SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – Kamis, 20 Januari 2022 | Samuel Aset Manajemen
Samuel Aset Manajemen

SAM Ulasan Ekonomi dan Pasar Harian – Kamis, 20 Januari 2022

Kilas Pasar

Indeks saham di Amerika Serikat ditutup melemah pada hari perdagangan terakhir (19/1). Indeks Dow Jones melemah sebesar –0.96% sementara S&P 500 dan Nasdaq terkoreksi sebesar –0.97% dan –1.15% secara berturut-turut.

Dari Eropa, indeks acuan Euro Stoxx menguat sebesar 0.23% diikuti oleh indeks FTSE yang tumbuh sebesar 0.35%. Dari dalam negeri, IHSG ditutup melemah sebesar -0.33% pada hari perdagangan terakhir.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperdagangkan pada level Rp 14.357. Perdagangan minyak Brent tercatat menguat sebesar 0.24% diperdagangkan pada US$ 87.87 per barel sedangkan Crude WTI terkoreksi sebesar –0.64% diperdagangkan pada level US$ 85.27 per barel.

Indeks acuan Asia, KOSPI Korea Selatan menguat sebesar 0.2% diikuti oleh NIKKEI Jepang yang terapresiasi sebesar sebesar 0.41%. Perdagangan indeks futures Amerika Serikat tercatat menguat pada pagi hari ini dengan Dow Jones menguat sebesar 0.14% sementara S&P 500 dan Nasdaq tumbuh sebesar 0.17% dan 0.27%.

Isu Ekonomi dan Pasar

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkapkan rencana untuk memberlakukan larangan terbatas (lartas) pada ekspor produk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO), palm olein, dan minyak jelantah. Lutfi memastikan rencana kebijakan ini bukan dimaksudkan untuk melarang ekspor. Dia mengatakan pemerintah ingin memastikan pasokan minyak sawit untuk pemenuhan minyak goreng di dalam negeri terpenuhi. Sebagaimana diketahui, pemerintah bakal memakai dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) sebesar Rp3,6 triliun untuk penyediaan 1,2 miliar liter minyak goreng yang akan dijual seharga Rp14.000 per liter. (Bisnis)

Bank Indonesia (BI) diramal belum akan mengubah kebijakan suku bunganya pada bulan ini hingga beberapa bulan ke depan, meski Bank Sentral Amerika Serikat mempercepat normalisasi kebijakan moneternya. Ekonom Senior sekaligus mantan Menteri Keuangan Chatib Basri memperkirakan, The Fed bakal menaikkan suku bunganya mulai kuartal pertama atau kuartal kedua tahun ini sebanyak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Namun, ketahanan Indonesia terhadap dampak tapering off saat ini, jauh lebih kuat dibandingkan dengan taper tantrum pada tahun 2013 silam. Sebab pertama, porsi kepemilikan asing pada surat berharga negara (SBN) saat ini berada pada kisaran 21% hingga 22%, jauh lebih rendah dibanding tahun 2013 yang mencapai 32%. Perkiraannya, nilai tukar rupiah akan terdepresiasi, namun secara gradual. Kedua, kondisi neraca transaksi berjalan alias current account yang lebih sehat dan berpotensi mencetak surplus. Current account masih menikmati berkah kenaikan harga komoditas. Hal ini terjadi saat pemintaan belum terlalu kuat, sehingga kinerja impor pun masih lemah. (Insight Kontan)

Best Regards,

SAM Investment

SAM-Ulasan-Ekonomi-dan-Pasar-Harian—20-Januari-2022.pdf