektor Energi, Utilitas, dan Barang Baku cenderung memimpin sejak awal tahun. Sementara sektor Teknologi, Barang Konsumen Non-Primer, dan Perindustrian cenderung tertinggal.
  • Pasar saham global kembali melanjutkan koreksinya pada awal Mei paska keputusan the Fed menaikkan tingkat suku bunga dan rencana pengetatan likuiditas melalui kebijakan quantitative tightening (QT). Saham-saham teknologi, yang sensitif terhadap ekspektasi perubahan tingkat suku bunga, menjadi yang terkoreksi paling dalam dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya.

Ulasan Makro Ekonomi Indonesia
Pemulihan ekonomi yang diiringi dengan kenaikan harga

  • Pada Triwulan-I tahun 2022 PDB Indonesia tumbuh 5,01% tahun ke tahun, sedikit melambat dari pertumbuhan di Triwulan sebelumnya. Pertumbuhan disokong dari ekspor yang tumbuh 16,22%, konsumsi yang tumbuh 4,34%, dan investasi yang tumbuh 4,09%. Secara Triwulanan PDB terkontraksi -0,96% dampak dari penerapan PPKM ketat selama merebaknya varian Omicron.
  • Pemulihan ekonomi juga diiringi dengan kenaikan harga dimana inflasi Indonesia bulan April 2022 mencapai 3,47%, tertinggi sejak Desember 2017. Kenaikan beberapa harga bahan pangan dan penyesuaian harga BBM Pertamax turut mengerek kenaikan inflasi harga bergejolak dan inflasi harga diatur pemerintah.
  • Meskipun inflasi meningkat, tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi masih bertahan di zona optimis. Salah satu penyebabnya adalah semakin membaiknya situasi pandemi di Indonesia yang membuat masyarakat dapat beraktivitas menuju kondisi normal.

Tema Investasi Khusus: Pengetatan Kuantitatif The Fed
Pasar domestik terdampak kebijakan moneter AS

  • Selama pandemi, Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) melakukan pembelian surat utang pemerintah AS sebesar AS$3,3 triliun dan AS$1,3 triliun mortgage-backed securities (MBS) dalam fase quantitative easing (QE) yang tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah uang beredar demi mendorong aktivitas pinjaman dan investasi untuk menggerakkan kembalil perekonomian.
  • Berkebalikan dari proses QE adalah quantitatve tightening (QT) dimana The Fed mulai mengerem kegiatan perekonomian dengan cara menaikan suku bunga lebih cepat dan mengindikasikan akan mengurangi kepemilikan aset di bank sentral secara keseluruhan dalam usaha meredam tingginya tingkat inflasi.
  • Neraca keuangan The Fed saat ini mencapai AS$9 triliun atau setara dengan 36% dari PDB Amerika Serikat dengan tingkat suku bunga sebesar 1%. Pada tanggal 5 April lalu, The Fed mensinyalir akan mulai pengurangan neraca keuangannya pada bulan Juli mendatang. Pelaku pasar mensinyalir The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga (FFR) sebanyak lima kali masing-masing sebesar 50 bps pada tahun 2022 sebagai respon dari data inflasi yang tinggi dari negara tersebut. Hal ini telah mulai dilakukan pada 3 Mei 2022 di mana The Fed menaikkan FFR dari 0.5% menjadi 1%.
  • Kenaikan FFR di Amerika Serikat secara tidak langsung membuat seakan-akan aset negara lain yang tidak berdenominasi dolar AS menjadi kurang menarik. Akibatnya, terdapat aliran dana keluar pada negara-negara lain termasuk Indonesia yang ditunjukkan penurunan IHSG pada perdagangan hari Senin, 9 Mei 2022 setelah libur sejak 29 April 2022.
  • Pada saat laporan ini dibuat, dana asing membukukan net outflow dari Indonesia sebesar AS$470 juta untuk pasar saham dan AS$210 juta untuk pasar obligasi sejak awal Mei 2022. Terhitung dari awal tahun, pasar saham Indonesia masih membukukan net inflow sebesar AS$4,5 miliar sedangkan pasar obligasi mencatat net outflow sebesar AS$4 miliar sejak awal tahun.

Download PDF Lengkap