Samuel Aset Manajemen

Tujuh Kesalahan Umum dalam Mengatur Rencana Keuangan

Orang pintar belajar dari kesalahan mereka. Orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Orang bodoh tidak pernah belajar—

 Semua orang ingin mencapai kebebasan keuangan. Semua orang ingi sukses dalam mengelola uang dan berinvestasi. Akan tetapi tidak semua orang sukses meraihnya. Bahkan banyak juga diantaranya, alih-alih meraih mimpi yang diinginkan, malah mendapatkan mimpi buruk jika tidak gagal ditengah jalan.

Berikut 7 kesalahan umum paling sering dilakukan orang, yang mengagalkan mereka meraih tujuan keuangan yang ingin dicapai.

Tidak punya komitmen yang kuat.

Investasi membutuhkan pengorbanan. Pengorbanan untuk menunda kesenangan saat ini dengan harapan mendapatkan kesenangan yang lebih besar dikemudian hari. Agar memiliki uang untuk diinvestasikan, kita harus mampu menyisihkan sebagian dari pendapatan saat ini. Banyak orang gagal menyisihkan pendapatan mereka. Alasan jamak adalah pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan. Sebenarnya mereka gagal bukan karena pendapatan yang kurang, akan tetapi karena tidak memiliki komitmen untuk mengatur pengeluaran tadi.

Ingat, pengeluaran tidak akan ada batasnya jika mau memenuhi semua keinginan. Akan tetapi pengeluaran akan menjadi sangat terbatas jika hanya memenuhi ‘apa yang dibutuhkan saja’. Agar bisa menyisihkan sebagian pendapatan, kita harus mampu melakukan ‘pengorbanan’ seperti menahan beli handphone baru selama yang lama masih berfungsi baik. Membeli sepatu local ketimbang sepatu merek luar negeri. Mengganti satu pak rokok sehari dengan sebutir permen. Mengganti jajan diluar dengan makan bekal dari rumah. Banyak cara untuk memastikan pendapatan bulanan masih tetap bersisa untuk diinvestasikan. Anda pasti bisa menyisihkan 10-30% pendapatan saat ini. Syaratnya hanya satu, komitmen yang kuat untuk melakukan pengorbanan.

 Tidak tujuan yang jelas

Banyak orang bermimpi menjadi milyarder. Itu sah saja. Akan tetapi sangat sedikit yang memiliki rencana ataupun tujuan yang jelas untuk mencapainya.

Dua tahun yang lalu, saya mencoba hobby baru, yaitu lari. Lalu saya bermimpi untuk bisa ikut lari full marathon 42 km. Untuk merealisasikannya, saya lalu memasang target. Pertama ikut lomba 5 km. Setelah berhasil, saya naik kelas ikut lomba lari 10 km, berikutnya 21 km dan akhirnya dalam 2 tahun saya berhasil menyelesaikan 42 km pada Jakarta Marathon Oktober lalu.

Jika anda ingin jadi milyarder. Mulailah pasang target misalnya : menyisihkan 10% dari penghasilan untuk di investasikan. Target itu lewat, naikkan menjadi 20%.  Pasang target belajar tentang saham, lalu belajar tentang reksadana. Mulai investasi kecil-kecil dan terus ditingkatkan terus. Lambat laun anda mimpi tadi akan milyarder akan terealisasi

Investasi tanpa belajar

Tahun 2005, banyak investor reksadana pendapatan tetap menjual rugi reksadana mereka ketika inflasi naik, bunga naik dan harga obligasi yang menjadi isi portfolio reksadana pendapatan tetap tadi menukik tajam, sehingga nilai reksadana mereka pun ikut menukik tajam. Banyak sekali investor saat itu berpikir bahwa reksadana pendapatan tetap, karena kata ‘tetap’ tidak bisa turun. Dan ketika ternyata reksdana mereka turun, mereka tidak siap, dan jual saat harga dibawah.  Padahal, jika menunggu satu setengah tahun kemudian untuk menjualnya, mereka bisa jual untung. Ada pula investor yang rugi total setelah membeli saham tanpa fundamental yang jelas.  Atau investor emas dengan sistem margin yang diberi label syariah harus menanggung rugi ketika harga emas terkoreksi tajam enam bulan terakhir. Cerita seperti ini sangat jamak ditemukan. Kenapa ini terjadi? Karena semua investor tadi melakukan investasi tanpa pernah mempelajari risiko investasi yang bakal mereka hadapi. Akibatnya ketika risiko itu menjadi kenyataan, dan nilai investasi mereka bergejolak, mereka langsung panic dan membuat keputusan yang mereka sesali dikemudian hari.

Tidak melunasi tagihan kartu kredit

Kapal karam banyak diawali oleh lubang kecil. Begitu juga rencana finansial. Banyak yang karam karena lubang yang terus mengalir dari tagihan kartu kredit. Apa gunanya reksadana saham yang dimiliki menghasilkan imbal hasil 20%  per tahun ketika saldo kartu kredit terus membengkak, berbunga 36% per tahun terus melobangi kantong anda. Sebelum investasi, lunasi dulu semua tagihan kartu kredit.

Tidak membeli asuransi

Sakit yang memerlukan biaya berobat besar dan serta kematian adalah dua hal yang paling sering menghancurkan rencana finansial. Ketika sakit berapa pun biaya akan kita keluarkan untuk bisa sembuh. Apapun asset yang anda punya pasti akan direlakan buat berobat. Jika ini terjadi, semua rencana jangka panjang akan bubar. Begitu juga kematian pasangan yang memberikan pendapatan utama buat suatu keluarga dijamin memberi efek yang sama. Oleh karenanya kita perlu menghilangkan risiko ini dengan membeli asuransi.

Asuransi pertama adalah asuransi kesehatan yang memberi proteksi atas pengeluaran besar jika kita ataupun yang orang menjadi tanggung jawab kita mengalami sakit dan memerlukan biaya perawatan yang besar . Sementara asuransi jiwa baru diperlukan jika kita telah memiliki tanggung jawab terhadap istri ataupun anak. Kita perlu memastikan bahwa mereka masih bisa hidup layak jika kita mendadak meninggal dunia.  Berapa nilai pertanggungan yang ideal? Bisa bervariasi tapi kisaran umumnya adalah sekitar 7-10x gaji tahunan. Jangan tunda beli asuransi jiwa ini, karena semakin berumur, premi yang anda harus bayarkan akan semakin besar. Akan tetapi jika anda masih lajang dan belum memiliki tanggungan, tidak perlu beli asuransi jiwa, cukup asuransi kesehatan saja, sisa dana lainnya langsung diinvestasikan saja.

Tidak memiliki eksposure di saham

Jumlah investor reksadana di Indonesia, kurang dari 200 ribu orang atau kurang dari 0.1% penduduk Indonesia. Sementara jumlah sub rekening efek individu di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia), lembaga yang menyimpan dan menyelesaikan transaksi pasar modal, hingga Juli baru tercatat 362 ribu rekening atau hanya 0.14% penduduk Indonesia. Hal ini mencerminkan masih sangat minimnya pengenalan investor terhadap investasi di pasar modal terutama saham. Padahal, di Negara yang sedang berkembang dengan trend demografi yang sehat seperti Indonesia, saham akan selalu memberikan imbal hasil yang lebih baik dari alternative investasi lainnya. Kenapa? Karena harga saham dalam jangka panjang akan memberi kompensasi atas risiko inflasi sekaligus merefleksikan potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Banyak orang yang tidak memiliki eksposure di saham baik langsung karena takut mengambil risiko. Padahal tanpa mengambil risiko, mereka juga akan kehilangan kesempatan mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.  Apa yang mesti kita lakukan? Kenali risiko tadi dengan mempelajarinya. Lalu mulai investasi dengan skala yang kecil. Berikutnya setelah pengetahuan dan pengalaman atas risiko dan potensi imbal hasilnya dikenal dengan baik, naikkan eksposure anda secara bertahap, hingga mencapai porsi yang ideal. Berapa porsi yang ideal? Sangat tergantung kepada umur, toleransi atas risiko dan tujuan investasi dan kondisi keuangan.  Semakin muda usia anda, semakin besar eksposure saham yang harus anda miliki dan sebaliknya. Rumus umum yang dipakai untuk menentukan ekspoure di saham adalah 100 dikurangi umur. Jadi jika umur anda 20, eksposure di saham adalah 80%, dan obligasi ataupun instrument lain dengan risiko rendah adalah 20%

 Telat memulai

Investasi membutuhkan ‘waktu’ agar bisa bertumbuh seperti yang diinginkan. Seperti halnya waktu yang dibutuhkan menunggu bibit mangga yang ditanam tumbuh menjadi besar dan berbuah lebat.  Investasi paling tepat mulai dilakukan di waktu muda. Karena ketika memulai disaat muda, kita punya banyak waktu membiarkan investasi tadi bertumbuh besar seiring waktu. Ketika berinvestasi saat muda, instrument investasi yang diambil bisa yang lebih berisiko, seperti saham, dengan harapan imbal hasil yang lebih besar pula. Lalu, jika pun pada awal investasi, kita melakukan kesalahan, masih banyak waktu menunggu investasi itu kembali, dan juga banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Beda halnya dengan investasi di waktu tua. Sisa waktu yang investasi semakin terbatas, sementara ekspektasi imbal hasil akan lebih kecil dibandingkan investasi saat muda, karena tipe investasi yang cocok adalah yang memiliki risiko lebih kecil.

Budi Budar
Senior Fund Manager, PT. Samuel Aset Manajemen.

(artikel juga dimuat di Harian Nasional, 1 Desember 2013, halaman A8)